Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Bertengkar


__ADS_3

"Aurel, kamu tidak perlu cemas jika aku akan mengambil Alif darimu, aku tak berniat untuk memisahkan kamu dari Alif. Aku akan memberikan hak asuh anak sepenuhnya kepadamu.


"Perlu kamu tahu, selama ini aku memang sengaja menakutimu dengan cara mengambil Alif, tapi semua yang aku lakukan hanya untuk membawamu agar kita bisa tinggal bersama, aku sangat berharap dengan hidup bersama hatimu akan luluh walau sedikit saja.


"Ya, mungkin kesalahanku begitu besar sehingga tak bisa di maafkan. Maka dari itu aku cukupkan sampai disini, aku menyerah, Rel. Aku ikhlas jika dirimu pergi meninggalkan aku, Aku berharap kamu akan bahagia setelah kita ber...."


"Cukup, Mas! Jangan bicarakan itu sekarang. Aku sedang tidak ingin membahasnya, ayo sekarang kita pulang. Anak kita sudah lama menunggu, dia pasti cemas karena jam segini kita belum datang menjemputnya."


Aurel menatap mata hazel itu dengan dalam. Semua rasa bercampur baur dalam hati, sedih, gelisah, ia tidak ingin berpisah dari suami yang selama ini begitu tulus menyayanginya.


Sudah saatnya ia berdamai dengan segala masalalu yang pernah menyakitkan, ia ingin memulai dari awal lagi, Aurel akan mencari waktu yang tepat untuk membahasnya.


Arsen hanya diam, kembali menjalankan mobilnya seperti yang di perintahkan oleh sang istri. Sesaat kembali suasana hening.


Dalam keheningan Arsen memutar sebuah lagu berasal dari negri Jiran, yang berjudul. Bukan niatku. Sepertinya lagu itu adalah gambaran hatinya yang kini sedang ia dirasakan.


*Tertutupkah sudah pintu hatimu untuk menerimaku lagi...


Apakah keras hatimu.... Tak bisa lentur lagi...


Bukanku sengaja mau kau terluka.... Bukan niatku...


Kalaupun memang aku bersalah, namun sebesar manakah... Begitu sulit untuk kau maafkan hingga ingin kau singkirkan....


Bumi yang manakah yang tak akan basah bila hujan mencurah....


Aduh... Usah berubah. Usah diturutkan hati marah...


Dihati kecilmu kutahu kau tak begitu....


Sudah lumrah cinta... Suka bersulamkan air mata...


Kita digiris bencana... Terpetik cinta seutuhnya....

__ADS_1


Aurel mengamati lagu itu dengan seksama, hatinya terasa sendu saat menatap wajah pria yang kini ada disampingnya. Ia tahu lagu itu memang sengaja Arsen peruntukan untuk dirinya.


Maaf, Mas. aku tahu selama ini kamu kecewa atas segala sikapku, aku tahu kamu sudah banyak berkorban untukku. Kita akan memulainya kembali dari awal, semoga rasa cintamu tak pernah berubah.


Saat Aurel menatap Arsen tak sengaja netranya melihat ada plaster penutup bekas jarum infus di lipatan tangan Arsen yang memang bajunya sudah digulung hingga siku.


"Mas, tangan kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya wanita itu menatap cemas


"Ah ini, tadi aku dan Doni donor darah, karena dikantor mengadakan kegiatan donor darah setiap bulannya," jawab Pria itu jelas berbohong.


"Mas, sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkan aku." Aurel menatap sendu dengan segala rasa bersalah.


"Jangan berterima kasih, apa yang aku lakukan sudah sewajarnya. Karena kamu masih sebagai istri aku, walaupun kamu tak pernah menganggapku sebagai suami. Tapi aku berharap suatu saat nanti kamu akan merindukan aku walau sedikit saja."


Aurel kembali menjatuhkan air matanya, entah kenapa kata-kata Arsen seakan benar-benar ingin berpisah darinya.


Aurel ingin sekali masuk kedalam pelukan Pria itu, tapi dia tak mempunyai keberanian untuk itu. Sejauh itukah hubungan mereka sehingga rasa canggung begitu tercipta.


"Tidak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Arsen sudah tiba di kediaman Bibi Ana. Aurel segera turun dan disambut oleh pangeran kecilnya yang sudah membukakan pintu.


Arsen segera menggendong bocah kecil itu dan menghadiahi kecupan di seluruh wajahnya.


"Hahaha... No, Daddy, geli." Celotehnya saat menahan geli terkena bulu-bulu halus yang ada di wajah sang Daddy.


"Hehe... Habisnya Daddy kangen banget sama Alif, kamu kangen nggak sama Daddy dan Bunda? Hmm?" Tanya Arsen kembali menghujani bocah kecil itu dengan ciuman.


"Hehehe... Udah, Daddy. Bunda bantuin Alif..." Rengek bocah itu sembari meminta gendong dengan sang Bunda.


"Udah, Dad. Anaknya udah nyerah masih aja dijahili," ujar Aurel dengan senyum gemas melihat tingkah ke-dua lelakinya itu.


Arsen menurunkan bocah itu dari gendongannya. Ia kembali menatap Aurel dengan dalam. Arsen melihat perubahan sikap wanita itu sedikit lebih hangat.


Aurel yang mendapat tatapan dari Arsen hanya bisa mengalihkan pandangannya, mata hazel itu begitu dalam menghujam hati dan jantungnya hingga tak tenang.

__ADS_1


"Ayo sekarang kita pulang, pamit dulu sama Nenek." titah Aurel pada sang Putra sembari masuk kedalam rumah untuk berpamitan dengan Bibi Ana.


"Kita makan diluar sebentar, mau?" Tanya Arsen di perjalanan pulang.


"Hmm, baiklah. Kita makan di tempat biasa ya, aku ingin bertemu Dewi sebentar."


"Oke," Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, untuk sampai di Cafe tempat Dewi bekerja.


Setibanya di Cafe, Arsen segera memilih meja untuk mereka bertiga, setelah itu ia memesan makanan, namun tak sengaja di meja pojok mereka melihat ada yang sedang bertengkar hebat.


Sayup-sayup Arsen dan Aurel mendengar suara Pria itu. Ya, ternyata Haikal sedang bertengkar. Sepertinya Pria itu sedang memergoki kekasihnya sedang jalan dengan selingkuhannya.


"Ya, benar! Aku memang lebih memilih dia! Karena dia tidak sepertimu yang selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku muak mendengar alasanmu yang selalu itu saja!" Ujar wanita itu berapi-api.


"Oh, begitu? Sudah sejauh mana hubunganmu dan dia?" Haikal menunjuk wajah Pria yang ada disamping wanita yang di perkirakan kekasihnya itu. "Katakan! Apa yang telah kalian lakukan dibelakangku? Atau jangan-jangan kamu telah disentuh Pria ini? Iya?!" Bentak Haikal penuh emosi.


"Ya, aku sudah disentuh olehnya, aku memang sudah tidur dengannya! Maka dari itu kami memutuskan untuk menikah. Aku tidak ingin menunggu Pria yang tak mempunyai kepastian sepertimu! Tidak akan ada wanita yang mau menunggumu sampai bertahun-tahun tanpa ada kepastian, jangankan gadis perawan, seorang janda saja tidak akan mau denganmu!" Ucap wanita itu seakan menghina Haikal dengan keji.


"Sudahlah Bung! Semua sudah jelas, nikmati saja kesendirianmu!" Ujar Pria itu menepuk bahu Haikal dan tersenyum mengejek


Haikal segera ingin melayangkan sebuah pukulan terhadap lelaki yang ada di samping wanita itu, tetapi Arsen segera menahan tangannya. "Haikal, hentikan! Jangan lakukan itu. Jangan perlihatkan sakit hatimu."


"Arsen, lepaskan aku! Aku akan memberi pelajaran kepada pasangan laknat ini!"


"Dengarkan aku Haikal! Kamu tidak perlu sakit hati dengan wanita sepertinya, apapun yang kamu lakukan hanya akan membuang energi saja. Wanita sepertinya tidak pantas kamu sedihi. Apa yang akan kamu perjuangkan wanita yang sudah tak suci dan dijamah orang lain!" Ujar Arsen berusaha menenangkan sang sahabat.


Sementara itu Dewi dan Aurel hanya bisa terpaku mendengar dan melihat pemandangan yang menegangkan itu.


Dewi menatap Haikal sedih, "Aku masih setia menunggumu Pak, bahkan sampai saat ini perasaanku tak pernah berubah, tapi kenapa Bapak tak pernah mengerti sedikit saja tentang perasaanku.


"Dengar! Aku akan buktikan bahwa aku bisa mendapatkan wanita lebih terhormat, dan puluhan perawan bisa aku dapatkan!" Tekan Haikal pada wanita itu.


Semua mata menatap mereka, maka Arsen memesan ruangan Private Room. untuk mereka makan bersama. Arsen masih berusaha meredakan emosi Haikal dan menggiringnya untuk masuk kedalam ruangan itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2