
Mama Rahma melihat raut wajah Zahra yang bingung. Rasanya ia ingin tertawa melihat menantunya yang bengong sedari tadi.
" Zahra... Ayo mama antar ke kamarmu untuk memastikan apakah ada Azzam atau tidak disana." ujar Mama Rahma lembut.
" Eh... Tidak usah, Ma." tolak Zahra pelan.
" Tidak apa - apa, ayo keatas."
Mama Rahma menarik lengan Zahra pelan menuju ke lantai atas. Dia juga ingin membuktikan sendiri bahwa penglihatan menantunya memang salah.
Sampai di depan pintu kamarnya, Zahra dengan ragu membuka pintunya dengan perlahan. Apa karena baru bangun tidur, pikirannya jadi kacau seperti ini.
" Za, mana suamimu? Kamar kosong nggak ada orang?" ujar mama Rahma pelan.
" Tadi ada disini, Ma. Masa' Zahra salah lihat sih?"
" Kamu istirahat sekarang! Pasti kamu lelah dengan kerjaan kamu di Jogja."
Mama Rahma kembali ke bawah setelah Zahra masuk ke dalam kamarnya. Zahra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan memang tak ada sosok sang suami disana.
" Ya Allah... Benarkah aku berhalusinasi?" gumam Zahra seraya mematikan lampu utama.
Zahra membenahi selimutnya dan beranjak naik ke tempat tidur untuk beristirahat. Namun baru juga menyentuh bantal, suara yang tak asing membuatnya terlonjak kaget.
" Dek, kok lampunya dimatiin?"
" Aaaa...!!!"
Bukannya menjawab, Zahra malah lari keluar kamar sambil berteriak kencang. Azzam ingin menyusulnya namun ia tak bisa berjalan dengan cepat karena punggungnya masih sakit. Masih terdengar suara kencang istrinya memanggil mamanya.
" Zahra... Kamu kenapa lari - lari?" ucap mama Rahma ikut panik.
" Mas Azzam, Ma." Zahra memeluk erat lengan ibu mertuanya.
Kaivan yang mendengar teriakan Zahra tadi juga kaget dan segera mengejar kakak iparnya itu takut terjadi sesuatu yang buruk.
" Kak Zahra kenapa sih?" tanya Kaivan masih setengah sadar.
Tak hanya Kaivan, papa Zaid juga keluar dari kamarnya karena melihat keributan diluar kamar.
" Ada apa ini? Kok semua berkumpul disini bukannya istirahat." tegur papa Zaid.
" Zahra tuh, Pa. Aneh dia itu, katanya tadi ada Azzam yang lagi sakit di kamarnya. Waktu mama cek tidak ada siapa - siapa. Eh, sekarang dia lari seperti di kejar hantu." kata mama Rahma.
" Benar begitu, Za?"
" Iya, Pa. Barusan Zahra denger suara mas Azzam di kamar setelah mama pergi."
" Kakak ipar cuma kebawa mimpi itu." ledek Kaivan.
" Beneran, Kai. Tadi itu aku lihat Mas Azzam di kamar." tegas Zahra.
Saat semua orang sedang berdebat, tiba - tiba dari arah tangga terdengar suara langkah kaki dari atas. Zahra kini makin mengeratkan pelukannya pada sang ibu mertua.
__ADS_1
" Zahra...!"
Panggilan itu membuat Zahra merinding hingga membenamkan wajahnya di balik punggung ibu mertuanya.
" Azzam...!" seru papa dan mama serentak.
" Ini beneran Mas Azzam?" pekik Kaivan.
" Kalian ini kenapa sih? Zahra juga, katanya mau ambil kompresan tapi keluar kamar sambil teriak - teriak." Azzam menatap mereka semua bingung.
" Bukannya Mas Azzam di Singapore?" tanya Zahra lirih.
" Ya Allah, Dek. Kamu nggak percaya kalau ini beneran Mas?"
" Mmm... Bukan begitu, Mas. Tapi Zahra bingung, soalnya Mama bilang aku cuma halusinasi."
" Astaghfirullah... Kamu tidak ingat sudah bikin punggungku sakit seperti ini?"
" Maaf_..."
Semua orang tertawa melihat wajah memelas Zahra yang menatap dalam kearah suaminya. Apakah pikiran mereka sama?
" Kalian melakukan 'itu' tanpa sadar?" celetuk Kaivan.
Plaakkk!
Zahra memukul kepala Kaivan dengan keras sambil melotot. Otak adiknya itu memang harus di sikat biar bersih.
" Auwww...! Kakak apaan sih? Sakit tahu nggak!" rengek Kaivan.
" Sudah... Jangan pada ribut." lerai papa Zaid.
" Mas duduk dulu di ruang tengah, Adek ambilkan kompresan dulu."
Mama Rahma membantu Azzam untuk berjalan menuju sofa di ruang tamu. Sepertinya memang sangat sakit melihat cara jalan Azzam yang kesulitan.
" Sebenarnya kamu kenapa sih, Zam?" tanya Mama Rahma.
" Hhh... Zahra tendang Azzam dari ranjang sampai jatuh ke lantai, Ma." jawab Azzam datar.
" Kenapa?"
" Mana Azzam tahu. Azzam cuma bangunin dia supaya lepas kerudung saat tidur, tapi malah diserang brutal begitu."
" Ya iyalah, Mas. Wanita manapun juga akan melakukan itu jika posisi mereka seperti kak Zahra. Setahu kakak, Mas itu pergi. Kalau sampai ada seorang pria masuk ke dalam kamarnya secara diam - diam sudah pasti dia waspada." ucap Kaivan.
Zahra datang membawa alat kompresan untuk meredakan nyeri di punggung suaminya.
" Mau disini atau di kamar, Mas?" tanya Zahra.
" Disini aja, nggak kuat buat naik tangga." jawab Azzam lalu berbaring di sofa dengan bantalan pangkuan ibunya.
" Manja...!" cibir Kaivan.
__ADS_1
" Udah, kamu temani Rama. Nanti kau bangun nggak ada orang bisa nangis." ujar papa Zaid.
Kaivan segera berlari ke lantai atas untuk tidur karena besok ia harus kerja. Banyak sekali pekerjaan yang menumpuk akhir - akhir ini karena semakin pesatnya perkembangan perusahaan.
" Bukannya harusnya kamu pulang besok, Zam?" tanya papa Zaid.
" Nggak apa - apa, Pa. Pekerjaan udah selesai, besok Azzam mau balik ke Jogja." jawab Azzam.
" Kok besok, Zam? Mama masih kangen sama Rama." protes Mama Rahma.
" Habisnya Mama udah nggak kangen sama Azzam." sahut Azzam datar.
" Apa kau cemburu dengan anakmu sendiri?"
" Udah, sayang." Azzam meraih tangan sang istri yang masih di punggungnya.
Azzam duduk bersandar sofa lalu kepalanya menempel di bahu sang istri. Entah mengapa nasibnya sangat buruk hari ini. Setelah pertemuannya dengan Merry yang membuat mood-nya hancur, kini punggungnya yang hampir hancur karena ulah istrinya.
" Bukan begitu, Ma. Kami memang akan kembali besok pagi, tapi Kaivan bersikeras agar Rama ditinggal selama satu minggu disini. Jadi kami sekalian mau minta maaf karena satu minggu ini pasti sangat merepotkan dengan adanya Rama disini." ucap Zahra.
" Benarkah? Rama akan tinggal disini? Kalau bisa selamanya disini juga tidak apa - apa. Mama tidak ada kesibukan apapun sekarang." Mama Rahma sangat antusias.
" Benar itu, Ma. Nanti Papa juga akan bekerja dari rumah saja mewakili Azzam. Urusan kantor bisa di handle sama Kaivan." ujar papa Zaid tak kalah heboh.
" Terserah kalian saja, kami bisa buat lagi yang banyak. Iyakan, Yang?" sahut Azzam pasrah.
" Ish... Ngaco kamu, Mas!" kesal Zahra.
" Ke kamar yuk? Kita proses buat jarinya dulu." goda Azzam.
" Mas Azzam...! Mau aku tendang lagi sampai teras?!" geram Zahra marah.
Papa Zaid dan Mama Rahma tidak habis pikir dengan kelakuan putranya itu. Hampir empat tahun tidak bertemu, kini Azzam berubah drastis. Dia jadi bersikap lemah lembut dan sopan. Ibadahnya juga semakin rajin dan ia bisa mengungkapkan perasaannya dengan nyaman.
" Hehehee... Sorry, sayang. Bantu Mas ke kamar, dong?" rengek Azzam.
" Kebanyakan duduk di kantor sih, nggak pernah olahraga. Baru jatuh dari tempat tidur aja manja!" sindir Zahra.
" Masalahnya posisi Mas diserang mendadak, jadi tidak siap. Kalau tahu bakal diserang, Mas pasti siaga." elak Azzam tak mau kalah.
" Musuh itu bisa datang kapan saja dan tak terduga. Jangan menunggu musuh datang baru siaga. Selalu waspada kapanpun dan dimanapun. Musuh itu tidak mesti orang jauh, tapi orang yang dekat dekat dengan kitapun banyak." peringat Zahra.
" Iya, Bu Guru..." ucap Azzam pasrah tanpa mau berdebat lagi.
" Dengarkan itu istri kamu, Zam! Awas saja kalau kamu berani menyakiti menantu Papa." ujar Papa Zaid.
Azzah semakin kesal saja hari ini, tak ada satupun yang membelanya padahal ia merasa dirinya cukup menderita fisik dan batin hari ini.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.