Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Ke Jakarta


__ADS_3

Dewi pulang dengan perasaan yang kacau. Dia harus bagaimana? Apa yang harus dilakukan, sungguh terasa pilu. Seharusnya kehamilannya ini adalah sesuatu kabar yang sangat bahagia bagi pasangan suami istri.


Tapi berbeda dengan Dewi mengekspresikan perasaannya saat mengetahui dirinya hamil. Wanita itu menangis dan bersedih. Kenapa disaat dia sedang hamil Haikal tak berada disisinya.


Walaupun Haikal tak bisa kembali, setidaknya beri ia kabar agar tak risau memikirkan. Dewi menangis di dalam diam.


Tok! Tok!


"Mbak!" Panggil Reza, ia cemas sejak pulang kerja Dewi tak keluar kamar.


"Ya, Dek?" Dewi menyahut tapi tak beranjak, ia masih sangat malas bergerak, moodnya sangat berantakan.


"Aku masuk ya?"


"Ya, masuk saja."


Reza masuk kedalam kamar setelah mendapat izin, ia ingin tahu kenapa sikap kakaknya berubah, dari semalam begitu murung. Reza tahu bahwa Dewi mencemaskan Haikal, tapi biasanya sang kakak tak pernah sekacau ini walau seberat apapun masalahnya.


Reza duduk disisi Dewi. Ia melihat mata Dewi sembab, apakah kakaknya sedari tadi hanya menghabiskan waktu untuk menangis.


"Mbak, makan yuk, aku sudah masak sesuatu," ajak Reza.


"Mbak nggak selera makan, Dek, kamu saja yang makan." Tolak Dewi.


"Mbak, masih belum ada kabar dari, Mas Haikal ya?" Reza mencoba menanyakan pokok permasalahannya.


Dewi menggeleng, bahkan untuk mengeluarkan suara saja ia tak sanggup. Wajahnya menunduk, cairan bening itu lolos tanpa bisa ditahan.


Entah mengapa ia begitu merindukan sosok Pria yang selama ini memenuhi hatinya. Kini dia tak ada disaat dirinya ingin membagi kabar bahagia itu.


"Mbak, udah dong, jangan menangis lagi, aku bingung harus berbuat apa untuk Mbak Dewi, apa yang harus aku lakukan agar Mbak tidak larut dalam kesedihan ini," tutur Reza ikut bersedih.


"Za, Mbak sangat merindukan Mas Haikal, Mbak juga cemas dan takut. Mbak ingin bertemu dengannya. Bukan masalah itu saja, Mbak juga ingin memberi tahu bahwa Mbak sekarang sedang hamil."


Akhirnya Dewi menceritakan perihal kehamilannya pada sang adik. Dewi berharap adiknya bisa membantu masalahnya.


"Mbak serius? Kenapa baru bilang sekarang?" Tanya Reza tak mengerti.


"Mbak juga baru tahu tadi siang saat Mbak tiba-tiba pingsan."

__ADS_1


"Pingsan? Terus, bagaimana hasilnya? Apakah ada penyakit yang lain? Kenapa Mbak bisa pingsan?" Tanya Reza beruntun, ia takut terjadi sesuatu pada kakaknya.


"Alhamdulillah tidak ada masalah apapun, Za, Mbak pingsan hanya terlalu kelelahan, karena hamil muda dilarang untuk capek."


" Alhamdulillah syukurlah. Jadi sekarang apa rencana Mbak Dewi?"


"Aku tidak tahu, Za. Mbak bingung." Lirih Dewi kembali tertunduk.


"Apakah Mbak ada alamat Mas Haikal, di Jakarta?" Tanya Reza memastikan.


"Ada, Mbak masih menyimpan kartu namanya, yang di Jakarta."


"Begini saja. Kita tunggu dua hari ini, jika masih tak ada kabar. Aku akan temani Mbak Dewi ke Jakarta untuk menemui Mas Haikal," ujar Reza memberi solusi.


Seketika Dewi tersenyum menatap wajah sang adik. Pria yang berusia sembilan belas tahun itu memang selalu bisa diandalkan sungguh terlalu smart.


"Kamu serius, Dek?" Tanya Dewi dengan mata berbinar.


"Iya, aku serius Mbak. Kapan aku tidak serius? Sekarang Mbak harus makan, jangan sedih lagi. Aku tidak mau nanti keponakanku juga ikut sedih," ujar Pria itu begitu dewasa pemikirannya.


"Hihi... Baiklah, ayo kita makan sekarang. Mbak juga sangat lapar. Adek sabar ya, besok kalau nggak ada kabar dari Papa, kita sama Om Reza nyusul Papa. Sekarang kita makan dulu, biar nggak di omeli sama Om kamu." Ujar Dewi membawa janinnya bicara.


Dua orang kakak adik itu makan dengan tenang. Dewi yang tadi tak berselera, kini mendadak lahap makanya. Mungkin karena dijanjikan oleh sang adik untuk menyusul Haikal ke Jakarta.


***


Sudah tiga hari dari obrolan Dewi dan Reza malam itu. Ternyata Haikal memang tak ada kabar apapun. Bahkan nomornya tak bisa dihubungi.


Pagi ini Dewi sudah siap-siap untuk bertolak ke Jakarta untuk menemui Haikal, ingin mengetahui yang sebenarnya, Dewi juga ingin jujur pada Mama mertuanya.


"Mbak, sudah siap?" Tanya Reza yang sudah rapi. Pria itu akan selalu menjadi pelindung untuk sang kakak, apapun yang terjadi dia akan selalu mendampingi Dewi, keinginannya hanya satu yaitu mengantarkan kakaknya menuju kebahagiaan yang hakiki bersama orang yang dicintai.


"Sudah, Dek. Kamu sudah siap? Tidak ada barang yang ketinggalan lagi 'kan?"


"Nggak ada, Mbak, yaudah kita jalan sekarang. Alamat rumahnya jangan sampai lupa Mbak." Reza Kembali mengingatkan Dewi.


"Udah, Dek, aman. Ayo kita jalan."


Mereka sudah ditunggu oleh taksi online yang di pesan, untuk mengantarkan ke Bandara Sultan Syarif Kasim. Dengan tujuan pesawat Pekanbaru-Jakarta

__ADS_1


Tak memakan waktu lama, kini mereka sudah sampai di Jakarta, Reza segera memesan taksi. Dewi hanya mengikuti langkah sang adik. Dewi benar-benar banyak berhutang Budi dengan kebaikan adiknya itu yang selalu melindunginya.


"Pak, kami mau ke alamat ini. Apakah jauh dari sini?" Tanya Reza sembari menyodorkan kartu nama itu pada driver taksi.


"Tidak terlalu jauh, Den, kira sepuluh kilo dari sini," jawab driver itu.


"Baiklah, tolong antarkan kamu ke alamat ini ya, Pak."


"Baik, Den."


Taksi itu segera meninggalkan pekarangan Bandara Soekarno-Hatta, untuk menuju alamat yang telah di berikan oleh Reza.


Dewi tampak cemas dan nervous, ia begitu takut, bagaimana jika kehadirannya tak di inginkan oleh sang mertua. Tapi dia hanya ingin tahu dimana keberadaan Haikal sekarang.


Dewi tak peduli harus menerima kemarahan orangtua Haikal. Ia hanya ingin tahu kabar suaminya, agar ia bisa tenang menjalani hari-harinya.


Hanya memakan waktu dua puluh menit, kini mobil itu sudah berhenti didepan gerbang sebuah rumah mewah dan elite. Seorang Security keluar menghampiri mereka.


"Selamat siang, mau bertemu dengan siapa?" Tanya penjaga gerbang itu.


"Saya mau bertemu Mas Haikal, Pak. Apakah benar ini rumah orangtua Mas Haikal?" Tanya Reza pada Security itu.


"Oh, ya benar, silahkan masuk." Taksi itu segera masuk kedalam pekarangan rumah besar itu.


Setelah menurunkan barang bawaan mereka, taksi kembali keluar dari gerbang itu. Kini tinggal Reza dan Dewi di depan rumah mewah itu.


Dewi tampak begitu cemas dan takut. Reza berusaha untuk menenangkan kakaknya. Dengan langkah pasti Reza menekan bel rumah itu.


"Selamat siang, mau cari siapa Mbak, Mas?" Tanya wanita yang sudah bisa di perkirakan art rumah itu.


"Permisi, Mbak, kami mau bertemu dengan Mas Haikal, apakah beliau ada?" Tanya Reza ramah.


"Den, Haikal? Maaf, sebentar ya, saya panggil Ibuk Hema dulu."


Art itu kembali masuk. Mungkin Ibu Hema yang dimaksud adalah Mamanya Haikal.


Bersambung......


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2