Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Dokter suruhan


__ADS_3

Selesai makan siang, Haikal dan Dewi segera bersiap pergi nonton. Haikal sudah membeli tiket tadi sebelum dia datang.


"Za, kamu mau ikut nggak? film nya bagus lho, tentang cinta romantis. Cocoklah pokoknya buat anak muda," ujar Haikal menawarkan pada adik iparnya.


"Nggak, Mas, lagian belum punya pasangan buat di baperin," balas Reza yang sebenarnya tidak mau ikut di acara romantis kakaknya itu.


"Yaelah, jaman sekarang anak muda ganteng seperti kamu, belum punya pasangan? Ah nggak melawan banget." Ejek Haikal sembari tersenyum.


"Hmm, ngatain orang. Mending aku masih sangat muda, tapi apa kabarnya seorang Dosen yang sudah berkepala tiga baru menikah empat bulan yang lalu." Balas Reza, dan mengukir senyum puas.


"Ih, apaan, nggak ada hubungannya sama aku!" Haikal segera mengelak.


"Siapa juga yang ngomongin Mas Haikal? Ngerasa ya. Hahaha... Udah ah, aku juga ingin pergi, hari ini ada janji sama teman mau main basket."


Reza segera berlalu dari hadapan Haikal, sebelum pergi Pria itu menyambangi sang kakak yang baru saja keluar dari kamar.


"Mbak, aku pergi dulu." Reza menyalami tangan Dewi.


"Mau kemana, Dek?"


"Mau main basket, Mbak, tadi udah janji sama teman." Pria itu segera pergi, dia masih tersenyum melihat wajah Abang iparnya saat menatap sinis padanya.


Kini pasangan pasutri itu sudah berada di mall. 15 menit lagi filmnya akan dimulai. Sebelum masuk, Haikal membeli beberapa cemilan dan minum.


"Ayo, Sayang." Haikal menyerahkan kantong plastik yang berisi cemilan dan minum yang telah ia beli.


"Mas, ini benaran bukan film horor 'kan?" Tanya Dewi memastikan.


"Nggak, Sayang, emang kenapa sih takut banget sama film horor. Nanti kalau hantunya keluar, kamu bisa peluk aku," ucap Haikal sembari membawa Dewi menempati bangku mereka.


"Nggak, Mas, aku nggak mempan, aku tuh kalau udah nonton horor terbawa ke alam mimpi, dan nanti aku pasti takut mau ngapa-ngapain, apalagi kalau malam."


"Udah, diam Dek, nggak usah ngomel, ini nggak film horor, ini film romantis. Cocok buat kita," seru Haikal sembari merangkul tubuh Dewi menyandarkan kepalanya di dada.


Ternyata benar filmnya romantis, tidak terlalu banyak konflik, tidak membosankan. Mengisahkan Pria yang baru menyadari bahwa ada seorang wanita yang Secretly Love.


"Ceritanya seru ya, Mas. Ada sedihnya juga. Lagian tuh cewek kok mau banget nungguin yang nggak pasti begitu. Seperti nggak ada aja lelaki yang lain!" Omel Dewi


"Iya, Ho'oh. Gedeg lihat ceweknya ya, Sayang," balas Haikal

__ADS_1


"Iya, lebih Gedeg lagi sama cowoknya. Apaan lelaki seperti itu dicintai, nggak punya perasaan. Kesel lah pokoknya, kalau ada disini pengen nampol."


Haikal terkekeh, sembari mengecup bibir wanitanya yang tak mau berhenti ngomel sambil ngemil.


Selesai nonton, Haikal melihat waktu di jam tangannya. "Masih jam lima sore, Sayang, kita mau kemana nih?" Tanya Haikal di perjalanan.


"Pulang aja ya, Mas, lagian sebentar lagi magrib."


"Baiklah, ada mau beli sesuatu? Mumpung kita masih diluar."


"Iya, mampir di minimarket sebentar, aku mau beli bahan-bahan yang hampir habis."


Jam setengah enam mereka sudah sampai rumah, Haikal segera membantu sang istri membawa bahan-bahan yang tadi mereka beli.


Dewi masuk kamar mengganti pakaian, karena cukup gerah. Cuaca hari ini memang terik.


Haikal segera merebah. Sepertinya Pria itu ngantuk berat. Dewi menghampiri suaminya yang sudah memicingkan mata.


"Mas, kok tidur? Sebentar lagi magrib. Sholat dulu," intrupsinya sembari duduk dibibir ranjang.


"Bentar aja, Sayang. Ngantuk banget." Haikal masih menutup mata.


Haikal memeluk pinggang Dewi. "Iya, Sayang, aku janji akan menyelesaikan semua masalah ini."


"Tapi bagaimana jika benar kamu harus mendekam di penjara, Mas?" Tanya Dewi dengan segala kekhawatirannya.


"Jangan pikirkan itu lagi, sayang, tadi kita sudah bahas 'kan? Ayo baring sini." Haikal meraih tubuh Dewi untuk berbaring di sampingnya.


Pria itu mendekap tubuh istrinya mencari kenyamanan. Sebenarnya dia juga merasa cemas, tapi sebagai seorang lelaki dia tidak ingin jadi pengecut, Dewi juga butuh kepastian.


Haikal sudah bertekad bulat, apapun konsekuensinya akan ia hadapi. Yang penting bisa lepas dari perjodohan yang tak pernah ia inginkan itu.


---Malaysia--


Kini kondisi Arsen sudah mulai membaik, hanya menunggu pemulihan selama enam bulan. Selama itu ia harus menjalani kontrol rutin dalam pengawasan dokter.


Aurel juga sudah memulai studinya. Untuk kedua kalinya ia kuliah dalam kondisi hamil. Tapi di kehamilan sekarang dirinya sangat dimanjakan oleh suami dan kedua mertuanya.


Siang ini sepulang kuliah seperti biasanya, Aurel mampir ke kantor Arsen, ia selalu memantau dan mengawasi pergerakan suaminya itu.

__ADS_1


Aurel sangat tahu bahwa Arsen tak pernah bisa diam. Sebenarnya dia dianjurkan untuk istirahat total dirumah, tetapi Pria itu begitu gigih tak bisa dilarang, sehingga mau tak mau Hasan harus mengizinkan, dengan catatan Arsen harus membayar seorang dokter untuk memantaunya dan mamastikan agar tepat waktu minum obat. Harus patuh dengan segala larangan.


"Tuan, silahkan diminum obatnya terlebih dahulu," ujar Dr wanita yang merawat Arsen.


Arsen segera menghentikan aktivitasnya sejenak, ia menerima obat yang diberikan oleh dokter.


Setelah minum obat, Arsen merasa matanya mengantuk. Tidak perlu lama ia sudah tertidur di Sofa yang ada diruang kerjanya.


Wanita yang sebagai dokter itu tersenyum licik, ia membuka satu persatu kancing baju kemeja Arsen, dan mengeluarkan ponselnya.


Saat wanita itu menyandarkan kepalanya didada Arsen, dan segera mengarahkan Camera ponselnya untuk mengambil gambar.


Cklekk!


Aurel masuk dia terkesiap mendapati pemandangan yang amad menjijikkan itu. Sang dokter juga tak kalah terkejutnya.


"Dokter! Apa yang anda lakukan?!" Aurel mendekati wanita itu dan merebut ponselnya.


"Katakan siapa kamu yang sebenarnya? Kenapa kamu menjebak suamiku? Mas, bangun!" Aurel mengguncang tubuh Arsen.


"Tidak, Nona, saya tidak melakukan apapun." Elak wanita itu.


"Bohong! Aku melihat dengan jelas! Katakan padaku sekarang!!" Suara Aurel menggelegar.


Arsen yang merasa tidurnya terganggu, ia membuka mata dengan perlahan, merasakan kepalanya begitu pusing.


"Sayang, kamu sudah datang?" Tanya Arsen dengan suara berat.


"Iya, Mas, untung aku cepat datang. Kalau tidak akan ada masalah kembali diantara kita," jelas Aurel sembari menatap tajam pada wanita yang ada dihadapannya.


"Apa maksud kamu? Tolong ambilkan aku minum. Kenapa kepalaku sangat pusing." Keluh Arsen memijit pelipisnya.


"Itu pengaruh obat bius yang diberikan oleh dokter gadungan ini, Mas," ucap Aurel ber api-api.


"Apa maksud kamu, Sayang, aku masih tidak mengerti. dokter gadungan, masalah, Apa ini Sayang? Kenapa kamu marah-marah begini?"


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2