Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Di RS


__ADS_3

Kini sudah 3 bulan Aurel menjadi mahasiswi di fakultas kedokteran terbaik di kota bertuah itu. Semua ia jalani dengan semangat, beruntung kandungannya cukup kuat, Aurel jarang sekali merasa ada keluhan pada kandungannya.


Sepertinya sang bayi sangat mengerti dengan keadaan Bundanya yang kini sedang menggapai cita-cita. Aurel sangat bersyukur dengan jalan yang Allah berikan untuk hidupnya saat ini. Ia menjalaninya dengan ikhlas berharap akan ada kebahagiaan datang lebih indah lagi.


Kini kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Sore ini rencananya sepulang kuliah Aurel akan periksa kandungan ke RS swasta yang berdampingan dengan tempat kerjanya itu.


Siang ini adalah mata kuliah Pak Haikal, sebelum sang Dosen masuk memberikan materinya, Aurel terlebih dahulu mempelajari dengan membaca buku tebal Anatomi fisiologi itu.


"Fokus banget bumil yang satu ini. Santai aja, hari ini mata kuliah si dosen Tampan dan ramah tamah, jadi bisa lebih rileks dan memanjakan mata. Hahaha..."


"Nggak usah kebanyakan ngehalu Wi, mending belajar biar cepat lulus," ujar Aurel menanggapi ocehan sahabat barunya yang satu jurusan dengannya.


Ya, Aurel tahu bahwa Dewi sangat mengidolakan Dosen Haikal, selain Tampan dia juga terkenal ramah, Haikal juga terkenal seorang Dosen yang sabar dalam menerangkan setiap materi yang ia berikan jika para mahasiswanya tidak paham, maka ia akan menambahkan waktu hingga mereka paham semuanya.


"Aiih... Kamu tuh sekali-kali kasih aku dukungan kek, nggak apa-apa berhayal mana tahu jadi kenyataan, hayo?" Ujar Dewi mencebik konyol.


"Hihi... Kamu tuh ya paling bisa, iya deh aku Do'ain sekalian kamu nikah dengan Pak Haikal," ujar Aurel tersenyum lucu melihat tingkat percaya diri sahabatnya itu


"Aamiin ya rabbal Alamin... Itu baru namanya sahabat aku!" Dewi memeluk Aurel dengan senang.


"Selamat siang semuanya!"


Terdengar suara familiar yang baru saja mereka bicarakan. Dan para mahasiswi yang sedang membicarakan tentang pak dosen segera menempati bangku mereka masing-masing.


Dimulai dari sapaan para mahasiswanya Haikal memulai memberikan materinya. Dengan serius pria yang berumur 29 tahun itu menerangkan pembahasan materi pelajarannya.


Aurel fokus mendengarkan semua penjelasan dari sang dosen, tanpa sengaja netra mereka bertemu. Haikal menatap Aurel dan tersenyum penuh arti.


Wanita itu menjadi salah tingkah maka ia secepatnya mengalihkan pandangannya, dan berusaha untuk tetap tenang.


Setelah jam kuliah usai, Aurel bergegas untuk menuju RS, karena ia sudah boking jadwal dokter lewat online.


"Mau pulang, Aurel?" terdengar suara sapaan dari belakang saat Aurel bergegas menuju halte busway untuk menuju ke RS.


"Eh, Pak Haikal! Iya, Pak," jawabnya tersenyum ramah sembari meneruskan langkahnya.


"Ayo naik, saya antar kamu pulang."

__ADS_1


"Ah, tidak usah Pak!" Tolak Aurel sungkan.


"Tidak apa-apa, sekalian saya ada perlu dan satu arah ke rumah kamu," ujarnya masih memaksa.


"Ta-tapi saya mau ke RS dulu Pak, mau cek kandungan," jelas Aurel dengan jujur.


"Oh begitu, yaudah ayo naiklah, akan saya antar kamu biar cepat sampai, kalo nunggu busway lama, karena sore hari begini armadanya sudah standby di terminal AKAP," jelas sang dosen yang membuat Aurel berpikir.


Akhirnya wanita itu terpaksa menerima tawaran dari Haikal. Aurel juga sedang buru-buru karena ia mendapatkan no antrian dekat.


"Sudah berapa bulan kandungan kamu, Rel?" Tanya Haikal tanpa mengalihkan perhatiannya dari badan jalan, fokus dengan kemudinya.


"Tujuh bulan, Pak." Jawabnya singkat


"Suami kamu sudah pulang?" Tanya Pria itu kembali membuat Aurel bingung harus jawab apa.


"Be-belum Pak," Jawabnya sedikit gugup


"Suami kamu bekerja di bidang apa di Malaysia?"


Kembali Aurel bingung dengan jawabannya. Tetapi ia berpikir apa salahnya ia mengatakan tentang pekerjaan Arsen yang ia tahu, toh Pria itu memang ayah dari bayinya, lagipula ia juga belum bercerai dengan Arsen.


"Ah, ya. hmm, suami saya bekerja di perusahaan property," jawabnya jujur.


"Wah, bagus ya pekerjaannya. Sebagai apa?"


"Hmm, sebagai karyawan lapangan," jawabnya sedikit berbohong. Tidak mungkin ia harus jujur bahwa Arsen adalah seorang CEO. Mana mungkin istri CEO harus berharap beasiswa.


Saat membahas tentang itu, tiba-tiba Aurel teringat dengan sang suami, ada rasa perih disudut seonggok daging yang ada dalam dadanya.


Bagaimana kabar pria itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Adakah dia teringat dengan bayi yang ada dalam kandungannya? Apakah dia masih peduli dengan bayi ini? Entahlah, yang jelas Aurel tak ingin larut dalam pikirannya tentang Pria itu, karena bisa membuat moodnya berubah.


Tidak berapa lama mobil yang di dikendarai Haikal telah berhenti didepan portal RS, terdengar suara peringatan agar menggunakan masker sebelum portal itu terbuka. Maka Aurel dan Haikal segera menggunakan masker masing-masing.


Aurel mengira bahwa Haikal hanya mengantarkannya saja, dan setelah itu mobil Haikal akan putar kepala, tetapi Pria itu malah memposisikan mobilnya di area parkir.


"Loh, Bapak ada keperluan juga di RS ini?" Tanya Aurel sedikit heran.

__ADS_1


"Ah, ya. Saya ingin bertemu teman seorang dokter yang praktek di RS ini," jawab Haikal tenang.


Aurel segera menuju ruang pendaftaran dan memasukkan no boking online melalui mesin anjungan untuk pencetakan berkas dan segera di bawa ke ruangan dokter obgyn.


"Udah selesai pendaftarannya?" Tanya Haikal yang masih berdiri di belakang wanita itu.


"Eh, Pak Haikal. Bapak masih disini? Bukankah Bapak ingin bertemu teman?"


"Iya, tadi saya ke toilet sebentar, ternyata kamu masih disini, udah selesai?"


"Sudah, ini mau ke ruang Dr Obgyn," jawab Aurel sembari berjalan menuju ruangan ibu-ibu hamil itu.


"Sebelah sana ruangannya, kalau begitu saya permisi dulu ya Pak!" Aurel menunjuk ruangan yang sudah ramai dengan ibu-ibu hamil tampak menunggu antrian.


"Oh, ya. silahkan, saya juga mau menemui teman, kebetulan ruangan dekat dari sini!" Mereka sama-sama beranjak.


Arsen mencari sebuah bangku tunggu yang ada di lorong RS itu. Ia mengeluarkan ponsel pintarnya itu, dan menekan nomor seseorang.


"Udah puas kamu? Bikin aku jadi ajudan istrimu! Udah kaya orang bego aku tuh disini Sen!" Omel Haikal pada sahabatnya itu.


Hahaha... Nggak usah gitu-gitu Banget lah tampang kamu. Bantuin teman itu yang ikhlas dong!


"Ikhlas sih ikhlas, tapi nggak gini juga kali!"


Oke, Oke. Aku minta maaf. Tapi hanya itu caranya agar aku bisa mengetahui keadaan istri dan anakku.


"Ya, baiklah! Demi sahabat aku akan berkorban. Tapi aku tidak janji akan selalu ada waktu untuk membantumu, lebih baik secepatnya kamu selesaikan masalahmu dan Aurel."


Aku tidak tahu,Kal, entah seperti apa hubunganku dan Aurel kedepannya."


"Aku Do'akan semoga kedepannya lebih baik. Yasudah aku tutup dulu telponnya."


Oke, jangan lupa kamu kirim foto USG anakku nanti!


Haikal menghirup udara sepenuh dada. Ia harus mencari alasan apa lagi agar dapat meminjam hasil USG itu untuk ia fotokan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗


Happy reading 🥰


__ADS_2