
Aurel masih sibuk memasak beberapa menu untuk makan malam menjamu mertuanya, wanita itu terlihat begitu cekatan.
"Masak apa kamu, Nak?" Tanya Mommy Iswara yang sudah ada di belakangnya.
"Ah, Mom, ini bikin menu yang cepat saji aja, Mommy dan Daddy pasti sudah lapar, besok baru aku buatin menu spesial buat Mommy," ujar Aurel tersenyum ramah pada ibu mertuanya itu.
"Kamu tahu saja Mommy sudah lapar, soalnya tadi Daddy kamu nggak mau Mommy ajak makan di luar, maklumlah, Daddy memang tidak suka makan diluar, dia sudah terbiasa dengan masakan rumahan."
"Benarkah?" Tanya Aurel yang baru tahu tentang ayah mertuanya itu.
"Iya, dia tidak pernah makan diluar, bukan tidak pernah maksud Mommy, tapi bisa dihitunglah, itupun kalau sudah terpaksa."
"Hihi... Unik juga ya, tapi nurun dengan Mas Arsen, deh Mom," ujar Aurel yang mengingat bahwa suaminya selalu pulang saat makan siang.
"Oh, ya?"
"Iya, Mom, tapi tidak terlalu parah, Mas Arsen masih mau kok makan diluar."
"Syukurlah, jadinya kamu tidak terlalu ribet."
Kedua wanita beda generasi itu terlibat obrolan sembari mengerjakan pekerjaan dapur, tanpa terasa menu itu sudah tersaji.
Mereka makan dalam kekeluargaan yang hangat, ditambah lagi celoteh sibocil Alif, membuat Oma dan Opanya tak henti tertawa.
Selesai makan, Aurel merapikan kamar tamu dan menukar alas kasur, sehingga sudah rapi dan wangi.
"Kamarnya sudah rapi, kalau Mommy dan Daddy ingin istirahat silahkan," ujar Aurel kepada kedua orangtua suaminya itu.
"Ayo, Alif bobok sama Oma dan Opa malam ini ya? Soalnya Oma masih kangen sama Alif," ujar wanita baya itu membujuk cucunya.
"No, Oma, kalau Alif bobok cama Oma, nanti Bunda ndak ada yang temani," sambung bocah itu
"Kok, nggak ada yang temani? Kan ada Daddy kamu yang temani Bunda."
"Nanti Bunda diambil Daddy, kan Daddy suka peluk-peluk Bunda, nanti Alif nggak bisa peluk Bunda lagi." Adu bocah kecil itu yang membuat sang Oma dan Opa tertawa.
Aurel dan Arsen hanya bisa tersenyum sembari geleng kepala. Ternyata anak kecil itu memang jujur. Karena Arsen sering sekali menjahili anaknya sebelum tidur, sehingga terkadang bocah kecil itu harus menangis dulu baru tidur setelah dirusuhi oleh sang Daddy.
"Alif ingin tahu sesuatu nggak? Sini deh, Oma bisikin." Panggil Oma agar sang cucu mendekat.
"Apa, Oma?" Alif mendekat pada Omanya.
__ADS_1
"Alif pengen punya adik?" Tanya Oma berbisik.
"Mau Oma." Balas bocil itu juga berbisik.
"Kalau Alif pengen punya adik, Alif harus bobok sama Oma, biar Daddy dan Bunda bikin adik buat Alif," bisik Oma.
"Astaghfirullah, ape awak cakap sama cucu." Sang Daddy menggusal kepala Mommy Iswara, Pria itu gemas mendengar istrinya membisikan hal yang tentu cucunya belum mengerti.
"Biarin aja, Dad. Biar mau tidur bareng kita. Mommy masih kangen banget sama dia," Mommy Iswara beralasan padahal dia memang berharap mendapatkan cucu lagi dari mereka.
"Dahlah. Daddy tidur dulu, ngantuk," Daddy Abraham segera masuk kamar meninggalkan istri dan anak-anaknya.
"Alif, jadi nggak bobok bareng Oma dan Opa?" Tanya Mommy.
"Jadi dong,Oma," ujar Alif tersenyum bahagia memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Oke, jom ikut Oma." Wanita baya itu segera menggandeng tangan cucunya masuk ke kamar.
"Mommy tidur dulu ya, udah kalian sana istirahat," usir Mommy.
"Ah iya, Mom."
"Kamu kenapa, Mas?" Tanya Aurel heran melihat tingkah suaminya.
"Merasa lega karena nggak ada rivalku malam ini, jadi malam ini kamu milikku seutuhnya," ujar Arsen yang segera memeluk Aurel.
"Awas dulu, Mas, aku mau ganti baju." Aurel menjauhkan diri dari sang suami yang mulai merusuh.
"Nggak usah ganti baju, Sayang, nanti saja habis mandi ganti bajunya," bisik Arsen di telinga Aurel. Pria itu masih memeluknya dari belakang.
"Mas, boleh nggak aku istirahat malam ini saja, aku capek, Mas." Rengek Aurel pada Arsen.
"Gitu ya, Sayang. Yaudah, kita tidur sekarang ya." Arsen mengalah, ia memberi ruang untuk sang istri istirahat, karena seharian ini mereka banyak kegiatan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari, tetapi Aurel masih belum bisa memejamkan matanya, entah berapa kali ia merubah posisi tidur untuk mencari kenyamanan agar terlelap.
Aurel menatap Arsen yang telah tidur nyenyak, mendadak hati wanita itu kesal sendiri pada suaminya itu, karena ia ditinggal tidur.
Aurel masuk kedalam pelukan Arsen, padahal tadi tak ingin di peluk sekarang wanita dua puluh dua tahun itu jadi plinplan akut. Aurel menghirup aroma tubuh Arsen yang membuatnya begitu nyaman.
Karena merasa ada yang mengganggu tidurnya, Arsen membuka matanya sedikit mengerutkan dahi, ada apa dengan istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Arsen dengan suara berat, ia juga mengeratkan pelukannya.
"Mas, jangan tidur dulu," rengek wanita itu manja.
"Kenapa, Sayang? Kamu sakit?" Arsen mencoba memeriksa, meletakkan tangannya di kening Aurel.
"Aku tidak sakit, Mas. Pengen di peluk dan di perhatikan, juga plus di manja."
Seketika ucapan Aurel membuat Arsen terkekeh gemas, ia merasa heran melihat tingkah istrinya malam ini yang cukup aneh menurutnya. Karena biasanya Aurel tak pernah seperti itu.
Arsen melerai pelukannya ia ingin ke kamar mandi karena panggilan alam, namun, sang istri seakan tak mengizinkan.
"Jangan pergi, Mas. Aku masih pengen di peluk," ujar Aurel sembari memejamkan matanya.
"Iya, Sayang, tapi aku mau ke kamar mandi, bentar ya," Arsen melepaskan lilitan tangan sang istri yang ada di tubuhnya.
"Ikut, Mas."
Lagi-lagi Pria itu dibuat tercengang. "Kamu kenapa sih, Sayang? Benaran ini cukup langka terjadi selama kita hidup bersama."
"Udah ayo, Mas. Aku cuma mau ikut, kenapa nggak boleh?" Tanyanya, wanita itu terlihat uring-uringan. Arsen mulai memasok rasa sabar agar tak terjadi pertikaian, meskipun pertikaian kecil.
Arsen tak ingin membuat hati wanita kesayangannya itu sedih atau kecewa. Arsen mengikuti keinginan Aurel.
"Mau aku gendong?" Tanya Pria itu dengan lembut.
Sebenarnya Aurel sangat ingin, tetapi karena keadaan Arsen yang tak memungkinkan maka ia segera menggelengkan kepala.
"Enggak, aku jalan saja, Mas."
Akhirnya ia mengekori sang suami untuk ke kamar mandi. Arsen hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang cukup unik.
Setelah selesai, Arsen membawa Aurel kembali tidur dan memperbaiki selimut agar sang istri bisa tidur lebih nyaman, tetapi wanita itu menurunkan selimut tebal itu dengan kakinya.
"Sayang, kenapa dibuang selimutnya? Nanti kamu masuk angin," ujar Arsen hendak menarik selimut itu kembali tetapi tidak jadi.
"Aku gerah, Mas." Ujar Aurel yang memindahkan kepala keatas dada Arsen, tangannya mulai memancing hasrat sang suami.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1