
"Alah, modus itu mah," ujar Aurel menatap malas
"Hehe... Modus dikit gapapa lah, biar nggak terlalu hambar. Lagian kita pasangan halal, mau ngapain aja juga nggak masalah," sanggah Haikal.
Dewi hanya geleng kepala menanggapi ucapan suaminya yang semakin hari semakin intim saja perlakuannya.
"Udah ayo kita makan sekarang." Dewi melepaskan diri dari Haikal dan mendahuluinya untuk ke meja makan.
Dewi melayani suaminya dengan suka cita, ia mengambilkan makan untuk Haikal. "Makan, Mas, kalo nggak enak dienakin saja," celoteh wanita itu sembari menduduki kursinya.
"Apapun yang kamu masak pasti enak," puji Haikal dengan yakin
"Udah ayo makan, jangan nyanjung mulu," tukas Dewi tersenyum malu.
Selesai makan, Dewi membereskan meja makan, mengangkat semua peralatan makan yang sudah kotor untuk di cuci.
"Aku bantuin ya?" Tawar Haikal ikut sibuk membantu Dewi beberes dapur.
"Eh, nggak usah, Mas. Udah kamu istirahat saja, biar semua aku yang kerjakan," tolak Dewi.
"Nggak papa, aku juga ingin membantu kamu." Haikal masih ngotot.
Dewi mengerutkan keningnya melihat tingkah Haikal mendadak penuh perhatian, ada angin apa nih? Apakah hanya alibi saja, ada udangkah di balik bakwan?
Dewi membiarkan Haikal mengerjakan, ia beralih dengan pekerjaan rumah yang lainnya. Wanita itu masih bingung melihat perubahan sikap Haikal, benarkah suaminya itu ingin membuktikan kesungguhannya.
"Wi..." Panggil Haikal yang baru saja hendak mencuci piring.
"Ya, Mas, ada apa?" Tanya Dewi menghampiri Haikal.
"Dek, tolong gulung lengan baju Mas hingga siku," ujar Pria itu mengulurkan tangannya pada Dewi, karena tangan sebelahnya sudah basah dan berbusa.
Kembali wanita itu dibuat mati gaya dan bingung harus bersikap apa. Kenapa Haikal berubah menjadi manis sekali ucapannya. Pria itu memang penuh strategi untuk meluluhkan hati sang istri.
Dewi tak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa menuruti perintah dari Bapak Dosen itu. Dengan telaten ia menggulung lengan panjang Haikal hingga siku seperti yang di inginkan.
__ADS_1
"Terimakasih ya, Sayang," ujar Haikal sembari tersenyum manis.
Dewi hanya membalas dengan anggukan, wanita itu segera berlalu, Dewi merasa kenapa sekarang Haikal yang berjuang mendapatkan hatinya, bukankah selama ini dialah yang berjuang dan berusaha membuat Pria itu jatuh cinta? .
***
Setelah sampai dirumah, Aurel segera masuk kedalam kamar, karena kembali merasa mual ingin muntah.
"Daddy..." Alif yang sedang bermain di temani oleh Oma segera menghampiri Arsen.
"Hai, lagi ngapain nih anak Daddy? Sekarang panggilnya Abang Alif, karena sebentar lagi Alif punya dedek, Alif mau 'kan, punya adek?" Tanya Arsen memberi kabar bahagia itu terlebih dahulu pada sang Putra.
"Benalan, Dad? Jadi sebental lagi Alif punya teman. Hole..." Bocah itu kegirangan segera berlalu dari hadapan Arsen dan masuk ke kamar.
"Jadi benar Aurel hamil?" Tanya Mommy dengan mata berbinar, seakan wanita itu telah melupakan kekecewaannya yang tadi ia ungkapkan.
"Benar, Mom, Dokter bilang kehamilan Aurel baru berjalan tujuh minggu. Aku mohon, Mommy jangan bicara apa-apa dulu ya sama Aurel, semenjak mendengar ucapan Mommy tadi pagi, dia selalu merasa bersalah, aku takut Aurel banyak pikiran dan berdampak buruk pada kehamilannya."
Arsen mencoba menjelaskan apa yang memang ia takutkan, dia tidak ingin terjadi hal yang tak diinginkan pada istri dan calon anaknya.
"Mommy sangat bahagia mendengarnya, Nak, maafkan Mommy ya, tadi pagi Mommy benar-benar merasa kalut, Mommy sangat takut kehilangan kamu Arsen, karena kamu anak kami satu-satunya. Sungguh Mommy sangat takut, Nak."
"Sudah, Mommy jangan menangis lagi ya, percayalah, aku pasti sembuh,Mom, aku sudah menelpon Hasan untuk mencarikan donor ginjal untukku, jadi nanti setelah sampai di Malaysia aku akan segera menjalani pengobatanku."
Arsen berusaha untuk meyakinkan Mommy agar tak bersedih lagi. Arsen juga tidak ingin Mommy menyalahkan Aurel atas penyakitnya itu.
"Sekarang mana istri kamu, Nak? Mommy ingin bicara dengannya, Mommy ingin minta maaf," ujar Mommy sembari melerai pelukan anaknya.
"Aurel sedang istirahat dikamar Mom, dia mulai mual dan bawaannya mengantuk, dokter bilang itu hal yang wajar kehamilan trimester pertama," jelas Arsen pada mommy.
"Kamu sudah belikan dia susu hamil? Kalau dia tak ingin makan tidak apa-apa, asalkan minum susu agar tetap ada tenaga."
"Belum, Mom, nanti akan aku belikan. Yaudah aku ke kamar dulu ya Mom, Oya, Daddy mana Mom?" Tanya Arsen tak melihat sang ayah.
"Daddy kamu pergi ke kantor bersama Doni, tadi Doni datang ingin bertemu kamu," jelas Mommy.
__ADS_1
"Oya, mungkin tadi Doni telpon tapi ponselku mode silent." Arsen segera berjalan untuk menyusul Aurel ke kamar.
"Sen..." Panggil Mommy.
"Ya, Mom?"
"Tanyakan pada Aurel dia mau apa, nanti Mommy masakin," ujar Mommy penuh perhatian pada sang menantu yang sebentar lagi akan memberinya cucu.
Arsen tersenyum bahagia. "Baik, Mom, akan aku tanyakan." Arsen segera masuk kamar.
Saat masuk kamar, Arsen melihat ada kegaduhan antara ibu dan anak itu. Dalam diam Arsen mengamati kedua orang yang paling disayanginya.
"No, Bunda! Ini bantal Alif."
"Alif, Bunda pinjem dulu, kepala Bunda pusing, sini pinjem!" Aurel bersitegang dengan anaknya.
"Nggak mau..." Anak dan Bunda itu rebutan bantal, Arsen hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang biasanya sangat penyabar dan sayang pada Alif, kini dia tak mau mengalah.
"Eh, eh, ada apa ini? Kok pada rebutan bantal?" Arsen menghampiri untuk menengahi.
"Ih, anak kamu, Mas, nggak bisa ngalah sedikitpun, padahal Bunda hanya pinjam sebentar saja." Aurel mengadu pada suaminya sembari memberengut.
Alif menatap Aurel dengan tajam, bocah itu seperti menyimpan kesal pada Bundanya.
"Sayang, Bunda pinjam bantal Abang sebentar ya? Soalnya Bunda lagi pusing, kan anak Daddy pintar, sebentar lagi mau punya adik," bujuk Arsen pada putranya.
"No, ini bantal Alif, Bunda punya bantal cendili!" Jawab bocah itu ngambek ingin menangis.
Aurel yang melihat putranya ingin menangis segera mengalah, "Sini sayang, Bunda dulu." Aurel merentangkan kedua tangannya tetapi bocah itu tidak mau.
"Ndak, mauu, Bunda nggak cayang cama Alif, Alif nggak mau cama bunda, Alif cama Oma aja."
"Alif sini, Nak, Bunda minta maaf, Bunda sayang sama Alif," sesal Aurel tetapi bocah itu sudah lari keluar.
Arsen duduk disisi sang istri, sembari membawa wanita hamil itu kedalam pelukannya. "Sudah, biarkan saja, Sayang, mungkin karena sebentar lagi dia ingin punya adik, maka tingkahnya makin banyak, dia takut kasih sayang kita akan berkurang,"
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰