
Arsen semakin memeluk tubuh Aurel dengan erat, rasa malu karena salah persepsi membuat wajahnya malu menggemaskan. Arsen menyembunyikan wajahnya di dada Aurel sehingga membuat wanita itu resah dan gelisah menerima perlakuan sang suami.
"Mas..." Desis Aurel menahan gejolak dalam tubuhnya, Aurel menahan wajah Arsen saat ingin menggusalkan hidungnya di dada Aurel sehingga menyentuh aset berharganya.
Arsen menatap wajah Aurel dengan sejuta rindu yang membara, "Apakah kamu tidak merindukan aku, Sayang?"
Aurel menatap Arsen dengan wajah merah merona, apakah malam ini mereka akan melepaskan segala rindu yang selama empat tahun ini mereka pendam.
"Mas, aku boleh pinjam laptop kamu nggak? Soalnya tugas aku gantung banget," ujar Aurel mengalihkan pembicaraan dan segera ingin beranjak dari pangkuan sang suami.
Arsen tak menjawab, tetapi ia menahan tubuh Aurel agar kembali duduk di pangkuannya, rasanya ia belum puas dengan keintiman yang sedang tercipta.
"Sayang, kenapa kamu diam tak menjawab pertanyaan aku?" Tanya Arsen penuh harap.
Aurel menghela nafas panjang, sepertinya sang suami sudah tak bisa menahan lebih lama lagi. "Baiklah, tetapi aku ingin menyelesaikan tugas kuliah dulu, kamu temani dan ajari aku ya." Pinta Aurel bertanda memberi angin surgawi pada kekasih halalnya itu.
Arsen tersenyum sumringah, mendengar jawaban sang istri. "Baiklah, Sayang. Ayo kita selesaikan tugasmu sekarang juga." Pria itu begitu bersemangat, Arsen berdiri sembari membopong tubuh Aurel dan membawanya keluar dari ruang kerjanya.
"Mas, turunkan aku." Aurel benar-benar terkejut mendapat perlakuan yang begitu manis dari Arsen.
"Tenanglah, Sayang. Aku tidak ingin melewatkan momen yang begitu berharga dan akan menjadi malam penuh kenangan untuk kita berdua."
Aurel hanya bisa pasrah menerima segala perlakuan mesra dari sang suami. Arsen mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah.
"Kamu tunggu disini ya, aku akan mengambil laptop di ruanganku sebentar, aku akan membantumu untuk menyelesaikan tugas kampus, setelah itu kamu harus membantu aku menyelesaikan rindu yang telah menumpuk dalam diriku." Pria itu mencuri kecupan di pipi Aurel dan segera beranjak menuju ruang kerjanya.
Aurel kembali menghela nafas dalam-dalam, ada rasa cemas dan nervous membayangkan hal itu akan kembali terulang. Jujur rasa trauma masih ada bagaimana dulu Arsen melakukannya tanpa kelembutan.
Saat wanita itu larut dalam lamunan, Arsen sudah datang membawa laptop miliknya, dan duduk di sisi Aurel, "Sayang mana hardisk laptop kamu?"
"Sayang..." Arsen mengusap bahu Aurel dengan lembut.
"Ah, ya. Mas ngomong apa tadi?" Aurel baru tersadar dari lamunannya.
"Mana hardisk laptop kamu? Ayo kita mulai sekarang."
__ADS_1
"Ah, ada disini." Aurel memberikan benda yang menyimpan segala file penting miliknya.
Dengan sabar Arsen menemani Aurel, dan membantu memecahkan masalahnya, sehingga tak perlu menunggu sampai satu jam, tugas itu akhirnya selesai.
Setelah selesai, Arsen segera membawa Aurel untuk masuk kedalam kamar yang biasanya digunakan Doni, karena sekarang Doni sudah menempati apartemen sendiri yang di berikan oleh Arsen.
Aurel bingung harus berbuat apa, perasaannya tak menentu ketika Pria itu sudah mulai merusuh pada tubuhnya. Debaran jantung dan desiran darahnya bekerja sangat cepat.
Arsen membaringkan tubuh Aurel dengan lembut dan penuh kasih sayang, perlahan bibirnya menyentuh bibir Aurel dan meresapi pergumulan lidah itu.
Aurel yang mulai terbuai oleh setiap sentuhan dari sang suami tanpa sadar dia mengeluarkan desa han dari bibir mungilnya.
Saat Arsen hendak membuka pakaiannya, kembali ingatan yang hampir lima tahun silam muncul di benaknya, Aurel refleks menghentikan tangan Arsen saat itu juga.
Aurel masih mengingat bagaimana perlakuan Arsen saat itu, Tanpa iba sedikitpun ia merobek pakaian Aurel secara paksa dan menyetubuhinya dengan kasar.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Arsen dengan nafas yang masih memburu.
Aurel memalingkan wajahnya, dia bingung harus bicara apa. Rasa takut masih menjalar. Ingin rasanya ia menepi sesaat untuk menetralkan perasaannya yang sedang resah.
"Mas..." Aurel merengkuh tubuh Arsen dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, dengan tangis terisak.
Arsen memeluk Aurel dengan penuh kasih sayang, dan mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Arsen setengah berbisik, ia bingung melihat sikap Aurel yang seperti orang ketakutan.
"Mas, bisakah kamu melakukannya dengan lembut? Aku, aku..."
Arsen segera mengecup bibir sang istri dan menenggelamkan wajah Aurel di dada bidangnya, Pria itu baru menyadari bahwa Aurel masih trauma atas segala perlakuannya di masa lalu.
"Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah menjadi lelaki yang bodoh, sangat bodoh!" Arsen meminta maaf sembari mengecup seluruh wajah Aurel tanpa terasa air mata penyesalannya menetes.
"Ayo tidurlah. Aku tidak akan melakukannya malam ini. Aku berjanji akan menghilangkan rasa trauma kamu." Arsen mendekap tubuh Aurel dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Aurel.
"Mas, maafkan aku. Aku siap tapi aku mohon lakukan dengan pelan."
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Aku tidak akan melakukannya sebelum rasa trauma kamu hilang. Tenanglah, aku masih bisa bersabar," ujar Arsen membuat Aurel tersenyum dan memejamkan matanya di pelukan Arsen.
Akhirnya pasangan halal itu tidur saling memberi kehangatan tanpa melakukan kontak fisik intim. Arsen harus menanamkan sabar dan berusaha untuk menghilangkan rasa trauma sang istri terlebih dahulu.
***
Pagi ini Haikal bangun cukup siang, karena tadi malam entah jam berapa ia baru bisa terlelap, entah apa yang membuat Pria itu sulit untuk memejamkan mata.
Saat bangun, Haikal melihat tempat tidur telah kosong tanpa penghuni, ia penasaran kemana perginya wanita bandel itu?
Dengan langkah berat Haikal keluar dari kamarnya menuju dapur untuk minum air putih hangat, karena ia sudah terbiasa dengan hidup sehat.
Saat tiba di dapur ia melihat Dewi sedang berkutat dengan peralatan dapur, Haikal sedikit tertegun melihat penampilan wanita itu, dengan rambut yang masih basah tergerai indah, dan menggunakan kaos oblong miliknya.
Ya ampun, dia berani sekali menggunakan pakaianku. memang benar-benar nakal.
Haikal Hanya menggelengkan kepala dan segera mengambil gelas menuju dispenser air hangat, ia sengaja tak menatap wanita itu.
"Morning... My Hubby." Dewi menyapa dengan senyum cerah.
"Uhuk... Uhuk...." Arsen menyemburkan Kembali air yang ada didalam mulutnya saat mendengar panggilan dari Dewi untuknya.
"Ya Allah, Bapak kenapa? Tuh kan, jadi basah." Dewi mengambil tisu dan menghapus sisa air yang ada di bibir Haikal.
"Ck, Dewi, kamu ini apaan sih? Awas, aku bisa menghapusnya sendiri!" Sergah Pria itu dengan ketus. Haikal menatap Dewi dengan kesal.
"Kenapa sih, marah-marah mulu, seharusnya Bapak itu senang mendapatkan perhatian penuh dari calon istri cantik dan seksi seperti aku," ujar Dewi tersenyum penuh percaya diri.
Haikal kembali menghela nafas panjang, dan menatap kesal pada anak muridnya itu. Ada apa dengan gadis ini? Semakin lama sikapnya semakin absurd .
"Apa kamu bilang? Calon istri?"
Bersambung...
Happy reading 🥰
__ADS_1