
Malam ini Zahra mengantar makan malam ke rumah Rayyan. Bima juga menginap disana dan akan pulang besok pagi. Bukannya ia tidak ingin makan bersama, namun saat ini tak ada suaminya di rumah dan Zahra tak ingin menimbulkan fitnah.
" Bang, ini makan malamnya. Rama dimana?"
" Ada di kamar, sudah tidur. Sebentar Abang bawa kesini saja."
" Terima kasih, Bang."
Zahra membawa pulang Rama dan segera meletakkannya di tempat tidur. Malam semakin sunyi padahal baru jam delapan malam. Zahra kembali ke dapur untuk mengambil makanan.
" Rasanya sepi banget nggak ada Mas Azzam. Apa dia sudah makan, ya?" gumam Zahra.
Zahra hanya memakan sedikit saja karena nafsu makannya seakan hilang begitu saja setelah ingat dengan suaminya.
" Ternyata aku merindukannya... padahal baru tadi pagi aku meninggalkannya." Zahra mendesah pelan.
Zahra mengambil ponsel ingin menghubunginya, namun tak lama ia ingat dengan saran Rayyan supaya tidak berkomunikasi dengan suaminya selama satu minggu ini.
" Mas Azzam... apa kau juga merindukanku malam ini...?" gumam Zahra.
Saat tengah melamun, Zahra mendengar pintu depan ada yang mengetuk. Dia pikir Azzam pulang setelah dirinya memikirkannya tadi. Zahra bergegas membuka pintu.
" Assalamu'alaikum, mbak Zahra." sapa Agys dan Cahyo.
" Wa'alaikumsalam, eh kalian... ada apa?" balas Zahra sedikit kecewa.
" Maaf mengganggu, Mbak. Kami ada hal penting yang ingin disampaikan sama Mas Azzam." ucap Agus.
" Mmm... Mas Azzam masih kota, memang ada masalah apa? Mungkin Mbak bisa bantu kalian."
Agus dan Cahyo saling pandang lalu mengangguk. Cahyo menjelaskan masalah yang terjadi di sawah beberapa hari ini.
" Jadi, ada yang merusak tanaman di sawah?" tanya Zahra.
" Benar, Mbak. Padahal sudah tiga tahun kami menggarap sawah itu tidak pernah terjadi masalah seperti ini." jawab Cahyo.
" Apakah setiap malam selalu ada kerusakan baru?"
" Iya, Mbak. Tiga hari berturut - turut tanamannya pasti ada yang rusak."
" Baiklah, kalian tetap bekerja seperti biasa. Biar masalah ini aku yang mengurusnya."
" Tapi, Mbak... apa yang akan Mbak Zahra lakukan?"
" Tidak ada. Agus, minta tolong ibumu suruh menginap disini ya?"
__ADS_1
" Jangan bilang Mbak mau patroli sendiri ke sawah malam ini."
" Gus, kita tidak pernah mengusik orang lain. Apa ada orang baru yang datang ke desa ini...?"
" Iya, Mbak. Satu minggu lalu ada orang kota yang akan membangun gudang penyimpanan barang di sawah milik pak Barjo. Mereka juga ingin membeli sawah milik Mbak Zahra tapi kami menolaknya."
" Ya sudah, nanti kita patroli jam sebelas malam. Kita berpencar dan jangan lupa bawa ponsel kalian."
" Tapi, Mbak... apa kita tidak bicarakan ini dengan Mas Azzam dulu. Ini bahaya lho Mbak, aku takut Mbak Zahra kenapa - napa."
Zahra hanya tersenyum lalu menyuruh mereka pulang untuk bersiap - siap. Dia tak ingin memberitahu Azzam masalah ini karena mungkin suaminya itu tengah sibuk mengurus keluarganya.
Bukannya Zahra egois tak mau menuruti suaminya, namun setelah kejadian kemarin membuat Zahra sadar betapa pentingnya Azzam bagi orangtuanya. Zahra ingin suaminya fokus mengurus ibu dan juga perusahaan keluarganya yang sedang bermasalah.
.
.
Azzam masuk ke dalam kamarnya pukul sepuluh malam setelah menemani ibunya sampai tidur barulah Azzam akan beristirahat. Kebiasaan Azzam memang seperti itu semenjak ibunya pulang dari rumah sakit.
Azzam pulang dari kantor jam delapan malam. Sebelum masuk ke kamarnya untuk bertemu anak dan istrinya, Azzam pasti berkunjung ke kamar ibunya hingga wanita paruh baya itu tidur.
Kini Azzam baru merasakan betapa ia sangat kehilangan setelah anak dan istrinya pergi. Kemarin Azzam berpikir Zahra dan Rama akan memahami keadaannya karena istrinya itu tidak pernah protes saat diabaikan olehnya.
" Aku harus gimana, Dek? Mama tidak mungkin kutinggalkan, tapi aku juga tidak sanggup jauh darimu. Bersabarlah sebentar lagi, aku pasti akan segera pulang. Aku sadar jika kekayaan ini tidak akan bisa membuatku bahagia bila tak ada kalian berdua." lirih Azzam.
" Mas Azzam pergilah, Kai yang akan urus Mama dan juga kantor. Kekacauan ini terjadi saat Kai yang bertanggung jawab memimpin perusahaan. Anak istri juga penting, Mas. Kau wajib berbakti kepada orangtuamu, tapi jangan mendlolimi anak istrimu. Kau imam dalam rumah tangga yang wajib melindungi mereka."
" Aku yakin Zahra pasti sabar menunggu, Kai. Setelah keadaan Mama semakin membaik, aku pasti kembali pada mereka."
" Kai akan bicara pada Mama untuk mengijinkanmu pergi, Mas. Tidak baik berpisah jarak dengan kondisi seperti ini. Kak Zahra juga pasti sangat menantikan kehadiranmu."
" Ternyata aku merindukannya, Kai. Aku pikir... aku... aku marah padanya karena pergi tanpa seijinku. Aku sungguh sangat merindukannya, Kai. Aku sudah membentaknya, Kai. Aku menyakiti hatinya!" teriak Azzam frustasi.
" Tenanglah, Kak."
Kaivan memeluk bahu kakaknya yang bergetar karena menangis. Jangankan Azzam yang suaminya, Kaivan yang hanya adik iparnya saja merasa sangat kehilangan. Zahra adalah sosok wanita keibuan yang mampu menenangkan hati orang yang sedang berduka. Dia bagaikan setetes air di gurun pasir.
" Kai... kenapa tiba - tiba aku mengkhawatirkan Zahra? Apa terjadi sesuatu dengannya?" lirih Azzam.
" Kak Zahra pasti sudah tidur jam segini, Mas. Dia pasti baik - baik saja."
" Harusnya aku tidak menerima jabatan Presdir itu, Kai. Zahra pasti berpikir sudah menukar kebahagiaan mereka dengan harta dan tahta."
" Kak Zahra tidak sepicik itu, Mas. Dia pasti punya alasan lain dibalik kepergiannya."
__ADS_1
" Semoga Zahra tidak benar - benar marah padaku."
" Kita akan kesana saat weekend nanti, Kai yang akan bilang sama Mama dan Papa."
.
.
Tepat jam sebelas malam, Zahra, Agus dan Cahyo berangkat ke sawah dengan berjalan kaki supaya tidak mengganggu tetangga yang beristirahat jika menggunakan sepeda motor.
" Mbak Zahra yakin ini...?" bisik Agus meyakinkan.
" Kalian takut...? Tenang saja, kalian cukup menemani tidak perlu ikut bertindak." sahut Zahra.
" Bukan begitu, Mbak. Kami khawatir dengan keselamatan Mbak Zahra, apalagi ndak ada Mas Azzam sekarang." ucap Cahyo.
Hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan kaki, mereka bertiga sudah sampai di sawah. Zahra duduk di tepian sawah yang gelap di sisi timur. Sedangkan Cahyo dan Agus di sisi utara dan selatan.
Menunggu selama setengah jam, akhirnya ada pergerakan dari sisi barat yaitu tepi jalan. Zahra yang melihat ada sekitar lima orang pria hendak masuk ke dalam sawah. Zahra segera mengirim pesan pada Agus dan Cahyo.
Para preman itu sudah mulai mencabut beberapa tanaman cabai yang baru tumbuh sekitar 30cm. Agus segera berteriak kencang menghardik mereka.
" Hei...! Berani sekali kalian merusak sawahku!" tefiak Agus.
Mereka yang kepergok pemilik sawah langsung panik dan menyerang Agus. Cahyo dan Zahra yang berada agak jauh dari Agus langsung membantu.
" Jadi kalian yang sudah berani merusak tanaman disini? Apa tujuan kalian?" seru Cahyo.
Zahra hanya diam saja karena tidak ingin identitasnya terungkap. Dia mencoba untuk mengenali mereka satu persatu, mungkin saja pernah melihatnya di suatu tempat.
" Ini peringatan untuk kalian! Jual saja tanah ini jika masih ingin hidup. Kalian hanya akan rugi jika terus bercocok tanam disini!"
" Jadi kalian orang bayaran pemilik lahan itu? Jangan harap kami akan menjual tanah ini!"
Karena Agus tetap kekeh mempertahankan tanahnya, perkelahian tak dapat dihindarkan. Zahra tahu kemampuan bela diri Agus dan Cahyo jauh dibawahnya, makanya ia ikut turun tangan untuk menghajar preman itu.
Bagi seorang Agen terlatih, tak butuh waktu lama bagi Zahra menghabisi preman - preman seperti mereka. Agus dan Cahyo sampai menahan nafas melihat betapa cepatnya gerakan Zahra menyerang para preman.
" Sekali lagi kalian berani mengusik tanah ini lagi, kupastikan kalian pulang tinggal nama!" bisik Zahra dengan tatapan tajamnya.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.