Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Alif diculik


__ADS_3

Dengan Sabar Haikal membujuk dan meyakinkan Dewi. Walau sedikit kesulitan menghadapi polah kemanjaan sang istri, dan akhirnya Dewi mencoba untuk memahami.


Walau berat hati Dewi harus berpisah dengan lelaki tercintanya itu. Haikal kembali masuk kedalam tahanan, karena waktu besuk sudah habis.


Dewi kembali menangis melihat punggung tegap itu menjauh dan hilang di balik ruangan. Mama Hema merasa tak tega, ia segera memeluk menantunya itu.


"Sudah, jangan bersedih ya. Mama janji akan secepatnya mengeluarkan Haikal dari sini." Mama Hema berusaha menghibur hati anak manantunya.


Dengan berat hati Dewi meninggalkan tahanan itu, ia berusaha untuk tetap tegar walau begitu sulit. Andai saja di izinkan ia akan tetap bertahan bersama suaminya.


---Malaysia--


Hari ini Aurel tidak ada makul, ia mengambil tugas untuk menjemput Alif pulang sekolah. Dengan diantarkan supir, Aurel menuju sekolah putranya.


Rencananya setelah menjemput Alif, Aurel akan membawa Alif ke kantor Daddynya. Setibanya di sekolah Aurel segera turun menjemput bocah itu.


"Permisi, Cikgu, saya mau menjemput Alif. Apakah sudah selesai jam belajarnya?" Tanya Aurel pada salah seorang guru yang biasa mengawasi Alif.


"Maaf, Nona, Alif sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu. Dijemput oleh aunty nya," jelas sang guru.


Aurel terkesiap mendengar pernyataan guru itu. Siapa Aunty yang dimaksud? Dia tidak pernah menyuruh siapapun untuk menjemput Alif.


"Maaf, cikgu, saya tidak pernah menyuruh siapapun untuk menjemput Alif." Jelas Aurel dengan gelisah dan cemas.


Para guru tampak panik mendengar penuturan Aurel. Mereka segera mengkonfirmasi dengan guru-guru yang lainnya. Mereka memutar cctv sekolahan itu.


Disana terlihat seorang wanita menggunakan masker, sebelum membawa Alif tampak wanita itu bercakap-cakap untuk meyakinkan bocah kecil itu. Seketika Aurel menangis karena tidak mengenal siapa wanita itu.


Aurel segera menghubungi Arsen sambil menangis. Tentu saja membuat Arsen tak kalah cemas dan kalut, tak membutuhkan waktu lama Arsen sudah sampai di sekolah dimana Aurel masih menangis.


"Sayang, apa yang terjadi?" Tanya Arsen segera membawa Aurel kedalam pelukannya.


"Alif, Mas, dia dibawa oleh seorang wanita yang tidak di kenal. Aku takut, Mas, Hiks... Aku takut, cari Putra kita sekarang, Mas." Tangis Aurel pecah.

__ADS_1


"Kamu sabar ya, jangan banyak pikiran. Ingat! kamu sedang hamil, nanti bisa berpengaruh dengan bayi kita." Arsen berusaha menenangkan sang istri, meskipun ia juga sangat cemas.


"Bagaimana aku bisa tenang, Mas, aku tidak tahu dimana anakku sekarang!" Ujar wanita itu dengan tangisan yang belum berhenti.


"Tolong putar kembali rekaman cctv itu, saya ingin melihat!" Titah Arsen pada pihak sekolah, sebenarnya ia ingin sekali marah, karena pihak sekolah sudah begitu mudah mempercayai orang yang membawa anaknya, tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu pada pihak orangtua murid itu, padahal nomornya sudah ada di pihak sekolah.


Arsen mengamati wanita yang ada di dalam rekaman cctv itu, seketika matanya memerah, tangannya mengempal kuat.


"Breng sek. Ternyata wanita ini benar-benar ingin mencari mati di tanganku!" Ujar Arsen dengan amarah memuncak.


Arsen segera membawa Aurel untuk meninggalkan sekolah. "Pak, antar istriku pulang." Perintah Arsen pada sang supir.


"Kamu mau kemana, Mas? Aku akan ikut denganmu!" Wanita itu tak mau membiarkan suaminya pergi dengan sendirinya.


"Pulanglah, Sayang, aku janji akan membawa Alif pulang. Kamu jangan pergi, ini sangat berbahaya. Aku tahu wanita itu siapa." Jelas Aurel.


"Siapa, wanita itu, Mas?" Tanya Aurel penasaran.


"Tapi bagaimana dengan keadaan kamu, Mas? Aku takut terjadi sesuatu pada kamu." Aurel begitu cemas.


"Kamu tenanglah, Sayang, aku akan jaga diri baik-baik. Jangan cemaskan aku."


Aurel terpaksa mengikuti keinginan suaminya, ia juga takut membahayakan anak dalam kandungannya. Ia hanya bisa berdo'a agar suami dan anaknya di dalam lindungan Allah.


Setelah Aurel pergi, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nomor baru yang tak dikenal, Arsen segera menerima panggilan itu.


"Halo. Siapa ini?" Tanya Arsen tegas.


"Halo Sayang. Bagaimana? Masih ingat dengan suaraku? Atau dengan bocah ini kamu ingat?"


Wanita itu mengalihkan panggilannya ke video. Arsen segera menerima panggilan itu, dan melihat Alif menangis ketakutan,


"Daddy, jemput Alif, Dad, Alif takut. Hu... hu.. Meleka jahat, meleka bentak Alif!"

__ADS_1


"Sayang, tunggu Daddy ya, Nak, Daddy akan menjemputmu sekarang. Katakan Maura! apa mau kamu?!" Bentak Arsen dengan emosi memuncak.


Hahaha.... Santailah sayang, jangan lah suka marah macam tu. Aku hanya mau kau menikahi aku. Tenanglah. aku tidak akan menyakiti anak tampanku ini. Tapi jika kau tak menuruti keinginanku. Maka jangan salahkan jika aku melampiaskan amarahku ini padanya."


"Dasar wanita gila. Awas saja jika kau berani menyakiti anakku walau sedikit saja. Aku pastikan kau tidak akan bisa melihat dunia ini lagi! Katakan padaku. Dimana alamatmu?"


Aku rasa kau dah tahu dimana aku sekarang berada. Kau lihat ruangan ini? Ha, Jom lah kat sini, aku tunggu sekarang juga. Jangan lupa bawa pengulu. Dan satu lagi! Jangan pernah kau membawa siapapun. Jika masih ingin anakmu selamat!


Arsen segera mematikan ponselnya. Ia segera menelpon mantan anak buahnya yang telah lama tak pernah ia hubungi.


Arsen tahu sekarang Maura tidak seperti yang dulu lagi. Wanita itu terlihat lebih kuat dan pemberani. Ia tahu Maura mempunyai pasukan, Arsen belum tahu siapa yang mendekeng wanita itu dari belakang.


Setelah menghubungi anggota mafianya, Arsen segera menuju vila milik Maura yang ada di sebelah Utara. Ya, dulu Arsen sudah pernah datang ke tempat itu, saat mereka masih berhubungan.


Mereka bertemu di tempat yang telah di janjikan. Setelah mengatur strategi, Arsen segera menuju lokasi itu dengan seorang penghulu yang diminta oleh Maura.


Pria itu tidak mengerti apa yang di inginkan oleh Maura. Padahal dia tahu bahwa dirinya sudah menikah. Arsen benar-benar tak habis pikir.


Sementara itu di sebuah ruangan, Alif masih menangis, bocah kecil itu tak berhenti bicara, berulang kali Maura membentak untuk mendiamkannya.


"Kamu bisa tak, untuk diam sekejap saja? Telingaku sakit mendengar celotehanmu. Pasti cerewet kamu ini turunan dari emak kau itu!" Ujar Maura dengan Kesal.


"Tidak! Aku tidak mau. Lepaskan aku. Kau jahat! Daddy pasti akan memarahimu!" Bocah kecil itu masih menjawab tak mau diam.


Tidak berapa lama Arsen sudah tiba di depan vila itu. Arsen melihat beberapa orang berjaga di halaman vila. Sepertinya Arsen mengenali salah seorang dari mereka.


Ternyata Pria itu mantan anak buahnya yang dulu berkhianat. Arsen segera keluar bersama Pak penghulu itu.


"Ternyata kau. Dasar penjilat!" Ujar Arsen tersenyum miring.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2