
"Mom, maafkan aku yang telah membuat Mommy kecewa, maaf jika selama ini aku sudah mengabaikan mas Arsen, aku tahu banyak kesalahan." Akhirnya Aurel mengutarakan permohonan maaf kepada ibu mertuanya.
Mommy Iswara memegang tangan Aurel, wanita itu menatap menantunya dengan mata berkaca-kaca. "Mommy sudah memaafkan kamu, Nak, Mommy juga minta maaf sudah menyinggung perasaanmu, tapi Mommy saat itu benar-benar syok saat mengetahui penyakit Arsen," ujar Mommy sembari memeluk menantu satu-satunya itu.
"Sudah, jangan menangis lagi ya, kamu tidak boleh banyak pikiran nanti cucu Mommy juga ikut sedih. Secepatnya kita akan melakukan pengobatan Arsen."
"Baiklah,Mom, aku siap kapan kita akan berangkat?" Tanya Aurel melerai pelukan Mommy.
"Tunggu kabar dari Dr Hasan, dulu, Mom, karena sekarang kondisi Aurel juga belum mengizinkan." Arsen yang menjawab pertanyaan sang istri.
"Tidak, Mas, aku sudah siap kapanpun kita berangkat, tidak ada masalah. Tidak apa-apa, yang penting kamu harus segera melakukan pengobatan itu." Sanggah Aurel.
"Iya, Sayang, aku tahu. Tapi Hasan belum memberi kabar. Jadi, kita tetap disini biar kondisi kamu lebih baik dulu."
"Benar yang dikatakan suami kamu, kita tunggu kabar dari Hasan terlebih dahulu, udah sekarang kamu fokus dengan kehamilan kamu saja. Semoga cepat pulih. Sekarang kamu mau apa? Biar Mommy yang masakin." Mommy Iswara membenarkan ucapan sang anak, karena dia tahu kondisi Aurel belum stabil.
"Aku lagi nggak pengen apa-apa, Mom,"
"Baiklah, jika nanti kamu mau sesuatu, beri tahu Mommy, Oke?"
"Oke, terimakasih ya, Mom." Aurel dan Mommy kembali saling berpelukan.
"Yaudah Mommy keluar dulu, nanti dicariin oleh bocah itu, dia lagi manja-manjanya sama Omanya, katanya nggak mau berteman lagi sama Bunda." Kekeh Mommy mengingat tingkah sang cucu yang lagi badmood.
Aurel dan Arsen juga ikut tertawa, melihat anak sulungnya itu yang tiba-tiba berubah agak sedikit rewelan.
***
Pasangan suami istri ini masih bermalasan untuk bangun, kebetulan Haikal tidak ada jadwal mengajar hari ini. Maka Pria itu menikmati momen yang paling indah dan membahagiakan itu.
__ADS_1
Mereka yang sudah menikah tiga bulan yang lalu, tetapi hari ini baru merasakan indahnya malam pertama. sudah tentu membuat mereka saling candu dan tak ingin berjauhan.
Haikal terbangun lebih dulu dari Dewi, Pria itu kembali merusuh pada tubuh istrinya yang masih polos di dalam selimut. Haikal kembali menjamah area sensitif sehingga membuat yang punya badan menggelinjang tak menentu.
"Mas, aku capek, badan aku sakit-sakit semua..." Rengek Dewi dengan manja.
"Tapi aku pengen lagi, Sayang, boleh ya? Aku akan melakukannya dengan pelan ya," ujar Pria itu melas mendrama.
Dewi hanya bisa pasrah menerima serangan di pagi hari. Setelah selesai penyatuan singkat itu, Haikal segera menggendong sang istri untuk ke kamar mandi.
"Masih sakit, Sayang?" Tanya Haikal sembari mengecup bibir Dewi.
"Iya, sangat tidak nyaman. Kamu sih nafsu banget!" Ujar Dewi memberengut.
"Hehe... Maaf deh, Sayang, habisnya kamu benar-benar buat aku ketagihan," ungkap Haikal jujur.
"Ish, udah ayo mandi, jangan nyeleneh lagi ya!" Tekan Dewi menatap tajam.
Selesai ritual mandi, Haikal kembali menggendong Dewi untuk ke ruang ganti. Dewi benar-benar dibuat tepar oleh Pria dewasa itu, semua persendiannya terasa sakit, lututnya sudah tak berdaya untuk menopang tubuhnya.
Kini pasangan pasutri itu sedang menikmati sarapan pagi yang tadi telah di pesan oleh Haikal. Dewi merasa menjadi ratu, karena Haikal mendadak menjadi romantis dan penuh perhatian, apapun ia lakukan untuk melayani sang istri.
"Mas, kapan kamu mau meresmikan pernikahan kita?" Tanya Dewi di sela sarapan mereka.
"Sabar ya, Sayang, aku akan mencari waktu yang tepat untuk membahas tentang ini semua pada Mama dan Papa," jelas Haikal.
"Janji ya, Mas, untuk secepatnya. Karena aku tidak mau terlalu lama, aku takut jika nanti aku hamil. Kan semua orang tidak ada yang tahu tentang hubungan kita."
"Oke, Sayang, aku janji secepatnya akan membicarakan hal ini pada keluarga."
__ADS_1
Dewi tersenyum puas mendengar jawaban dari sang suami. Berharap ini awal kebahagiaan untuk dirinya karena bisa menikah dengan Pria yang amad dicintai dan ia sudah menjadi istri seutuhnya.
Tak terasa waktu berjalan, kini sudah dua bulan semenjak mereka memutuskan untuk menjadi pasangan seutuhnya. Dewi masih bersabar menunggu Haikal untuk menjelaskan kepada keluarganya yang ada di Jakarta.
Dewi memaklumi kesibukan Haikal selain menjadi seorang Dosen, dia juga mempunyai usaha beberapa Cafe yang ada di kota bertuah itu. Ditambah lagi Haikal harus membantu Doni sang asisten Arsen, dalam mengurus perusahaan dan juga RS nya.
Sementara Dewi sudah mulai bekerja di sebuah RS swasta, walau sebagai seorang perawat, Dewi masih belum mau meneruskan S2 nya, ia masih ingin bekerja untuk membiayai sang adik.
Haikal sudah mengatakan kepada sang istri untuk menanggung semua beban yang selama ini Dewi pikul untuk membiayai kuliah Reza dan juga kuliah Dewi jika dia mau. tetapi wanita itu tetap menolak.
Ia akan berusaha sendiri selagi dia mampu, mungkin karakter Dewi yang sudah terbiasa hidup keras maka sekarang setelah mempunyai suami kayapun ia tak ingin menjadi nyonya.
Sementara itu Aurel dan Arsen sudah pindah ke Malaysia, hari ini adalah operasi cangkok ginjal Arsen, karena sulitnya mencari donor maka Arsen harus bersabar, hingga akhirnya ia mendapatkan donor itu.
Aurel, Mommy, dan juga semua keluarga besar dari nyonya Iswara dan Tuan Abraham telah standby di RS Hasan, yaitu sahabat Arsen sendiri.
Maklum saja Arsen adalah anak tunggal, dan semua keluarga besarnya sangat menyayangi putra semata wayang itu. Karena keluarga dua belah pihak itu tergolong miskin anak. Mereka tidak ada yang mempunyai keturunan yang banyak.
Maka dari semua keluarga itu juga sangat menyayangi Aurel, karena mereka sangat senang sebentar lagi akan mendapatkan anggota baru dari pasangan anak ponakannya itu.
Sebelum melakukan operasi, Arsen terlebih dahulu meminta Do'a pada seluruh keluarganya. Aurel yang mendampingi Arsen tak ingin melepaskan Pria itu saat masuk ke ruang operasi.
"Mas, aku ikut ya menemani kamu. Bilang dong, Mas, pada bang Hasan," rengek Aurel
"Tapi, Sayang, operasi ini memakan waktu cukup lama. Kamu juga sedang hamil. Sudah kamu tunggu aku disini, dan Do'akan saja biar operasinya berjalan lancar ya,Sayang. Kasihan anak kita, nanti dia kelelahan." Arsen mencoba untuk memberi pengertian pada istrinya yang memang semenjak hamil anak keduanya itu, sikap Aurel sungguh manja dan selalu nempel seperti prangko.
"Tapi aku juga seorang calon dokter, Mas, aku juga sudah pernah mengikuti ujian praktek, tentang penyakit yang sedang kamu alami saat ini. Jadi, aku yakin kalau aku kuat." Wanita itu masih Keukeh.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰