Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Kekecewaan Mommy


__ADS_3

Kini sudah dua hari orangtua Arsen berada dikediaman anaknya. mereka menunggu anak dan menantunya menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke negri Jiran itu.


Aurel sudah memutuskan untuk melanjutkan studinya di Malaysia, karena ia sudah mantap ingin ikut bersama suaminya, Arsen yang mempunyai usaha disana mengharuskan dia memboyong anak dan istrinya.


Tapi Pria itu tak menutup kemungkinan bahwa setelah Aurel menyelesaikan pendidikannya dan setelah mendapat gelar Dokter yang di inginkan, maka mereka akan kembali lagi ke Indonesia, karena Arsen telah mengatas namai RS itu milik Aurel.


Pagi ini adalah jadwal kontrol Arsen untuk cuci darah seperti biasanya. Saat ia keluar kamar, ia berpapasan dengan Mommy Iswara.


Sang Mommy membawanya bicara di ruang tamu, dan dimana, disana sudah ada Daddy duduk menunggu.


"Ada apa ini Mommy?" Tanya Arsen bingung karena melihat raut wajah Mommy dan Daddy tampak sendu, Mommy juga seperti habis menangis.


"Coba katakan yang sebenarnya, Arsen. Apa yang kamu sembunyikan dari Mommy dan Daddy?" Tanya Mommy dengan mata berkaca-kaca.


"Tentang apa ini, Mom?" Tanya Arsen masih bingung


"Tentang penyakitmu?" Potong Daddy


Arsen Seketika terdiam dan menatap kedua orangtuanya, ternyata mereka sudah mengetahui lebih cepat, tapi darimana mereka tahu.


"Maaf, Mom, Dad, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan dari Mommy dan Daddy, tapi aku mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya.


"Mommy jadi tidak tahu dengan jalan pikiran kamu, kamu rela menyembunyikan hal sebesar ini dari orangtuamu! Kami sangat kecewa, Apakah rasa cintamu lebih besar kepada istrimu daripada orangtuamu sendiri?


"Aurel tahu kamu menderita penyakit berbahaya ini, tapi dia masih mau menyuruh kamu untuk memenuhi segala keinginannya, Mommy jadi berpikir bahwa istrimu itu masih belum bisa menerima kamu!" Ujar Mommy Iswara marah.


"Mom, kenapa bicara seperti itu? Aurel tak seperti yang Mommy bayangkan, dia benar-benar sudah bisa menerima dan mencintai aku. Tolong Mom, jangan libatkan Aurel dalam masalah ini! Ini semua sudah ketentuan Allah, apapun yang aku alami saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana Mommy tidak melibatkan dia, karena selama ini kamu tidak punya waktu dan tidak menjaga pola makan, demi mendapatkan maaf darinya. Kamu melupakan kesehatanmu sendiri!" Tekan Mommy dengan suara sedikit lantang.


"Mom, sudah! Jangan seperti itu. Apa yang dikatakan oleh Arsen benar, kamu tidak boleh menyalahkan Aurel sepenuhnya." Daddy mencoba menengahi.


Tanpa mereka sadari seseorang telah menahan tangis di balik tembok pembatas ruang tamu itu. Aurel merasa apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya benar, ialah yang menyebabkan Arsen sakit.


Selama ini Arsen memang terlalu fokus memperhatikanya dan Alif sehingga lupa dengan kesehatan dirinya sendiri.


Aurel yang berniat ingin membawakan minum untuk Daddy dan Mommy, tak kuasa menahan sesak di dadanya sehingga tangannya bergetar


Prangg!


Seuara gelas pecah membuat konsentrasi keluarga yang sedang berdiskusi itu terbuyarkan.


"Aurel!" Arsen segera berdiri dan menghampiri suara pecahan tadi, ia melihat Aurel tertunduk sembari membersihkan beling yang pecah berserakan.


"Sudah, Mas, biar aku saja yang melakukannya, aku tadi tidak sengaja menjatuhkan, aku minta maaf sudah membuat kekacauan," lirih wanita itu sembari menyeka air matanya.


Sementara itu Mommy dan Daddy yang masih duduk, mereka saling pandang, ada rasa bersalah telah mengatakan hal itu yang membuat sang menantu takut dan menangis.


"Daddy sudah bilang, jangan bicara seperti itu! Kalau sudah seperti ini, kita menjadi tidak enakan!" Daddy Abraham sedikit Kesal karena sang istri tak bisa menahan diri.


"Tapi apa yang Mommy katakan memang benar begitu adanya, Dad! Arsen terlalu larut dalam rasa bersalah sehingga dia hanya mementingkan semua tentang Aurel, tanpa memikirkan dirinya sendiri!" Mommy menyangkal ucapan suaminya, ia tak ingin disalahkan.


"Iya, Daddy tahu, tapi bukan berarti kita harus menyalahkannya Aurel, jika Arsen berusaha dan berjuang untuk meminta maaf dari Aurel, itu tandanya anak kita memang bersalah!"


Mommy Iswara tidak menyahut lagi ucapan suaminya, wanita baya itu masih larut dalam pikirannya, sebenarnya ia tidak bermaksud sedemikian, tetapi dirinya hanyalah seorang ibu, ketika mengetahu anak semata wayangnya mengidap penyakit serius maka prasangka itu datang secara tiba-tiba, karena ia tahu selama empat tahun ini sang anak selalu berjuang untuk meluluhkan hati sang menantu.

__ADS_1


Aurel berusaha untuk tetap tenang seakan tak terjadi apa-apa, ia sama sekali tidak menyalahkan ibu mertuanya, jauh di dalam relung hati, ia juga merasa bersalah karena tak bisa mengurus dan menjaga makanan suaminya dengan baik.


Setelah bersiap, Aurel menghampiri Arsen yang sedang duduk begong di sofa kamarnya. Arsen sangat merasa bersalah kepada Aurel yang ia yakini mendengar ucapan sang mommy.


"Mas, ayo kita berangkat sekarang, nanti kita telat, nomor antrian kamu kan dekat," ajak Aurel dengan wajah biasa saja.


"Sayang, sekali lagi aku minta maaf ya." Arsen kembali meminta maaf pada Aurel.


"Minta maaf apa, Mas? Ayolah, nanti kita telat ke RS." Aurel mengukir senyum tipis untuk menutupi masalah yang ada.


"Sayang, maafkan aku, maafkan ucapan Mommy yang menyakiti hatimu, aku tahu kamu kecewa dan terluka." Arsen meraih tubuh Aurel dan mendekapnya dengan erat, ia tahu sang istri sedang mencoba untuk baik-baik saja.


Seketika Aurel tak bisa menahan tangis, ia tidak menyalahkan ibu mertuanya itu, tetapi ia merasa bersalah telah membuat mereka kecewa, sehingga anak semata wayang mereka sakit karena dirinya.


"Tidak, Mas, aku sama sekali tidak menyalahkan Mommy, apa yang dikatakan Mommy benar adanya, akulah yang salah dalam hal ini. Aku sangat menyesal telah mengabaikan dan menyia-nyiakan dirimu selama empat tahun ini, aku tidak bisa menjadi istri yang baik, maafkan aku, Mas." Tangis Aurel pecah dalam dekapan Arsen.


"Sssht... Sudah, Sayang, aku sudah katakan bahwa ini bukan salah kamu, ini sudah takdir aku, mungkin saja ini karma dari Allah, karena telah membuat Bundamu meninggal karena aku."


"Tidak, Mas, jangan berkata begitu, jika Bunda melihat bagaimana sayang dan tulusnya cinta kamu padaku, aku yakin, Bunda pasti bahagia dan sudah memaafkan kamu,Mas," tutur Aurel masih dalam tangisan.


"Sudah, Sayang, jangan menangis lagi ya, kita kan ingin pergi, jika kamu menangis begini nanti mata kamu sembab, dan terlihat jelek." Arsen masih berusaha untuk memberi penghiburan pada sang istri yang kini hatinya sedang kacau.


Saat keluar dari kamar, mereka berpapasan dengan Mommy, wanita baya itu menatap datar, Aurel hanya tertunduk, ia tidak berani menatap wajah ibu mertuanya yang telah kecewa kepadanya.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2