Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Rayyan ke sawah


__ADS_3

Zahra sudah siap untuk berangkat sekolah bersama suami dan anaknya. Bertepatan dengan itu, Rayyan juga keluar dari rumahnya dengan motor sport miliknya.


" Za, bareng Abang saja." kata Rayyan.


" Terima kasih, tapi Zahra berangkat bersamaku." sahut Azzam.


" Ok, aku duluan."


Rayyan hendak melajukan motornya namun urung saat Rama memanggilnya.


" Papa, ikut!" teriak Rama.


" Mau ikut, Papa? Sini, naik di depan."


Rayyan menyambut tubuh mungil Rama yang berlari kearahnya. Dia segera mendudukkan bocah itu di depannya dan segera melajukan motornya.


" Mas, kok Rama jadi deket banget sama Bang Rayyan?"


" Entahlah, mungkin Rayyan pengen punya anak sendiri."


" Ish... Ngomong apa sih! Bang Rayyan belum punya istri."


" Mas udah punya istri, bolehkan punya anak lagi?"


" Mas... Ihh...!"


" Ayo berangkat, nanti telat." ujar Azzam.


Sampai di sekolah, Rama sudah menunggu di tempat parkir bersama Rayyan. Entah sejak kapan membelinya, namun Rama sudah membawa sekantong jajanan sambil memakan roti.


" Ayah, Bunda...!" seru Rama.


" Jajan apaan itu, banyak banget?" sahut Azzam.


" Dibeliin sama Papa, katanya buat bekal main di sawah."


" Ya udah, kita ke sawah sekarang. Bunda dan Papa juga mau kerja." ujar Azzam.


" Assalamu'alaikum, Bunda... Papa..." Rama mencium punggung tangan keduanya sambil tersenyum.


" Wa'alaikumsalam, sayang..."


Azzam segera melajukan motornya menuju sawah setelah Zahra dan Rayyan masuk. Anaknya berceloteh kesana kemari tiada henti hingga sampai di sawah.


" Ayah, nonton kartun."


" Kartun apa? Nanti kalau sudah di rumah, disini tidak ada tv."


" Tapi kalau sama Om Kai bisa pakai ponsel."


Azzam berdecak kesal. Pantas saja anaknya betah bersama Kaivan selama ini, ternyata disuruh bermain ponsel.


" Tidak boleh mainan ponsel terus, Ram. Om Kai jangan dipercaya, Rama belajar menulis dan membaca saja."


" Kata Om Kai bisa belajar menulis dan membaca di ponsel."


" Ya udah, tapi tidak boleh lama - lama mainnya."


" Iya, Yah."


Azzam mendesah pelan lalu memberikan ponselnya daripada bocah itu menangis dan berakhir minta pulang.


" Kamu duduk disini jangan kemana - mana. Ayah mau ketemu Om Cahyo sama Om Agus dulu." ujar Azzam.


Rama duduk di samping gudang yang dulu milik Jefri agar Azzam bisa tetap mengawasinya dari jauh.


" Assalamu'alaikum." sapa Azzam.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam, mas Azzam." balas para pekerja.


" Apa ada masalah saat saya tidak ke sawah?"


" Tidak ada, ini baru mau buka lahan di belakang gudang itu, Mas."


" Besok saja beli alat buat membajak sawahnya, kalau pakai cangkul lama." kata Azzam.


" Harganya mahal loh, Mas. Mau yang baru atau bekas?" tanya Agus.


" Belum tahu juga, nanti habis zuhur kalian berdua ikut ke kota." ujar Azzam pada Agus dan Cahyo.


" Iya, Mas."


" Sekarang kalian berdua ikut ke gudang. Ada yang ingin kubicarakan."


Sementara yang lain sedang menanam cabai, Agus dan Cahyo ikut Azzam ke gudang. Azzam masih berpikir untuk menanam apa di kebun belakang gudang.


" Rama...! Sini sama Ayah...!" panggil Azzam pada putranya.


" Ayah, bukain jajan." Rama berlari membawa ponsel dan sekantong jajanan.


" Udah main ponselnya, nanti Bunda marah." tegur Azzam.


Setelah ini Azzam akan memarahi Kaivan yang sudah mengajarkan putranya bermain ponsel di saat usianya masih balita. Azzam dan Zahra saja tidak pernah mengijinkan putranya memegang benda itu.


Rama naik ke pangkuan Azzam lalu memakan jajanan setelah menyerahkan ponselnya pada ayahnya.


" Yah, kapan ke rumah kakek lagi?" tanya Rama.


" Nanti kalau Bunda libur kerjanya."


" Minum, Yah."


Azzam memberikan minum yang sudah ia persiapkan dari rumah. Setelah itu ia menurunkan Rama dari pangkuannya seraya di kasih mainan agar tidak terus merengek.


Azzam berdecak kesal saat mendengar nama adik tirinya disebut. Kenapa bocah itu malah sering menanyakan Kaivan akhir - akhir ini?


" Om Kai juga lagi kerja, Ram."


Setelah Rama sibuk bermain dengan mobil - mobilannya, Azzam sekarang fokus untuk bicara dengan Agus dan Cahyo.


" Kalian beneran sudah sehat? Jangan dipaksakan kalau masih sakit." ujar Azzam.


" Sudah sehat, Mas. Kami sudah siap untuk bekerja lagi." ucap Agus.


" Ya sudah, nanti ikut ke kota sekalian buka rekening untuk menyimpan uang ganti rugi kemarin."


" Itu beneran 50 juta, Mas?"


" Kenapa...? Kalau masih kurang nanti aku minta lagi sama orang itu."


" Jangan, Mas. Itu sudah lebih dari cukup, kami tidak mau memanfaatkan keadaan." ucap Cahyo.


" Aku tahu, lagian aku juga tidak kenal orang itu. Katanya dia teman Zahra dulu di kota."


" Mbak Zahra kok bisa kenal orang - orang seperti itu ya, Mas? Padahal Mbak Zahra orangnya pendiam dan terkesan menutup diri." ucap Agus.


" Mana kutahu, bertahun - tahun hidup bersamanya aku tidak bisa mengenalnya dengan baik." ungkap Azzam.


" Eh, kok malah ngomongin Zahra!" ucap Azzam lagi


Agus dan Cahyo terkekeh pelan mendengar Azzam yang menggerutu sendiri setelah membicarakan istrinya.


Saat Azzam hendak berujar kembali, tiba - tiba Rayyan datang bersama Zahra masih dengan pakaian rapi habis mengajar.


" Assalamu'alaikum." sapa Zahra dan Rayyan.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam."


" Dek, udah pulang? Baru juga jam setengah sepuluh." tanya Azzam.


" Tadi ada rapat di sekolah, anak - anak pulang setengah sembilan." jawab Zahra.


" Zam, aku boleh turun ke sawah nggak? Penasaran pengen nyoba bercocok tanam." ucap Rayyan.


" Boleh, ikut saja para pekerja disana. Kebetulan mereka sedang tanam bibit cabai." sahut Azzam.


Rayyan tampak bersemangat sekali hingga tak peduli dengan pakaiannya yang nantinya kotor. Pria itu segera menghampiri para pekerja.


" Selamat siang, Pak. Boleh saya ikut membantu? Ini pertama kalinya saya ke sawah." ucap Rayyan.


" Pak guru ini dari kota, ndak biasa kerja begini. Lebih baik tidak usah, nanti jadi kotor pakaiannya."


" Tidak apa - apa, Pak. Siapa tahu suatu hari nanti saya juga jadi petani."


" Apa benar pak Rayyan mau berhenti jadi guru? Mau pindah ke kota lagi?"


" Iya, Pak. Pekerjaan disana tidak bisa ditinggal."


Saat sedang berbincang sambil menanam bibit cabai, tiba - tiba Rayyan berteriak sambil berlari secepat mungkin.


" Aaaaa....!!!" teriak Rayyan.


" Azzaammm...! Toloonnggg...!"


Zahra dan Azzam segera berlari menghampiri saat mendengar teriakan Rayyan. Semua berpikir mungkin Rayyan terkena benda tajam atau terluka karena sesuatu yang membahayakan.


" Rayyan...! Are you oke?" tanya Azzam panik.


" Abang kenapa...?" ujar Zahra.


Para pekerja yang tadi di samping Rayyan juga ikut bingung dengan tingkah pria itu. Menurut mereka tidak ada sesuatu yang buruk yang menimpa Rayyan.


" Zam, pulang yuk?" rengek Rayyan dengan nafas yang terengah - engah.


" Katakan dulu ada apa?"


Agus dan Cahyo juga ikut panik melihat Rayyan yang tampak ketakutan. Apa gerangan yang membuat Rayyan sampai berteriak histeris seperti itu?


" Ray...! Katakan ada apa denganmu?" cecar Azzam.


" Itu, Zam. Tadi disana, aku lihat ada yang bergerak - gerak."


" Apa yang bergerak - gerak?"


" Disana...!" Rayyan menunjuk ke arah tempat ia menanam tadi.


Azzam terdiam sejenak seperti tengah berpikir sesuatu. Namun tak berselang lama, ia teringat sesuatu dan seketika tertawa kencang.


" Astaghfirullah, Ray...! Kau masih takut...?" ejek Azzam.


" Takut apa, Mas?" tanya Zahra.


" Rayyan takut cacing..." Azzam melihat wajah pucat Rayyan namun tak bisa menahan tawanya.


Rayyan yang takut dan malu langsung pergi dengan motornya karena tak ingin Azzam terus mengejeknya. Dengan kesalnya ia berjanji tidak akan pernah masuk ke sawah lagi.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2