
Sampai di Cafe tempat pertemuan Azzam dan Merry, Zahra tampak tak bersemangat sama sekali. Hatinya sudah kesal duluan saat melihat wajah menyebalkan Merry.
" Sayang, jangan memasang wajah cemburu begitu. Mas tidak akan tergoda sedikitpun padanya." bisik Azzam.
" Tapi dia_..." Zahra menghentikan protesnya saat Azzam mengusap lembut punggungnya.
" Ayo ke dalam, semakin cepat kita bahas pekerjaan ini semakin cepat kita pulang dan tidak bertemu dengannya." ujar Azzam lembut.
Azzam berjalan duluan diikuti Zahra yang membawa laptop di tangannya. Mereka menolak tempat yang sudah di reservasi Merry dan lebih memilih di ruangan terbuka di teras Cafe.
" Azzam, are you sure? Kita meeting di tempat ini? Saya sudah reservasi tempat di privat room." ucap Merry tampak kecewa.
" Saya lebih suka tempat terbuka, Nona." ujar Azzam datar.
Setelah membicarakan masalah pembangunan hotel, mereka makan siang bersama dalam diam walaupun Zahra menyadari bahwa Merry tak melepaskan pandangannya pada suaminya.
" Zam, bagaimana kalau kita keliling di kota ini. Saya baru pertama kali ke Indonesia dan hanya kamu yang saya kenal." rengek Merry.
" Saya masih ada pekerjaan lain, sopirmu bisa mengantarkan kemanapun kamu mau." sahut Azzam seraya menatap wajah kesal istrinya.
" Please, Zam... Sehari saja kita jalan berdua." rengek Merry.
" Apa perkataanku kurang jelas? Jaga batasanmu atau kontrak kerja kita batal...!" tegas Azzam.
Azzam segera pergi dari hadapan Merry yang terlihat kesal. Zahra masih menunjukkan kesopanannya dengan berpamitan dengan Merry.
" Permisi, Nona. Kami pergi dulu." pamit Zahra.
" Hei... Tunggu! Siapa namamu?"
" Nama saya Rara, Nona."
" Rara, bisakah saya tahu dimana kalian menginap?"
" Maaf, Nona. Tuan saya tidak suka privasinya terganggu."
" Kami ini teman lama, kau harusnya mengerti."
" Maaf, Nona_..." Zahra berusaha mencari alasan hingga akhirnya teriakan Azzam bergema.
" Rara...! Cepat pergi!" teriak Azzam.
" Iya, Tuan. Saya permisi, Nona." pamit Zahra pada Merry.
Zahra sedikit berlari mengejar Azzam yang hampir sampai di mobilnya. Dia tahu Azzam tidak suka dengan Merry yang menurutnya terlalu agresif.
" Mas, jalannya cepet banget sih!" gerutu Zahra.
" Kamu ngapain sih pakai acara pamitan segala sama wanita itu?"
" Posisi Zahra saat ini adalah asisten, bukan istri Mas Azzam. Zahra belum bisa menunjukkan rasa tidak suka padanya tanpa alasan yang jelas. Kecuali kalau Zahra mengakui sebagai istri, sudah kucabik - cabik wajahnya."
" Mau jalan kemana, Yang? Anak buah Merry sepertinya mengikuti kita."
" Kemana, ya? Zahra malas kalau diikuti terus seperti ini."
" Tenang saja, Jefri akan menghadang mereka."
__ADS_1
Azzam memasukkan mobilnya ke tempat cuci mobil. Disana sudah ada mobil lain yang akan dipakainya untuk mengecoh anak buah Merry. Azzam hanya ingin menghabiskan waktu hari ini bersama istri tercinta.
" Mas, apa kamu yakin Merry tidak bisa menemukan kita?" tanya Zahra.
" Tentu saja, sayang. Dia tidak akan gegabah dalam mengambil tindakan untuk saat ini. Jefri sudah di posisi untuk menghadang mereka." ujar Azzam.
" Biasanya itu adalah pekerjaanku. Sudah lama berhenti rasanya pengen nyoba lagi." gumam Zahra.
" Jangan lakukan itu lagi! Mas nggak akan mengijinkan Adek jadi anggota Tiger White lagi." seru Azzam.
" Zahra kangen kumpul sama teman - teman disana, Mas." rengek Zahra.
" Sekali tidak ya tidak!" tegas Azzam.
Azzam memarkirkan mobilnya di depan hotel mewah. Masuk ke lobby, ia menuju resepsionis untuk meminta kunci kamarnya.
" Mas, memangnya udah pesan kamar?" bisik Zahra.
" Hmm..." jawab Azzam singkat.
Setelah menerima kuncinya, Azzam berjalan ke lift dengan Zahra yang mengekor di belakangnya. Untung saja sampai di dalam lift hanya ada mereka berdua sehingga Zahra langsung bergelayut manja di lengan suaminya.
" Kenapa, sayang?" lirih Azzam.
" Mas jangan cuek begitu sama Zahra."
" Siapa yang cuek sih? Mas hanya memainkan peran yang kamu buat untuk jadi atasan dan bawahan."
" Cium...?" rengek Zahra.
" Hah... Manja banget sih istriku? Atau sedang cemburu, ya?" goda Azzam.
Lift terbuka dan Zahra segera melepaskan pelukannya. Azzam tersenyum kecil seraya mempercepat jalannya menuju unit kamar yang ia sewa.
Sampai di dalam kamar, Azzam langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Zahra duduk di sofa sembari merapikan berkas - berkas di dalam tasnya.
" Sayang, istirahat dulu. Biar nanti Mas yang beresin berkasnya."
" Sebentar, Mas. Cuma sedikit, tidak akan lama."
Selesai membereskan berkas pekerjaannya, Zahra ikut berbaring di samping suaminya yang telah terlelap mengarungi alam mimpi.
.
.
Sudah dua minggu berlalu, Zahra dan Azzam bolak - balik Jakarta - Bandung untuk memantau proyek pembangunan hotel milik perusahaan keluarga Merry. Mereka hanya tidak ingin menanggapi ulah Merry yang semakin tak terkendali.
" Zam... Merry menyewa rumah di pinggiran kota Bandung beberapa hari yang lalu." ungkap Deni.
" Bukankah dia tinggal di Apartemen?" tanya Azzam.
Mereka kini sedang di kantor untuk membahas beberapa pekerjaan. Kaivan belum datang karena tadi Rama merengek minta diantar ke Mall untuk bermain.
" Kaivan lama sekali, Den?"
" Katanya masih di Mall sama Rama dan Zahra."
__ADS_1
" Anak itu semakin susah diatur semenjak diasuh Kaivan."
" Memang lebih baik jika anak - anak itu hidup di desa. Masih banyak permainan anak yang lebih mendidik dan menyehatkan. Di kota, anak - anak jarang sekali main diluar rumah. Kecanggihan teknologi telah merubah cara didik orangtua pada anaknya."
" Kau benar, Den. Di desa, Rama lebih sering main di sawah atau rumah tetangga. Tidak pernah sekalipun aku berikan ponsel untuk mainannya."
Tak berselang lama, Kaivan datang bersama Zahra dan Rama. Mereka langsung menuju ruangan Azzam.
" Assalamu'alaikum..." sapa Zahra.
" Wa'alaikumsalam... Kok baru datang, Bunda?" sahut Azzam.
" Rama lama banget main sama Kaivan." gerutu Zahra.
" Maaf, Kak. Soalnya seminggu kemarin Kai banyak pekerjaan sampai nggak sempat ajak main Rama." ungkap Kaivan.
Rama sudah duduk nyaman di pangkuan ayahnya sambil mengutak - atik laptop di depannya sekadar pencet - pencet tanpa arah.
" Jangan dipencet, sayang. Nanti kerjaan Ayah bisa kehapus." ujar Azzam lembut.
" Main, Yah?"
" Rama main yang lain, ya? Di ruangan Om Kai banyak mainan Rama." bujuk Kaivan.
" Mau sama Ayah," rengek Rama.
" Sama Bunda dulu sebentar, nanti Ayah nyusul." rayu Azzam.
" Ayo, sayang. Ayah mau kerja sebentar." kali ini Zahra yang membujuknya.
" Iya, Bunda."
Zahra menggendong putranya menuju ruangan Kaivan. Kaivan memang menyimpan banyak mainan di ruang kerjanya karena selama Zahra dan Azzam ke Bandung, Rama lebih sering ikut ke kantor.
.
.
" Gimana, Den?" tanya Azzam.
" Bima belum mengabari perkembangan di Singapore. Tapi sepertinya Merry sudah mulai menunjukkan aksinya." ungkap Deni.
" Kenapa Mas nggak coba dekati Merry saja?" saran Kaivan.
" Kau mau membunuhku sebelum perang usai?" gerutu Azzam.
" Why...? What wrong?" tanya Kaivan tidak mengerti.
Azzam menceritakan bagaimana tatapan membunuh Zahra saat melihat Merry merangkul lengannya. Rasa cemburu yang tidak pernah Azzam lihat dari istrinya selama mereka menikah, kini muncul dan menurut Azzam sangat menakutkan. Azzam takut jiwa membunuh Zahra saat menjadi anggota Tiger White keluar dan tak terkendali.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.