
"Mom, aku dan Aurel mau ke RS, titip Alif sebentar...."
"Tidak usah, Mas, Alif biar ikut saja, nanti dia merecoki Mommy," potong Aurel dengan wajah yang masih tertunduk, ia sangat takut dan hati-hati dalam bersikap, takut sikapnya akan membuat ibu mertuanya itu semakin berpikir buruk tentangnya.
"Pergilah, Alif biar Mommy yang jaga, sekalian periksa istrimu untuk memastikan bahwa dia benar hamil, Mommy curiga melihat nafsu makannya menurun," ujar Mommy sembari mengulas senyum pada sang menantu.
Seketika Aurel menitikkan air mata, apakah Mommy tidak marah lagi Kepadanya? Tapi apakah semudah itu. Aurel hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
Setibanya di RS, Arsen segera melakukan cuci darah seperti biasanya yaitu memakan waktu selama 3 jam, Aurel masih setia menunggu sang suami.
Aurel duduk di samping bad pasien tempat suaminya berbaring, Aurel memainkan ponselnya membuang rasa jenuh. Namun, tiba-tiba ia merasa mual ingin muntah dan segera lari kedalam kamar mandi untuk mengeluarkan muntah yang sudah ada di tenggorokan.
"Kamu kenapa, Sayang? Masuk angin?" Tanya Arsen begitu cemas melihat wajah pucat Aurel saat keluar dari kamar mandi.
"Nggak tahu, Mas, tiba-tiba mual, aku juga ngantuk banget, pengen tidur," adunya pada sang suami.
"Ayo tidurlah di Sofa, nanti kalau sudah selesai aku bangunkan," titah Arsen memberi solusi, Pria itu semakin curiga bahwa Aurel memang tengah hamil.
Aurel hanya mengangguk dan segera merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang dikhususkan untuk keluarga pasien saat menunggu.
Tiga jam berlalu, Aurel masih terlelap seperti orang pingsan, padahal Arsen sudah selesai dua puluh menit yang lalu, tetapi ia tidak ingin mengganggu tidur pulas istrinya itu.
Tetapi mengingat waktu yang berjalan dan Arsen juga sudah membuat janji dengan Dr Obgyn, maka ia harus membangunkan Aurel.
"Sayang, ayo bangun. Aku sudah selesai." Arsen mengusap bahu Aurel dengan lembut dan mengecup keningnya.
"Masih ngantuk, Mas," rengek Aurel masih memejamkan matanya seakan tak ingin di ganggu.
"Iya,sayang, nanti tidurnya lanjutkan di rumah ya. Sekarang ayo kita periksa kamu dulu, aku sudah buat janji dengan Dr Obgyn. Tadi suster sudah datang memberi tahu antrian kamu sudah di panggil," jelas Arsen kembali.
"Hah? Ngapain buat janji sama Dr Obgyn, Mas? Aku tidak hamil." Bantah wanita itu masih tidak percaya dengan pikiran suaminya itu.
"Iya, biar lebih jelas kita periksa dulu. Ayo bangun." Arsen membantu Aurel untuk duduk.
"Mas, ngapain sih kita harus periksa? Kalau aku tidak hamil kan malu-maluin aja," rungut Aurel sembari mengikuti langkah Arsen untuk masuk kedalam ruangan dr Obgyn.
__ADS_1
"Selamat siang, silahkan duduk!" Dr Obgyn mempersilahkan dengan ramah.
"Terimakasih, Dok." Balas Aurel dan Arsen segera duduk di kursi yang ada di hadapan Dokter kandungan itu.
"Apa keluhannya, Bu?" Tanya dokter.
"Saya belakangan ini sering mual, Dok, dan selera makan saya menurun. Apakah saya hamil, Dok?" Tanya Aurel langsung pada intinya.
"Tanggal berapa terakhir anda haid?"
"Bulan lalu, tanggal enam."
"Baik, sekarang sudah tanggal 28, berarti hampir satu bulan penuh anda tidak datang haid. Apakah anda sudah menguji dengan tespeck?"
"Belum, Dok."
"Baik, mari berbaring kita periksa dan USG, agar jelas hasil pemeriksaannya."
Arsen segera membantu Aurel untuk berbaring di atas bad pasien, setelah suster mengoles gel, dokter segera memeriksa dan fokus dengan layar monitor.
Arsen dan Aurel saling bertatapan. Dari pertanyaan dokter mereka sudah bisa menyimpulkan, bahwa Aurel sedang hamil.
"Maksudnya bagaimana ya Dok? Apakah istri saya positif Hamil? Ini anak kedua kami," Arsen ingin mendengar lebih jelas lagi dari Dr yang tengah memeriksa sang istri.
"Benar, Pak, saat ini Bu Aurel sedang hamil, dihitung tanggal terakhir haid, maka kandungannya sudah berjalan tujuh minggu."
Dokter kandungan itu menjelaskan, kebenaran kehamilan Aurel sehingga membuat Arsen bahagia tak terkira, seketika ia mengecup seluruh wajah Aurel penuh kasih sayang dan ucapan terimakasih.
Karena rasa haru dan bahagia, Arsen melupakan kehadiran dokter dihadapannya. "Terimakasih ya, Sayang, Alif pasti senang banget mempunyai adik. Mommy dan Daddy juga pasti bahagia."
Arsen mendekap tubuh Aurel sedikit menindih tubuh Aurel yang masih terlentang di atas ranjang pasien itu.
"Mas, awas dulu, malu dilihatin dokter," bisik Aurel yang segera menyadarkan Arsen.
Pria itu segera melepaskan dekapannya, dan menatap dokter itu tersenyum malu. "Maaf, Dok saking bahagianya saya,"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak, sudah biasa itu. Saya ucapkan selamat buat Bapak, atas kehamilan istrinya. Tolong dijaga dengan baik, karena hamil muda ini sangat rawan keguguran.
Setelah selesai urusan di RS, mereka segera pulang, di tengah perjalanan Arsen tak pernah lepas menggenggam tangan Aurel. Rona bahagia begitu terlihat diwajahnya.
"Sayang, kamu mau sesuatu? Katakan sama aku, apapun keinginan kamu akan aku penuhi," ujar Arsen sembari mengecup tangan Aurel.
"Tidak, Mas, aku hanya ingin istirahat saja, karena aku merasa lemas, kenapa hamil aku sekarang berbeda saat hamil Alif ya, Mas?" Tanya Aurel lesu.
"Anak itu beda-beda bawaannya, Sayang, saat hamil Alif kamu kan menjadi wanita yang tangguh, dan anak kita itu sangat pengertian, dia tidak ingin menyusahkan Bundanya, karena dia tahu Daddy tidak bersamanya."
Aurel menatap sendu,walaupun Arsen tidak bersama mereka tapi suaminya itu selalu mengawasi dan menjaganya dari kejauhan tentu saja dengan kekuatan uang yang dimilikinya.
"Walaupun Daddy tidak bersama kami, tapi Daddy selalu menjaga kami dari kejauhan, terimakasih ya, Dad," ujar Aurel tersenyum sembari menyandarkan kepala di bahu suaminya, dan disambut hangat oleh kecupan Arsen.
"Sehat-sehat ya, anak Daddy dan Bunda." Arsen mengelus perut datar Aurel.
Jika Aurel dan Arsen tengah berbahagia menyambut kehadiran calon anak keduanya, lain halnya dengan pasutri ini.
Haikal baru pulang dari kampus, Dewi menyambutnya dengan senyum. "Tumben pulang cepat, Mas?" Tanya Dewi sembari menyalami tangan Haikal.
"Iya dong, kan mau jadi suami idaman, jadi harus belajar dari sekarang meluangkan waktu untuk istriku, yaitu calon ibu dari anak-anakku," jawab Haikal mengukir senyum menawan dan senyum itulah yang membuat Dewi mabuk kepayang.
"Ish... Bisa aja sekarang gombalnya." Dewi mencubit pinggang Haikal dengan wajah bersemu merah.
Haikal terkekeh sembari merangkul bahu Dewi untuk masuk menuju ruang tengah. "Masak apa hari ini? Aku sudah lapar banget."
"Ya ampun kasihannya suamiku, yaudah ayo kita makan sekarang, aku sudah masak menu spesial buat kamu, Mas," ujar Dewi menatap Haikal, senyum selalu ia ukirkan.
"Muuach... Terimakasih ya." Haikal mengecup bibir Dewi sekilas, jangan ditanya bagaimana perasaan kedua insan itu.
"Mas!" Dewi melotot dan merasa kaku.
"Maaf, Sayang, aku refleks." Jawab Haikal tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰