
Setelah menenangkan Aurel, Arsen hendak beranjak keluar untuk melihat sang anak yang lagi ngambek dengan Bundanya.
"Mas, jangan pergi, temani aku disini." Rengek Aurel meraih tangan Arsen.
"Iya, Sayang, tapi aku lihat Alif sebentar ya. Mau pastiin dulu kalau dia baik-baik saja," jelas Pria itu sembari membelai pipi Aurel.
"Tapi nanti balik lagi ya, Mas," Aurel terpaksa melepaskan ia juga sedikit khawatir pada anak sulungnya itu.
"Oke, Sayang, cuma sebentar kok." Arsen segera keluar untuk mencari keberadaan sang Putra.
Saat Arsen keluar dia sudah mendengar celotehan putranya itu dengan tawa terpingkal, Arsen mengamati dengan seksama, apakah yang terjadi. Ternyata bocah kecil itu sedang bersenda gurau dengan Omanya.
Arsen tersenyum lega melihat pemandangan itu. Dasar bocil tadi terlihat begitu galak sekarang sudah bisa tertawa.
"Eh, anak Daddy lagi ngapain nih? Kok tertawa kencang sekali, paling bisa ya Oma bikin bocah ini kembali happy," jelas Arsen sembari menggusal kepala Alif dan memberi kecupan pada wajah gembul itu.
"Iya, tadi keluar kamar nangis, ngadu sama Mommy, dia bilang Bunda udah nggak sayang sama dia," jelas Mommy pada putranya, sembari terkekeh.
"Iya, Mom. Dia nantap Bundanya seperti marah, apakah hal yang wajar ya, Mom?" Tanya Arsen minta petunjuk pada sang Mommy.
"Hal yang wajar itu, Sen, ngontak pada dirinya takut tersaingi dia. Semua anak akan bertingkah aneh, dan juga rewel bila dia ingin punya adik lagi, karena dia sudah tahu kasih sayang orangtuanya akan terbagi kepada adiknya nanti."
Mommy menjelaskan yang membuat Arsen paham, jadi dia tidak perlu lagi khawatir bila nanti sang anak akan rewel dan bertingkah aneh dari yang biasanya.
"Bagaimana istri kamu? Apakah dia pengen makan sesuatu?" Tanya Mommy membuyarkan lamunan Arsen.
"Nggak mau dia, Mom, dia hanya minta di temani aku dikamar. Bunda dan anaknya sama-sama berubah sikapnya," adu Arsen pada sang Mommy, Pria itu yang memang sedikit kewalahan dan penuh kesabaran menghadapinya.
"Hal yang wajar juga, berarti calon anak kamu itu, ingin selalu dekat Daddynya, makanya Abang Alif jadi cemburu, semoga saja dapat perempuan."
"Aamiin... "Terimakasih ya, Mom, Do'anya. Aku kekamar dulu, nanti Nyonya Arsen itu ngambek lagi kalo nggak di temani," ujar Arsen Permisi pada Mommy.
"Alif, yuk tempat Bunda, tadi Bunda sedih Alif tinggalin." Arsen mencoba membujuk sang Putra.
"No, Alif cini saja cama Oma." Bantah bocah itu yang segera duduk di pangkuan Omanya, wanita baya itu kembali tertawa melihat tingkah cucunya itu.
"Udah sana, Sen, biar dia Mommy yang jaga. Kamu urus saja Bundanya dulu."
Arsen hanya geleng kepala melihat tingkah sang anak, ia segera kembali masuk kamar, seperti janjinya pada sang istri, padahal sebenarnya Arsen ingin ke kantor karena ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan.
__ADS_1
"Mas, sini buruan," panggil Aurel tak sabaran ingin suaminya itu segera berada di sisinya.
Arsen segera duduk di Sofa dimana Aurel telah duduk bersandar. "Ada apa, Sayang? Kok manja banget sekarang, hmm?" Arsen membawa Aurel kedalam pelukannya.
"Jangan pergi, Mas, temani aku disini," ujarnya mengeratkan pelukan.
"Baiklah, Sayang, aku akan menemani kamu." Arsen membelai rambut Aurel dan mengecup puncak kepalanya.
"Mas?"
"Ya, Sayang?"
"Pengen..."
"Apa, itu Sayang? Bilang saja, nanti Mommy yang buatkan."
"Ih, nggak peka banget." Aurel menggigit dada Arsen dengan gemas.
"Awwh.... Kenapa digigit sayang, sakit." Erang Pria itu menahan nyeri.
"Abisnya aku kesel sama kamu!" Aurel melepaskan pelukannya dan memberengut.
Aurel yang biasanya sangat mandiri dan penuh perhatian juga bersikap sangat dewasa, tapi kini wanita itu berubah seperti anak kecil yang sulit untuk dimengerti.
"Ayo bilang kamu mau apa, Sayang? Aku akan penuhi semua keinginan kamu." Arsen membawa Aurel masuk kedalam pelukannya kembali.
"Aku pengen, Mas!" Gemas wanita itu sembari meraba pusaka Arsen agar Pria itu mengerti.
Seketika wajah Arsen berubah sumringah, ia baru ngeh apa yang di inginkan sang istri. "Kamu serius, Sayang?" Tanya Pria itu kembali meyakinkan agar tak salah persepsi seperti kejadian beberapa hari yang lalu.
"Iya, Mas, pengen banget." Wanita itu bergelayut manja.
"Oke, Sayang." Arsen segera ingin menggendong tetapi, Aurel menghentikan.
"Jangan, Mas, aku bisa jalan sendiri." Seperti apapun manja dirinya tetapi ia tak ingin membahayakan kesehatan sang suami.
Arsen hanya tersenyum dan segera menggiring sang istri untuk menuju tempat tidur. Arsen harus melakukannya dengan sangat hati-hati, karena kehamilan Aurel masih sangat muda.
Kini pasangan pasutri itu sedang menyelami madu asmara, untuk mencapai dasar samudera cinta, bersama mereguk nikmatnya surgawi. Tentu saja sebelum memulainya mereka tak lupa mengunci pintu kamar agar bocil tak mengganggu aktivitas orang dewasa itu.
__ADS_1
***
Malam ini Dewi sedang gelisah menunggu Haikal tak kunjung pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tetapi kenapa suaminya belum juga pulang?
Sementara itu di sebuah ruangan seorang Pria terbangun dari tidurnya, ia menatap jam dinding suah menunjukkan hampir jam dua belas malam.
"Ya ampun, aku ketiduran lagi." Haikal segera merogoh ponselnya dan melihat begitu banyak panggilan dari Dewi.
Pria itu segera bangun dan keluar dari ruangannya. Ia melihat para karyawannya sudah mulai berkemas untuk menutup Cafe.
"Sudah mau tutup?" Tanya Haikal pada salah seorang karyawan
"Ah, iya Pak." Jawabnya dengan ramah.
"Yasudah, jangan lupa diperiksa semuanya, pastikan semua ruangan di kunci. Saya pulang dulu." Pamit Haikal pada para karyawannya.
"Baik, Pak." Mereka mengangguk hormat.
Haikal segera melajukan kendaraannya hingga tak membutuhkan waktu lama mobilnya sudah masuk ke area parkir di apartemennya.
Dewi masih gelisah menunggu suaminya yang hilang tanpa kabar dari sore tadi. Wanita itu mondar mandir tak jelas.
Haikal masuk dan mendapati sang istri sedang gelisah menunggu. Dia menatap ada kekhawatiran yang begitu besar di wajah cantik itu.
"Mas Haikal! Kamu kemana saja? Kenapa kamu tidak mengabari aku." Tangis Dewi pecah sembari memeluk suaminya.
Haikal membalas pelukan Dewi, hatinya merasa nyaman dan menghangat saat mendapat perhatian begitu besar dari istrinya. Ternyata wanita itu begitu takut kehilangannya.
"Sayang, maafkan aku ya. Tadi aku ketiduran, maaf sekali lagi sudah membuat kamu khawatir." Haikal membelai rambut Dewi dengan sayang.
"Udah jangan nangis lagi ya, aku sudah pulang, sungguh aku tidak bermaksud membuat kamu cemas seperti ini," ujar Haikal sembari menghapus air mata Dewi.
"Aku benar-benar takut kehilangan kamu, Mas. Aku tidak sanggup. Jangan seperti ini lagi." Dewi kembali masuk kedalam pelukan Haikal.
Haikal memberi waktu wanita itu untuk menumpahkan segala kegundahan hatinya, setelah merasa cukup tenang, Haikal melerai pelukannya dan menatap wajah cantik sang istri.
Dewi membalas tatapan Haikal dengan dalam. Entah siapa yang memulai bibir mereka telah menyatu.
Bersambung....
__ADS_1
Happy readingš„°