
" Astaghfirullah..." pekik Zahra.
Azzam yang sedang tidur pulas kaget dengan suara pekikan sang istri. Dia segera duduk dengan pandangan yang masih sedikit buram.
" Sayang, ada apa?" tanya Azzam dengan suara serak.
" Mas, Rama demam. Aku pulang saja, ya?"
" Ya udah, kita pulang sekarang."
" Bang Rayyan gimana? Kasihan kalau ditinggal sendiri."
" Kamu pulangnya gimana? Mas nggak mau kamu bawa mobil sendiri."
Ben yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara karena tak ingin pasangan suami istri itu berdebat hal yang tak penting.
" Maaf, kakak ipar." ucap Ben menyela.
" Hmm...?" Zahra dan Azzam menatap Ruben bersamaan.
" Begini... Daripada kalian berdebat, saya bisa antar kakak ipar pulang sekalian periksa keadaan orang yang sedang kalian bicarakan itu."
" Rama itu anakku, Ben. Usianya baru tiga tahun." ucap Azzam.
" Ya sudah, aku ambil peralatan di ruanganku dan obat - obatan yang mungkin diperlukan."
" Tapi_..." ucap Zahra ragu.
" Ayolah, kakak ipar... Saya bukan orang yang jahat." bujuk Ben.
" Kau pulang saja, Zam. Aku disini sendiri tidak apa - apa. Kasihan Rama tidak ada yang menemani." ujar Rayyan.
" Tidak, Bang. Mas Azzam tetap disini jaga Abang sampai sembuh. Biar Rama jadi tanggung jawab Zahra." ucap Zahra lembut.
" Hati - hati, kalau Ben macam - macam bunuh saja." ujar Azzam.
" Mas...! Nggak boleh begitu, Dokter Ruben sudah berbaik hati untuk mengantar pulang." tegur Zahra.
" Hhh...! Baiklah, semoga anak kita baik - baik saja."
Azzam memeluk istrinya dengan erat walaupun ada orang lain yang menatapnya iri. Pria yang dulu terkenal dingin terhadap wanita itu, kini suka mengumbar kemesraan di tempat umum.
.
.
" Kakak ipar, dimana rumahmu?" tanya Ben.
" Di desa pinggiran kota ini. Terus saja jalan, nanti saya tunjukkan arahnya." jawab Zahra.
Kini Zahra dan Ben sedang berada di dalam mobil milik dokter itu. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju kampung Zahra.
" Kakak ipar, boleh tanya sesuatu?"
" Tanya apa?"
" Kok kakak ipar bisa kenal dengan manusia kutub itu, sih?"
" Maksudnya?"
__ADS_1
" Itu, si Azzam. Dia itu pria yang paling dingin dan anti perempuan."
" Masa' sih? Mas Azzam orang yang ramah pada semua orang walaupun tidak banyak bicara."
" Oh, ya? Sejak kapan dia jadi ramah? Wah... Harus diberi penghargaan sepertinya."
Zahra tersenyum tipis seraya menatap jalanan di depannya tanpa berkomentar. Benar kata Ben, suaminya memang tak banyak bicara dan terkesan acuh dengan sekitarnya walaupun secara perlahan bisa menempatkan diri saat berada di tengah - tengah masyarakat pedesaan.
" Dokter, mampir di depan sebentar ya? Mau beli makanan buat Rama."
" Jangan memanggilku seperti itu, kakak ipar." sungut Ben.
" Usiamu pasti lebih tua dariku Dokter Ruben."
" Pokoknya tidak boleh memanggil seperti itu lagi!"
Ben memarkirkan mobilnya di depan warung nasi padang. Dia ikut turun seperti bocah kecil yang tidak mau terpisah dari ibunya.
" Kenapa ikut turun?" tanya Zahra heran.
" Mau jagain kakak ipar biar nggak digangguin cowok kurang ajar." jawab Ben bersemangat.
" Terserah, tapi bayarin sekalian ya?"
" Kakak ipar tenang saja, kalau perlu rumah makan ini saya beli buat kakak."
" Percaya aja deh,"
Zahra memesan lima bungkus nasi padang untuk makan di rumah sekalian untuk bu Marni dan Agus yang sudah menjaga Rama.
" Sudah, kakak ipar?"
" Baru dibungkus, Ben."
Selesai dengan urusan makanan, Ben dan Zahra kembali melanjutkan perjalanan menuju desa. Zahra meminta Ben untuk lebih cepat karena khawatir dengan keadaan putranya.
.
.
Sampai di rumah, Zahra menyuruh Ben untuk menunggu di teras karena dirinya akan menjemput Rama di rumah bu Marni.
" Assalamu'alaikum..." ucap Zahra.
" Wa'alaikumsalam, sudah pulang Mbak?" balas Agus.
" Sudah, Gus. Rama kenapa?"
" Demam, Mbak. Tadi udah di kasih obat sama Ibu, tapi Rama rewel cari mbak Zahra."
" Kamu ikut ke rumah Mbak, ya? Mbak tadi pulang diantar temannya mas Azzam, seorang dokter. Dia sekalian mau periksa keadaan Rama."
" Iya, Mbak."
Zahra melihat Rama yang masih menangis di gendongan Bu Marni. Anak itu memang sudah sangat dekat dengan wanita paruh baya itu. Sejak bayi memang bu Marni ikut mengasuh Rama karena Zahra masih belum berpengalaman dalam mengurus anak.
" Maaf ya, Bu? Zahra selalu saja merepotkan ibu." ucap Zahra pelan.
" Kamu itu ngomong apa sih, Za? Kalian itu sudah ibu anggap seperti anak dan cucuku sendiri."
__ADS_1
" Terima kasih, Bu."
Zahra menggendong putranya yang masih menangis. Diikuti Bu Marni dan Agus, Zahra berjalan menuju rumahnya.
" Dokter Ben, ayo masuk." ucap Zahra.
" Iya, Kak. Saya ambil peralatan di mobil dulu." sahut Ben.
Zahra masuk ke dalam rumah terlebih dahulu bersama Bu Marni dan Agus. Mereka duduk di ruang tamu menunggu Ben.
Sementara diluar rumah, Ben mengambil tas berisi peralatan kesehatan yang ia simpan di mobil. Saat ia hendak membuka pintu mobilnya, ada dua wanita paruh baya yang menghampirinya.
" Mas, kamu temennya Zahra?" tanya salah seorang ibu - ibu.
" Iya, Bu. Saya temennya Zahra." jawab Ben ramah.
" Temen biasa apa temen deket?" sahut ibu yang lain.
" Maksudnya apa ya, Bu?" Ben merasa ada sesuatu yang salah dari tatapan mereka.
" Halaahhh... Semua orang juga tahu kalau Zahra itu sering membawa pria yang berbeda."
" Ibu - ibu jangan asal bicara, Zahra itu perempuan baik - baik."
" Mas itu yang harusnya dengarkan kita. Jangan sampai jadi korban selanjutnya."
" Maaf, Bu. Sepertinya kalian hanya salah paham."
" Hhh... Dasar keras kepala, dikira kami tidak tahu kalau kalian tadi kesini hanya berdua? Mana ada wanita yang sudah bersuami malah jalan berdua dengan pria lain."
" Astaghfirullah... Jangan fitnah, Bu! Tanggung jawabnya berat di akhirat. Jaga lisan kalian, jangan sampai ditiru anak cucu kalian nanti." geram Ben.
" Tidak usah sok suci, Mas! Kami tahu kau ini salah satu dari sekian banyak selingkuhan Zahra. Kasihan Azzam punya istri seperti dia."
Zahra yang sudah terlalu lama menunggu di dalam rumah, menyusul Ben yang masih di halaman bersama dua perempuan tetangganya.
" Ben, ada apa?" tanya Zahra.
" Tidak apa - apa, masuklah dulu." ujar Ben.
Zahra merasa aneh dengan sikap Ben yang tiba - tiba memasang raut wajah datar. Tatapan sinis juga ia dapatkan dari dua tetangganya.
" Why...?" lirih Zahra.
" Masuklah, saya mau ambil tas dulu."
" Bu Titin, Bu Ambar...? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Zahra.
" Zahra_..." ucap Bu Ambar ingin mengungkapkan sesuatu namun dipotong oleh Ben.
" Ayo masuk! Anakmu lebih penting daripada mengurus hal yang nggak jelas seperti ini."
Ben segera menarik lengan Zahra untuk menjauh dari tetangganya itu. Ben tidak akan mungkin percaya dengan gunjingan tetangga Zahra yang sudah kelewat batas itu. Dia percaya jika Zahra adalah perempuan baik - baik dan Azzam juga tidak mungkin salah memilih pasangan hidup.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.