Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Kejutan


__ADS_3

Mama Hema membawa Dewi masuk kedalam sebuah restoran. Dewi hanya diam mengikuti intrupsi dari Mama mertuanya itu.


"Ayo duduklah, sebentar lagi makanannya datang." Titah Mama, Dewi segera duduk di meja party yang sepertinya sudah dipesan khusus.


Tak ingin banyak bertanya, Dewi hanya manut saja, tapi sedikit penasaran, kenapa makan malam harus memesan meja khusus. Hah, sudahlah! Patuh sajalah dengan perintah yang mulia ratu.


Tak berselang lama, seorang pelayan datang membawa kek ulangtahun. Diatas kue itu bertuliskan. Selamat berkurangnya umur, istriku Sayang, Love you more.


Dewi terkesiap membaca tulisan itu. Dia baru menyadari bahwa hari ini adalah ulangtahunnya. Tapi hatinya masih ragu, apakah mungkin kue itu dikhususkan untuk dirinya? Secara yang memesan semuanya adalah Mama mertuanya.


Terus ada tulisan istriku sayang, sedangkan suaminya masih di penjara. Ah, tidak. Dewi tak ingin berasumsi bahwa semua ini memang di peruntukan buat dirinya.


"Kenapa memaku seperti itu? Kamu tidak suka dengan kejutan yang Mama berikan? Padahal Mama udah capek-capek mempersiapkan kejutan ini lho! Kamu benar-benar tidak menghargai Mama!" Ujar Mama Hema, wanita itu tampak kecewa.


"Bu-bukan begitu maksud aku, Ma, aku tadi masih belum percaya kalau semua ini memang kejutan untuk aku. Aku benar-benar tidak menyangka. Terimakasih banyak, Mama. Aku sangat bahagia!" Dewi memegang tangan Mama mertuanya dengan mata berkaca-kaca.


Dia masih belum percaya jika Mama mertuanya begitu baik dan perhatian padanya. Walau tadi sikapnya sedikit menjengkelkan dan kata-katanya menyakitkan.


"Di hari ulangtahunmu ini, apa harapanmu?" Tanya Mama.


"Aku berharap semoga Mas Haikal cepat keluar dari tahanan, dan semoga kandunganku sehat, dan aku juga mengucapkan syukur kepada Allah, karena Mama sudah bisa menerima aku sebagai menantu. Maaf jika aku masih banyak kekurangan sebagai menantu Mama. Selama aku disini mungkin selalu membuat Mama kesal dengan ulahku."


Dewi mencurahkan segala isi hatinya, terasa bibirnya mudah mengungkapkan perasaannya. Wanita memang seperti itu, bila hatinya sedang terharu maka dia akan lebih mudah mengekspresikan emosi dalam jiwanya.


"Jangan bicara seperti itu. Mama sudah menerimamu sebagai menantu satu-satunya dalam keluarga Mama, Maaf jika Mama selalu membuat kamu sedih dan menangis. Tapi, percayalah, Mama menyayangi kamu. Dan semoga hari ini harapan dan Do'a kamu dikabulkan Allah."


Dewi memeluk Mama mertuanya itu. Dia tak bisa menahan tangis harunya. "Terimakasih ya,Ma."


"Iya, Sayang, ayo kita potong kuenya." Mama Hema meminta Dewi memotong kue ulangtahun itu.


Dewi segera ingin memotong kek ulangtahun itu, tetapi tangannya terhenti. Karena ada tangan seseorang menutup kedua matanya dari belakang.


"Ini siapa?" Dewi meraba telapak tangan yang sedang menutup matanya.

__ADS_1


"Barakallah fii umrik kekasih halalku," ucap orang itu. Tentu saja Dewi sangat mengenali suara Pria yang sangat dirindukannya.


"Mas Haikal!" Dewi memutar tubuhnya untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar itu tidaklah salah.


Seketika air mata wanita itu luruh, rasa tak percaya, tapi nyata. Dewi memeluk Pria yang ada dihadapannya. "Hiks... Kenapa tidak memberi tahu diriku jika kamu sudah bebas, Mas! Kamu jahat sekali." Racau Dewi dalam dekapan sang suami.


"Namanya juga kejutan, Sayang, kalau kasih tahu kan nggak asyik," balas Haikal sembari mengecup kening, dan mengusap punggung istrinya untuk menenangkan.


"Selamat ulangtahun, Mbak Dewi. Semoga panjang umur sehat selalu, dan semoga disisa umurnya sekarang diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Semoga selalu bahagia bersama keluarga kecil Mbak Dewi."


Dewi melarai pelukannya. Dia mencari asal suara itu. Dan sudah pasti dia tahu siapa Pria itu.


"Reza!" Dewi menghampiri adik kesayangannya itu. "Kamu kok ada disini lagi?" Dewi memeluk Reza dengan tangis haru.


"Aku diminta Mas Haikal, untuk datang merayakan hari bahagia Mbak. Tapi besok aku harus balik lagi."


"Udah, Mbak jangan menangis lagi ya, ini hari kebahagiaan Mbak. Semoga tidak ada lagi air mata yang jatuh di pipi ini." Reza menghapus air mata Dewi dengan sayang, sebagai seorang adik, Reza begitu menyayangi sang kakak.


"Terimakasih ya, Dek, Mbak sangat bahagia hari ini."


"Habis ini kita mau kemana, Sayang?" Tanya Haikal sembari mengecup jemari Dewi.


"Terserah kamu saja, Mas, aku ikut kemanapun kamu pergi," jawab Dewi begitu bahagia.


"Jadi ceritanya udah pasrah banget nih?" Goda Haikal.


"Banget, Mas."


"Ish, kamu membuat aku nggak sabar ingin segera membawa kamu pulang."


"Ayo segera kita pulang."


"Jangan, Sayang, jangan sekarang, aku ingin memberimu hadiah ulangtahun. Ayo kita pergi sekarang." Haikal segera membawa Dewi. Pria itu melajukan kendaraannya kesebuah mall.

__ADS_1


"Kita ngapain ke mall, Mas?" Tanya Dewi belum mengerti.


"Ya, belanja dong, Sayang. Udah, nggak usah banyak tanya, ayo sekarang kita masuk. Hari ini silahkan kamu belanja apa saja yang kamu mau," ujar Pria itu sembari menggandeng tangan Dewi masuk kedalam pusat perbelanjaan itu.


"Hari ini aja ya? Jadi kalau hari-hari biasa aku nggak boleh belanja?" Seloroh Dewi, mengapit tangan sang suami dan bergelayut manja.


"Hmm, kamu tuh ya, sejak kapan aku melarangmu untuk belanja. Bukankah kamu sendiri yang menolak pemberian dariku. Maksud aku itu, untuk hari ini nggak ada bantahan untuk kamu menolak pemberian aku." Jelas Haikal mencubit hidung mancung Dewi dengan gemas.


"Hehe... Aku tahu kamu itu suami yang baik dan penyayang, penuh tanggungjawab, maka dari itu aku tak perlu Maruk, jika aku butuh kamu pasti akan memberikan tanpa banyak pertanyaan dulu."


"Hehe... Bisa aja kamu jawabnya. Pokoknya malam ini kamu harus belanja. Aku ingin memanjakan kamu."


"Baiklah, tapi jangan marah ya jika tagihan kartu kredit kamu membengkak."


"Its Oke, no problem!" Haikal merengkuh pinggang Dewi. Sebuah kecupan mendarat di pipi halus wanita muda itu.


"Mas, lihat deh, lucu banget ya, Mas." Dewi menunjuk sebuah kios perlengkapan bayi yang memajang banyak pakaian bayi perempuan.


"Iya, Sayang, tapi kita belum tahu, jenis kelamin bayi kita, perempuan atau laki-laki. Lagian belum boleh beli sekarang, kan kehamilan kamu masih kecil." Haikal mengingatkan sang istri.


"Iya sih. Tapi lucu banget. Emang kamu mau anak kita perempuan atau laki-laki, Mas?" Tanya Dewi ingin tahu.


"Apa saja, Sayang, yang penting sehat. Anak itu rezeki dari Allah, apapun yang Allah berikan disyukuri saja."


"Hehe... Iya, kamu benar, Mas. Yaudah deh, pengennya aku pending dulu. Tunggu hamil delapan bulan baru kita belanja lagi ya, Mas," ujar wanita itu memberi solusi.


"Oke, siap, Sayang." Pria itu menurut patuh.


"Oh, jadi ini wanita yang membuat kamu membatalkan rencana pernikahan kita!"


Terdengar suara seorang wanita, menyapa mereka dengan nada ucapan tak mengenakan. Dewi dan Haikal secara bersamaan mencari sumber suara itu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2