Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Mempersiapkan hadiah


__ADS_3

"Doni, pagi ini antarkan aku ke suatu tempat," ujar Arsen di sela sarapannya bersama sang asisten.


Ya, Arsen menempati apartemennya bersama sang asisten setianya.


"Kita mau kemana,Tuan? Tanya Doni belum paham.


"Ke jalan Sudirman, aku mau melihat lahan untuk pembangunan sebuah Rumah Sakit. Setelah itu kamu cari sebuah perusahaan property, aku juga ingin menanam saham di perusahaan itu," titahnya pada sang asisten.


"Baik, Tuan. Maaf kalau aku boleh tahu, Tuan ingin membangun RS untuk apa? Apakah Tuan ingin jadi dokter? Waduh tentu saja Tuan harus kuliah lagi," ujar Doni sedikit kepo.


"Emang kenapa jika aku harus kuliah lagi? Emang tampangku ini sudah tidak cocok jadi anak kuliahan?" Tanya Arsen sewot.


"Hehe... Bukan begitu, Tuan, tapi aku lagi mikir Tuan itu cocoknya jadi dokter apa ya?"


"Emangnya kenapa?" Arsen menaikan sebelah alisnya.


"Karena menurutku, Tuan tidak cocok jadi Dokter."


"Apa alasannya?" Tanya Arsen sekali lagi.


"Karena Tuan, itu sangat dingin dan garang. Yang ada para pasien akan semakin parah sakitnya," jawab Doni jujur.


"Kamu mengejekku Don?"


"Bu-bukan, Tuan. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, itu sih menurut aku Tuan," Doni tersenyum sedikit ngeri


"Siapa juga yang ingin jadi Dokter!" gerutu Arsen.


"Terus... Untuk apa Tuan, ingin membangun RS?"


"Untuk istriku. Aku ingin setelah dia mendapatkan gelar Dokter maka dialah yang akan menjadi pemimpin RS itu," jelas Arsen yang membuat Doni ternganga.


"Kenapa kamu mangap begitu? Ada yang aneh?"


"Ah, ti-tidak Tuan."


Begitu besarkah cintanya pada Nona Aurel? Ah terkadang cinta memang gila, sehingga membuat orang rela berkorban apa saja. Batin Doni


Setelah selesai sarapan mereka segera beranjak untuk menuju lokasi yang akan dibangun RS itu.


"Don, kita ke kampus UNRI Dulu ya," titah Arsen


"Dimana kampus UNRI itu, Tuan? Maklum kita sama-sama orang baru di kota bertuah ini, jadi aku masih awam dengan daerah ini," ujar Doni sedikit bingung karena kota ini masih sangat asing baginya.

__ADS_1


"Nih, aku Sherlock ke ponsel kamu. tinggal kamu ikuti saja petunjuk arahnya." Arsen segera mengirim petunjuk itu ke ponsel Doni.


"Mau ngapain kita ke kampus, Tuan? Bukankah Nona Aurel masih cuti?"


"Aku bukan menemui Istriku, tapi aku ingin bertemu Haikal, dia yang akan bernegosiasi dengan pemilik lahan itu."


Doni baru paham dan mengangguk patuh mengikuti petunjuk arah. Hingga tak berapa lama mobil itu sudah masuk kedalam perkarangan kampus.


Ternyata Haikal belum sampai, ia masih di perjalanan menuju kampus, maka Arsen harus menunggu beberapa menit.


Tidak perlu lama yang ditunggu sudah datang, Haikal segera keluar dari mobilnya, dan menghampiri Arsen.


"Kenapa kamu mendadak ingin membangun RS di kota ini? Bukankah kamu dan Aurel akan menetap di Malaysia?" Tanya Haikal, ternyata Pria itu belum mengetahui apa yang terjadi dalam waktu hampir dua Minggu ini.


"Nanti aku ceritakan padamu? Apakah kamu sibuk hari ini?" Tanya Arsen ingin memastikan, ia takut akan mengganggu aktivitas sahabatnya.


"Pagi ini mata kuliahku kosong, nanti jam sepuluh jadwal mengajarku. Ayo aku antar kamu ke lokasi itu. Aku juga sudah menghubungi yang punya lahan, sekitar tiga puluh menit lagi dia akan sampai di lokasi," jelas Haikal.


"Oke, ayo kita berangkat sekarang. Kalau begitu kamu bareng aku, mobil kamu ditinggal saja."


"Baiklah, tidak masalah. Ayo kita berangkat sekarang."


Akhirnya dua sahabat itu mendatangi lokasi yang akan dibeli oleh Arsen. Dan mereka bernegosiasi dengan yang punya lahan hingga deal dengan harga yang disepakati.


"Kopi, Tuan." Doni meletakkan dua gelas kopi ginseng tanpa gula. Mereka duduk di balkon yang menghadap ke tengah-tengah kota Pekanbaru itu.


"Ya, terimakasih!"


"Don?" Panggil Arsen pada sang asisten tanpa mengalihkan pandangannya dari gedung-gedung tinggi yang menjulang.


"Ya, Tuan?"


"Apakah Istriku akan senang dengan hadiah yang akan aku berikan?" Tanyanya


Doni menghela nafas panjang. Pertanyaan seperti itu yang sulit untuk diberi jawaban, karena terkadang ekspektasi tak sesuai realita.


"Kenapa kamu diam? Apakah kamu ragu jika Aurel tidak akan mau menerimanya dan tidak bisa memaafkan aku?"


"Bu-bukan begitu, Tuan! Tapi terkadang kita sebagai manusia sulit untuk meyakini sebelum kenyataan itu tiba. Tapi aku berpositif thinking saja, semoga Nona Aurel akan menerima dengan bahagia."


Arsen hanya tersenyum hambar mendengar jawaban dari sang asisten. Arsen menatap waktu di pergelangan tangannya, ternyata sudah cukup sore, ia harus berusaha untuk kembali melenturkan hati sang istri.


"Don, antar aku sekarang ke kediaman istriku," titahnya segera beranjak.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan."


Setelah memakan waktu sekitar 30 menit, Arsen sudah sampai di kediaman Aurel, sebelumnya Pria itu mampir di sebuah toko makanan, ia membelikan beberapa makanan dan buah-buahan untuk sang istri.


"Kamu pulang saja ke apartemen! Aku akan menginap disini," pesannya sebelum turun.


Doni mengangguk patuh dan segera meninggalkan sang majikan di halaman rumah sederhana itu.


Aurel dikejutkan oleh suara ketukan pintu saat lagi fokus mengurus bayi mungil itu setelah mandi. Wanita itu menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu beranjak membukakan pintu untuk tamu yang datang.


"Hai, selamat sore!" Sapa tamu itu dengan senyum simpul


"Masuk kerumah orang itu baca salam!" Balas Aurel ketus


"Ah, ya. Maaf aku lupa." Pria itu tersenyum kaku dan segera mengucapkan salam, dan dijawab oleh Aurel dengan pelan seperti tidak berharap kehadiran Pria itu.


"Rel, ini aku bawain kamu makanan dan buah-buahan." Arsen memberikan pada Aurel tetapi wanita itu bergeming.


"Maaf, tidak perlu repot-repot, Tuan! Aku tidak bisa menerimanya." Tolak wanita itu sehingga membuat senyum diwajah Arsen memudar.


Meskipun kecewa, Arsen berusaha untuk tetap tersenyum, anggap saja ini ujian sabar yang harus ia lalui hingga waktu yang menentukan kapan semuanya berakhir dengan bahagia.


"Baiklah, tidak masalah jika kamu tidak menerimanya. Kalau begitu biar aku simpan di kulkas, nanti malam aku akan memakannya," ujarnya yang bergerak menuju dapur.


"Apa maksud kamu nanti malam? Mau ngapain kamu sampai malam disini? Apa kata orang-orang?" Sergah Aurel tidak terima sembari mengekor di belakang Arsen.


"Apa kata orang-orang? Tentu saja mereka tidak bisa berkata-kata. Karena kita pasangan suami istri, memang ada yang aneh bila pasangan suami istri tinggal satu rumah?"


"Ya, tentu saja bagi mereka tidak aneh, tapi aku yang tidak nyaman. Aku tidak mengizinkan kamu tidur di rumahku!"


"Kalau kamu tidak mengizinkan aku tidur disini maka aku akan meminta hak aku untuk membawa Alif tidur dirumahku. Karena mulai sekarang kita harus adil dalam pengasuhan Alif!" Tegas Pria itu yang membuat Aurel ciut.


"Kamu!" Kesal wanita itu menatap Arsen dengan amarah


"Kenapa? Kamu tidak rela atau tidak terima? Itu terserah kamu, semua keputusan ada di tanganmu, mana dia anakku?" Arsen segera menemui bayi mungil itu yang sudah terlelap dengan pakaian yang belum selesai dikenakan oleh sang Bunda.


"Ya, ampun dia sudah tidur aja. Ck, ini gara-gara kamu, hingga aku lupa!" Decak Aurel kesal pada Arsen, Pria itu benar-benar membuat moodnya rusak sore ini.


"Udah biar aku saja yang mengenakannya." Arsen mengambil alih pekerjaan Aurel dengan pelan dan sangat hati-hati ia memakaikan pakaian bayi itu.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2