
Tak berselang lama seorang wanita paruh baya keluar menemui Dewi dan Reza. Ya, dialah wanita yang ditemui Dewi saat di apartemen waktu itu.
"Kamu?" Tanya wanita itu yang ternyata masih mengingat jelas
"Maaf, Bu, saya datang kesini ingin bertemu dengan Mas Haikal. Saya ingin tahu kabarnya, apakah dia baik-baik saja?" Ujar Dewi menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ada hubungan apa kamu dengan anak saya? Bukankah kamu mengatakan hanya art? Atau kamulah wanita yang dimaksud Haikal sebagai istrinya. Dan kamulah yang telah membawa anak saya kedalam jeruji besi itu!!" Tekan wanita itu mencecar Dewi dengan banyak pertanyaan.
Seketika tubuh Dewi bergetar saat mengetahui, bahwa ternyata Haikal memang di penjara. Air matanya mengalir tak berhenti. Dewi benar-benar merasa bersalah telah membuat sang suami berada di penjara demi membuktikan cintanya.
"Bu, saya minta maaf, saya tidak bermaksud sedemikian. Saya benar-benar tidak tahu tentang hal itu," ujar Dewi sembari terisak-isak.
"Pergi kamu dari sini! Saya tidak mau menerima kamu!" Usir wanita baya itu dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sedih saat mengingat sang anak lebih memilih di penjara daripada menikahi tunangannya.
"Bu, saya minta maaf, tolong maafkan saya, Bu, saya tidak pernah bermaksud membuat Mas Haikal di penjara. Saya sangat merindukannya, tolong Bu, maafkan saya, karena kami saling mencintai.
Dewi memegang tangan ibu mertuanya dengan tangis memohon. Wanita itu segera menepis tangan Dewi. Rasa kesal dan kecewa masih bergelayut di hatinya.
"Pergi kamu, jangan sentuh saya!" Tolaknya.
"Tidak Bu, saya tidak akan pergi sebelum Ibu memaafkan saya, dan tolong katakan ditahanan mana Mas Haikal sekarang,Bu? Saya ingin sekali bertemu dengannya."
Seketika Dewi berlutut di hadapan ibu mertuanya memeluk kedua kakinya sehingga membuat wanita itu terkejut dan begitu juga dengan Reza yang sedari tadi mengamati.
"Mbak, apa yang Mbak lakukan? Ayo bangun!" Reza meraih lengan kakaknya yang tampak putus asa.
"Sana pergi! Aku tidak ingin melihat dirimu." Wanita baya itu mendorong tubuh Dewi, sehingga membuatnya terduduk kebelakang.
"Mbak, Mbak Dewi nggak pa-pa?" Reza segera membantu kakaknya yang tampak menahan sakit.
"Bu, tolong jangan berbuat kasar dengan kakak saya!" Reza menegur mertua kakaknya itu dengan nada sedikit tinggi.
"Salah sendiri, kenapa kakak kamu itu masih tak mau mengerti apa yang saya katakan. Saya tidak mau menerimanya sebagai menantu. Dan gara-gara dia sekarang Haikal mendekam di penjara!"
__ADS_1
"Emangnya apa salah kakak saya, Bu? Jika Mas Haikal memilih hukuman di penjara, itu berarti Mas Haikal dan Mbak Dewi saling mencintai. Jadi dimana salahnya kakak saya? Dia tidak pernah memaksa Mas Haikal untuk melakukan semua itu."
"Omong kosong dengan cinta! Emangnya bisa hidup hanya mengandalkan cinta. Saya juga tahu maksud dari cinta kakakmu itu. Pasti karena dia tahu bahwa anak saya orang berduit dan pewaris tunggal!" Tuding wanita itu.
Reza mengeraskan rahangnya. Dia menatap tajam pada wanita baya yang menurutnya gila harta itu.
"Jaga bicara Anda, Bu!! Jangan pernah mengatakan hal sedemikian tentang kakak saya! Karena apa yang anda tuduhkan tidak benar! Kami memang miskin tapi kami tidak gila harta!"
"Reza, sudah Dek. Awwkh... Perut Mbak sakit." Lirih Dewi berusaha melerai perdebatan sang adik dan ibu mertuanya.
"Mbak! kenapa?" Reza segera membantu kakaknya untuk berdiri.
"Perut Mbak sakit banget."
"Aku akan pesan taksi sekarang, kita harus ke RS, aku takut terjadi sesuatu dengan kandungan Mbak!" Ujar Reza cemas dan terdengar jelas oleh Mama Hema.
"Apakah dia sedang hamil?" Tanya wanita itu mendadak melunak.
"Apakah itu anak Haikal?" Tanya wanita itu lagi, yang membuat Reza begitu kesal tak bisa menahannya.
"Bu, tolong jaga bicara anda! Kenapa anda masih saja menyudutkan kakak saya? Anda kira kakak saya wanita apa, sehingga anda sampai meragukan anak yang dikandungnya. Tentu saja anak suaminya, yaitu cucu ibu!" Bentak Reza tak bisa mengendalikan emosinya.
"Za, sudah Dek." Tegur Dewi
"Bu-bukan begitu maksud saya. Pak Yanto, tolong antarkan mereka ke RS sekarang!" Perintah wanita itu pada supirnya.
"Baik, Bu, Mari Mbak, Den." Sang supir segera membawa mereka ke RS terdekat.
Setelah Reza dan Dewi pergi, kini Nyonya rumah itu resah sendiri. Ia merasa cemas dengan kondisi Cucunya. Wanita itu sudah sangat lama mendambakan kehadiran seorang cucu.
Semenjak suaminya meninggal, hidupnya terasa sepi, berharap anak semata wayangnya akan segera menikah dan memberinya cucu. Tapi, Haikal malah sengaja menghindar dan memilih bekerja di luar kota.
Dan kini wanita yang telah dinikahi anaknya itu telah mengandung, itu tandanya dia akan menjadi seorang Nenek. Apa yang selama ini di inginkan segera tercapai.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau terjadi sesuatu pada cucuku. Aku harus memastikan bahwa dia baik-baik saja. Ini semua gara-gara aku. Seandainya aku tidak berbuat kasar dengannya mungkin insiden ini tak akan terjadi."
Wanita itu bergumam sendiri penuh penyesalan sembari mondar mandir tak jelas. Pikirnya begitu kacau, ia begitu mencemaskan keselamatan calon cucunya.
"Pak Yanto, jemput saya sekarang juga!" Titah wanita itu dalam telpon. Ia ingin nyusul ke RS, untuk memastikan bahwa kondisi Dewi baik-baik saja.
Tak berselang lama sang supir sudah Tiba, sudah siap membawa Nyonya besar ke RS. Mama Hema segera masuk kedalam mobil.
"Bagaimana keadaannya, Pak?" Tanya Mama Hema pada supirnya.
"Tadi langsung masuk ruang IGD, Bu."
Setelah sampai di RS. Mama Hema segera menuju IGD. Ia segera masuk ke ruangan itu. Menatap satu persatu pasien yang ada disana untuk mencari menantunya itu.
Setelah menemukan orang yang dicari, ia segera mendekat. Terlihat Dewi sedang di tangani oleh beberapa Dokter dan perawat.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Mama Hema pada Reza yang masih setia mendampingi kakaknya.
"Belum tahu, masih diperiksa." Jawab Pria itu dingin. Reza masih kesal dengan mertua kakaknya itu.
Setelah selesai di periksa dan di pasang infus. Dokter umum itu menjelaskan bahwa Dewi harus di tangani oleh Dr Obgyn.
"Begini Bu Dewi, Ibu harus di periksa oleh Dr Obgyn biar lebih jelasnya dengan kondisi kandungan ibu. Karena Dr Obgyn kami nanti jam Tiga jadwal prakteknya. Maka, ibu harus menunggu dulu. Kami akan memindahkan ibu ke ruang rawat. Ibu bisa istirahat disana sembari menunggu Dokter datang."
"Jadi bagaimana keadaan janinnya, Dok? Apakah baik-baik saja?" Tanya Mama Hema masih keadaan cemas.
"Kami rasa tidak ada masalah Bu, detak jantung sibayi masih ada. Nanti lebih jelasnya ibu bisa konsultasi dengan Dr Obgyn."
"Alhamdulillah.... Terimakasih, Dok."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1