Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Teman lama


__ADS_3

" Hai... sayang," sapa Bima nyengir.


" Dengan siapa lagi kau di dalam!" bentak Zahra.


Zahra menarik lengan Bima keluar ruangan lalu masuk untuk melihat sendiri siapa perempuan yang lagi - lagi di kencani temannya itu.


" Kau...! Pergi dari sini sekarang juga dan jangan pernah kembali lagi!" usir Zahra pada wanita yang berpakaian minim itu.


" Raraaa... jangan mengacau ditempatku." cegah Bima.


" Kalian masuk saja, sorry... sambutannya terlalu istimewa untuk kalian." cengir Bima.


Azzam dan Rayyan segera masuk ke ruangan Bima yang terlihat acak - acakan. Zahra memindai setiap sudut ruangan secara detail.


" Ayolah, Rara sayang... aku tidak melakukannya di ruangan ini." ucap Bima yang paham dengan pikiran Zahra.


" Duduklah, disini masih aman." lagi - lagi Bima bicara sendiri tanpa seorangpun yang menanggapi.


" Dek... duduklah dulu. Memangnya kamu nggak capek?" pinta Azzam.


" Rara... ini kakakmu? Katanya kamu yatim piatu tanpa saudara?" tanya Bima kaget.


" Saya suaminya, Azzam." kata Azzam datar.


Bima sampai berdiri saking kagetnya mendengar Zahra sudah menikah. Mereka memang lost contact lama dan baru beberapa bulan ini komunikasi lagi.


" Honey...? Kau tak pernah bicara padaku soal pernikahan?" cecar Bima.


" Untuk apa...? Kau yang setiap hari ganti wanita aja aku nggak nanya." ketus Zahra.


" Kapan kau menikah? Dan anak kecil ini... jangan bilang ini anakmu, hah...!"


" Dia memang anakku, Bim. Usianya sudah lebih dari dua tahun."


" Huhhh...! Bukannya itu setelah wisuda? Kau tak pernah bilang punya gebetan saat kuliah?"


" Aku menikah satu minggu setelah wisuda dan waktu itu kamu sudah terbang ke Swiss."


" Ok, Fine! Kita bahas yang lain saja, aku shock mendengar berita pernikahanmu." keluh Bima.


Bima menyuruh asistennya menyiapkan makanan special untuk para tamunya. Dia tak menyangka mereka datang satu jam lebih awal. Malu juga kepergok sedang membawa wanita penghibur ke ruangannya siang - siang seperti itu.


" Ra, anak kecil ini namanya siapa?" tanya Bima kepo.


" Ini anakku Rama dan kakak iparku, Rayyan." jawab Zahra.


Bima melihat adanya kemiripan antara Rayyan dan Azzam. Yang pasti, sama - sama dingin dengan sorot mata tajam. Setelah makanan siap, Bima mengajak semuanya untuk makan terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan yang lebih serius.


" Kalian tadi kesini naik apa...?" tanya Bima.


" Motor." jawab Rayyan singkat.


" Tinggal dimana?"


" Di kampung Zahra,"


" What?! Kalian bawa anak sekecil ini naik motor dari desa? Ra... kau sudah gila, ya!" pekik Bima lantang.

__ADS_1


" Berisik! Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."


" Hah... kau ini memang sangat pandai mengelabui orang dengan wajah polosmu itu. Mereka berdua pasti tidak tahukan seperti apa sifat aslimu?" cibir Bima.


" Diamlah, Bim! Aku tidak butuh ocehanmu." ketus Zahra.


" Hei... kita ini berteman sudah lama, semenjak kau masuk ke kampus. Kita berjuang bersama - sama untuk hidup."


Zahra mendengus sebal pada pria yang duduk di hadapannya. Untung saja mereka sudah lama berteman dan Bima adalah satu - satunya orang yang bisa membantunya.


" Taruh saja anakmu di kamarku, tenang saja kamarnya sudah dibersihkan." ujar Bima nyengir.


" Baiklah, kuharap kau segera tobat!"


Setelah menidurkan Rama di kamar pribadi Bima, Zahra kembali bergabung dengan tiga pria dewasa itu. Tak ada rasa canggung sama sekali bagi Zahra karena mereka semua sudah ia kenal, apalagi ada sang suami yang selalu ada bersamanya.


" So... what can I do for you?" tanya Bima.


" Aku butuh bantuan 'Tiger White'." jawab Zahra singkat.


" Tiger White...?" pekik Azzam dan Rayyan serempak.


Siapa yang tidak tahu dengan Agen Rahasia 'Tiger White' yang sudah terkenal di berbagai belahan dunia itu. Banyak kelompok mafia yang sudah hancur di tangan Tiger White.


" Dek... kau tahu 'Tiger White'?" tanya Azzam tak percaya.


" Hahahaa... ternyata kau tertipu dengan wajah polos istrimu, Tuan Azzam. Zahra adalah Agen mata - mata terbaik kami di Indonesia." Bima tertawa geli menatap Azzam dan Rayyan yang kebingungan.


" Za... kau bercanda, kan?" seru Rayyan.


" Bima benar, aku adalah Agen mata - mata Tiger White. Bima ini adalah cucu dari Edward Kyle, pendiri 'Tiger White'."


" Hehehee... maaf Tuan Al Farizy," goda Zahra.


" Hah...! Al Farizy? Anda ini pemilik perusahaan terbesar di negara ini? Apa kalian sedang mempermainkanku?" sentak Bima.


" Diamlah, Bim. Kita bicarakan dulu inti masalahnya." kata Zahra.


" Ok...! Kau memang selalu membuatku shock dengan semua tingkahmu itu. Tapi ingat! Kau harus selalu berhati - hati dalam bertindak, jangan gegabah."


" Siap, Boss!"


" Sekarang ceritakan kasus yang harus kita selesaikan."


Rayyan dan Azzam yang menceritakan secara detail masalah dalam keluarga Al Farizy. Rayyan lebih tahu banyak karena selama ini menyelidiki kasus ini sendiri. Bagaimanapun juga, ibunya Azzam adalah adik kandung ayahnya Rayyan.


" Jadi kalian tidak bisa masuk ke rumah besar Al Farizy?" tanya Bima.


" Benar, ibunya Azzam juga tidak pernah keluar lagi dari rumah itu semenjak kepergian Azzam." jawab Rayyan.


" Sial...! Harusnya dulu kubawa mama pergi dari sana." geram Azzam.


" Sudahlah, Mas. Yang terpenting sekarang, kita harus bisa menyelamatkan mama." kata Zahra.


" Kau benar, Ra. Harus ada yang masuk ke rumah itu." ujar Bima.


" Caranya...?"

__ADS_1


" Kalian tunggu saja selama beberapa hari, anak buahku akan mencari data seluruh keluarga Al Farizy di rumah itu dan siapa saja yang mengendalikan perusahaan."


" Perusahaan masih dipegang oleh Om Zaid Al Farizy karena pewaris tunggal adalah Azzam. Anak dari istri kedua tidak bisa menjadi pewaris karena hanya anak tiri, walaupun sekarang ia menggantikan posisi Azzam sebagai CEO." kata Azzam.


" Kaivan jadi CEO...?" tanya Azzam.


" Kau benar - benar menutup masa lalumu, Zam. Kau terlalu senang dengan dunia barumu sampai menghapus ingatanmu."


" Baiklah, target kita adalah Kaivan. Zahra... kau harus bisa mengambil simpati Kaivan agar bisa masuk ke rumah itu." perintah Bima.


" Tidak! Zahra tidak boleh merayu pria lain!" ketus Azzam.


Rayyan nyengir melihat kebodohan Azzam. Come on, dia itu lulusan Harvard dan bertingkah konyol seperti itu? Innalillahi...


" Ayolah,Tuan Azzam... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Zahra tidak merayu Kaivan. Dia hanya mencoba menarik perhatian Kaivan agar membawanya masuk ke dalam rumah itu." jelas Bima.


" Mas, aku ini agen mata - mata bukan wanita penggoda!" protes Zahra.


" So... kapan kau siap beraksi, Ra?" tanya Bima.


" Minggu depan apakah terlalu lama? Satu minggu ini aku dan bang Rayyan masih mengajar, Bim. Aku juga harus mencari pengasuh Rama untuk sementara waktu."


" Itu masalah gampang, Za. Selama di Jakarta, Rama dan Azzam akan tinggal di Apartemenku. Apartemen milik Azzam sudah dijual oleh ibu tirinya, Nella." kata Rayyan.


" Itu Apartemen aku sendiri yang beli Ray? Bagaimana bisa dia jual?"


" Kau meninggalkan surat - suratnya di rumah, Zam. Dia akan menjual semua aset yang ada agar kau jadi gelandangan. Untung saja dia tidak tahu kau memiliki perusahaan sendiri."


Azzam menyandarkan tubuhnya di sofa. Keputusan yang ia ambil selama ini ternyata salah. Dia hanya bisa berdo'a semoga orangtuanya baik - baik saja saat ini. Azzam akan merasa bersalah seumur hidup jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada sang ibu.


" Mas tenang saja, Zahra akan berusaha menyelamatkan mama." ucap Zahra lembut.


" Tapi Mas juga khawatir dengan keselamatanmu, Dek."


" Sejak kapan Mas jadi selemah ini? Azzam yang Zahra kenal itu sangat kuat, tidak mudah rapuh."


" Kau benar, Dek. Kamu hati - hati ya? Kalau ada waktu hubungi Mas secepatnya."


" Insya Allah, Mas. Tolong jaga anak kita dengan baik. Jika suatu saat nanti identitasku terbongkar, segeralah pergi yang jauh."


" Ngomong apa sih, Dek! Jaga ucapanmu." tegur Azzam.


" Bim, kami berdua juga akan ikut dalam misi ini." kata Rayyan.


" Tidak bisa, Tuan Rayyan. Ini sudah menjadi prosedur kelompok kami Tiger White, tidak akan melibatkan pihak luar dalam menjalankan misi." tegas Bima.


Azzam dan Rayyan menatap Zahra bersamaan, menghiba agar diijinkan untuk ikut bergabung dengan Tiger White.


" Huh..."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2