
Usai sholat shubuh, Azzam sudah memakai pakaian yang rapi untuk bepergian. Zahra yang baru menyadarinya langsung menghampiri sang suami.
" Mas kok sudah rapi shubuh - shubuh begini?" tanya Zahra.
" Iya, Dek. Mas lupa bilang semalam karena kamu sudah tidur. Mas mau ke kota untuk mencari langganan sayuran kita. Soalnya Mas mau sewa lahan sebelah sawah kita itu."
" Kenapa sepagi ini, Mas? Pulangnya kapan...?"
" Belum tahu, Dek. Mungkin malam baru sampai di rumah."
" Kok lama banget sih, Mas? Perjalanan dari sini ke kota itu tidak sampai dua jam loh?"
" Iya, Dek. Tapi kerjaannya yang lama, jangan khawatir begitu."
" Mas sering sekali ke kota sendirian, apa ada yang Zahra tidak ketahui tentang Mas?"
" Dek, kenapa bicara begitu? Mas pergi murni untuk pekerjaan, jangan su'udzon sama suami sendiri...!" tegas Azzam.
" Zahra nggak su'udzon, Mas! Kalau memang tidak mau jawab ya tidak apa - apa, tidak usah marah!" ketus Zahra.
Zahra tak biasanya berbicara keras pada suaminya. Namun entah kenapa pagi ini dirinya sulit mengendalikan emosinya. Mungkin masalah gosip di sekolah juga mempengaruhi pikirannya saat ini.
" Dek_..."
" Pergi...! Aku tidak punya hak untuk bertanya apapun padamu!"
" Ya Allah, Dek... Mas minta maaf, Mas tidak marah sama kamu."
Zahra yang tadinya ingin membuat sarapan jadi urung. Airmata lolos begitu saja membasahi kedua pipinya. Zahra masuk kembali ke dalam kamar lalu menguncinya agar tak melihat wajah suaminya lagi.
" Dek, jangan marah... Mas harus pergi sekarang juga, maaf." lirih Azzam.
Azzam mengetuk pintu kamar berkali - kali namun Zahra enggan untuk membukanya. Sebenarnya Azzam tidak mau pergi dalam keadaan yang seperti ini, namun ia tidak bisa menunda lagi kepergiannya.
" Dek... Mas berangkat dulu ya? Nanti kamu ke sekolah sama Rayyan. Assalamu'alaikum..." seru Azzam dari luar kamar.
Azzam masih belum beranjak dari tempatnya berdiri berharap sang istri akan membuka pintunya. Rasanya sangat tidak nyaman bepergian dalam keadaan seperti ini.
" Maaf..." Zahra keluar dari kamarnya dengan mata sembab.
" Dek... Mas yang minta maaf, seharusnya dari kemarin Mas mengatakan ini sama kamu. Ikhlaskan Mas pergi biar rejeki kita menjadi berkah."
" Entah kenapa aku selalu cemas saat Mas pergi ke kota sendirian."
" Apa karena perampokan kemarin?"
" Bukan... sejak awal kita menikah, aku selalu merasa seperti ini. Jaga diri baik - baik disana, jangan lupa kabari setelah sampai di kota."
__ADS_1
Zahra memeluk Azzam dengan erat. Tangisnya kembali pecah dalam dekapan suaminya. Azzam merasakan sesak dalam dadanya, ada banyak kebohongan yang ia berikan kepada istrinya yang sangat tulus sayang padanya
" Suatu saat nanti, aku pasti akan mengungkapkan masa lalu yang tak pernah kau pertanyakan itu, Zahra. Kau memang tidak pernah tahu, namun hatimu bisa merasakannya." batin Azzam.
" Sayang... Mas pergi dulu, nanti biar tidak kesiangan sampai disana. Tapi Mas juga punya sesuatu untukmu sebelum pergi." ucap Azzam lembut.
" Apa...? Pasti cuma dicium, kan...?"
" Hahahaa... itu salah satu kewajiban, sayang."
Azzam mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya lalu menaruhnya di telapak tangan Zahra. Dengan senyum yang terkembang, Azzam mencium kening istrinya.
" Mas... kapan kau beli ini...?" tanya Zahra.
" Waktu ke kota dulu, tapi Mas sengaja memberikannya sekarang supaya istriku yang cantik ini tak marah lagi."
" Mas pikir bisa membeli kebahagiaan dengan perhiasan?"
" Bukan seperti itu, sayangku. Ini hanya hadiah kecil untuk kekasih halalku."
" Ya sudah, terimakasih suamiku..."
Setelah Zahra merasa tenang, Azzam segera berangkat ke kota. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
.
.
" Apa harus bareng, Bang? Zahra jalan kaki saja, nanti takut gosipnya semakin menyebar luas."
" Tapi motorku yang dibawa Azzam, Za... tak apa kita berangkat bersama lagi."
" Zahra jalan kaki saja, Abang bawa motornya. Ini juga masih pagi, jadi tidak akan terlambat untuk jalan kaki."
" Ya sudah, kita jalan kaki bareng. Jangan berdebat lagi, jangan mempersulit diri sendiri."
Zahra lelah untuk berdebat dengan Rayyan. Dia segera menitipkan Rama kepada bu Marni kemudian berangkat ke sekolah bersama Rayyan.
Sepanjang jalan Rayyan terus mengajak bicara hal - hal yang tidak berfaedah. Walaupun masih canggung, namun Zahra masih menanggapi ucapan Rayyan. Terlebih tak ada gelagat sedikitpun bahwa Rayyan menyukainya sebagai lawan jenis, justru Rayyan memperlakukannya seperti seorang kakak dan adik.
" Jangan melamun...! Nanti nabrak kerikil saja bisa melayangkan nyawamu!" tegur Rayyan namun dengan nada bergurau.
" Apaaa...? Eh... mana ada nabrak kerikil bisa membuat orang mati!" ucap Zahra polos.
" Hahahaa... bisa saja, di depan kerikil itu ada truk yang melaju sangat kencang."
" Abang, ihh... Zahra ini lagi pusing tahu nggak!"
__ADS_1
" Za_..."
" Hmmm..."
" Dimana kau pertama kali bertemu dengan Azzam...?"
" Kenapa bertanya seperti itu? Kita tidak sedekat itu untuk saling tahu tentang privasi masing - masing."
Rayyan sulit sekali untuk meyakinkan Zahra untuk bisa lebih akrab dengannya. Tak ada niat sedikitpun dalam hati Rayyan untuk mempersulit hidup Zahra. Dia hanya ingin dekat dengan orang - orang yang dia percaya.
" Maaf sebelumnya, Za... Abang tidak bermaksud seperti itu. Ini semua hanya untuk klarifikasi kita nanti di sekolah. Aku akan jujur pada mereka jika Azzam itu saudaraku. Jadi tidak ada orang yang akan menggunjingkan kita karena kita bersaudara."
" Apa mereka bisa percaya dengan Abang...?"
" Insya Allah... Kita memang saudara, kan?"
" Iya, kita saudara. Terimakasih, selama ini aku hidup sendiri setelah kedua orangtuaku tiada. Kini aku merasakan memiliki keluarga lagi, selain suami dan anakku."
Rayyan menatap Zahra cukup dalam. Sepertinya ia bisa meminta sedikit informasi tentang Azzam. Apakah Zahra benar - benar mengenal suaminya.
" Za... Apa Azzam itu bukan berasal dari desa ini?" tanya Rayyan hati - hati.
" Mmm... Bukan, Mas Azzam itu dari kota. Beliau dari Jakarta katanya." jawab Zahra singkat.
" Katanya...? Memangnya kamu belum pernah diajak ke rumah Azzam...?" ucap Rayyan terkejut.
" Mas Azzam itu anak yatim piatu dan tidak memiliki rumah di kota asalnya. Makanya kami menetap di desa ini menggarap sawah peninggalan orangtuaku."
" Yatim piatu...? Tak punya saudara, sebatang kara... Masya Allah." Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Iya, Mas Azzam merantau di kota ini untuk bekerja. Kami tak sengaja waktu itu bertemu dan tak lama setelah itu kami menikah. Tak ada acara meriah seperti pernikahan orang - orang di luaran sana karena kami sama - sama tidak punya orangtua dan tak punya biaya pastinya."
Rayyan menghela nafas panjang berulang kali untuk menetralkan detak jantungnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini tak ada seorangpun yang tahu.
" Mulai sekarang, kau dan Azzam adalah adikku. Kita bersaudara, saling membantu masalah yang satu dengan yang lain. Aku juga tidak punya siapa - siapa di desa ini selain kalian bertiga."
Tanpa terasa sudah 20 menit mereka berjalan dan kini sudah sampai di gerbang sekolah untuk memulai pekerjaan mulia mereka.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1