
Sementara itu dikediaman Arsen, setelah menidurkan Alif, Aurel bangkit dari tempat tidur karena dia baru ingat ada beberapa tugas kampus yang harus di perbaiki.
Wanita itu segera keluar menunju ruang tengah dan segera membuka laptopnya dan mulai mengerjakan tugas untuk merevisi dan membuat jurnal ilmiah yang akan di upload skripsi di sinditaka untuk mempersiapkan wisuda.
Saat sedang fokus namun, tiba-tiba benda pipih yang menyimpan segala tugas kuliahnya itu padam. sehingga menunda tugas yang hampir selesai ia kerjakan.
"Ya Allah, kenapa pakai mati segala nih laptop. Ck, ada-ada aja." Kesal Aurel sembari mengotak Atiknya berharap bisa menyala kembali tetapi sepertinya benda itu benar-benar sudah lelah tak mau berdamai.
Sehingga wanita itu melamun sendiri, ia bingung harus bagaimana karena itu sangat penting, takutnya tidak terkejar, Aurel tak pernah meremehkan segala tugas yang ada.
Aurel mengusap wajahnya dengan lembut sembari berpikir, tiba-tiba ia ingat untuk meminjam laptop Arsen. "Dia sibuk nggak ya? Kok dari tadi belum keluar dari ruang kerjanya?"
Aurel beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju ruang kerja sang suami, Aurel mengetuk pintu terlebih dahulu tetapi tak ada sahutan, maka ia memutuskan untuk masuk, perlahan.
Aurel menatap sekeliling ruangan itu dan mencari sosok Pria yang sedari tadi tak keluar dari ruangannya.
Aurel tertegun saat melihat sosok yang ia cari sedang tertidur di kursi kerjanya. Terlihat wajah itu sedang lelah. Perlahan ia mendekatinya.
Aurel menatap wajah tampan itu dengan seksama, tanpa sadar tangannya mengusap rambut hitam legam Arsen dengan lembut.
Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalani hubungan yang membosankan itu, tetapi ia tak pernah melihat sang suami mengeluh atau meninggalkan dirinya, dia tetap setia bersama dirinya dan buah hati mereka.
Sore tadi adalah bentuk ketulusan suaminya yang selama ini tak pernah ia anggap kehadirannya. Aurel begitu melihat ketulusan cinta Arsen padanya. Andai saja Arsen tak datang dengan tepat waktu maka Aurel tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Hatinya terasa begitu perih saat mengingat kembali ucapan Arsen yang ingin melepaskan dirinya. Aurel menggelengkan kepala, ia tidak akan pernah mau berpisah.
Aku tidak ingin berpisah dengan kamu, Mas. Biarkan aku membayar segala kekecewaanmu selama ini. Jujur aku sudah jatuh cinta padamu, sekuat apapun aku menyangkal perasaan ini, nyatanya saat kamu mengatakan perpisahan hatiku tak rela.
Aurel mengelus rambut dan pipi Arsen dengan lembut penuh kasih sayang, tanpa sadar yang punya badan telah membuka matanya.
Arsen masih belum percaya apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini, seketika hatinya begitu nyaman dan penuh rasa kebahagiaan.
__ADS_1
Aurel, apakah ini nyata yang aku rasakan? Apakah tangan lembut kamu ini benar-benar menyentuhku? Apakah itu bertanda kamu sudah bisa menerima dan memaafkan aku?
Arsen memegang tangan Aurel dan meraihnya lalu mengecup tangan lembut itu membuat Aurel terkesiap dan segera menarik tangannya tetapi Arsen semakin erat menggenggamnya sehingga membuat tubuh mereka semakin merapat.
Arsen merengkuh pinggang Aurel sehingga membuat wanita itu terduduk di pangkuannya. Netra mereka bertemu dan wajah begitu dekat. Nafas kedua insan itu berpacu tak beraturan debaran jantung mereka saling bersahutan.
Arsen segera memeluk sang istri begitu posesif, ia berharap bahwa itu bukanlah mimpi, Arsen menghirup aroma tubuh Aurel yang begitu membuatnya nyaman.
"Aurel, katakan ini bukanlah mimpi, jika mimpi aku mohon jangan bangunkan aku, biarkan aku seperti ini. Aku sangat merindukan dirimu." Pria itu bergumam dengan suara tercekat sembari menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Aurel.
Tanpa terasa air mata Aurel jatuh begitu saja saat mendengar ucapan sang suami yang begitu mendambakan dirinya, begitu tersiksakah dirinya selama ini?
Aurel membalas pelukan itu dan mengecup rambut hitam legam Arsen, aroma parfum manly begitu mendominan, membuatnya juga merasa sangat nyaman dalam posisi itu.
"Mas, ini bukan mimpi," ucap Aurel mengelus punggung Arsen dengan lembut.
Arsen merenggangkan pelukannya, ia menatap wajah cantik sang istri dengan segala tidak kepercayaan itu.
Aurel hanya menunduk dan tak mampu untuk menatap mata hazel itu. "Sayang, kenapa kamu diam saja?" Arsen menangkup kedua pipi sang istri.
"Mas, aku, aku ingin memulainya kembali. Apakah kamu mau memaafkan aku yang telah membuatmu kecewa selama ini?"
"Jangan katakan hal itu. Aku tidak pernah mempermasalahkannya, kamu tidak pernah salah, aku pantas menerima hukuman itu. Apakah kamu sudah bisa memaafkan kesalahanku?"
Aurel menatap Arsen dan mengangguk perlahan dengan senyum lembut. "Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Maafkan juga kesalahan aku ya?"
"Bagiku kamu tidak pernah salah, Sayang. Kamu tidak pernah salah apapun, karena aku sangat mencintai kamu." Arsen kembali memeluk Aurel dengan erat penuh kerinduan.
"Jangan pernah berubah lagi, Sayang. Sungguh aku tak sanggup bila selalu dibenci olehmu."
"Maafkan aku, Mas. Maaf..." Aurel kembali mengucapkan maaf, walaupun Pria itu mengatakan bahwa dirinya tak pernah bersalah, tetapi Aurel menyadari kesalahannya sendiri meskipun tak mendapat pengakuan dari sang suami, mungkin dikarenakan Arsen yang begitu mencintainya sehingga kesalahan apapun yang ia lakukan bisa terhapuskan oleh besarnya rasa cinta.
__ADS_1
"Jangan ucapkan itu lagi, Sayang. Ini sudah cukup bagiku, terimalah aku dalam hidupmu, jangan pernah tinggalkan aku."
Aurel menguatkan pelukannya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Mas. Aku juga mencintaimu," lirih Aurel.
"Benarkah kamu mencintai aku? coba katakan sekali lagi, aku ingin mendengarkannya." Arsen sedikit merenggangkan pelukannya.
Aurel menatap wajah tampan sang suami dengan tersipu malu. "Aku mencintai kamu, Mas." Wanita itu memalingkan wajahnya sehingga membuat Arsen gemas.
"Muuach..." Arsen memberanikan mengecup pipi Aurel dengan jantung berdebar tak menentu, dan seketika wajah Aurel berubah merah padam.
Arsen merangkum kedua pipi Aurel dan menatap wajah cantik yang biasanya begitu dingin dan datar. Perlahan tangan Arsen meraih tengkuk Aurel lebih menunduk sehingga tak ada jarak wajah mereka.
Arsen menyentuh bibir tipis yang kenyal dan lembut, karena merasa tak ada penolakan, maka Arsen lebih memperdalam luma tan bibirnya dan mulai menukar Saliva, lidah mereka bermain di rongga mulut satu sama lain.
Aurel yang terbuai oleh permainan penukaran Saliva, semakin lama wanita itu semakin menguatkan cengkramannya di pundak Arsen. Merasa telah kehabisan oksigen, Aurel segera melerai pelukannya.
Kedua insan itu menjadi canggung dan malu, tetapi Arsen berusaha untuk tetap tenang kembali merengkuh pinggang Aurel hingga merapat ke tubuhnya.
"Mas, kenapa tidak tidur dikamar? Kenapa kamu tidur disini?"
"Kenapa sayang? Apakah kamu sudah merindukan aku?" Tanya Pria itu tersenyum nakal.
"Bu-bukan itu maksud aku, Mas."
"Terus apa maksud kamu datang kesini, Sayang?"
"Aku kesini ingin meminjam laptop kamu. Soalnya laptop aku rusak, aku sedang mengerjakan tugas tetapi tiba-tiba layarnya padam tidak mau hidup lagi."
Aurel menjelaskan niat utamanya untuk apa dia datang keruang kerja Arsen. Pria itu tersenyum salah tingkah, merasa malu dan GR.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰