Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Wanita masalalu


__ADS_3

Doni yang semula kesal dan ingin marah. Namun, saat ia menatap mata polos itu, seakan amarahnya menguap begitu saja.


Doni berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu. "Baiklah, siapa nama kamu, Sayang? Kenapa jam segini masih keluyuran di RS ini?" Tanya Doni sembari mengusap kepala anak itu.


"Namaku Doni, Om. Aku disini ikut Ibu. Soalnya ibu jaga malam," jawab anak kecil itu, yang membuat kening Doni berkerut.


"Doni?" Tanya Pria dewasa itu kembali, untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar jika nama bocah itu sama dengan namanya.


"Benar, Om. Namaku, Doni Putra kaulanov." Anak kecil itu membenarkan dan memperjelas namanya.


"Benarkah? Berarti nama kita sama dong," Doni tersenyum lembut pada bocah kecil itu.


"Jadi, nama Om, Doni juga?"


"Benar" Doni menatap wajah anak itu dengan dalam. Wajahnya terasa tidak asing. "Apakah ibumu seorang Dokter di RS?" Tanya Doni.


"Tidak, ibuku seorang perawat."


"Kenapa kamu harus ikut ibu bekerja? Kenapa tidak dirumah saja?" Tanya Doni sedikit penasaran.


"Doni...!" Panggil seorang wanita menghentikan ucapan bocah kecil itu saat ingin menjawab pertanyaan Doni besar.


"Doni, kamu kemana aja, Nak? Ibu sudah bilang, kamu tidak boleh nakal. Kamu harus duduk tenang. Kalau kamu masih nakal, besok ibu tinggal Doni di kontrakan sendiri." Omel wanita itu pada sang anak dari belakang.


Doni mendengarkan suara serak itu. Seketika jantungnya berdegup kencang. Walaupun dia belum melihat wajah wanita itu, karena masih terhalang tubuh bocah yang ada dihadapannya.


Doni segera berdiri menatap wajah ibu dari bocah yang namanya sama dengannya. Alangkah terkejutnya kedua orang itu.


"Herlina!"


"Mas Doni!"


Dua orang itu saling bersitatap. Wanita yang bernama Herlina itu menatap dengan mata berkaca-kaca. Seketika dia meraih tangan putranya dan membawanya pergi.


"Herlina, tunggu!" Doni meraih tangan wanita itu.


"Ada apalagi, Mas?" Tanya Lina datar, tetapi terlihat menyimpan luka begitu dalam.


"Lina, aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Doni menggengam tangan wanita cantik yang menggunakan hijab dan pakaian putih khas seorang perawat itu.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Mas!" Lina menepis tangan Doni, dan segera pergi dari hadapannya.


Tetapi Pria itu tak ingin menyerah. Dia masih Keukeh mengikuti langkah sang perawat. Sehingga Lina menatap kesal.


"Lina, aku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya!" Tutur Doni berjalan cepat mengikuti wanita itu.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Mas. Sekarang aku sudah bahagia dengan kehidupanku. Jadi, tolong jangan hadir lagi dalam hidupku!" Tekan wanita itu sembari berjalan tanpa menoleh pada pria yang ada disampingnya.


"Lina, dengarkan aku dulu!" Doni kembali meraih tangan Lina dan menghadang langkahnya.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Aku disini anak baru. Jangan mempersulit hidupku! Tolong pergilah! Aku tidak ingin membuat masalah dan harus dipecat gara-gara kamu!" Bentak Lina dengan kesal. Lina juga melihat para staf RS itu menatapnya.


"Aku tidak peduli. Dan aku pastikan tidak ada yang berani memecat dirimu." Tegas Doni. Tentu saja mereka tidak berani melakukan hal itu. Karena Doni adalah asisten dan orang kepercayaan Arsen yang mengurus RS itu.


"Lina, katakan padaku. Kenapa kamu memberi nama anakmu menggunakan namaku? Aku tahu kamu masih mencintai aku 'kan?" Tanya Doni penuh percaya diri.


"Nggak usah ngarang kamu, Mas! Aku sama sekali tidak mencintai dirimu!" Ujar Lina dan segera pergi dari hadapan Doni.


"Lina, tunggu aku dulu, aku belum sele..."


"Cukup, Mas! Tolong jangan menggangguku lagi. Apakah selama ini belum cukup luka yang kamu berikan?" Lina kembali menggiring Putranya masuk kedalam lift.


Doni mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya yang tadi terasa berat, kini sudah terasa begitu ringan saat bertemu dengan wanita yang dicintainya.


Dengan berat hati Doni kembali menuju kantin. Sepertinya dia perlu minum secangkir kopi ginseng, agar fikirannya lebih fresh, biar mendapatkan ide bagaimana caranya menghadapi wanita yang sedang marah dan kecewa.


Dengan perlahan Pria itu menyesap kopi ginseng yang ada di hadapannya. Seketika idenya muncul. Bercermin dari pengalaman sang Tuan besar.


Selama empat tahun Pria itu mengejar cinta istrinya. Doni tersenyum seperti mendapatkan ide berlian. "Aku akan menanyakan tips cara yang ampuh dan yang benar dalam meluluhkan hati seorang wanita." Gumam Pria itu dengan senyum mengembang.


Doni segera menghabiskan minumannya, dan memesan satu cup lagi untuk menyogok Arsen. demi mendapatkan solusi dan petunjuk.


Doni naik kelantai dua, dimana tempat ruang bersalin. Saat Pria itu sampai di depan pintu ruangan. Ia mendengar suara tangisan bayi begitu menggema, sehingga terdengar jelas sampai di ruang tunggu.


Doni duduk diruangan itu, sembari mengucapkan Alhamdulillah atas kelahiran anak kedua dari majikannya.


Dengan sabar Doni menunggu Arsen keluar dari ruang bersalin. Cukup lama, akhirnya Arsen keluar dengan wajah sumringah dan tersenyum lega.


"Eh, Bos, bagaimana? apakah Nona dan bayi baik-baik saja?" Tanya Doni memastikan walaupun dari raut wajah Bosnya sudah terlihat kebahagiaan itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, istri dan anakku baik-baik saja,Don. Akhirnya harapanku ingin mempunyai anak perempuan terkabulkan." Jelas Arsen.


"Alhamdulillah, selamat ya, Bos. Aku ikut senang." Doni menyalami tangan majikannya.


"Terimakasih ya, Don, Bulan ini berikan seluruh karyawan dan staf RS ini bonus khusus atas kelahiran anakku." Perintah Arsen pada asistennya.


"Oke, siap laksanakan, Bos." Doni mematuhi.


"Ah, Bos?" Panggil Doni ragu.


"Kenapa, Don? Ya, tentu saja aku akan memberimu bonus yang lebih. Bahkan malam ini akan aku transfer ke rekeningmu," ujar Arsen salah persepsi.


"Bu-bukan. Bukan itu maksudku, Bos."


"Terus?" Tanya Arsen bingung


"Aku hanya ingin meminta pelajaran dari Bos."


Arsen semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Doni. "Apa maksud kamu, Doni? Ayo katakan jangan bertele-tele kamu!"


"Ayo duduk dulu, Tuan besar." Doni memegang tangan Arsen dan membawanya duduk.


Arsen menatap tajam pada Doni. Dia merasa sang asisten sedang berputar-putar ucapannya. Namun, karena hatinya sedang bahagia,maka tak masalah dia akan menanamkan rasa Sabar.


"Apa? Jangan membuat aku menunggu lagi!" Tekan Arsen.


"Ayo minum dulu, Bos. Pasti dari tadi belum minum kopi 'kan?"


Kembali Arsen menambah kesabaran dalam hatinya, demi menghadapi sikap Doni yang menurutnya berubah secara tiba-tiba. Arsen sedikit penasaran.


Arsen menerima kopi pemberian Doni, dan menyesapnya dengan perlahan. "Oke, aku sudah minum kopi pemberianmu. Jangan bilang kamu sudah menaruh racun di minuman ini?"


"Astaghfirullah... Istighfar,Bos. Kenapa berpikiran buruk padaku. Padahal aku begitu patuh dan penurut. Hah, Bos, benar-benar payah." Rungut Pria itu.


"Hehehe... Aku hanya bercanda. Aku sangat tahu siapa dirimu. Maka dari itu aku sangat mempercayai kamu. Sekarang katakanlah! Apa yang kamu inginkan."


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2