
"Jangan membantahku Aurel!" Bentak Arsen yang merasa habis kesabaran
"Kenapa emangnya jika aku membantah?! Aku sudah katakan jika aku tidak mau mempunyai anak darimu!" Aurel tak kalah sengit
"Kau!" Arsen mengempal tangannya dengan keras
"Kenapa? Apakah kau ingin membunuhku? Ayo lakukan!" Wanita itu kembali menantang, sepertinya ia tak lagi mempunyai rasa takut.
"Hahh!!"
Arsen menggeram sembari menendang Sofa yang ada di kamar itu dan segera keluar meninggalkan Aurel sendiri, ia takut akan lepas kendali menyakiti istri kecilnya itu.
"Makcik, berikan Aurel makan yang sehat pastikan dia sehat dan janinnya!" Ujar Arsen pada Makcik Leha.
"Apee! Nona Aurel mengandung? Alhamdulillah, senangye Makcik denga kaba ni..." Makcik Leha begitu antusias mendengar pernyataan Arsen
"Iya, Saya minta Makcik jaga Aurel, jangan biarkan dia menyakiti janin yang ada di kandungannya! Karena wanita itu tidak menginginkannya!"
"Hah? Apa pasal Nona Aurel tak nak bayi tu?"
Akhirnya Arsen menjelaskan kepada Makcik Leha yang sebenarnya.Ya, Arsen memang cukup dekat dengan wanita tua itu, dia akan bercerita jika ada hal yang terkadang tak mampu ia pendam sendiri.
Dikamar utama, Aurel kembali menangis sembari merutuki kebodohannya, hal yang ia hindari kenapa sekarang terjadi.
"Tidak! Aku tidak mau anak ini. Hei, janin ayo keluarlah! Aku tidak menginginkan kamu ada di rahimku. Kamu jangan mempersulit hidupku. Kamu tahu? Sekarang hidupku telah hancur, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Tapi kenapa kau hadir dirahimku? Aku tidak menginginkanmu!" Racau wanita itu sembari meringkuk diatas tempat tidur.
"Nona, Makanlah! Makcik dah masak bubur ayam sedap. Nona makan ye!" Ujar Makcik menaruh bubur dan beberapa potong puding dan buah segar.
"Saya tidak ingin makan apapun Makcik! Saya hanya ingin sendiri, tolong tinggalkan saya Makcik!" Serunya yang masih membelakangi
"Tapi Nona, bila Nona tak nak makan, kasihan Kat bayi tu, die butuh asupan nutrisi dari Bundanye, makanlah walaupon dikit tak pe," Makcik Leha masih berusaha membujuk.
"Biarkan saja Makcik, saya memang sengaja ingin mengeluarkan janin ini. Saya tidak menginginkannya!"
"Astaghfirullah! Nyebutlah Nona, jangan cakap macam tu! Allah Tak suka pada niat tak baik tu, janin tu titipan Allah, die tak salah apapon!"
__ADS_1
"Tapi saya tidak menginginkannya Makcik! Kenapa hidupku harus seperti ini? Aku rasanya ingin mati saja! Hiks..." Aurel kembali menangis
"Nona, janganlah cakap macam tu! Bagaimanapon keadaan, hidup ni terus bejalan saba lah Nona, Makcik pecaye, suatu masa Nona pasti bahagia," ujar Makcik Leha sedih.
"Tolong tinggalkan aku sendiri Makcik!" Ucap Aurel dengan suara tercekat.
"Baiklah, Makcik pegi tapi, Nona Aurel harus makan, kasian tengok janin tu bila Nona tak nak makan." Ujar Makcik sebelum meninggalkan kamar utama
***
Malam telah menjelang, Arsen baru saja pulang diantarkan oleh asistennya Doni, entah darimana, padahal hari ini ia tidak masuk kantor, mungkin saja Arsen baru pulang urusan dunia hitamnya. Pria itu segera menghampiri Makcik Leha.
"Makcik bagaimana keadaan Aurel? Apakah dia sudah mau makan?"
"Tidak Tuan, Nona Aurel sampai saat ni tak menyentuh makanannya, Makcik bingung nak bebuat ape!" jelas Makcik dengan wajah gusar
"****! Kenapa wanita itu keras kepala sekali!" Arsen segera bergegas naik kelantai dua.
Dia ingin membuat perhitungan dengan Aurel, pria itu tidak rela jika calon anaknya harus menerima kemarahan sang Ibu.
Arsen menatap ruangan itu kosong tak ada sosok yang di cari namun, ia melihat pintu balkon terbuka, sedikit lega dihatinya.
Arsen menatap Aurel dengan ekspresi wajah tak menentu. Ada seklumit rasa sakit di batinnya menyaksikan wanita itu yang selalu menangis, bahkan ia tak pernah melihat Aurel tersenyum selama menjadi istri kontraknya.
Tidak! Aku tidak boleh terbawa perasaan! Aku akan memberinya uang berapapun yang dia minta, nanti setelah bayi itu lahir.
Arsen berdiri di terali pembatas sembari menatap lurus kedepan. Bingung harus berucap apa?
"Aurel masuklah! Ini sudah malam tidak baik dengan kesehatan kamu," ujarnya yang tiba-tiba melunak, padahal tadi dia berniat ingin memarahi wanita itu.
Aurel bergeming, ia tidak menganggap kehadiran pria itu. Hatinya masih teramat sakit. Rasa takut dan hormatnya telah hilang.
Merasa geram melihat tingkah Aurel yang menganggap perintahnya bagai angin lalu, maka Arsen mendekati wanita itu dan meraih tangannya untuk membawa masuk kedalam.
"Apa yang anda lakukan Tuan? Lepaskan saya!" sentak wanita itu dengan kesal
__ADS_1
"Aurel, kenapa kau begitu keras kepala? Ini sudah malam! Tidak baik untuk kesehatan kamu dan janin yang ada dikandunganmu!"
"Apa urusannya dengan Anda, Tuan?"
"Tentu saja ada urusannya, karena itu anakku!"
"Ya dia memang anakmu! Jika kau menginginkan anak ini maka keluarkan sekarang juga! Aku sama sekali tidak menginginkannya!"
"Jaga bicaramu Aurel! Jangan kau pancing emosiku lagi!" Ujar Arsen menahan gejolak hati
"Kenapa? Aku berhak bicara apapun, karena memang itu kenyataannya bahwa aku tidak sudi mempunyai anak dari pria tak punya hati dan kejam sepertimu!"
"Diam!"
Plaakkk!
Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi wanita itu. Arsen tertegun kaku saat dirinya tak mampu mengendalikan emosi.
Aurel tersenyum masam dengan sorot mata menyala penuh kebencian, bahkan tak ada air mata yang jatuh seakan hatinya sudah mati.
"Kenapa cuma sekali Tuan? Ayo lakukan seberapa yang kau mau! Siksa aku sekarang juga! Atau kau bunuh saja aku saat ini!" ucapnya sembari mendekatkan tubuhnya kepada Arsen sehingga tak ada jarak diantara mereka. "Ayo bunuh aku! Kalau tidak maka aku yang akan membunuhmu!"
Tanpa di duga, Aurel meraih senpi yang tersisip di pinggang Pria itu, dengan cepat Aurel mengarahkan corong pelatuk itu kepada Arsen.
Arsen menatap istri kecilnya itu dengan wajah datar namun, menyimpan sedikit cemas yang dia takutkan Aurel akan menembak dirinya sendiri.
"Apa? Kau ingin menembakku? Ayo tembak! Tembak sekarang, kau ingin membalas semua sakit hatimu selama ini padaku 'kan! Maka tembaklah sesuka hatimu!" Ucap Arsen penuh tantangan
Aurel terdiam dengan tangan masih mengacung kearah Arsen. Bayangan perilaku pria itu menari-nari dalam benaknya, ini adalah kesempatan yang bagus baginya untuk membalas segala sakit hati.
"Kenapa? Apakah kau tidak mempunyai nyali untuk melakukannya? Hahaha.... Ternyata jiwa kerdilmu masih ada cantik! Kau tidak akan berani melakukan hal...-"
Dorr!
Sebuah letusan keluar dari corong pelatuk milik suaminya itu, Seketika Arsen merosot saat sebuah timah panas masuk di dada sisi kirinya.
__ADS_1
Aurel mamatung dengan tubuh bergetar
Bersambung....