
Dewi keluar dari kamar segera mengambil bahan pokok di dalam mobil yang tadi ia beli, tapi belum sempat dikeluarkan karena ulah Haikal yang merusuh.
Tapi Dewi sadar sih, semua karena ulah dirinya sendiri, niat hati ingin menggoda tahunya dirinya yang repot sendiri, untung saja dirinya tak di perkosa oleh Pak Dosen.
"Lagi ngapain, Mbak?" Tanya Reza yang telah berada di belakang
"Eh, Dek, ini lagi keluarin bahan belanjaan. Kamu dari mana? Kok pintu rumah nggak di kunci?"
"Ada di kamar." Balas Reza ikut membantu sang kakak membawa belanjaan
"Dikamar? Kok nggak dengar Mbak pulang?"
"Bukan nggak dengar, tapi tadi aku lihat masuk rumah main gendongan, yaudah aku tutup pintu kamar lagi."
Seketika wajah Dewi merah merona mendengar ucapan Reza, ya ampun rasanya nggak punya muka di depan adiknya. Tapi salah dia sendiri sih, coba nggak minta Pria dewasa itu untuk menggendongnya.
Dewi segera memasak untuk makan malam. Wanita itu masih merasa sungkan dengan Reza, Tetapi ia memasang wajah biasa saja, karena apa yang dilihat sang adik, dirinya sudah halal bersama Pria itu.
Saat Dewi sedang fokus, Haikal keluar kamar dan menuju dapur, ia mendapati Dewi sedang sibuk dengan peralatan dapur yang sebentar lagi kelar acara masak memasak.
Haikal mengambil gelas dan menuju dispenser air, Dewi yang menggunakan pakaian rumahan menampilkan bentuk lekuk tubuhnya tampak jelas, bodynya montok berisi.
Haikal menampung air hingga meluap tak ia sadari karena fokus dengan pemandangan yang ada dihadapannya.
"Ya, Allah, nih orang kenapa sih? Pak!" Dewi memukul bahu Haikal dan segera menutup kran dispenser.
"Ah, sorry. Lagi nggak fokus," ujarnya tersenyum kikuk.
"Nggak fokus? Emang lagi lihatin apa sih?" Tanya Dewi penasaran.
"Lihatin kamu." Jawab Haikal santai tanpa dosa.
"Ish, nggak usah mulai deh, Pak. Udah tunggu di meja makan, nanti sebentar lagi kelar kok."
"Tapi aku pengen disini nungguin kamu, sambil memperhatikan body kamu yang aduhai itu," bisik Haikal nakal. Sepertinya ucapan Arsen benar-benar telah terkontaminasi di otak Haikal.
Dewi terkesiap, ia benar-benar merasa pusing melihat tingkah Haikal yang biasanya kalem tak banyak bicara, tapi kenapa sekarang Pria itu menjadi mesum tak ketulungan.
Kalau sudah seperti ini, apakah mereka masih mampu untuk berkomitmen. Dewi bukan tidak ingin memberikan hak suaminya, tapi ia juga takut bagaimana jika nanti Haikal tak bisa mencintainya dan menceraikan setelah apa yang ia dapat.
__ADS_1
"Nggak usah aneh-aneh ya, Pak. Aku nggak ingin bercanda," ujar Dewi sedikit galak.
"Kamu kok jadi pemarah gitu sih? Padahal aku pengen lihat sikap kamu yang centil seperti kemaren-kemaren." Balas Haikal yang masih berada di belakang Dewi.
Dewi dim, tak ingin menanggapi ia segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia tak berani bercanda nakal lagi, karena ia merasa Pria itu sedang memasuki puber kedua, jika salah-salah ia dilahap habis olehnya.
"Aku bantuin ya?" Ucap Haikal mengambil piring dan peralatan makan lainnya untuk di bawa ke meja makan.
Dewi tak menyahut, ia membiarkan saja apapun yang ingin di lakukan oleh suaminya itu. Tak menampik bahwa ia juga bahagia dengan momen seperti itu, berharap suatu saat Haikal benar-benar mencintainya.
Haikal menaruh peralatan makan itu di atas meja, dan kembali ke dapur. "Ada lagi yang ingin aku bawa?" Haikal menatap menu spesial yang ada di dalam piring. Ikan gurame asam manis. "Sepertinya enak tuh. Kenapa kamu tidak pernah masakin aku menu itu?"
"Iya, nanti aku masakin. Udah bawa ini ke meja." Titah Dewi yang masih sibuk dengan yang lain.
Setelah semua kelar, Dewi memanggil Reza di kamarnya. Mereka makan malam bersama. Pria remaja itu memperhatikan dua sejoli yang ada di hadapannya.
Haikal yang mendadak mesra membuat Reza sedikit senang, ia berharap semoga kakaknya akan bahagia dengan Pria pilihannya itu.
"Bentar lagi lulus, sudah ada rencana, Za, mau kuliah dimana?" Tanya Haikal di sela makan mereka.
"Belum, Mas. Ingin kerja dulu baru kuliah," jawab Reza apa adanya, seperti yang telah di rencanakan.
"Aku ingin seperti Mbak, aku harus bisa berusaha sendiri untuk membiayai kuliahku. Mbak Dewi saja bisa, masa aku nggak."
"Za, Mbak tidak setuju dengan pemikiran kamu. Kamu itu adik Mbak, jadi semua kebutuhan kamu biar Mbak yang menanggung."
"Sudah-sudah, nanti kita pikirkan. Pokoknya sekarang Reza fokus dulu untuk ujian akhir ini. semuanya biar aku yang urus." Ujar Haikal menengahi
Dewi dan Reza hanya saling pandang tak ingin membantah. Mereka kembali fokus makan .
Di apartemen, sebuah keluarga kecil sedang sibuk bercengkrama. Arsen dan Aurel sedang fokus mengajari putra mereka belajar.
Terdengar suara bel berbunyi. Arsen yang hendak berdiri, segera dicegah oleh Aurel.
"Biar aku saja yang bukain, Mas."
Aurel segera menuju pintu dan menatap ke monitor untuk melihat siapa tamu mereka. Seketika ia terkesiap melihat kedua mertuanya sudah ada di luar. Aurel segera membuka pintu.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam... Mom, Dad," sapa Aurel dengan ramah.
"Hai, Sayang. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat, Mom." Aurel segera menyalami tangan kedua mertuanya itu dengan takzim.
"Mari masuk, Mom, Dad."
"Mana cucu Daddy?" Tanya ayah mertuanya itu.
"Ada di ruang tengah dengan, Mas Arsen."
Aurel segera membawa kedua mertuanya menuju dimana anak dan suaminya sedang duduk.
"Alif..." Panggil Mama Iswara pada cucunya.
"Yee... Oma, Opa.." Sahut anak kecil itu segera berdiri dan memeluk kakek dan neneknya.
Arsen juga ikut berdiri menyambut kedatangan kedua orangtuanya. "Daddy, Mommy, kenapa datang tidak memberi kami kabar?" Tanya Arsen sembari menyalami.
"Tadinya, Mommy dan Daddy berniat ingin kasih kejutan untuk datang di wisuda istrimu, tetapi penerbangan kami di tunda, ya jadinya nggak sempat deh."
"Ya Allah, terharu banget, Mom, tidak apa-apa. Mommy dan Daddy sudah datang saja aku sudah bahagia. Terimakasih ya Mom, Dad," ujar Aurel senang dan haru.
"Iya, Sayang. Ini buat kamu dan Alif." Mommy memberikan oleh-oleh dari Malaysia buat menantunya.
"Alhamdulillah, Terimakasih Mom. Alif bilang apa sama Oma, Nak?"
"Macih Oma, Opa." suara bocah kecil itu begitu menggemaskan. Opa segera membawanya dalam gendongan.
"Ih, curang cucu dan menantu dikasih aku anak sendiri nggak kebagian." protes Arsen.
"Alah, kamu mah, nggak perlu Mommy belikan, karena kamu bisa beli sendiri apa yang kamu mau. Sini Mommy kasih Sayang saja, muuuaachh..." Mommy mengecup pipi sang anak dengan gemas.
Alif dan Aurel ikut terkekeh melihat tingkah ibu dan anak itu. "Mari duduk, Dad, Mom, Mas bawa Daddy dan Mommy duduk di ruang tamu, aku akan siapkan makanan dulu." Ujar Aurel segera beranjak ke dapur untuk menjamu orangtua suaminya itu.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1