Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Sidang skripsi


__ADS_3

"Kenapa lama sekali?" Tanya Arsen yang tampak riweh dengan bayi mungil itu tak bisa diam karena keaktifannya.


"Maaf, tadi aku ngobrol sebentar dengan Dewi. Dia sahabat aku," jelas Aurel jujur.


"Ayo makanlah. Nanti keburu dingin makanannya."


"Tidak, aku nanti saja. Tuan makanlah terlebih dahulu, biar Alif aku yang pegang," Aurel mengambil Alif dari Arsen.


Pria itu segera menyantap makanannya, karena dia memang sudah lapar. Sementara itu Aurel masih sibuk menyuapi Alif sup ikan yang dipesan khusus untuk bayi itu.


"Ini enak banget, kamu mau coba? Aaa.. Buka mulut kamu." Arsen mengarahkan sendok yang telah berisi makanan yang ada di piringnya.


"Nggak, aku nggak mau!" Ujar Aurel melengah menghindari sendok itu.


Arsen kembali menarik sendok itu dan menatap sendu. Kapan ia bisa bermesraan dan memanjakan wanita itu. Kenapa hatinya masih saja keras.


"Tuan, apakah kamu pernah bertemu Pak Haikal di Cafe ini dan ngobrol bersama?" Tanya Aurel yang membuat Arsen hampir tersedak.


"Ah, ya. Malam itu tak sengaja bertemu, jadi kami memutuskan duduk bersama," jawab Arsen jelas berbohong.


Arsen tidak memikirkan sebelumnya bahwa Haikal pernah bilang Dewi dan Aurel berteman, tentu saja istrinya itu tahu dari Dewi. Arsen juga belum siap Aurel mengetahui semuanya, ia sudah tahu bahwa Aurel pasti akan menolak semuanya tentang beasiswa itu, Arsen tidak ingin Aurel menghentikan kuliahnya.


"Ayo biar aku yang menyuapi, kamu makanlah." Arsen segera mengambil alih untuk memberi kesempatan istrinya makan.


Setelah selesai makan mereka pulang ke apartemen. Aurel masih diam tak banyak bicara, sikap dingin masih mendominan.


***


Begitulah hari-hari yang mereka lewati. Tinggal seatap tetapi tak membuat hati Aurel luluh begitu saja, meskipun tak bisa ditampik sedikit demi sedikit perasaan itu mulai tumbuh, walau belum tampak dengan kasat mata.


Mungkin Arsen belum merasakan hal itu, yang jelas wanita itu sudah mulai nyaman tinggal bersama suami dan anaknya.


-- 4 tahun kemudian--


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, kini Aurel hampir menyelesaikan studinya di universitas kedokteran itu.


Pagi ini Aurel Bangun lebih awal karena hari ini adalah hari yang paling menegangkan baginya, karena jam sepuluh ia akan mengikuti sidang akhir. Yaitu menentukan segala perjuangannya selama 4 tahun ini.


Aurel akan mempresentasikan hasil tugas akhir di depan 4 orang Dosen pembimbing termasuk Haikal, ia juga harus mempersiapkan otak yang cerdas dan mental yang kuat untuk menjawab segala pertanyaan yang akan di berikan oleh para dosen.

__ADS_1


Sebelum berangkat ia tak melupakan kewajibannya sebagai seorang Ibu, Aurel terlebih dahulu mengurus pangeran kecilnya yang kini sudah berumur Tiga tahun setengah.


Bocah itu sangat cerdas dan pintar. Walaupun kedua orangtuanya sibuk tetapi Alif tak pernah merecoki mereka, karena kasih sayang kedua orangtuanya sudah cukup tercurah bila mereka selesai beraktivitas.


Arsen maupun Aurel tak pernah melewati momen penting dalam pertumbuhan putra mereka, jadi Alif tidak merasa kekurangan kasih sayang. Bocah itu tetap anteng walaupun Bibi Ana lah yang selalu mengasuhnya.


Ditambah Oma dan Opanya sering berkunjung menemui Alif, sehingga ia sudah bisa mengenali kedua orangtua dari sang Daddy.


"Alif, ayo bangun, Nak. Bunda lagi buru-buru nih," panggil Aurel yang masih sibuk menyediakan pakaian buah hatinya itu di ruang ganti.


Sementara Alif dan Daddynya hanya tersenyum sembari pura-pura menutup matanya untuk mengerjai sang Bunda.


Arsen menyembunyikan tubuh mungil itu dalam dekapannya. "Daddy, nanti Bunda malah," bisik bocah itu didalam dekapan Arsen.


"Nggak akan, Bunda mana pernah marah sama Alif, Bunda itu marahnya hanya sama Daddy," jawab Arsen seperti sedang mengadu pada putranya.


Alif merenggangkan pelukannya, ia menatap mata sang ayah terlihat menyimpan kesedihan. Bocah kecil itu memang tak pernah melihat sang Bunda menyayangi ayahnya seperti menyayangi dirinya.


"Daddy, kenapa Bunda tidak cayang dengan Daddy?" Pertanyaan bocah kecil itu membuat Aurel terpaku saat berada di ambang pintu.


"Bunda bukan tidak sayang dengan Daddy. Tapi Bunda hanya sedang memberi Daddy hukuman atas segala kesalahan yang pernah Daddy lakukan," jawab Arsen kepada sang Anak.


Meskipun ia tidak tahu entah sampai kapan sang istri akan memaafkannya, tetapi Pria itu belum menyerah. Seperti janjinya yang pernah terucap dalam hati, ia akan menunggu walau berpuluh tahun lamanya.


"Benar, tapi itu berlaku hanya untuk Daddy saja. Kalau Alif dimata Daddy dan Bunda tidak pernah salah, karena kami sangat menyayangi kamu."


"Belalti Bunda tidak cayang Daddy, sepelti Daddy dan Bunda cayang Alif, kan kata Daddy kalau cayang tidak dihukum," celotehan bocah bijak itu membuat Arsen bingung harus menjawabnya, namun mampu membuat hati Aurel bagaikan dicubit.


Bagaimana mungkin ia selalu membenci Pria yang telah membersamainya selama beberapa tahun ini, dan Pria itu yang selalu menjaganya dan selalu bersikap baik tak pernah marah juga selalu sabar menerima sikapnya yang selalu cuek dan ketus.


"Alif, ayo bangun. Hari ini Bunda sangat sibuk, Alif harus segera siap-siap ya."


Aurel segera menggiring bocah kecil itu masuk kedalam kamar mandi, dan di ikuti oleh Arsen.


"Alif biar aku yang urus, kamu bersiaplah," ujar Arsen mengambil alih tugas Aurel.


Aurel hanya mengangguk segera keluar dan menyediakan sarapan untuk mereka, setelah selesai menyediakan sarapan. Aurel kembali kekamar untuk mandi sebentar dan segera bersiap.


Setelah selesai mandi dan bersiap. Aurel melihat kedua lelakinya itu sudah menunggu di meja makan.

__ADS_1


"Kamu pulang jam berapa hari ini?" Tanya Arsen di sela makan mereka.


"Belum tahu pasti jamnya, mungkin agak lama, atau bisa selesai setelah magrib. Karena banyak tugas yang harus diselesaikan dan di perjelas.


"Aku Do'akan berjalan lancar. Semoga kamu mendapatkan nilai terbaik." Do'a Arsen tulus.


"Aamiin... Terimakasih atas do'anya." Balas Aurel dengan senyum simpul.


"Kalau kamu tidak keberatan nanti siang aku ingin menemani kamu."


Aurel sedikit tertegun atas keinginan sang suami. Tetapi dia juga ingin di temani dan mendapatkan semangat dari orang yang selama ini sangat peduli dan selalu memberinya dukungan.


"Ya, datanglah jika kamu berkenan." Jawaban Aurel seakan memberi Arsen angin segar.


"Terimakasih, ya. Aku pasti datang." Arsen tersenyum bahagia mendengar jawabannya sang istri, biasanya Aurel yang selalu menolak bila di dampingi olehnya.


Siang ini setelah rehat sejenak untuk isoma, Aurel segera menuju kantin sembari menanti kehadiran suaminya. Entah kenapa hari ini ia sangat berharap kehadiran Pria itu.


Hanya Pria itu yang selalu memberinya perhatian, Aurel sudah berniat ingin memperbaiki hubungannya dan Arsen yang selama ini tak mempunyai kejelasan, tak bisa dipungkiri ia bertahan selama ini tak lain hanya karena Alif.


Namun, siapa sangka hatinya yang selama ini ia tutup rapat nyatanya perlahan mulai terbuka untuk ayah dari anaknya itu.


Sudah cukup lama Aurel menunggu kedatangan Arsen, tetapi sampai jam isoma selesai Pria itu tak menampakkan batang hidungnya.


Ada rasa kecewa tetapi Aurel berusaha untuk tetap berpikiran positif, mungkin suaminya sedang banyak tugas di kantor yang tak bisa ditinggalkannya.


Dengan hati sedih dan kecewa Aurel kembali masuk kedalam ruang sidang skripsi. Masih berharap suaminya datang untuk menemuinya.


Sementara itu di dalam ruangan RS, Arsen masih menjalani serangkaian pemeriksaan tentang keluhan yang ia rasakan.


Ya, tadi saat sedang mengerjakan tugas kantor Arsen merasakan nafasnya sesak dan pinggangnya terasa ingin putus, ia ingin menghadiri acara sidang skripsi sang istri namun ia tak sanggup maka Doni segera membawanya ke RS terdekat.


"Bagaimana hasilnya Dok?" Tanya Arsen pada dokter penyakit dalam itu setelah membaca hasil pemeriksaan medis atas dirinya.


"Begini Pak Arsen, dari hasil pemeriksaan, Bapak mengidap gagal ginjal."


Seketika Arsen membeku dan Doni yang sedari tadi mendampinginya juga tak kalah kaget.Ini bagaikan mimpi baginya kedua Pria itu.


"Bagaimana mungkin Dokter? Saya rasa hasil pemeriksaan ini salah. Coba periksa kembali!" Ujar Doni masih tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2