
"Apa kamu bilang? Calon istri?" Tanya Haikal sedikit galak.
"He'm... Kenapa Bapak senang 'kan?" Jawab Dewi yang membuat Haikal bertambah tercengang.
Pok!
Haikal menampar kening Dewi dengan sebagian ujung jarinya. Pria itu benar-benar gemas dengan mahasiswinya itu.
"Awh... Kok di pukul sih Hubby? Tapi aku tahu pasti itu hanya pukulan Sayang, iya 'kan? Mau dong sekali lagi di tampol pake bibir juga boleh. Hehe..."
Haikal benar-benar dibuat mati gaya oleh gadis nakal itu. kesal, gemas, ingin segera mengeluarkannya dari apartemen itu, Nyesel banget udah membawa gadis itu.
"Ayo pulang sekarang aku antar kamu!" Ujarnya yang segera beranjak untuk ke kamarnya.
"Eh, eh... Tunggu dulu Pak! Ayo duduk." Dewi meraih tangan Haikal dan menggiringnya duduk di kursi meja makan. "Nah, sebelum kita ke kampus, kita harus sarapan dulu, nggak usah galak-galak sama calon istri sendiri." Dewi tersenyum menatap wajah kesal Haikal.
Wanita itu segera menata masakan yang tadi telah selesai ia eksekusi. Dewi mengisi piring Haikal dengan sarapan. "Done, let's eat, my Hubby," ujar wanita itu yang mendapat tatapan tajam oleh Haikal.
Haikal hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia harus secepatnya makan, setelah itu akan mengantarkan gadis perusuh itu pulang.
Anehnya sekesal apapun Haikal pada Dewi, tetapi Pria matang itu tak bisa menolak keinginan sang murid nakal itu. Haikal mulai menyendok makanan itu masuk kedalam mulutnya.
Ternyata dia pintar juga memasak. Tapi sayang sikapnya yang bar-bar itu membuat aku eneg. Kalau seperti ini sikapnya pada setiap lelaki, tentu saja dia sulit mendapatkan jodoh.
Pria itu bergumam dalam hati sembari memperhatikan gerak gerik gadis muda itu. Haikal juga tidak habis pikir, kenapa Dewi bisa jatuh cinta kepadanya? Padahal umur mereka terpaut jauh.
Tapi tiba-tiba Pria itu tersenyum mengingat sahabatnya, Arsen juga menikahi Aurel yang seumuran dengan Dewi. Ah, aku ini mikirin apa sih. Nggak, aku tidak mau. Bisa-bisa aku mati berdiri jika menikahi gadis ini.
Saat sedang makan, tiba-tiba ide konyol Pria itu keluar, karena Dewi begitu mencintainya, dia juga sangat pandai memasak, maka Haikal berpikir akan menikahi wanita itu dan misi utamanya ingin membalas sakit hatinya pada sang mantan yang akan menikah akhir bulan ini.
Ya, jika dia dan Dewi menikah maka ia akan datang ke pesta sang mantan dengan menggandeng wanita cantik, dia akan memperlihatkan kepada mantan jika dirinya lebih mudah mendapatkan penggantinya.
"Wi?" Panggil Haikal masih fokus dengan makanannya.
"Ya, Bapak panggil saya?" Tanya Dewi memastikan
"Iyalah manggil kamu. Emang ada orang selain kita berdua?"
__ADS_1
"Ada." Jawab Dewi asal
"Siapa?" Tanya Haikal penasaran
"Syaiton, Pak. Untung saja iman Bapak dan saya lumayan kuat. Hehe..." Dewi nyengir kuda.
"Ck, nih anak kalau ngomong nggak pernah serius. Yang ada cuma aku yang kuat godaan. Untung kamu dibawa oleh Pria Sholeh seperti aku. Kalau nggak, udah nangis Bombay kamu," balas Haikal yang akhirnya terpancing oleh murid nakalnya itu.
"Hehe... Kalau sama Bapak mah, aku ikhlas." Kembali ucapan gadis itu membuat kepala Haikal pening.
"Kamu benaran ikhlas kalau aku sentuh?" Tanya Haikal
"Uhuk.. Uhuk..." Kini giliran Dewi keselek oleh pertanyaan Haikal.
"Kenapa? Takut pasti 'kan? heleh! Gayanya aja, untung aku masih waras."
Dewi bersusah payah menelan sisa makanan yang masih ada di mulutnya. Kali ini giliran dirinya yang dibuat mati gaya oleh sang Dosen.
"Tadi Bapak mau ngapain panggil aku?" Tanya Dewi sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Apakah kamu mau menikah denganku?"
"Ya ampun, Sorry, sorry. Benaran nggak sengaja, Pak. Lagian Bapak ingin ngelamar aku dadakan begini."
Haikal menatap sinis segera menyudahi sarapannya. Dan Dewi segera membersihkan kekacauan yang telah ia buat.
Haikal segera beranjak dari ruang makan dan segera masuk kamar untuk mandi. Pembicaraan yang tadi tertunda begitu saja.
Hanya lima belas menit, Pria itu sudah rapi dengan stelan kemeja dan celana jeans. Ia ingin segera ke kampus.
Dewi menatap Pria yang baru saja keluar dari kamar itu, ucapan Haikal yang tertunda tadi membuatnya mati penasaran.
"Ayo pulang!" Titah Pria itu yang tak bisa dibantah.
"Nggak," jawab Dewi yang masih mematung.
"Mau apalagi sih kamu, Wi? Udahlah, jangan membuat pikiranku tambah rumit." Haikal mulai kesal dengan gadis keras kepala itu.
__ADS_1
"Aku ingin pembicaraan kita yang tadi dilanjutkan, tadi Bapak bilang ingin menikahi aku."
"Nggak jadi," ujar Haikal masih mode kesal.
"Ih, nggak bisa gitu dong! Tadi Bapak udah tanyain ke aku, berarti Bapak sudah ada niatan untuk menikahi aku," balas Dewi masih belum menyerah.
Akhirnya Haikal kembali membahas tentang hal yang tadi karena melihat kegigihan gadis itu.
"Aku punya tawaran, bagaimana jika kita menikah dan aku akan berusaha untuk mencintai kamu. Tapi kita nikah secara siri dulu." Haikal menjelaskan rencananya.
Dewi mengerutkan keningnya, dan berpikir sesaat. "Jadi maksud Bapak kita menikah secara diam-diam. Begitu?"
"Ya begitulah. Setelah kamu berhasil membuat aku jatuh cinta maka baru pernikahan kita akan diresmikan sah secara hukum."
"Bagaimana jika aku tidak bisa membuat Bapak jatuh cinta padaku?"
"Ya, kita berpisah. Mudah 'kan?"
"Mudah? Ringan betul bibir Bapak ngomongnya, itu namanya enak di Bapak rugi disaya dong! Bagaimana jika saya hamil?"
"Hahaha... Dewi, Dewi. Kamu kenapa mikirnya sampai sejauh itu sih? Apakah kamu benar-benar ingin aku sentuh?"
"Ih, apaan sih, Pak? Siapa juga yang mikir begitu, ya wajarlah aku tanya begitu, kan kita menikah, orang nikah tentu saja akan hamil dan mempunyai anak." Elak Dewi membela diri.
"Iya, tapi pernikahan kita ini bukan seperti itu, selama kita menikah. Tak ada yang namanya kontak fisik sebelum aku jatuh cinta kepadamu. Kalau kamu sih, sudah jelas sangat mendamba diriku," ujar Dosen itu yang membuat Dewi tersipu.
Dewi kembali berpikir, sepertinya ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk meluluhkan hati Pria itu, ya walaupun agak gila-gila sedikit dan ekstrim.
"Baiklah, aku terima tawaran Bapak. Tapi jangan salahkan aku bila nanti Bapak Bucin akut denganku!" Ujar gadis itu penuh percaya diri.
Kembali Haikal terkekeh mendengar ucapan calon istri kecilnya itu. "Oke, sekarang kita pulang dulu untuk membicarakan masalah ini dengan pihak keluargamu."
Walaupun nikah secara siri, tetapi Haikal akan tetap menemui orangtua Dewi, meskipun sulit untuk menjelaskannya nanti, tetapi itu harus ia lakukan bentuk sebagai lelaki yang bertanggung jawab.
"Aku sudah tidak mempunyai kedua orangtua, Pak. Aku hanya tinggal berdua bersama adik lelakiku yang kini masih duduk di sekolah menengah atas."
Dewi menjelaskan kepada Haikal tentang kehidupannya. Sang Dosen benar-benar tak menyangka bahwa kehidupan gadis itu begitu keras dan penuh perjuangan demi membiayai kuliahnya dan sekolah sang adik, dia sendiri yang membanting tulang.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰