
Dewi terkesiap mendengar suara lelaki yang sedang ditangisinya. Segera menghapus air mata dan berusaha untuk tetap tegar. Sesaat pandangan mereka bertemu. Namun, Dewi segera memutuskan tatapan itu, rasa kecewa yang teramat dalam membuatnya enggan untuk berlama-lama menatap wajah tampan itu.
"Untuk apa kamu datang kesini, Mas? Bukankah calon istrimu sedang berada disana."
Haikal mendekat dan duduk disisi sang istri, tangannya meraih jemari lentik itu, tetapi Dewi segera menepis. "Nggak usah sentuh aku, Mas! Aku benci sama kamu!" Wanita itu berdiri hendak meninggalkan Haikal.
"Sayang, dengarkan penjelasan aku dulu! Aku tahu aku salah!" Haikal mencekal tangan Dewi dan memeluknya dari belakang. "Aku mohon beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya." Gumamnya kembali, Haikal menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Dewi.
"Apa yang ingin kamu jelaskan, Mas? Bukankah semua sudah jelas dan nyata. Lepasin aku! Menjauh, Mas. Jangan peluk-peluk!" intrupsi Dewi dengan kesal.
Bukan menjarak, Haikal semakin memperkuat pelukannya. Sehingga membuat wanita itu semakin kesal dengan tingkah suaminya.
"Apa yang kamu lakukan Mas? Ya ampun, awas, Mas! Aku tidak nyaman begini!" Pekik Dewi geram sendiri. Rasanya pengen Jambak rambut hitam legam itu.
"Terserah, kamu mau pukul aku sekalian, aku tidak akan peduli. Maki aku sesuka hatimu, Dek. Aku tahu aku salah!" Ujar Haikal putus asa.
Dewi menghela nafas panjang, dan mengeluarkan secara perlahan. "Sekarang katakan apa mau kamu, Mas?" Akhirnya wanita itu mencoba untuk memberi lelaki tercintanya kesempatan.
"Aku ingin kamu mendengarkan penjelasan aku. Setelah itu aku tidak akan menggangu dirimu lagi, yang penting aku sudah jujur tak ada lagi yang aku sembunyikan darimu." Haikal masih mencium rambut Dewi, sesekali bibir Haikal juga mengecup lehernya.
"Iya, lepaskan aku dulu! Ck, kamu apa sih rusuh begini. Nggak tahu apa aku lagi marah!" Kesal Dewi memutar tubuhnya menghadap pada suami Pria mesum itu.
"Biasa saja natapnya, Sayang. Kejam banget." Haikal berusaha membujuk Istri kecilnya, sembari mengecup bibir Dewi yang menggemaskan saat sedang marah begitu.
Bugh!
__ADS_1
"Aku kesal sama kamu, Mas, nggak usah rayu-rayu aku! Nggak mempan!" Dewi memukul bahu Haikal dengan gemas.
"Hahaha.... Iya, iya. Aku tahu kamu sangat marah padaku. Baiklah, silahkan balaskan semua sakit hatimu, Sayang. Aku sungguh ikhlas mati di tangmu!"
"Alah, nggak usah lebay kamu, Mas, receh benget!" Cibir Dewi menatap kesal
Kembali Haikal terkekeh mendengar celotehan sang istri saat marah sungguh menggemaskan. "Udah marahnya, Sayang? Bisa kita mulai pembicaraan ini?" Tanya Haikal begitu lembut sehingga membuat hati Dewi kembali lumer.
Dewi kembali duduk dan menatap Haikal untuk meminta penjelasan, tanpa harus mendrama lagi. "Ayo jelaskan semuanya, Mas."
Haikal mencoba menghirup udara sepenuh dada. Ia harus menjelaskan yang sebenarnya. Mungkin ini saatnya Dewi mengetahui, dan iapun sudah siap menerima konsekuensinya nanti.
"Dek, sebenarnya aku memang sudah bertunangan sedari kami masih kuliah. Tetapi tunangan itu terjadi karena kesepakatan antara kedua orangtua kami. Aku sama sekali tidak mencintai Andin. Aku hanya menganggap Andin sebagai adik sendiri.
"Tetapi karena perjanjian yang mereka buat membuat aku tak bisa menolak. Demi berjalannya bisnis mereka kedua belah pihak. Bahkan di perjanjian itu tertera jika diantara kami mengurak kesepakatan itu, maka konsekuensinya adalah diantara kami yang ingkar akan mendapatkan hukuman penjara selama tiga bulan.
"Aku sangat tidak mendukung sedikitpun jalan pikiran mereka, yang menurutku sangat gila. Tetapi aku juga tidak tega melihat kekecewaan kedua orangtuaku. Maka dengan terpaksa aku menuruti keinginan mereka. Dan karena itu pula aku memilih untuk jadi Dosen di kota ini agar aku bisa menghindari pernikahan itu.
"Sayang, percayalah padaku. Aku tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menyakiti dirimu. Jujur, aku sudah jatuh cinta, dan sangat menyayangi kamu. Hari ini aku sudah mengatakan segalanya padamu.
"Itulah alasanku sampai saat ini belum bisa mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Tapi karena kamu sudah mengetahui, maka, aku harus jujur sekarang.
"Sayang, dengarkan aku, aku akan memberitahukan tentang hubungan kita, aku sudah siap menerima hukum yang harus aku jalani. Aku hanya ingin hidup bersamamu."
Haikal menjelaskan semuanya. Dewi merasa syok mendengar penjelasan suaminya itu. "Perjanjian apa itu, Mas? Kenapa harus ada hukuman?"
__ADS_1
Dewi masih bingung tidak mengerti. Kenapa harus seribet itu. Bagaimana dia tega membiarkan Haikal masuk penjara hanya karena perjanjian gila itu.
"Aku tidak mau kamu harus masuk penjara, Mas, masih banyak cara lain untuk membicarakannya dengan baik-baik. Atau kamu bisa memberikan separuh harta kamu, asalkan kamu tidak menjalani hukuman itu!"
Dewi masih berusaha memberikan solusi lainnya, namun tidak akan mungkin bisa, karena itu semua sudah di sepakati oleh kedua orangtuanya dan orangtua Andin.
"Andai semua bisa, maka aku rela memberikan semua hartaku ini. Tapi tidak bisa. Dengar, Sayang! aku akan menjalani hukuman itu, tiga bulan tidak akan lama. Setelah itu kita akan hidup bahagia tanpa ada masalah lagi. Kita akan meresmikan pernikahan."
Dewi segera memeluk Haikal dengan posesif. ia benar-benar takut hal itu terjadi. "Aku tidak rela, Mas, perjanjian konyol apa itu! Aku tidak mau kamu harus di penjara!" Tangis Dewi pecah.
Haikal berusaha menenangkan istrinya. Dewi begitu sedih dan berduka. Kenapa ujian cintanya harus seperti ini.
"Dengar, Sayang! Besok lusa aku akan pulang bersama Mama. Aku ingin segera menjelaskan tentang hubungan kita. Jika nanti aku tidak kembali selama tiga bulan ini, itu tandanya aku sedang menjalani hukuman itu. Aku berharap kamu masih setia menungguku."
"Tidak, Mas, aku ikut dengan kamu. Aku rela dipenjara bersamamu. Aku tidak sanggup berpisah." Kembali Dewi menangis.
"Jangan, Sayang, percayalah kepadaku. Semoga saja nanti ada jalan tengahnya. Aku berjanji padamu. Akan segera kembali jika semuanya telah selesai."
Dewi masih menangis, ia belum bisa menerima kenyataan itu. Haikal berusaha menenangkan sang istri. "Sudah, jangan menangis ya, hanya tiga bulan, Sayang. Sedangkan empat tahun saja kamu mampu menungguku, apakah tiga bulan itu sungguh berat?" Tanya Haikal sembari menghapus air mata Dewi.
"Sungguh berat, Mas. Hiks... Kalau empat tahun itu beda, kita belum menjadi suami istri, bahkan kamu belum mengetahui perasaanku. Kalau Sekarang kita sudah menikah dan saling menyayangi. Hiks, hiks...." Rengek manja Dewi masih keluar.
"Percayalah, Sayang, mungkin ini ujian yang harus kita lalui. Semoga setelahnya kita akan hidup bahagia."
Dewi menatap wajah sang suami dengan lekat, entah kenapa rasa takut begitu dalam. Bisakah dia menjalaninya.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰