
Siang hari Dewi pergi bekerja dengan perasaan galau karena sang adik tidak merestui keinginannya untuk pernikah dengan Haikal. Setelah sampai di tempat kerja.
Dewi segera menghubungi Haikal kunci motornya masih disimpan oleh Haikal karena semalam saat ia bersikukuh ingin pulang sendiri dengan busana terbuka bak wanita penggoda.
Dewi juga menukar nama kontak Pak Dosen menjadi My Heart. Wanita itu senyum-senyum sendiri bak orang kasmaran.
Kini hati wanita itu semakin mantap untuk menikah dengan Pria yang dicintainya walaupun dengan bersyarat. Dia akan berusaha membuat Haikal jatuh cinta kepadanya. Dia akan membuktikan pada sang adik bahwa dia pasti akan bahagia dengan pilihannya.
Dewi memulai aktivitasnya dengan semangat empat lima. Nanti sepulang kerja ia berniat akan kembali meyakinkan Reza.
Malam sekitar jam sembilan, Haikal menyambangi tempat kerja Dewi, dengan seseorang membawa sepeda motor calon istrinya itu.
Dewi yang sedang sibuk dan fokus melayani pelanggan, ia tak menyadari kehadiran Pria pujaannya itu.
"Shtt..." Panggil Haikal dengan desisnya.
Dewi merespon dan segera melihat sumber suara itu, seketika senyum wanita itu mengembang saat melihat sosok Pria yang Amad dicintainya sedang duduk di meja pojok, dan ia segera menghampiri.
"Eh, ada My Bojo. Tumben kesini mau ngapain? Kangen pastinya, iya 'kan?" tanyanya yang selalu membuat Haikal tak bisa berkutik.
"Udah? Masih ada lagi nggak, yang ingin kamu katakan? Keluarkan saja semuanya persepsi kamu itu."
"Ish... Gitu Amad, di iyakan saja apa salahnya. Sekali-kali membuat calon istri bahagia berpahala lho."
Haikal hanya menatap malas sembari membaca menu yang akan di pesannya.
"Udah sana, aku mau pesan menu ini dan ini, terus minumnya yang ini." Haikal menunjuk menu dan minumannya.
"Di bilangin kek, nama menunya, kalau cuma ini dan ini, mana aku ingat." Rutu Dewi sembari menulis nama menu yang di pesan oleh Haikal.
"Susah ngomongnya. Makanya bilang sama Bos kamu, nama menu itu jangan yang susah untuk diucapkan, padahal yang makan juga penduduk lokal." Balas Haikal tak mau disalahkan.
Dewi mendelik kaget mendengar penuturan Haikal. "Ya ampun, seorang Dosen fakultas kedokteran, susah untuk menyebutkan nama menu. Benar-benar unik." Dewi menatap Haikal begitu intens
"Ish, apaan sih kamu natap aku begitu? Udah sana buruan, aku udah lapar banget nih." Usir Pria itu sengaja memutus tatapan calon istri perusuhnya.
__ADS_1
"Hehe... Iya, aku akan sediakan yang spesial buat my heart, sebentar, sabar ya Sayang." Dewi tersenyum menggoda dan segera beranjak.
Haikal menganga mendengar semua ucapan Dewi yang semakin lama semakin tak terkontrol lambenya untuk mengeluarkan segala sebutan yang begitu manis.
Haikal hanya bisa menggelengkan kepala sembari menatap tubuh ramping itu menjauh darinya. Ya ampun, apakah aku tidak salah mengambil keputusan? Kalau sikapnya yang semakin hari semakin gila begini apakah aku bisa betah berada disisinya.
Haikal hanya bisa menghela nafas dalam, tak berapa lama Dewi datang membawa semua pesanannya. Haikal hanya diam menatap menu yang di sajikan diatas meja.
Ada sebuah menu yang tak di pesan olehnya, yaitu sepiring buah yang telah di potong-potong. "Ini kenapa ada buah? Aku tidak pesan." Haikal mempertanyakan.
"Iya memang, Bapak tidak pesan, tapi aku yang menyajikan buat calon suamiku, biar pencernaan sehat, bukan itu saja, makan buah itu bisa membuang toksin dalam tubuh agar kulit sehat dan bersih." Sebagai calon dokter Dewi menjelaskan pentingnya makanan yang sehat.
"Tapi aku tidak suka buah," jelas Haikal.
"Terus apa yang Bapak suka? Aku suka nggak?" Goda Dewi.
"Ya ampun, nih bocah! Benci banget dengar ucapan kamu itu."
"Eh, nggak boleh benci nanti benar-benar cinta lho."
Haikal hanya mendengus tak menggubris perkataan Dewi lagi, dia segera ingin menghabiskan makanannya dan pergi dari tempat itu. Jika lama-lama disana ia bisa mati berdiri.
"Ngapain masih disini? Kamu belum makan?" Tanya Haikal yang menjadi salah tingkah karena terus di perhatikan oleh Dewi.
"Aku nggak makan juga nggak papa asalkan bisa menatap wajah tampan calon my Bojo."
Haikal tak bisa berkata lagi, kembali fokus dengan makanannya dan setelah itu ia akan segera meninggalkan tempat itu.
Setelah makan, Haikal segera meninggalkan tempat itu, tetapi Dewi menahan Pria itu.
"Eh, mau kemana? Kok buru-buru Amad? Itu buahnya kenapa tidak dimakan?" Tanya Dewi melihat potongan buah masih utuh.
"Aku tidak suka buah, Wi," ujar Haikal jujur.
"Tapi harus dibiasakan, Pak. biar kulit Bapak bersih dan tambah tampan. Ayo makan dulu buahnya."
__ADS_1
"Alah, nggak percaya soal yang begituan." Sanggah Haikal.
"Ya ampun, di kasih tahu nggak percaya banget."
"Ya, nggak percayalah. Lah wong monyet saja setiap hari makan buah ya tetap aja wajahnya jelek kayak monyet," ungkap Haikal menyangkal kata-kata Dewi.
Tawa Dewi hampir saja pecah saat mendengar penjelasan calon suaminya itu. Benar-benar lelaki ngeyelan ada saja alasan untuk menghindari makan buah.
Haikal berdiri ingin pergi. Tetapi Dewi menahan langkah Pria itu dengan merentangkan tangannya. Dan semua mata menatap mereka.
"Wi, kamu ini apa-apaan sih? Kamu nggak lihat apa, semua orang menatap kita!" Haikal mulai kesal melihat tingkah wanita itu
"Aku sudah bilang Bapak harus makan buah ini dulu sebelum pergi. Aku rela di pecat. Bapak harus makan buah ini. Bapak tahu nggak, aku beli buah ini mahal demi Bapak."
Haikal menghirup udara sepenuh dada, kalau sudah membahas tentang pengorbanan wanita itu, maka Haikal tak bisa menolaknya.
Dengan berat hati ia kembali duduk memasukkan makanan yang paling tidak di sukai itu kedalam mulutnya.
"Gimana? enak nggak?" Tanya Dewi duduk dihadapan Haikal, sementara itu Haikal berusaha menelan buah itu agar tak kembali keluar.
"Buka mulut kamu?" Haikal mengarahkan sendok garpu yang berisi buah itu ke mulut Dewi.
Seketika wanita itu membuka mulutnya menerima suapan dari sang pujaan.
"Gimana? Enak nggak?" Tanya Haikal serius sembari tersenyum manis.
"Hmm, enak banget," jawab Dewi tersenyum tak kalah manisnya.
"Oya, gimana tadi pembicaraan kamu dan adikmu?" Tanya Haikal yang masih setia menyuapi buah itu.
"Dia sedikit kaget, tapi aku akan mencoba untuk meyakinkan dia lagi. Pokoknya Bapak tenang saja, pernikahan kita akan tetap terleksana sesuai waktu yang telah kita sepakati." Gumam Dewi sembari mengunyah buah yang di suapkan oleh Haikal.
"Baiklah, lusa akan kita laksanakan pernikahan itu, dan sekarang aku akan pulang, karena buahnya telah habis," ucap Haikal tersenyum puas.
Seketika Dewi mendelik kesal.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰