Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Berpisah


__ADS_3

"Aurel, simpan saja kartu ini, aku mohon tolong biarkan aku memberi nafkah pada anakku! Aku tahu kamu adalah seorang wanita yang mandiri dan tangguh, tentu saja kamu tidak akan membutuhkan uang dariku, tapi, tolong jangan menolak pemberian dari seorang ayah untuk anaknya!" Arsen menyerahkan amplop putih yang berisikan kartu kredit dan PIN, juga no ponselnya.


Dengan berat hati Aurel menyimpan kartu kredit itu, walau bagaimanapun rasa kecewanya namun, ia tidak akan melupakan bahwa Arsen tetaplah ayah dari bayi yang dikandungnya.


Setelah semua beres, Arsen menggeret koper bawaan Aurel dan di ikuti wanita itu untuk turun kebawah. Sesampainya dibawah, ternyata Makcik Leha dan art yang lainnya telah menunggu.


Aurel segera memeluk wanita yang selama ini begitu baik padanya. Makcik Leha menangis pilu.


"Jaga diri baik-baik,Nak. Makcik pasti rindu kat Nona, jangan lupa bagi Makcik kaba bile masa cucu Makcik dah lahir," ucapnya dengan Isak tangis.


"Terimakasih Makcik sudah menyayangi saya selama ini. Makcik tenang saja, saya pasti akan memberi kabar setelah dia lahir," ujar Aurel lirih dan air matanya ikut jatuh.


Setelah selesai berpamitan dengan Makcik dan art yang lainnya, Arsen segera membawa Aurel masuk kedalam mobil yang telah menunggu mereka.


Arsen dan Aurel duduk di bangku penumpang, tak ada yang mereka ucapkan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Arsen tampak begitu sendu.


"Apakah kamu ingin beli sesuatu untuk oleh-oleh?" Tanya Arsen memecah keheningan


"Tidak perlu Tuan, Bunda sudah tidak ada lagi, saya sudah tidak bisa melihat senyum itu!" Jawab Aurel dengan mata berkaca-kaca.


Arsen kembali merasa bersalah dan terpojokkan. Mungkin itulah hal yang paling membuat hati wanita itu kecewa begitu dalam.


"Aurel, sekali lagi aku minta maaf atas segala kesalahanku! Sekiranya kesalahanku ini begitu besar melukai hatimu, maka berilah aku kesempatan untuk menebusnya. Mungkin saat ini sulit bagimu, aku berharap suatu saat nanti kamu bisa memaafkan aku dengan ikhlas!"


Aurel menatap Arsen sekilas, lalu kembali ia tertunduk dan air matanya jatuh. Ya, dia memang masih kecewa atas kepergian sang Bunda, karena Arsen telah membohonginya, bagi Aurel semua itu tidak mudah, dia rela berkorban melupakan cita-citanya demi kesembuhan sang Bunda, walaupun dia ditipu namun, ia tetap berlapang dada menerima semuanya asalkan Bunda bisa sembuh.

__ADS_1


Tidak berapa lama kini mobil yang dikendarai oleh supir, telah memasuki pelabuhan. Saat mereka ingin turun namun, Aurel menanyakan status dirinya.


"Tuan, apakah kontrak nikah kita sudah berakhir? Jika sudah tolong jatuhkan talak kepada saya, agar kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.


Kata-kata itu bagai tusukan dihati Arsen. Ingin marah ataupun kesal tetapi dia berusaha untuk tetap tenang menghadapinya.


Arsen meminta sang supir untuk keluar. Dia ingin bicara sebentar dengan istrinya, dia pasti akan merindukan wanita itu.


"Aurel, saat ini kamu masih menjadi istriku. Aku tidak bisa menjatuhkan talak, karena kamu sedang hamil. Kamu tidak perlu khawatir! Aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan kamu lagi."


"Tolong jaga anak kita dengan baik, aku tidak akan menceraikan kamu, tapi aku juga tidak akan menghalangi kebahagiaanmu. Jika suatu saat nanti kamu menemukan jodoh yang terbaik dan yang bisa membuatmu bahagia, maka beri kabar kepadaku, hari itu juga aku akan menalak dirimu."


"Andai saja saat ini kamu memberiku kesempatan, maka aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku akan menjadi lelaki yang paling bahagia, aku akan berusaha membahagiakan dirimu. Tapi aku sadar, semua tak semudah itu."


"Apakah aku boleh bicara pada anakku sebentar saja?" Tanya Pria itu penuh harap


Aurel hanya mengangguk sembari menghapus air matanya dan menatap lurus kedepan.


Arsen mendekatkan wajahnya ke perut Aurel, lalu mengusap perutnya yang sudah mulai padat dengan lembut.


"Hai, Anak Daddy baik-baik ya! Maafkan Daddy tidak bisa membersamai kalian, Daddy pasti akan sangat merindukan kamu. Jaga Bunda kamu ya, Nak. Daddy sayang kamu dan Bunda," bisik Pria itu pada calon anaknya.


Arsen tak kuasa menahan air matanya, ia berusaha untuk tetap tegar. Pria itu menatap Aurel dengan dalam.


"Aurel, izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya!" Mohon pria itu dengan lirih

__ADS_1


Lagi-lagi Aurel tak kuasa menolak permintaan sang suami, entah kenapa ia juga merasa sangat sedih untuk berpisah dengan pria yang kini sudah menjadi hangat. Tapi tekadnya sudah bulat, ia juga butuh waktu untuk menepi untuk menata perasaannya yang sempat hancur.


Arsen mendekap tubuh Aurel penuh kasih sayang dan kehangatan. Berulang kali dia mengecup puncak kepalanya, hatinya begitu sakit ingin sekali dia berteriak untuk mengatakan bahwa dirinya tak kuasa berpisah dengan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Tuan, maaf jika saya pernah melukai diri anda, terimakasih sudah melepaskan saya dari kontrak pernikahan itu," lirih Aurel dengan air mata yang masih menetes.


Arsen menghapus air mata Aurel, memberi kecupan di kening wanita itu.


"Jangan meminta maaf kepadaku, karena aku pantas mendapatkan balasan atas segala perbuatanku, jika aku boleh meminta saat itu, maka lebih baik aku mati saja, agar aku tak merasakan sakitnya perpisahan ini!"


"Maafkan saya, Tuan!" Aurel tertunduk dan menghapus air matanya, ia harus tegar tidak boleh lemah, keputusan sudah bulat. Wanita itu segera keluar, rasanya ia sudah tidak sanggup harus berada di dalam suasana mengharu biru, takut keputusannya goyah.


Arsen mengantarkan Aurel hingga pintu masuk kapal Ferry. Sebenarnya ia ingin istrinya itu menaiki pesawat, namun, ia berusaha untuk membuat wanita itu lebih nyaman dan percaya dengan kesungguhan dirinya untuk melepaskannya.


Setelah kapal yang ditumpangi Aurel bergerak meninggalkan pelabuhan itu, Arsen menelpon seseorang untuk menjaga dan memastikan keselamatan istrinya.


Pria itu memang sudah berjanji untuk melepaskan Aurel, tapi tentu saja dia tidak melepaskan begitu saja, Arsen mungkin tidak akan menemui Aurel, tapi dia membayar beberapa orang untuk menjaga keselamatan istrinya itu. Bahkan di kapal itupun orang suruhannya ada untuk menjaganya.


Sementara itu Aurel yang berada di tengah lautan, terlihat melamun dan menatap pemandangan laut lepas. Entah mengapa hatinya bimbang, tetapi dia berusaha untuk tetap pada pendiriannya.


Mulai saat ini ia akan berusaha untuk menjadi wanita yang tangguh dan kembali akan mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang dokter Onkologi, meskipun dia sudah tidak bisa mengobati sang Bunda, tapi ilmu yang ia dapat akan dipergunakan untuk orang lain.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🤗

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2