Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Curhatan Kaivan


__ADS_3

" Aku akan segera melenyapkan Darco!" geram Bima.


Sepertinya Bima memiliki dendam pribadi dengan Darco. Dari awal ia tahu bahwa musuh Zahra ada hubungannya dengan Darco, Bima langsung bersemangat untuk ikut turun tangan langsung.


" Kau punya dendam pribadi dengan Darco?" tanya Deni.


" Dia yang membunuh pamanku. Aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri."


" Jadi, Tiger White juga memburu Darco?" tanya Rayyan.


" Tentu saja, sudah bertahun - tahun aku mengejar Darco. Ternyata dia juga mengusik keluarga Al Farizy. Pantas saja jejaknya tak pernah bisa dilacak. Selama ini Darco mengendalikan perusahaan Al Farizy untuk kepentingan pribadinya." jawab Bima.


" Begini saja, kau masuk ke kediaman Al Farizy sebagai sopir pribadi Nella." usul Deni.


" Bagaimana caranya?"


" Besok akan kuatur semuanya. Semoga rencanaku berjalan dengan lancar." seringai Deni.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam tapi Kaivan belum mengijinkan Zahra beranjak dari tempat duduknya.


Bosan? Pasti. Sedari tadi Zahra hanya duduk diam di sofa menunggu Kaivan bekerja. Zahra hampir saja ketiduran karena terlalu lelah.


" Tuan... saya keluar saja ya?"


" Sebentar lagi, Ra. Ini tinggal dua berkas lagi yang harus saya kerjakan."


" Tapi kenapa saya harus menunggu, Tuan?"


" Jangan cerewet! Nanti kerjaanku tidak akan selesai."


Zahra kembali menyandarkan punggungnya di sofa. Dirinya tidak khawatir sama sekali berduaan saja bersama Kaivan karena Zahra bisa menilai kepribadian pria itu yang begitu sopan terhadap wanita, terlihat dari pandangan matanya yang tak pernah menatapnya secara intens.


" Ra...!" panggil Kaivan pelan.


" Iya, Tuan...?" sahut Zahra.


" Buatin kopi."


" Baik, Tuan."


Zahra beranjak keluar dari kamar Kaivan untuk membuat kopi. Sementara itu, Kaivan langsung beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka.


" Tuan... Anda kenapa...?" tanya Zahra heran.


Zahra yang baru masuk heran melihat Kaivan yang duduk di lantai bersandar sofa. Setelah meletakkan kopi diatas meja, Zahra ikut duduk di lantai berhadapan dengan Kaivan.


" Duduklah diatas, nanti kau sakit." ujar Kaivan datar.


" Mana bisa begitu? Majikan aja duduk di bawah, mana mungkin pelayan duduk diatas." tolak Zahra.

__ADS_1


" Tutup pintunya!"


" Hah...? Maksud, Tuan...?"


" Tutup pintunya, Rara! Ada yang ingin saya bicarakan denganmu."


Melihat wajah serius Kaivan, Zahra menutup pintu dengan rapat. Mungkin saja ini kesempatan Zahra untuk mencari informasi tentang keluarga Al Farizy. Dua hari tinggal di rumah besar ini, Zahra belum bisa berkeliling di setiap sudut rumah. Dia masih menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar tak dicurigai.


" Tuan mau bicara apa?"


" Apa kau bisa kupercaya, Ra? Kau tidak akan mengkhianatiku, kan?" ucap Kaivan pelan.


" Iya, Tuan. Saya bisa jaga rahasia." jawab Zahra ragu.


" Kau jujur padaku, Ra. Kau bukan salah satu dari anak buah Mami, kan?"


" Tidak, Tuan. Saya baru pertama kali ini datang ke Jakarta, sumpah..."


" Tentang keluarga ini, Ra. Saya merasa sangat berdosa telah merusak keluarga ini."


" Maksud Tuan Kai apa?"


Zahra mengubah cara duduknya untuk mencari posisi yang nyaman untuk mendengar cerita dari Kaivan. Pria itu nampaknya sudah sangat percaya padanya walaupun baru dua hari bertemu.


" Ra, saya ini bukan keturunan Al Farizy. Saya berasal dari keluarga yang telah hancur dan penuh dosa. Karena keluarga saya juga, keluarga Al Farizy menjadi hancur."


" Tenang, Tuan. Anda harus bisa menahan emosi."


" Bagaimana saya bisa tenang, Ra. Selama tiga tahun ini saya menutup mata melihat kejahatan di hadapan saya sendiri tanpa bisa melakukan apapun."


" Kenapa...? Apa ada yang menekan Anda?"


" Ra, janji padaku satu hal padaku. Jangan pernah pergi dan membenciku saat tahu kenyataan ini. Hanya kamu yang saya percaya di dunia ini. Berjanjilah padaku, Ra!"


" Iya, saya janji Tuan. Asalkan Tuan mau jujur pada saya semuanya."


' Maafkan saya, Kai. Kamu pasti sangat kecewa jika tahu tujuanku masuk ke rumah ini ' batin Zahra.


Kaivan mengatur nafasnya sebelum menceritakan keadaan dirinya saat ini. Entah mengapa, melihat wajah polos Zahra membuat Kaivan sangat mudah percaya padanya.


" Tiga tahun lalu, saya masuk ke rumah ini bersama Mami setelah menikah dengan papa Zaid. Saya tidak suka dengan cara Mami yang selalu memaksakan kehendak dengan menghalalkan berbagai macam cara."


" Lanjutkan, Tuan. Dengan bercerita, setidaknya itu bisa mengurangi beban di hati yang sudah sekian lama terpendam."


" Entah apa yang terjadi, Mami bisa menikah dengan papa padahal ibunya Mas Azzam masih ada."


" Ibunya Mas Azzam_... Eh, maksud saya ibunya Tuan Azzam masih ada?"


" Iya, Ra. Papa mengusir mas Azzam dan mengasingkan mama Rahma. Seandainya waktu itu saya datang tepat waktu, mungkin bisa mencegah kepergian mas Azzam."


" Dimana mam.... maksud saya Nyonya Rahma? Apakah beliau masih tinggal di rumah ini?"


Zahra sulit mengendalikan emosinya sehingga sering salah dalam berucap. Untung saja Kaivan tak menyadari ekspresi wajah Zahra yang berubah - ubah.

__ADS_1


" Iya, Mama Rahma tinggal di paviliun belakang, dijaga ketat oleh pengawal mami Nella."


" Apa Tuan Kaivan tidak melakukan sesuatu untuk membantu Nyonya Rahma?"


" Saya bisa menemuinya, namun tak bisa membawanya pergi. Kau tahu, Ra... jika saya tidak menuruti perintah Mami, nyawa mama dan papa akan dipertaruhkan."


" Bagaimana kondisi Nyonya sekarang?"


" Beliau sedang sakit, tapi papa dan mami tidak peduli sama sekali. Saya sudah meminta mami untuk membawa mama ke rumah sakit, tapi mereka menolak. Sekarang ini hanya mas Azzam harapanku. Saya sudah mencarinya kemana - namun tak menemukannya. Saya tahu dia marah dan benci padaku, tapi hanya dia yang bisa menolong mama Rahma."


Zahra menyadari sesuatu, yaitu ketulusan Kaivan. Pria itu sebenarnya menolak semua perbuatan ibunya, namun dirinya juga tidak mempunyai pilihan.


" Ra, ini pasti sangat sulit. Pamanku adalah seorang mafia. Dia yang selama ini ada dibalik semua kekacauan keluarga Al Farizy. Saya ingin memberontak namun tak ada yang mendukungku. Setidaknya dengan adanya Mas Azzam, kami bisa melawan Mami dan Om Darco."


" Bagaimana dengan Tuan Zaid...?"


" Papa juga mendapat banyak tekanan dari Mami. Jika papa berani melawan, maka Mama Rahma akan dibunuh."


" Anda yakin akan membantu Tuan Azzam dan menentang Nyonya Nella?"


" Iya, Ra. Saya ingin menebus semua kesalahanku pada Mas Azzam dan Mama Rahma."


" Tuan orang yang baik, saya akan membantu semampu saya dan akan mendukung semua langkah Tuan untuk menolong Nyonya Rahma."


" Terima kasih, Ra. Sekarang istirahatlah, sudah malam."


" Baik, Tuan."


Zahra keluar dari kamar Kaivan dengan membawa cangkir kopi yang telah kosong. Saat sampai di dekat dapur, Zahra melihat Nyonya Nella berjalan ke pintu belakang menuju paviliun. Penjagaan yang sangat ketat membuat Zahra sulit untuk mengintai. Malam ini ia hanya bisa pasrah dan kembali ke kamarnya saat ada seorang pengawal yang menatapnya tajam.


.


.


Sementara di paviliun, Nella dengan angkuh menatap seorang wanita yang terbaring lemah di tempat tidur. Seringai di bibir Nella seakan mengejek wanita di depannya.


" Bagaimana kabarmu hari ini? Kau pasti sangat tersiksa dan memilih untuk mati saja, kan?" kata Nella tersenyum sinis.


" Kau kejam, Nella...!" suara pelan itu seakan sedang menahan sakit yang amat luar biasa.


" Hahahaa... kau baru tahu? Rahma yang malang, seandainya kau tak merebut Zaid dariku semua ini tidak akan terjadi! Tenang saja, saya tidak akan membunuhmu sekarang. Karena Azzam, putra kesayanganmu itu harus lebih dulu mati agar Kaivan bisa menjadi pewaris Al Farizy."


Rahma, ibu kandung Azzam itu geram menahan sakit dan amarah yang memuncak. Entah obat apa yang diberikan Nella padanya sehingga tubuh Rahma semakin hari semakin melemah.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2