Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Pergi


__ADS_3

Dua jam setelah Arsen pergi, Aurel mengirim pesan pada sang suami, entah kenapa hatinya tak tenang. Aurel merasa ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.


Tak berselang lama Arsen membalas pesan dari sang istri. Ia mengatakan akan pulang pagi. Karena urusannya belum selesai.


Aurel berusaha untuk percaya pada Arsen. Ia akan menanyakan besok bila Arsen sudah punya waktu luang, karena saat ini Pria itu sedang sibuk ditambah perusahaannya sedang ada masalah.


setelah lima belas menit berlalu, sebuah pesan masuk kembali. Aurel segera mengusap layar tipis itu, karena pesan dari nomor baru.


Seketika tangannya bergetar saat melihat video yang dikirim oleh nomor baru itu. Terpampang jelas bagaimana Arsen mencum bu wanita yang bernama Maura itu.


Ya, tentu saja Aurel mengenal wanita itu, karena foto itu masih melekat di kamar Arsen saat ia meninggalkan kediaman Arsen beberapa bulan yang lalu.


Seketika air mata wanita itu jatuh. Kembali kepercayaannya runtuh. Ternyata benar jika Arsen telah membohonginya.


Hatinya terasa ngilu. Kenapa Pria itu tega membohonginya? Kenapa dia berlagak seperti malaikat jika sebenarnya ia tak ubah bagaikan serigala.


Entah berapa lama Aurel menangis, ia merasa tertipu dengan segala sikap baik Arsen selama beberapa Minggu ini. Hatinya benar-benar sakit.


Aurel membawa luka hatinya dalam genangan air mata. Berharap rasa sakit ini bisa hilang walaupun sesaat.


Sementara itu di sebuah kamar hotel, seorang wanita tertawa lepas karena telah berhasil membuat istri manatan kekasihnya itu terbakar api cemburu.


"Ape yang awak buat, honey?" Tanya seorang Pria yang sedang membersamainya. Tak lain adalah produsernya sendiri yaitu adalah Pria beristri.


Maura masih tertawa senang. Ya, saat malam dimana ia menjebak Arsen. Maura telah merencanakan semuanya untuk membalas semua sakit atas penghinaan Arsen padanya.


Malam itu Maura mengambil nomor Aurel, dan merekam video percintaannya dan Arsen malam itu. Wanita itu juga sudah mengcopy pesan di aplikasi ponsel Arsen.


Maka saat ia mendapatkan copyan pesan Arsen dan Aurel, saat itulah hal yang tepat untuk membalas dendam. Bahkan wanita itu mengedit video itu dan membuat waktu dan tanggal rekaman itu sesuai hari ini.


Maura menceritakan semuanya pada Toni sang produser. Sehingga membuat Pria itu tertawa.


"Awak bena-bena licik, Sayang!"


"Bila saya tak boleh mendapatkan lelaki tu, maka tak de seorangpon yang boleh mendapatkan die. Hahahaha..." Tawa wanita itu kembali pecah.


***


Pagi sekitar jam delapan Arsen baru saja pulang, setelah selesai mengurus semua masalahnya. Kini ia sudah resmi berhenti di dunia hitam itu. Semua tanggung jawab ia berikan pada tangan kanannya.


Arsen masuk kedalam kamar dengan senyum senang, ia sekarang bisa hidup tenang bersama istri dan anaknya. Tetapi senyum itu memudar saat ia melihat Aurel sedang berkemas.


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Arsen cemas.

__ADS_1


"Jangan panggil aku Sayang! Simpan sayangmu itu untuk wanitamu itu Tuan!" Jawab Aurel dengan nada tinggi, ia sudah tak bisa menahan rasa sakit dihatinya.


"Aurel, apa yang terjadi? Katakan padaku? Kamu jangan membuatku takut lagi! Aku tidak ingin kehilanganmu dan juga Alif!" Ujar Arsen masih menahan Aurel yang akan beranjak.


"Katakan Tuan, anda kemana tadi malam?!" Tanya Aurel meletakkan koper bawaannya, ia masih ingin mendengar kejujuran Arsen.


"Aku, benar ada urusan!"


"Hng! Ternyata kamu Penipu ulung!" Aurel kembali menggendong Alif dan menyeret kopernya, ia ingin kembali ke Indonesia, sepertinya tidak ada lagi kesempatan untuk Pria pembohong seperti Arsen.


"Tidak! Kamu tidak boleh pergi dari sini!" Bentak Arsen menahan lengan Aurel.


"Aku hanya ingin kamu jujur, Tuan!"


"Aku sudah jujur Aurel! Aku tidak kemana-mana, selain ada urusan penting!" Sanggah Arsen.


"Apakah urusan ini?!" Aurel menunjukkan sebuah video


Arsen terkesiap melihat video itu. Ia benar-benar tidak tahu tentang video itu.


"Rel, de-dengarkan aku dulu!"


"Apa lagi Tuan? Anda tidak bisa mengelak lagi 'kan? Sekarang minggirlah aku mau pergi!"


"Tidak! Kamu tidak boleh pergi lagi dari kehidupanku! Ayo masuk!" Bentak Arsen yang akhirnya habis kesabaran menghadapi Aurel.


"Lepaskan aku Tuan!!"


"Diam, Diam!!" Bentak Arsen dengan suara menggelegar.


"Tidak! Aku benci dengan anda. Jika tahu seperti ini aku tidak sudi ikut anda ke negeri ini lagi! Ternyata anda tidak pernah berubah!"


"Terserah kamu mau menganggapku apa! yang jelas kamu tidak akan pernah pergi kemanapun!"


Arsen meletakkan Alif di boks bayi. Ia segera keluar dan mengunci istri dan anaknya itu di kamar, hatinya benar-benar kacau. Ia sebenarnya sudah berjanji tidak akan pernah berlaku kasar pada Aurel. Tetapi keadaan yang membuatnya kembali tegas Arsen sangat takut kehilangan Aurel lagi.


Setelah mengunci Aurel Arsen bersandar di daun pintu kamar itu. Dan mendapatkan tatapan tajam dari Makcik Leha.


"Makcik, maafkan aku," lirihnya dengan suara parau.


"Tuan, Makcik tak tahu harus pecaye siape. Kenape Tuan tega untuk bagi sakik hati lagi pada Nona Aurel? bukankah Tuan dah janji nak berobah tapi ape? Tuan masih je buat hati Nona Aurel sakik!"


"Makcik, aku tahu aku salah! Tapi kejadian itu sudah lama. Itupun aku dijebak oleh wanita licik itu," jawab Arsen

__ADS_1


"Kenapa Tuan, tak jujur dari semula pada Nona? Bila macam ni kan jadi rumit."


"Makcik, aku tidak mau kehilangan istri dan anakku lagi! Aku tidak peduli akan dikatakan lelaki egois!"


Makcik Leha hanya geleng kepala, ia tak bisa berbuat apapun. Semula ia mengira hubungan majikannya akan lebih baik tapi sekarang ada saja masalah yang datang.


Sudah sehari semalam Arsen mengurung Aurel dikamarnya, selama itu juga Arsen tak pergi kemanapun. Ia selalu menunggui sang istri bila sewaktu-waktu ia kabur.


"Apakah Aurel mau makan, Makcik?" Tanya Arsen cemas


"Tidak, Tuan! Nona tak sentuh makanan tu sedari malam," jawab Makcik saat baru keluar dari kamar


Arsen menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Apa yang harus ia lakukan? Aurel sama sekali tidak ingin bicara padanya ataupun mendengarkan penjelasan darinya.


Arsen sangat tahu sikap wanitanya itu jika sedang marah dan kecewa. Arsen masuk kedalam kamar itu.


"Aurel, makanlah! Nanti kamu sakit, ingatlah Alif butuh ASI," ujar Arsen mencoba membujuk.


Aurel bergeming air matanya masih jatuh berderai. Kenapa hidupnya serumit ini? Seharusnya ia tak kembali berurusan dengan Pria yang telah menyakitinya.


Arsen keluar dan menutup pintu itu dengan kasar. Ia segera menghubungi asistennya Doni. Untuk mempersiapkan segalanya untuk kepulangan Aurel ke Indonesia.


Setelah menunggu beberapa jam, Aurel masih tak menyentuh makanannya, Arsen kembali masuk kedalam kamar.


"Pergilah jika kamu ingin pergi! Aku tidak akan pernah peduli lagi padamu Aurel!" Ujar Pria itu mencoba menguatkan hati.


Aurel menatap mata hazel itu dengan tersenyum sinis. "Aku sangat bersyukur jika itu yang anda mau! Jangan pernah datang di kehidupan aku lagi! Segera talak aku Tuan!" Pinta Aurel dengan nada ber api-api.


"Aku tidak akan menalakmu sebelum kamu mendapatkan Pria penggantiku!"


"Baik, akan aku cari pengganti dirimu secepatnya!"


Aurel segera menggendong Alif dan beranjak dari kamar itu. Kembali Aurel harus berpisah dengan Makcik Leha yang sudah berdiri di depan pintu kamar itu.


"Maafkan aku Makcik! Aku sudah tidak bisa bertahan! Maaf jika Makcik harus kecewa denganku untuk yang kedua kalinya." Aurel memeluk Makcik Leha dengan Isak tangis.


Wanita baya itu tak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa membalas pelukan Aurel sembari menyusut air matanya, dan mencium bayi mungil itu berulang kali.


"Pergilah! Pergi secepatnya! Pergi sejauh yang kamu mau!" Terdengar suara Arsen menggelegar dengan mata yang memerah.


Aurel menatap Pria itu yang sedang penuh amarah dengan rahang mengeras, tangan sudah menggempal, Aurel segera meninggalkan tempat itu.


Setibanya dibawah Doni sudah menunggunya. Sedikit heran kenapa Pria kejam itu masih menyuruh asistennya untuk mengantarkannya.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2