Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Ziarah ke makam Bunda


__ADS_3

Kini tinggal Arsen yang masih terpaku di dermaga menatap kapal yang ditumpangi sang istri semakin menjauh, ingin rasanya ia mengejarnya namun, sadar dengan perjanjian yang tak mungkin ia ingkari.


Entah mengapa kini terasa separuh jiwanya pergi bersama wanita itu. Andai waktu bisa diputar kembali, maka hal yang ingin ia lakukan adalah membuat sang istri bahagia, memberinya kenyamanan dan kasih sayang yang tulus.


Tapi kini semua sudah terlambat. Hati wanita yang membersamainya beberapa bulan ini telah patah dan hancur karena dirinya. Berharap kepada Tuhan, sekiranya masih diberikan kesempatan, maka ia meminta agar Tuhan menjaga hati Aurel untuk dirinya.


Ya Allah, mungkin selama ini aku adalah seorang lelaki yang kotor dan keji, tapi beri hamba kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku titipkan istri dan anakku kepadaMu ya Rabb. Tolong lindungi mereka dari segala marabahaya.


Tanpa terasa Pria itu kembali meneteskan air mata. Dadanya terasa sesak, ia tak pernah merasakan sakitnya perpisahan sesedih ini.


Sejauh mata memandang Arsen masih menatap kapal penyebrangan itu menjauh hingga hilang dari pandangan. Dengan langkah gontai ia kembali kekediamannya.


Sementara itu tiga jam perjalanan laut, kapal yang di tumpangi Aurel sudah sandar di pelabuhan Dumai Riau. Aurel harus menggunakan travel yang memakan waktu tiga jam perjalanan untuk sampai di di kampung halamannya.


Di dalam travel wanita itu banyak melamun, jujur saja ini bukanlah hal yang mudah baginya untuk menjalani kehidupan kedepannya,


Sedikit senyum ia ukirkan karena Arsen telah membekali dirinya surat nikah resmi. Jadi ia tidak perlu takut menghadapi pertanyaan orang-orang tentang kehamilannya.


Entah mengapa Aurel merasa ada sedikit kebahagiaan dihatinya karena Arsen meresmikan pernikahannya secara agama dan hukum.


Aku serahkan takdir hidupku kepadaMu ya Rabb. Aku tidak tahu apa yang terjadi kedepannya. Untuk saat ini biarkan aku menata hati yang telah hilang rasa kepercayaan pada seorang lelaki yang kini telah menanam benih dirahimku! Jaga dia dari keburukan. Bukakan pintu hatinya agar menjadi lelaki yang lebih baik lagi.


Ternyata dalam diam wanita itu mendo'akan yang terbaik untuk ayah dari anaknya itu. Mungkin seperti bebapatah mengatakan. Berpisah bukanlah bercerai itulah yang terjadi diantara mereka saat ini.


Tak terasa waktu berjalan, tiga jam perjalanan telah mengantarkannya sampai di kampung halamannya. Aurel segera turun dan disambut oleh para tetangga.

__ADS_1


Yang paling utama ia tanyakan adalah tempat pemakaman sang Bunda. Aurel sudah tak sabar untuk berziarah ke makam bidadari yang tak bersayapnya itu.


Aurel kembali terkenangan saat ia memasuki rumah sederhana tempat tinggalnya bersama Bunda selama belasan tahun. Sedari kecil ayahnya telah meninggal karena sakit sesak nafas, ia dibesarkan oleh sang Bunda seorang diri.


Dan pada akhirnya Bunda juga mengidap penyakit yang menakutkan, maka dari itu Aurel bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Karena ia merasakan sendiri bagaimana sakitnya ditolak pihak medis dikala tak mempunyai dana untuk pengobatan.


Aurel menatap ruangan sekeliling, bayangan sang Bunda tampak begitu nyata. Wanita itu berdiri dan menghampiri namun, ternyata itu hanyalah halusinasi belaka. Mungkin karena dia begitu merindukannya.


Aurel terduduk lemas di kursi usang itu. air matanya jatuh tak tertahankan. Ia segera bangkit dan meminta Bibi Ana untuk mengantarkannya ke makam sang Bunda.


Setelah sampai di pemakaman, Aurel segera bersimpuh. Tangannya yang lembut terulur mengusap batu nisan Ibunda tercinta.


"Assalamualaikum,Bunda. Semoga sudah tenang di alam sana, karena Bunda sudah tak merasakan sakit lagi." Ucap Aurel, air matanya sudah mulai menetes.


"Bunda, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan Bunda semasa hidup. Maaf jika aku telah membuat Bunda kecewa, tapi aku tidak bisa menolak takdir ini Bun."


Setelah cukup berbincang secara sepihak, Aurel menutup percakapan itu dengan Do'a dan ayat-ayat pendek. Perlahan ia mengecup batu nisan itu dengan penuh kerinduan.


---Malaysia--


Sore ini Arsen masih betah berada di kamarnya, hari ini Arsen enggan ke kantor maupun ke markas. Ia memilih menyendiri dikamarnya sembari menunggu kabar dari orang suruhannya untuk mengetahui kabar dari sang istri setiap dua jam sekali.


Pria itu tidak bisa menemui Aurel, tapi dia akan mengetahui aktivitas sang istri dari orang suruhannya. Entahlah, sampai kapan ia akan menjadi pengagum rahasia sang istri yang kini jauh dimatanya.


"Nona, berhenti! Jangan ganggu Tuan Arsen! Karena dia sedang tidak ingin diganggu!" Suara penjaga terdengar begitu lantang di depan pintu kamar Arsen.

__ADS_1


"Lepaskan Saye! Saye yaken sangat bahwa Arsen bahagia bisa bertemu dengan saye!" Ujar wanita cantik itu sembari menerobos masuk kedalam kamar Tuan dingin itu.


Cklekk!


Arsen yang sedang duduk di sofa sedikit terkejut melihat siapa yang datang menemuinya. Wanita yang lima tahun ini telah mengisi hatinya, semua harapan ia tanamkan kepada wanita itu untuk mencapai kebahagiaan, tetapi harapan itu lenyap seketika saat penghianatan hadir di depan mata.


"Hai... Sayang, saye sangat rindukan diri awak. Kenapa awak tampak bersusah hati ni? Ape pasal?" Ujarnya sembari bergelayut manja di bahu Arsen


"Lepaskan! Jangan sentuh aku! Untuk apa kau datang kesini? Aku sudah tak mengharapkan kehadiranmu lagi. Sekarang pergilah!" Usir Arsen dengan tatapan amarahnya.


"Hoho... Jangan lah cakap macam tu, Sayang! Macam mane pula saye pecaye bila gamba mesra kita tu masih terpajang kat sana. Come on honey. Saye tahu awak masih kecewa dengan saye, maka sebab tu saye minta maaf kepada awak. Marilah kita mulai dari semula lagi!" Ujar wanita yang bernama Maura itu.


"Oh, jadi kau mengira aku masih mencintaimu karena gambar itu masih terpajang disana? Sorry, aku hanya lupa untuk membuangnya, kalau begitu akan aku buktikan padamu bahwa rasa cintaku sudah tak bersisa lagi."


Arsen mengambil foto yang terpajang di dinding kamarnya itu, dan memanggil penjaga diluar kamarnya.


"Hanan?!" Panggilnya dengan keras.


"Ya, Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?"


Buang foto ini kedalam tong sampah, pastikan bincang terlebih dahulu sebelum dibuang!" Perintah Arsen


"Baik, Tuan!"


Penjaga segera keluar dan membawa foto itu. Maura terpaku menatap dengan hati yang kesal. Sementara bingkai foto tadi ia ganti dengan fotonya bersama Aurel, Ya,Pria itu mengambil fotonya dan Aurel saat mereka tidur seranjang, terlihat difoto itu Arsen memeluk Aurel dengan mesra sembari mengecup kening istrinya itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2