
Selesai berdiskusi dengan Tuan Zaid, Zahra kembali ke ruang CEO. Dengan perlahan ia membuka pintu setelah mengetuknya beberapa kali.
" Darimana saja!" ketus Kaivan.
" Hanya diluar sebentar, Tuan. Apa ada masalah...?" tanya Zahra lembut.
" Kau belum memberiku makan dan pergi begitu saja seenaknya. Lama - lama nglunjak kamu ya!"
" Maaf, Tuan. Tapi makanannya sudah saya taruh di meja."
" Kau pikir makanan itubisa jalan sendiri kepadaku!"
" Ya Allah, Tuan. Makanannya memang tidak bisa berjalan, tapi Anda bisa mengambilnya."
" Berani kau menyuruhku!" sentak Kaivan.
" Ti... tidak, Tuan. Maafkan saya sudah lancang." ucap Zahra memelas.
Zahra menatap wajah Kaivan terlihat kusut. Tak lama kemudian, Bima datang dengan membawa berkas yang sudah ia periksa di dalam mobil tadi.
" Maaf, Tuan. Laporan keuangan ini sudah saya periksa semua." ucap Bima.
" Bagaimana hasilnya?"
" Ada penggelapan selama setahun terakhir. Setiap dana yang keluar lebih dari satu milyar hampir setiap bulan."
Kaivan dan Zahra terperanjat tak percaya dengan ucapan Bima. Dana sebesar itu hilang dan tak ada yang mengetahuinya.
" Sakti... kau benar - benar memeriksanya?" ucap Kaivan tak percaya.
Hampir saja Kaivan luruh ke lantai seandainya Zahra tak segera menopang bahunya. Pria itu sungguh shock dengan kenyataan yang sangat buruk. Memang selama ini semua laporan keuangan diperiksa langsung oleh Tuan Zaid. Kaivan dan Deni tidak pernah diperbolehkan untuk melihatnya, pekerjaan mereka berdua hanya menangani proyek.
" Tuan... kita bisa cari solusinya, tenang ya?" hibur Zahra.
" Bagaimana saya bisa tenang! Apa yang harus kukatakan pada mas Azzam saat dia kembali nanti?" suara Kaivan semakin melemah.
Zahra menuntun Kaivan untuk duduk di sofa agar lebih tenang. Keadaan Kaivan sangat buruk, tubuhnya sangat lemah apalagi dia belum sempat makan siang.
" Ra, kau panggil Deni." lirih Kaivan.
" Baik, Tuan." sahut Zahra lembut seraya mengusap pelan bahu adik iparnya.
Tak lama Deni datang bersama Zahra. Sepertinya Zahra sudah menceritakan kejadian ini sebelum masuk ke ruangan Kaivan.
" Tuan_..." ucap Deni ragu.
" Kenapa Papa melakukan itu, Den. Apa beliau ingin menghancurkan perusahaan ini?" tatapan Kaivan kosong menatap kaca lebar yang bisa menembus keluar gedung.
" Kita tidak bisa berbuat apa - apa karena Tuan Besar yang mengambil alih semua data laporan keuangan selama ini semenjak tidak ada Tuan Azzam." ujar Deni.
" Apa kau belum menemukan Mas Azzam? Saya sudah tidak sanggup lagi bertahan disini jika sikap papa seperti ini."
" Tenang, Tuan. Setiap masalah itu pasti ada penyelesaikannya." ucap Zahra lembut dan penuh perhatian.
" Rara benar, Tuan. Kita harus secepatnya membereskan masalah ini. Tapi masalahnya, ini ada kaitannya dengan Nyonya Nella. Apakah Anda sudah siap untuk melawan beliau?" ucap Bima.
__ADS_1
Deni menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tahu Zahra dan Bima ingin segera menuntaskan masalah ini.
" Mami ikut terlibat dalam masalah ini?"
" Benar Tuan, Direktur Keuangan itu saudara jauh Nyonya Nella, apa Anda tidak tahu?".
" Saya tahu, tapi untuk apa Mami melakukan itu?"
" Tuan tidak tahu tujuan Nyonya menikahi Tuan Besar?" tanya Zahra.
" Apa maksudmu, Ra?"
" Sudahlah, Tuan. Sebagai seorang anak, Anda pasti tidak akan tega berkhianat pada ibu kandung sendiri."
" Tidak, Ra. Jika memang Mami salah, saya akan melawannya."
" Yakin?" Zahra tampak meremehkan ucapan Kaivan.
Bima yang melihat sikap Zahra yang tampak berbeda dari cara bicaranya, langsung mencengkeram bahu wanita itu agar diam.
" Maksud Rara, apa Tuan yakin bisa menghadapi Nyonya Besar?" ucap Bima.
" Saya hanya takut gagal, Sakti. Saya tak punya dukungan dari siapapun. Papa juga tak punya keberanian untuk melawan Mami dan om Darco."
" Tuan tidak sendiri, kami semua bersama Anda. Nyonya Rahma butuh pertolongan medis secepatnya. Setiap hari beliau diberikan suntikan obat melumpuhkan syaraf. Jika kita terlambat, Nyonya Rahma bisa lumpuh total." ucap Zahra.
" Bagaimana kau bisa tahu, Ra?" cecar Kaivan.
" Malam itu saat kita berkunjung, saya menemukan bekas alat suntik di bawah ranjang Nyonya Rahma. Hasil Lab menunjukkan obat berbahaya itu bisa merusak syaraf dengan cepat."
" Adakah yang kalian sembunyikan dariku? Siapa kalian sebenarnya...?"
.
.
Malam ini, dengan cara mengecoh anak buah Nella yang selalu mengikuti Kaivan dari pagi sampai malam akhirnya mereka berkumpul disini, Apartemen Rayyan. Kaivan tidak mengerti kenapa Deni membawanya kesana bersama Sakti dan Rara.
" Den... ini tempat siapa?" tanya Kaivan.
" Ayo masuk, nanti kau juga tahu." jawab Deni dengan santai.
" Bundaaa...!" teriak anak kecil saat Zahra membuka pintu.
" Sayang... Bunda kangen sama kamu." Zahra meraup Rama ke dalam gendongannya.
" Nggak kangen sama Ayah?" Azzam berdiri di depan pintu kamarnya.
Zahra tersenyum lalu menghambur ke pelukan suaminya. Mereka berpelukan sangat erat hingga membuat Kaivan shock di tempat.
" Mas Azzam... Rara...! Kalian_..." Kaivan tak tak bisa mengeluarkan kata - katanya.
" Rara ini istrinya Azzam, nama aslinya Zahra." kata Bima.
Kaivan menatap Zahra tajam seakan meminta penjelasan kepada wanita yang kini berada dalam pelukan kakak tirinya.
__ADS_1
" Maafkan saya Tuan Kaivan, sedari awal saya sudah berbohong pada Anda." ucap Zahra seraya mengurai pelukannya.
" Kai... gimana kabar Mama?" tanya Azzam datar.
" Mas Azzam kemana saja? Kai udah cari Mas kemana - mana. Kai tidak bisa menjaga Mama sendirian." lirih Kaivan.
" Sudahlah, Kai... Kau tak perlu pedulikan aku." sahut Azzam.
" Mas jangan begitu, Kaivan tulus ingin membantu kita." tegur Zahra lembut.
" Ra... kenapa kau tidak jujur dari awal kalau istrinya Mas Azzam. Saya sudah memperlakukanmu seperti pelayan. Kau bilang umurmu dua puluh tahun, kenapa sudah punya anak?"
" Tanyakan pada sopirmu itu, dia yang membuat identitasku."
Bima hanya nyengir saja seraya mengambil Rama dari gendongan Zahra setelah itu mengajak Rayyan dan Deni keluar dari Apartemen membiarkan Zahra, Azzam dan Kaivan berbincang sebagai keluarga.
" Mas Azzam... saya minta maaf soal perbuatan Mami." ucap Kaivan sendu.
" Kalian sudah menghancurkan keluargaku, tidak ada gunanya minta maaf!" sentak Azzam.
" Mas... jangan seperti ini. Kaivan tidak bersalah, dia juga terjebak dalam situasi ini." tegur Zahra.
" Sejak kapan kamu lebih membela orang lain daripada suamimu sendiri!"
" Mas... kita tidak punya banyak waktu. Semua ini tidak ada hubungannya dengan Kaivan. Ini semua murni dendam masa lalu."
" Masa lalu...?" Azzam dan Kaivan serempak menatap Zahra.
" Iya, Papa sudah cerita semua masalah ini tadi siang. Ini hanyalah kisah masa lalu yang belum usai. Nyonya Nella dulu kekasih Papa Zaid. Maaf, Kai... aku harus mengatakan kebenarannya walaupun pasti akan menyakiti hatimu." ucap Zahra.
Zahra menceritakan sama persis seperti yang diungkapkan Tuan Zaid saat di kantor tadi siang. Kaivan merasa tubuhnya begitu lemah sekarang. Dia tersungkur di lantai dengan airmata yang mengalir deras. Beribu maaf ia ucapkan pada Azzam atas perlakuan kejam ibu kandungnya. Zahra yang mengerti keadaan Kaivan yang terpuruk, menyuruh Azzam untuk bisa menerima dan memaafkannya.
" Sudahlah... yang penting kau mau membantuku menyelamatkan Mama." ujar Azzam datar.
" Terima kasih, Mas. Aku pasti akan membantu kalian. Mama sangat merindukanmu." lirih Kaivan.
Azzam yang tadinya enggan berdekatan dengan Kaivan dipaksa Zahra untuk mendekatinya. Bagaimanapun juga, mereka sekarang adalah saudara.
Azzam merangkul bahu Kaivan dengan erat, kemudian mereka berpelukan. Zahra tersenyum melihat keduanya sudah mulai bisa menerima satu sama lain.
" Mari kita bersatu sebagai keluarga. Aku tahu ini berat buat Kaivan, tapi kebenaran tetap harus ditegakkan." ucap Zahra.
" Apakah boleh aku membunuh ibuku?"
" Hah...?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1