Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Mulai mengetahui yang sebenarnya


__ADS_3

Arsen sedikit gelagapan untuk menjawab pertanyaan dari Aurel, hingga lift terbuka dengan tujuan yang sama.


"Mas, kamu mau kemana sih? Kok tujuan kamu sama di lantai ini?" Kembali Aurel bertanya dengan nada semakin curiga


"Aku, juga mau menghadiri acara pernikahan Haikal dan Dewi."


"Maksud kamu? Siapa yang mengundang kamu datang ketempat ini?"


"Udah nanti kita bicarakan, ayo kita masuk dulu nanti keburu selesai ijab qobul nya." Arsen menggandeng tangan Aurel untuk menuju apartemen Haikal.


Kini mereka sudah sampai dan Arsen segera mengambil posisi duduk tidak jauh dari sisi Haikal. Sementara Aurel duduk di dekat Dewi. Sepertinya wanita hanya Aurel dan Dewi saja di kediaman itu.


Setelah menanyakan kesiapan kedua mempelai dan para saksi, maka pak penghulu menuntun Reza untuk menjadi wali atas kakaknya.


Sekali hentakan, Haikal membaca kalimat sakral itu dengan lancar dan di akhiri ucapan hamdallah oleh semua orang yang ada di sana, maka kini Dewi sudah sah menjadi istri Dosennya sendiri.


"Selamat ya, Wi, aku Do'akan semoga kamu bahagia dengan Pak Haikal," ucap Aurel sembari memeluk sahabatnya itu.


"Aamiin terimakasih ya, Aurel, terimakasih kamu dan Pak Arsen sudah mau datang."


Arsen dan Haikal saling bertatapan mereka bingung harus bersikap bagaimana, karena Haikal juga tak mengira jika Aurel akan di undang oleh Dewi.


Setelah selesai acara ijab qobul, penghulu telah meninggalkan kediaman Haikal, dan teman Haikal satu persatu sudah mulai beranjak.


Kini hanya tinggal mereka, sementara Reza sedari tadi tak banyak bicara, Pria itu duduk di karpet bersama Alif, hanya bicara dengan Alif dan mengajari bocah kecil itu menggunakan mainan bongkar pasang yang dibawanya dari rumah.


Dewi tahu bila sang adik masih kecewa dengan pernikahannya. Aurel yang tahu kesedihan hati Dewi, ia mencoba menghibur sahabatnya itu.


"Wi, kamu nggak ganti pakaian? Nggak gerah pakai baju itu? Atau gantinya nanti tungguin Pak Haikal yang bantu bukain? Hahaha..." Kekeh Aurel menggoda sahabatnya.


"Ih, apaan sih kamu, Rel. Nggak ada yang namanya malam pertama, kita sepakat kecuali sudah sama-sama cinta."


"Yaudah, ayo temani aku ke kamar untuk ganti pakaian." Dewi menarik tangan Aurel masuk kedalam kamarnya.


Arsen dan Haikal terlibat obrolan di balkon dengan dua cangkir kopi. Banyak yang mereka bahas dari hal kecil hingga hal besar, yaitu tentang penyakit yang sedang diderita oleh Arsen dan sontak membuat Haikal sangat terkejut.

__ADS_1


"Arsen, kenapa hal sebesar ini kamu sembunyikan dari Aurel? Ayo kamu bicarakan, dan segeralah menjalani pengobatan yang di sarankan oleh dokter," ujar Haikal masih tak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.


"Aku akan membicarakannya nanti, Kal. Aku ingin Aurel menyelesaikan Wisuda ini tanpa beban apapun. Setelah itu mungkin aku dan Aurel akan pindah ke Malaysia, dan setelah Aurel menyelesaikan kuliah strata duanya dan mendapat gelar Dokter, maka kami akan kembali lagi ke kota ini," jelas Arsen.


"Kamu serius ingin pindah ke Malaysia lagi? Bukankah kamu disini juga telah menanam saham di perusahaan property dan telah mempunyai kedudukan sendiri?"


"Ya, maka dari itu setelah aku dan Aurel balik ke Malaysia, aku ingin kamu yang akan mengurus segala tanggung jawabku."


"Tapi aku tidak bisa, Sen. Aku ini seorang Dosen, aktivitasku padat, aku tidak ingin perusahaan kamu hancur gara-gara tidak kepiawaian aku dalam mengurusnya," tolak Haikal


"Ayolah, aku tahu kamu pasti bisa, kamu kan bisa membagi waktumu. Aku tidak mempunyai orang kepercayaan di kota ini selain dirimu. Kamu jangan khawatir, ini tidak akan lama, sampai aku mengutus orang yang tepat untuk mengurusnya."


"Baiklah, akan aku coba." Akhirnya Haikal menerima tugas dari Arsen.


"Nah, itu baru teman. Eh, ngomong-ngomong, itu adek ipar kamu kenapa diam tak banyak bicara?" Tanya Arsen pada Haikal


"Marah dia," jawab Haikal bingung


"Marah? Marah kenapa?"


"Ya, dia tahu tentang pernikahan kami yang bersyarat ini, dia merasa aku akan menghancurkan masa depan kakaknya dan memanfaatkannya."


Arsen mencoba memberi wejangan pada sahabatnya itu, agar mempertahankan pernikahan mereka.


"Aku sangat tahu rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu sakitnya seperti apa, jadi aku berharap kamu juga berusahalah untuk mencintai Dewi."


"I will try."


Setelah selesai mengobrol, mereka makan malam bersama, setelah itu Arsen dan Aurel pamit untuk pulang karena hari juga sudah cukup larut.


"Mbak, Mas, aku juga pamit pulang," ujar Reza ikut beranjak


"Za, kenapa tidak tidur disini saja?" tanya Haikal mencoba memulai hubungan baik dengan adik iparnya.


"Tidak, Terimakasih aku lebih nyaman tidur dirumah saja. Kalau begitu aku pamit dulu." Reza segera menyalami tangan Dewi dan Haikal, meskipun kecewa ia tetap menghormati mereka.

__ADS_1


Diperjalanan pulang Aurel diam, ia ingin sang suami membuka percakapan terlebih dahulu untuk mengatakan yang sebenarnya, dan Aurel merasa curiga melihat kedekatan Haikal dan Arsen.


"Sayang, mau beli sesuatu? Sebelum pulang?" Tanya Arsen membuka percakapan.


"Nggak ada, Mas. Kita pulang saja."


"Tidur dia?" Tanya Arsen mengusap kepala anaknya yang telah tertidur pulas di pangkuan sang Bunda.


"Iya, dia ngantuk banget kayaknya nih."


Kembali hening, Arsen fokus dengan kemudinya, dan Aurel masih mati penasaran.


"Mas?"


"Ya, Sayang?"


"Kamu serius tadi ingin menghadiri pernikahan mereka?" Aurel akhirnya tak tahan untuk tidak mengetahui yang sebenarnya.


"Ya, aku serius, Sayang."


"Mas, kamu dan Pak Haikal itu sepertinya sudah sangat akrab? Sebenarnya sejak kapan kamu kenal dengannya?"


"Sejak pertemuan pertama di RS saat kamu melahirkan."


"Kamu serius? Kamu tidak sedang berbohong 'kan sama aku? Ingat ya, Mas! Kamu sudah berjanji tidak akan pernah berbohong tentang apapun lagi. Jika nanti aku tahu kamu berbohong lagi, maka aku tidak akan memaafkan kamu!"


Arsen menginjak pedal rem secara mendadak sehingga mobil menepi turun aspal. Kembali rasa takut yang begitu besar dalam hatinya, rasanya ia tidak sanggup jika nanti Aurel akan marah dan mendiamkan dirinya lagi hingga bertahun-tahun.


Aurel terkesiap melihat reaksi Arsen yang seperti orang ketakutan, sepertinya kemarahan dan ketidak pedulian Aurel menjadi trauma dalam dirinya.


"Sayang, aku mohon jangan marah padaku, jangan membenciku. Sungguh aku tidak ingin kita menjadi orang asing lagi. Aku sangat mencintai dirimu."


Arsen menangis sembari menggenggam tangan Aurel dan berulang kali mengecup tangan itu. Ia benar-benar teramat takut.


Aurel menatap Arsen dengan bingung, ada hal apa yang disembunyikan oleh suaminya itu sehingga ia bersikap sedemikian?

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2