
Setelah sepakat menentukan tanggal resepsi pernikahan mereka, pasutri itu kembali masuk kedalam kamar, Dewi segera bersih-bersih.
"Dek, mau ngapain?" Tanya Haikal yang mengekor dibelakang istrinya.
"Mau mandi bentar, Mas. Gerah," ujar Dewi.
"Aku ikut ya," ujar Haikal tersenyum penuh arti.
"Eh, jangan, Mas, gantian aja mandinya."
"Tapi, Sayang..." Ujar Pria melas.
"Kenapa, Mas? Jangan aneh-aneh deh. Ingat, aku lagi hamil muda!" Tekan Dewi yang sudah tahu maksud dan tujuan sang suami.
"Astaghfirullah, maaf aku lupa, Sayang," Pria itu memeluk sang istri sembari mencium puncak kepalanya.
"Yaudah, aku mandi bentar ya, kamu tunggu diatas ranjang dengan manis."
"Oke, siap, Sayang. Jangan lama ya. Udah nggak tahan nih."
"Ish, nggak sabaran banget." Ocehan wanita itu segera beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Setelah beberapa minggu berpisah, malam ini pasangan itu sama-sama melepaskan rindu, hanyut dalam gairah bercinta, walaupun Haikal harus melakukannya dengan pelan dan penuh hati-hati, tetapi tak mengurangi rasa nikmat yang ada.
Kini waktu yang ditentukan telah tiba. hari ini adalah Resepsi pernikahan mereka akan di gelar. Arsen dan Aurel juga menyempatkan diri untuk datang di acara penting sahabat mereka.
Aurel masih setia menemani sahabatnya itu yang sedang dirias. Dewi terlihat begitu cantik.
"Wah, cantik banget bumil yang satu ini. Jadi pangling aku, serius, kecantikanmu mempesona." Puji Aurel yang juga ikut di rias.
"Ish, kamu pinter banget mujinya terkadang selalu benar. Hahaha... Tapi, kamu juga tak kalah cantik, walaupun perutnya, sudah buncit begini. Tapi, tak mengurangi kadar kecantikanmu." Dewi balas memuji.
"Wuih, iya dong. Kalau kita tidak cantik dan seksi, mana mungkin tuh Om-om Tampan, tertarik dengan kita. Hahaha... Benar, nggak?"
"Hahaha... Iya, benar banget. Tapi, Tetap penuh perjuangan demi mendapatkan cinta si Om aku." Balas Dewi yang di ikuti kekehan mereka.
Saking asyiknya bercerita tanpa mereka sadari, duo Om-om itu sudah berdiri disana. Mereka saling tatap saat mendengar para istri mereka sedang mentertawakan, dan menyebut mereka sebagai Om-om.
__ADS_1
"Ngomong apa tadi. Hmm? Memang ya, ngatain suami sendiri Om-om. Walau Om-om tapi kalian cinta mati 'kan?" Ujar Arsen memeluk istrinya dari belakang.
Aurel terkekeh, terkena serangan kecupan Arsen. "Dasar istri nakal, bilang apa dulu?" Ujar Pria itu masih gencar mencium Aurel.
"Hahaha... Iya, aku minta ampun, Mas."
Arsen segera melepaskan Aurel dari dekapannya. "Enak aja bilangin kami Om-om, masih muda dan tampan begini. Benar nggak, Bro?"
"Tahu nih. Untung udah pake makeup, kalau nggak, aku kasih kamu hukuman lebih parah. Tapi, awas saja nanti malam!" Ancam Haikal pada Dewi.
"Eh, Om-om dilarang marah. Mau menghukum aku kaya gimana sih? Aaa.. Aku pengen di hukum sekarang," ujar Dewi manja, yang membuat Aurel dan Arsen ikut tertawa melihat tingkah mereka.
"Ya ampun, istri kecil aku ini. Bukannya takut malah nantangin. Benar-benar Istri yang unik. Andai saja acaranya belum dimulai, akan aku buat luntur nih makeup."
"Haikal, Dewi, udah belum? Ayo segera keluar. Tamu undangan sudah mulai datang." Panggil Mama Hema. Wanita itu heran, dari tadi anaknya disuruh menjemput pengantin, malah nggak nongol.
"Sudah, Ma, ini kami mau keluar." Haikal segera membimbing istrinya keluar kamar.
"Wah, udah pada cantik dan Tampan, ini sibuncit yang satu ini juga tak kalah cantiknya," ujar Mama Hema memuji Aurel.
Kini pasangan pengantin baru stok lama itu sudah duduk di kursi pelaminan. Menyambut kehadiran para tamu undangan yang datang memberikan Do'a Restu.
Senyum kedua pasangan itu tak lepas dari bibir mereka. Rasa bahagia menyelimuti hatinya. Bersyukur, setelah melalui banyak cobaan dalam hubungan mereka, akhirnya kebahagiaan itu mereka capai juga.
Saat pasangan itu sedang sibuk di pelaminan, Reza melihat seorang wanita yang tak dikenal, wanita itu mendekat ke arah Pelaminan, dan mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkan pada kakaknya.
Reza berlari naik ke pelaminan, ingin memberitahu pada kakaknya, tetapi belum sempat Reza bicara, pelatuk itu sudah memuntahkan amunisinya.
"Mbak Dewi, Awas!" Haikal mendorong kakaknya kedepan dan memasang tubuhnya untuk menahan timah panas itu. Seketika Pria remaja itu ambruk dihadapan Dewi dan Haikal.
"Reza! Ya Allah, Reza bangun, Dek!" Dewi meraih tubuh adiknya yang sudah berlu muran darah, dengan tangis histeris.
Arsen yang melihat, ia segera menahan langkah wanita itu yang hendak melarikan diri. Sayangnya, wanita itu mengarahkan senjatanya kepada Arsen, dan hendak menembaknya kembali.
Seketika Doni memukul tangan wanita itu, dan akhirnya pis tolnya jatuh. Doni segera mengunci kedua tangan wanita yang diketahui adalah Andin, sang mantan tunangan Haikal.
"Reza, bangun, Dek. Kamu harus kuat." Tangis Dewi pecah sembari memeluk adiknya.
__ADS_1
Haikal dan Arsen segera membawa Reza masuk kedalam mobil. "Sen, tolong bawa Reza ke RS, aku akan menyusul dengan Dewi," ucap Haikal pada sahabatnya itu.
"Baik, kamu tenangkan Dewi, aku akan mengurusnya. Titip Aurel ya."
Arsen segera membawa Reza ke RS. Sementara itu Haikal kembali menghampiri Dewi yang sedang di peluk oleh Mama Hema, dan Aurel berusaha menenangkan.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Pekik Andin di dalam cekalan Doni.
Dewi yang mendengar suara wanita itu, ia segera mendekatinya. Sorot mata wanita itu menyala,
"Kenapa? Kenapa bukan kamu saja yang mati! Kenapa bocah itu menghalangi? Seharusnya kamu yang mati!" Ujar Andin tak kalah emosi dan depresi. Sepertinya wanita itu psikologisnya sudah terganggu.
Dewi tak menjawab ucapan wanita itu. Tatapannya penuh amarah.
Plaakkk! Plaakkk!
"Dengar wanita gila! Jika terjadi sesuatu pada adikku. Maka, aku tidak akan pernah tinggal diam. Kamu juga harus mati!" Ujar Dewi berapi-api, memberi dua tamparan keras
"Hahaha... Kau kira aku takut, wanita murahan? Bahkan sebelum aku mati, kamu yang lebih dulu aku matikan!"
Haikal datang menghampiri Dewi. "Sayang, sudah, jangan dilayani wanita gila ini. Ayo sekarang kita ke RS."
Tidak berapa lama polisi datang, Andin segera di serahkan dan digiring ke kantor polisi. Wanita itu masih tertawa depresi.
Kini acara resepsi pernikahan itu sudah sepi, tamu-tamu yang datang sudah membubarkan diri. Keluarga itu juga sudah bertolak ke RS untuk melihat keadaan Reza.
Sesampainya di RS, Dewi segera menanyakan kondisi adiknya pada Arsen. Mereka belum tahu kondisi Reza, karena sedang menjalani operasi pengangkatan peluru.
"Sayang, kamu tenang ya. Kamu tidak boleh stress begini, nanti berdampak pada anak kita."
Haikal berusaha menenangkan Dewi. dan mendekapnya agar lebih tenang, Dewi benar-benar kacau, ia takut terjadi sesuatu pada adik satu-satunya.
"Aku takut sekali, Mas. Hiks...."
Bersambung....
Happy readingš„°
__ADS_1