
Malam hari, Zahra duduk di teras setelah menidurkan Rama di kamar. Dia menunggu suaminya yang belum pulang padahal sudah jam sembilan malam.
" Za... kenapa masih diluar? Ini sudah malam, tidurlah!" seru Rayyan.
" Zahra lagi nungguin Mas Azzam, Bang." sahut Zahra.
" Mungkin lagi di jalan, tunggu saja di dalam."
" Zahra tidak bisa tenang kalau Mas Azzam belum pulang."
" Hhh... biar aku saja yang tunggu Azzam, kamu temani Rama tidur."
Setelah berulang kali dibujuk, akhirnya Zahra masuk ke dalam rumah. Rayyan memanggil Agus dan Cahyo untuk menemaninya menunggu Azzam pulang.
" Bang, Mas Azzam kok belum pulang ya...? Biasanya Isya' itu sudah sampai." tanya Cahyo.
" Mungkin banyak urusan di kota. Sebentar lagi juga pulang." jawab Rayyan.
Mereka bertiga berbincang hingga Azzam akhirnya pulang jam sepuluh malam. Tampak lelah di wajahnya saat membuka helm.
" Assalamu'alaikum..." ucap Azzam.
" Wa'alaikumsalam..." jawab Rayyan dan yang lain.
" Kalian kok disini?" tanya Azzam.
" Menunggu kau pulang, kami tidak tega melihat Zahra menunggumu sendirian disini." jawab Rayyan.
" Terimakasih, kalian bisa pulang."
" Mas Azzam... untuk pengolahan sawahnya gimana? Apa bisa kita kerjakan bertiga saja?" tanya Cahyo.
" Kalian cari dua orang lagi untuk bantu - bantu kalian di sawah, saya sepertinya jarang bisa turun ke sawah akhir - akhir ini." jawab Azzam.
" Memangnya mau kemana, Mas?"
" Program membuat adiknya Rama," gurau Azzam.
" Ish... pikiranmu tak berpendidikan!" ketus Rayyan.
Rayyan langsung mengajak Agus dan Cahyo untuk pulang karena sudah tak ada lagi yang mereka lakukan disana.
Azzam langsung masuk ke dalam rumah karena pintunya tidak terkunci. Zahra sudah terlelap seraya memeluk tubuh kecil putranya.
Azzam segera membersihkan diri agar bisa tidur dengan nyaman karena aktifitasnya seharian ini telah menguras banyak waktu dan tenaga.
" Maafkan aku, Zahra... Hingga saat ini aku belum bisa jujur tentang masa laluku. Suatu saat nanti kamu pasti mengerti kenapa aku melakukan semua ini." batin Azzam seraya memeluk istrinya dari belakang.
.
.
Zahra terbangun saat mendengar adzan shubuh berkumandang di masjid tak jauh dari rumahnya. Dia merasakan pelukan hangat suaminya lalu membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.
__ADS_1
" Mas... bangun, udah pagi." lirih Zahra.
Zahra memang selalu bertutur kata sangat lembut pada siapapun terutama suaminya. Jarang sekali ia marah dan itupun tak berlangsung lama.
" Hmm... Cepet banget paginya, Mas merasa baru saja memejamkan mata." sahut Azzam seraya mempererat pelukannya.
" Memangnya Mas pulang jam berapa semalam?"
" Jam sepuluh, sayang. Maaf ya, pasti kamu jenuh nungguin Mas pulang."
" Bukannya jenuh, Mas. Zahra cuma khawatir dengan keadaan Mas, takut terjadi sesuatu yang buruk."
" Insya Allah, Mas baik - baik saja sayang. Do'akan biar usaha Mas lancar dan berkah. Oh iya, sepertinya Mas butuh orang lagi untuk menggarap sawah. Kasihan Agus dan Cahyo, mereka pasti sangat lelah bekerja keras."
" Terserah Mas saja. Oh iya, Mas... Zahra pengen tanya soal hubungan Mas sama bang Rayyan."
" Mmm... kamu ambil wudlu sana, kita jama'ah." Azzam langsung melepaskan pelukannya.
" Mas_..."
Azzam langsung mencium bibir istrinya agar tak banyak bertanya lagi. Semakin sering istrinya bersama Rayyan membuat Azzam semakin tak tenang.
" Cepat ambil wudlu sekarang!" perintah Azzam setelah melepas ciumannya.
Zahra bergegas bangun untuk mengambil air wudlu sebelum sang suami menyuruh untuk yang kedua kalinya. Menurut Zahra, perintah sang suami harus ia kerjakan selama itu dalam hal kebaikan.
Usai sholat shubuh berjama'ah, Zahra ke dapur untuk membuat sarapan. Karena stok bahan makanan yang dibeli Rayyan sangat banyak, Zahra memasak untuk Rayyan juga supaya pria lajang itu tak repot masalah makan.
" Masak apa, Dek?" tanya Azzam.
" Mas... udah dong! Temani Rama saja di kamar daripada menggangguku masak." sungut Zahra.
" Mas temani kamu masak saja, kangen seharian kemarin nggak ketemu." Azzam memasukkan kepalanya ke dalam kerudung Zahra agar bisa mencium lehernya.
" Ya Allah, Mas... Jangan aneh - aneh!"
" Ya sudah, Mas mandi dulu mumpung Rama belum bangun."
Azzam segera mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi karena hari semakin siang. Dia mandi dengan cepat karena harus bergantian dengan istrinya.
" Mas... nanti ke sawah apa di rumah?" tanya Zahra.
" Di rumah, Dek. Hari ini mau main sama Rama seharian, baru malamnya main sama Bunda." jawab Azzam sambil tersenyum.
" Ish... Bunda nggak mau main sama Ayah!"
" Kok gitu sih, Bunda? Semalam aja nggak main, masa' ditunda lagi?" rengek Azzam.
" Cepetan mandi sana! Keburu siang nanti, Bunda juga belum masak buat makan siang nanti."
" Tidak usah masak, biar nanti Ayah saja yang membuat masakan special untuk Bunda."
" Bener ya? Nanti masaknya banyakin, soalnya bang Rayyan juga ikut makan disini."
__ADS_1
" Kok Rayyan ikut makan disini?"
" Dia yang beli semua bahan makanan yang ada di kulkas. Katanya dia malas masak sendiri."
Azzam semakin geram saja dengan sikap Rayyan yang selalu berusaha mendekati keluarganya. Ingin rasanya ia usir saja itu tetangga baru dari kampung ini.
" Biasanya juga makan sendiri!" gerutu Azzam kesal.
" Biasanya...? Memangnya Mas udah kenal lama dengan bang Rayyan?"
" Eh... tidak, sayang. Hanya saja dia itukan perantau jadi sudah pasti makannya sendiri."
Jam enam pagi, pintu rumah Azzam sudah terbuka. Zahra sengaja menunggu Rayyan untuk sarapan bersama.
" Assalamu'alaikum..." sapa Rayyan yang sudah berpakaian sangat rapi.
" Wa'alaikumsalam, mau numpang sarapan?" cibir Azzam.
" Iya, Boss. Kapan lagi bisa makan masakan Nyonya Muhammad Azzam Al Farizy." sahut Rayyan seraya tersenyum lebar.
" Diam kau! Cepat masuk sana dan jangan bicara apapun pada Zahra. Ingat itu!"
" Siap, Boss!"
Setelah semua duduk di meja makan, Zahra mengambilkan nasi goreng ke dalam piring Azzam, lalu Rayyan kemudian untuk dirinya sendiri.
" Dek, Rayyan itu bisa ambil sendiri sarapannya!" protes Azzam.
" Iya, adik ipar... aku bisa ambil sendiri sarapannya, tidak perlu repot - repot begini. Sudah dimasakin saja hatiku sangat senang."
" Sudah, jangan berantem lagi! Habiskan sarapannya sekarang, tidak boleh ada yang bicara saat makan." kesal Zahra.
Mendengar suara Rama yang sudah bangun, Zahra bergegas menghampirinya supaya anak itu tidak menangis. Azzam bergegas ke dapur untuk membuat susu formula.
Rayyan bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari keluarga kecil Azzam itu. Kehidupan yang sederhana tak menyurutkan keharmonisan keluarga mereka.
" Azzam... Ternyata kamu memilih jalan yang benar. Kini kau bahagia dengan keluarga kecilmu walau hidupmu serba kekurangan." batin Rayyan.
" Maaf ya, Bang. Rama bangun jadi harus di kasih susu dulu." ucap Zahra.
" Tidak apa - apa, aku senang kalian bisa merawat Rama dengan sangat baik. Kalian orangtua yang sangat luar biasa."
" Nanti kalau Abang punya anak istri juga pasti akan bersikap seperti kami."
Mereka bertiga melanjutkan sarapan bersama. Rayyan sangat bahagia bisa berkumpul dengan Zahra dan Azzam. Kebahagiaan yang telah lama menghilang, kini hadir lagi dalam kehidupannya.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.