
Setelah selesai mengerjakan semua tugas dikantor, siang ini Arsen sengaja pulang lebih awal, ia ingin menghabiskan waktu bersama sang istri dan anaknya, karena tadi Aurel mengatakan bahwa hari ini tidak ada makul.
Saat Arsen sampai dikediaman Aurel, kembali darah Pria itu mendidih karena terbakar api cemburu melihat Aurel ngobrol bersama Pria yang semalam mengantarkannya.
Ya, walaupun mereka hanya duduk ngobrol di teras, tetap saja membuat hati Arsen sakit, ditambah lagi Aurel mengukirkan senyum manis pada Pria itu, sedangkan ia tak pernah mendapatkan senyum itu dari sang istri.
"Doni, Pagang Alif sebentar. Aku akan membuat perhitungan dengan Pria itu!"
Arsen segera turun dari mobil dan menyongsong kedua orang itu yang sedang ngobrol santai.
Aurel menatap kedatangan Arsen dengan wajah tagang, karena Aurel mengaku pada Andre dirinya adalah seorang janda beranak satu.
"Apa-apaan ini?!" Tanya Arsen geram.
Sontak membuat Andre bingung melihat kehadiran seorang Pria dewasa datang marah-marah.
"Berani sekali kamu membawa lelaki kerumah ini! Wanita macam apa kamu ini? Padahal kamu masih berstatus Istriku! Dan kau, pergilah dari sini! Jangan sampai kau kubuat menyesal seumur hidup!"
Pria yang seumuran dengan Aurel itu masih bingung. "Apa maksud semua ini Rel? Bukankah kamu bilang sudah bercerai dengan suamimu?" Tanyanya meminta penjelasan.
"Aku bilang pergi dari sini!!" Bentak Arsen sembari menarik kerah baju Andre, dan akan memberi sebuah kepalan tangannya.
"Stop! Hentikan, Tuan!" Pekik Aurel menarik tangan Arsen melepaskan dari kerah baju temannya itu.
"Andre, pergilah. Besok aku akan menjelaskan semuanya," ujar Aurel yang membuat amarah Arsen semakin memuncak.
Setelah Andre pergi, Arsen menatap Aurel dengan tajam. "Apa yang ingin kamu jelaskan dengan Pria ingusan itu? Apakah kamu ingin mengatakan bahwa kamu sebentar lagi akan bercerai dariku? Hng! Jangan mimpi Aurel, aku tidak akan pernah melepaskan kamu!"
Aurel berdiri dari duduknya dan menatap Arsen tak kalah tajamnya. "Jangan egois kamu! Bukankah kamu sendiri pernah mengatakan ingin menceraikan aku bila aku menemukan Pria pengganti dirimu! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padamu!"
"Baik, jika kamu ingin berpisah dariku. maka hak asuh Alif akan jatuh ke tanganku!" Silahkan urus perceraian itu. Aku siap menanda tangani! Untuk sementara waktu Alif tinggal bersamaku. Sampai sidang hak asuh anak jatuh kepadaku!" Arsen melangkah meninggalkan Aurel yang masih termangu sembari mentelaah ucapan Ayah dari anaknya itu.
"Tidak! aku tidak mau kamu mengambil Alif dariku! Kamu jangan egois Tuan, aku mohon biarkan Alif bersamaku! Aku tidak akan bisa hidup tanpa putraku!" ujar Aurel sembari menangis dan menahan langkah Arsen. Pria itu tampak begitu emosi.
Ia sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi sikap sang istri, sepertinya ia harus memberi sedikit pelajaran agar hati wanita itu sedikit luluh.
__ADS_1
"Minggir Aurel!" Bentak Arsen memalingkan wajahnya sembari menurunkan tangan Aurel yang sedang merentang demi menahan langkah Pria itu.
"Tidak! Aku ingin anakku! Mana Alif? Berikan dia padaku!"
"Alif akan tinggal bersamaku. Agar kamu bebas berbuat apa saja dengan pria itu." Tegas Arsen, sembari melangkah pergi.
"Tuan, tunggu! Aku tidak mau dipisahkan dengan anakku! Kenapa sekarang kau jahat sekali? Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, kenapa sekarang kau tega mengambilnya dariku!!" Pekik wanita itu sembari mengekor dibelakang Arsen.
Arsen menghentikan langkahnya saat ingin masuk kedalam mobil. Ia menatap wanita yang ada dihadapannya dengan tangis menghiba.
Tidak, aku tidak boleh luluh. Aku harus memberinya pelajaran. Atau ini adalah kesempatan terbaik agar dia ikut tinggal bersamaku di apartemen.
"Baiklah, kamu ingin bersama Alif 'kan? Ayo masuklah. Mulai sekarang tinggal lah bersamaku di apartemen Jika kamu mau!"
"Apa-apaan ini Tuan?! Kenapa kamu curang sekali? Aku tidak mau tinggal bersamamu!"
"Kalau begitu nikmati saja kesendirianmu!" Arsen segera masuk kedalam mobil. Tetapi Aurel tak mau ketinggalan, ia juga ikut masuk.
"Dasar lelaki kejam! Tak punya perasaan! Aku benci sama kamu!" Maki wanita itu, tetapi ditanggapi dengan senyum bahagia oleh Arseno.
"Ayo jalan Doni!" Titah Arsen.
"Sini Alif bersamaku!" Pinta Aurel.
"Jangan! Berikan padaku!" potong Arsen.
Doni bingung menatap pasangan itu. Pria itu masih menimbang pada siapa bayi mungil ini harus ia berikan.
"Kak, Doni. Ayo berikan putraku!" Tangan Aurel terulur meminta
Sementara Arsen menatap Doni dengan tatapan lapar. Membuat nyali sang asisten ciut.
"Kau mau kusuruh turun disini, Doni?" Ancam Arsen
"Ti-tidak Tuan. Maaf Nona Aurel, setelah menimbang dan melihat bukti yang ada, maka hak asuh Alif jatuh kepada yang mulia Tuan Arseno Abraham." Ujar Doni berlagak seperti majelis hakim.
__ADS_1
Arsen tersenyum puas mengambil Alif dari Doni. Sementara Aurel menatap kesal dengan kedua Pria dewasa itu. "Dasar asisten tak punya perasaan! Majikan dan bawahan sama saja tak punya hati!" Maki Aurel, membuat Doni tak berani menatap istri majikannya itu.
Arsen memangku Alif dan membawa bayi mungil itu bicara, sementara Aurel disampingnya sudah tak tahan untuk tidak mengambil putranya.
Aurel meraih Alif dari pelukan sang suami. "Sini Putraku, Tuan! Dia sedari tadi belum ASI!" Kesalnya karena Arsen masih menahan Alif dalam dekapannya.
"Baiklah, awas kalau kamu minat membawa dia kabur! Ayo jalan Don!"
Doni mengangguk patuh, segera menjalankan mobilnya menuju apartemen mereka.
"Tenanglah, aku tidak akan ingkar janji. Aku tidak seperti dirimu!" Jawab Aurel kesal.
Arsen hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu dari anaknya itu, sembari menatap mata teduh itu dengan dalam.
"Apa lihat-lihat? Awas, geser sana! Aku mau kasih ASI pada putraku." Intrupsinya
"Kenapa? Aku halal melihat semua yang ada pada dirimu!"
"Don, naikkan kaca itu. Jangan sampai kamu melihat kebelakang!" ujar Arsen posesif. Doni segera memutar kaca kecil itu mengarah keatas, mengikuti semua keinginan Arsen.
Aurel memutar duduknya agak menyerong menghadap ke pintu mobil. Ia segera memberi bayinya itu air sumber kehidupan.
Setibanya di apartemen, Aurel masih bengong. Tidak mengerti keinginan Arsen itu bagaimana. Kenapa sekarang ia harus terjebak tinggal bersama.
"Ayo masuklah, kenapa kamu masih bengong? Mulai sekarang kita tidur satu kamar."
"Tidak, Aku tidak mau! Aku bisa tidur dikamar satu lagi!" Tolak Aurel.
"Tidak ada kamar kosong dirumah ini. Yang itu kamar Doni. Jadi kamu harus ikut mauku!" Sanggah Arsen.
"Kenapa kamu tidak menyewakan Doni rumah kontrakan atau apartemen satu lagi untuk dia?"
"Aku tidak mempunyai uang, kalau kamu mau kamu saja yang bayarin rumah kontrakan buat Doni. Kamu bisa menggunakan kamarnya," ujar Arsen santai sembari mengambil Alif dan membawanya masuk kedalam kamar.
Dengan rasa dongkol, Aurel terpaksa mengikuti Pria matang itu. "Dasar om-om mengesalkan!" rutu Aurel yang masih dapat didengar oleh Arsen.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰