Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Honeymoon yang terlambat


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu semenjak Azzam dan Zahra menginap di Apartement Rayyan. Malam itu, Azzam meminta Rayyan untuk mengurus kantor dan juga mengawasi restoran yang sudah dipercayakan kepada tiga pegawainya yang dipilih langsung oleh Zahra.


Hari ini, Azzam dan Zahra sudah bersiap di Bandara Soetta. Mereka akan mengunjungi negeri Sakura berdua saja. Walaupun Zahra ingin mengajak Rama, namun Tuan Zaid dan istrinya melarangnya karena menurut mereka penerbangannya terlalu lama untuk anak seusia Rama.


" Kai, titip Rama dan orangtua kita. Jaga mereka dengan baik." ujar Azzam.


" Pasti, Mas. Mereka tanggung jawabku juga, nikmati liburan kalian sebelum badai menerpa." sahut Kaivan.


" Maksud kamu apa, Kai?" tanya Zahra.


" Klien dari Singapore akan datang minggu depan dan sudah pasti wanita itu yang akan turun langsung ke lapangan agar bisa sering bertemu Mas Azzam."


" Kenapa tidak kamu yang tangani proyek itu, Kai?"


" Tidak bisa, Kak. Dari awal mereka memang hanya ingin kerjasama langsung dengan Mas Azzam."


" Udah, sayang. Kita pikirkan itu nanti, sekarang fokus dengan honeymoon kita." kata Azzam menengahi.


" Iya, honeymoon yang terlambat." ledek Kaivan.


" Diam kau! Bilang aja iri karena belum ada yang bisa diajak honeymoon." balas Azzam.


" Mas Azzam... Kaivan...!" sentak Zahra.


" Kak Zahra fokus saja dengan honeymoon-nya. Kai bakalan cari cara untuk membuat wanita itu jera jika masih mengejar Mas Azzam." sahut Kaivan.


" Tidak masalah, nanti aku bisa minta bantuan Bima untuk menangani soal ini."


Setelah berbincang sebentar, penerbangan menuju Jepang sudah bersiap akan berangkat. Azzam dan Zahra segera masuk meninggalkan Kaivan yang masih duduk di ruang tunggu hingga pesawatnya mengudara.


.


.


Lima belas menit mengudara, Zahra mulai bermanja di bahu suaminya. Sesekali ia menatap wajah suaminya yang terlihat teduh dan berwibawa.


" Mas..." lirih Zahra.


" Apa, sayang?" sahut Azzam.


" Apakah kita egois, meninggalkan Rama bersama kakek neneknya?"


" Tidak, sayang. Justru mereka sangat senang bisa lebih lama mengurus cucu kesayangan mereka."


Azzam mendaratkan kecupan lembut di kening Zahra agar istrinya itu merasa nyaman dan tidak merasa bersalah telah terlalu lama menitipkan buah hati mereka di rumah orangtua Azzam.


" Mas, perjalanannya masih lama ya?" keluh Zahra.


" Baru juga satu jam, Yang. Bukannya kamu pernah terbang lebih jauh dari sekarang?"


" Udah lama itu, waktu masih kerja sama Bima."


" Tidurlah! Nanti Mas bangunin kalau sudah sampai."


Zahra menikmati tidurnya di dalam pesawat. Ia hanya bangun saat makan saja, selebihnya ia tidur dalam pelukan suaminya.


" Tumben manja banget, Dek." batin Azzam sambil tersenyum kecil.


Beberapa jam kemudian, Azzam dan Zahra sudah sampai di Jepang. Mereka dijemput oleh petugas hotel tempat mereka menginap satu minggu ke depan.


" Mas, dingin banget." bisik Zahra.


" Bilang aja minta peluk, Yang." goda Azzam.


" Nggak mau?"


" Jangankan cuma peluk, lebih dari itu aja Mas siap lahir batin."

__ADS_1


" Mesum...!"


Sampai di hotel, Azzam langsung menyuruh istrinya untuk istirahat. Mereka tidak akan keluar malam ini kecuali untuk makan.


" Mas nggak istirahat?" lirih Zahra.


" Sebentar lagi, sayang. Mau beresin koper dulu, pindahin semua pakaiannya ke lemari." ujar Azzam.


" Biar nanti Zahra saja, Mas istirahat sini."


" Adek tidak boleh mengerjakan apapun selama kita honeymoon. Semua yang Adek butuhkan, Mas yang akan menyiapkannya."


" Tapi Adek kesannya jadi memperbudak Mas Azzam." protes Zahra.


Azzam yang sudah memasukkan semua pakaian ke lemari lantas ikut berbaring di samping sang istri. Direngkuhnya tubuh wanita cantiknya itu dengan gemas.


" Tidak ada kata 'memperbudak' karena Mas ikhlas melakukan semua untuk Adek. Mas tidak mau melihat Adek kelelahan mengurus Mas, justru Mas yang berkewajiban mengurus Adek."


" Suamiku so sweet banget, sih. Walaupun yang dikatakan Kaivan benar, honeymoon yang terlambat. Masa' iya, anaknya udah hampir tiga tahun baru honeymoon."


" Suaminya siapa dulu dong? Tidak apa - apa terlambat, kita bikin Rama versi cewek." Azzam menciumi wajah Zahra bertubi - tubi.


" Udah, Mas... Nanti kebablasan." tegur Zahra.


" Hhh... Baiklah, nanti saja setelah makan malam. Nanggung juga kalau hanya satu ronde." sahut Azzam santai.


" Ish... Kumat lagi mesumnya." desis Zahra.


Azzam memejamkan matanya sambil mendekap tubuh istrinya erat. Hari ini memang mereka terlihat sangat lelah karena dalam seminggu mereka harus mengurus pekerjaannya sebelum liburan.


.


.


Malam ini, Azzam dan Zahra lebih memilih makan malam di Restoran hotel saja karena Azzam tahu jika istrinya belum terbiasa dengan cuaca dingin di negara ini.


" Mau makan apa, sayang?" tanya Azzam.


Azzam memanggil pelayan untuk memesan makanan. Berbeda dengan sang istri, Azzam memilih Sup jamur dan Ramen.


" Mas bisa bahasa Jepang?"


" Hanya sedikit, sayang. Sekedar kosakata sederhana."


" Zahra cuma bisa tiga bahasa saja." keluh Zahra.


" Itu juga udah bagus, Yang. Kamu bisa bahasa apa saja?"


" Bahasa Inggris, Indonesia sama Jawa." Zahra nyengir malu.


" Ya Allah, Dek. Mas juga bisa satu bahasa tapi tidak semua orang bisa. Tapi Mas yakin kamu bisa mengartikannya." ucap Azzam tampak serius.


" Bahasa apa itu?" tanya Zahra penasaran.


" Bahasa cinta dan bahasa tubuh. Cuma Adek yang paham dan menikmatinya." jawab Azzam tanpa dosa.


" Mas...!" pekik Zahra malu.


" Disini tidak ada yang mengerti bahasa kita, sayang. Apalagi kalau pakai bahasa jawa, mereka seperti mendengar bahasa alien."


Zahra mendengus sebal dan tidak mau menatap sang suami yang tersenyum jahil. Untung saja pelayan segera datang membawakan pesanan mereka sehingga Zahra langsung fokus pada makanannya.


" Sayang, mau cobain ramen punya Mas, nggak?" bujuk Azzam.


" Nggak!" jawab Zahra datar.


" Adek marah?"

__ADS_1


" Nggak, makan aja jangan sambil bicara."


Azzam melanjutkan makannya dengan diam sambil sesekali melirik kearah sang istri yang fokus pada makanannya sejak tadi.


Setengah jam kemudian, mereka sudah selesai makan dan Zahra enggan untuk diajak kembali ke kamar hotel.


" Ini sudah malam, Dek. Besok saja kita jalan - jalan." bujuk Azzam.


" Zahra cuma pengen keliling sebentar di sekitar sini, Mas." rengek Zahra.


" Baiklah, mau pakai mobil atau_..."


" Jalan kaki. Zahra hanya ingin melihat - lihat jalanan sini saja."


" Ok... Let's go, honey..."


Azzam mengulurkan tangannya untuk menggandeng sang istri. Dia tidak mau melepaskan istrinya sendiri di negara asing, terlebih sang istri tidak bisa berbahasa jepang.


" Mas, nanti ajari Zahra bahasa jepang ya?"


" Boleh. Sekalian nanti Rama juga kita ajarkan bahasa asing biar terbiasa."


" Zahra cuma bisa ajarkan bahasa inggris saja, Mas."


" Nothing. Nanti Mas bisa ajarkan bahasa yang lain."


" Bahasa apa saja?" Zahra tampak antusias.


" Sunda, Melayu, Madura_..."


" Mas Azzam, ih!" sungut Zahra.


Azzam merangkul istrinya melewati jalanan yang menjual berbagai makanan khas jepang. Dilihat dari tampilannya saja, Zahra terlihat hampir meneteskan air liurnya.


" Mas, Zahra pengen itu." bisik Zahra sambil menunjuk salah satu stand makanan.


" Makanan itu tidak halal, Yang." sahut Azzam.


" Kenapa? Kita bayar, Mas... Bukan mencurinya." ucap Zahra bingung.


" Bukan itu, istriku. Tapi daging yang dipakai itu bukan daging sapi." ujar Azzam.


" What? So_..."


" Nanti Mas carikan makanan yang terjamin halal saja."


Zahra menurut dan semakin menempelkan tubuhnya pada sang suami karena cuacanya yang semakin dingin.


" Kembali ke hotel saja?" tanya Azzam.


" Iya, tapi beli jajanan dulu." sahut Zahra.


" Kebab Turki, mau?"


" Iya, yang penting halal."


Azzam segera menuju stand penjual Kebab yang berada di seberang hotel. Mungkin saja karena udara yang dingin membuat Zahra lebih mudah lapar.


Saat sedang menunggu pesanan, Zahra lebih memilih duduk di kursi yang tak jauh dari penjualnya. Azzam sedang mengantri bersama para pembeli yang lain. Namun, saat Azzam telah mendapatkan makanannya, ia terkejut saat mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanta cukup keras dan langsung berhambur memeluknya tanpa Azzam sempat menghindar.


" Azzaammm...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2