
Setelah Aurel pergi, Arsen terduduk di sofa nafasnya terasa sesak, Pria itu tak kuasa menahan air mata. Sungguh tak pernah terbayangkan olehnya bahwa kebahagiaan yang baru saja akan dimulai kini telah runtuh tak bersisa.
Arsen menghapus air matanya dengan kasar, dan beranjak menuju ke mansionnya. Setelah sampai di mansion, ia segera menelpon anggotanya yang ada di markas untuk mencari keberadaan Maura.
Sebenarnya Arsen tak ingin lagi berhubungan dengan mereka, tapi ia ingin membuat perhitungan dengan wanita itu.
"Cari Maura dan bawa kehadapanku sekarang juga!" Perintahnya dalam telpon dengan nada tinggi
"Dasar wanita bia dab! Kau harus membayar semua ini dengan mahal! Aku tidak akan mengampunimu!!" Serunya dengan amarah memuncak.
Sembari menunggu, Arsen menghubungi Doni, untuk menanyakan apakah istri dan anaknya telah berangkat, dan dipastikan mereka baik-baik saja.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya yang dinantikan datang. Maura masuk kedalam ruangan Arsen dengan wajah sumringah, ia mengira Arsen ingin bertemu karena merindukannya.
"Honey... Awak dah rindu dengan saye?" Maura segera menyongsong Pria yang sedang menyorotnya dengan tajam.
Saat Maura hendak memeluknya maka Pria itu segera menahan tubuh wanita itu dengan mencekik leher Maura dengan kuat.
"Akh... Le-lepas Arsen! Akh...!" Ucapnya dengan nafas yang hampir hilang.
"Dasar wanita b3ren6sek! Beraninya kau bermain denganku! Kau belum tahu siapa aku Hah?!!" Bentak Arsen sembari menghempas tubuh wanita itu kelantai dengan kuat.
"Uhuk...Uhuk...!" Maura tersedak, ia berusaha untuk mengembalikan nafasnya yang hampir berhenti.
"A-apa maksud awak ni? Kenapa awak cakap macam tu?" tanyanya pura-pura tidak tahu, maka membuat Arsen kembali naik pitam.
"Heh! Wanita J4l4ng! Kau jangan membuatku semakin muak! Jangan sampai kulit mulusmu ini aku berikan pada singa peliharaanku! Katakan padaku apa yang telah kau lakukan?!"
Arsen kembali menjambak rambut wanita itu dengan kuat, Seakan Pria itu tak menaruh iba sedikitpun. Bahkan tak segan ia menampar wajah Maura berulang kali.
"Apakah kau masih tak ingin mengakui apa yang telah kau perbuat sehingga istriku pergi meninggalkan aku! Maka aku tidak akan membuat hidupmu tenang Maura!!" Bentak Pria itu kembali
"Arsen, saye mohon tolong lepaskan! Awwkh... Sakit, Lepas Arsen! Kenapa awak kasar macam ni? Apakah tak de sedikit pun rase cinta awak Kat saye?!" Jerit wanita itu dengan tangis histeris.
"Cinta? Cinta kau bilang? Hng! Tak ada cinta sedikitpun, yang ada hanya kebencian! Rasanya saat ini aku ingin sekali mematikanmu!!"
"Arsen, tolong lepaskan! Sa-saya mengakui segala perbuatan saya, saya memang salah! saya dah buat rumah tangga awak kacau."
__ADS_1
Maura menangis mengiba, ia menceritakan semuanya kepada Arsen, dan memohon ampun. Wanita itu benar-benar merasa ketakutan ia sampai bersujud di kaki Arsen agar dimaafkan.
Arsen kembali menarik rambut Maura dengan kuat. "Sekarang pergilah! Andai saja kau seorang lelaki maka hari ini juga kupastikan nafasmu berhenti! Sayangnya aku masih punya hati nurani, karena kau seorang perempuan! Tapi ingat jika kau masih berani mengganggu hidupku lagi, maka tak ada ampun untukmu!!"
Arsen menghempaskan tubuh Maura dan menyuruh untuk pergi dari hadapannya. Wanita itu segera beranjak dengan tubuh yang kacau. Wajahnya yang cantik dan mulus kini penuh lebam.
Maura berpapasan dengan Makcik Leha. Wanita tua itu tersenyum senang melihat penderitaan Maura.
"Macamane? Awak dah tau rase? maka sebab tu jaga sikap dan perilaku! Jangan asal nak bebual je!"
"Tutop mulut awak tu pempuan tue!" Bentak Maura pada Makcik Leha, ia masih tak terima.
"Dahlah! Pegilah awak kat sini! Jangan sampai awak terkena amukan Tuan Arsen lagi! Jadikan semuanye sebagai pedoman!" Ujar Makcik Leha yang segera meninggalkan Maura yang masih terpaku.
--indonesia--
Kini satu minggu Aurel dan baby Alif berada di kediamannya kembali. Aurel berusaha untuk tetap tagar dalam menjalani kehidupannya, ia sudah tak berharap lagi Arsen kembali.
Malam ini Aurel begitu lelah karena hari ini Alif sangat rewel, ia selalu menangis walaupun sudah kenyang tetapi bayi itu masih gelisah.
Hingga jam 21.30 ia masih saja rewel. Bibi Ana juga kebingungan maka Aurel menyuruh Bibi Ana untuk pulang saja, karena Bibi Ana sudah terlihat lelah. Aurel juga sangat sungkan telah banyak merepotkan wanita baya itu.
Dengan rasa takut Aurel membukakan pintu, ia berpikir mungkin Bibi Ana yang datang kembali.
Saat pintu terbuka, Aurel terperanjat siapa tamunya itu. Arsen berdiri dihadapannya dengan wajah datar, Pria itu terlihat dingin, tak seperti biasanya.
"Untuk apa kamu datang?" Tanya Aurel ketus.
"Aku datang bukan untuk dirimu, tetapi untuk Anakku!" Jawab Arsen yang segera menyelinap masuk kedalam rumah
"Apa maksud kamu?"
"Apa maksudku? Tentu saja aku ingin bertemu Alif!" Arsen menampung tangan untuk menggendong bayi itu.
"Tidak! Kamu tidak boleh mengambilnya dariku!" Sergah Aurel dengan lantang.
"Aurel, turunkan nada bicaramu! Ini sudah malam jangan membuat para tetangga mendengar!"
__ADS_1
"Biarkan saja! Aku tidak akan sudi memberikan anakku padamu!"
"Hei, siapa yang ingin mengambilnya? Aku hanya ingin bertemu dengan putraku! Kamu jangan pernah menghalangi aku! Atau aku benar-benar akan mengambilnya darimu!" Tekan Arsen pada Aurel.
"Berikan padaku! Aku ingin menggendongnya!" Pinta Arsen.
Mau tidak mau Aurel menyerahkan Alif pada sang Daddy. Arsen tersenyum bahagia menggendong tubuh mungil itu.
"Hai, anak Daddy apa kabar? Daddy kangen banget sama Alif, apakah kamu baik-baik saja sayang?"
Arsen membawa bayi mungil itu bicara dan duduk di ruang tamu, sementara itu Aurel masuk kedalam kamar. Ia membiarkan anak dan bapak itu saling melepaskan rindu.
Aurel juga tak mendengarkan bayi itu menangis lagi. Apakah benar yang dikatakan Bibi Ana bahwa Alif merindukan Daddynya? Benarkah mereka mempunyai ikatan batin yang sangat kuat?
Aurel bertanya-tanya dalam hati. Karena dia juga merasakan hal itu semenjak dari kandungan, hingga ia melahirkan, Alif tidak ingin keluar sebelum Daddynya datang.
Aurel sudah terlalu kecewa, ia merasa Arsen telah membohonginya. Dia harus mengambil sikap, biarkan ayah dan anak itu bertemu kapan saja Arsen mau, tapi ia sudah tak ingin lagi kembali.
Setelah cukup lama menunggu, Arsen masih betah bermain dengan bayi mungil itu, sehingga membuat Aurel harus mengambil sikap.
"Sudah cukup Tuan, ini sudah terlalu larut malam. Sekarang pergilah, aku ingin istirahat," ujar Aurel dengan nada sedikit mengusir.
"Siapa yang melarangmu untuk istirahat? Kalau mau tidur yasudah tidur saja," ujar pria itu acuh
"Tuan, anda jangan ngelunjak! Ini sudah malam mana ada orang bertamu semalam ini. Sekarang pulanglah!" Usir Aurel kesal
"Hahaha... Tamu? Aurel, Aurel. Aku ini suami kamu, aku pulang kerumah istriku. Lucu sekali kamu menyuruhku pulang," Pria itu tertawa menganggap ucapan Aurel lucu.
Aurel menyorot Pria itu dengan amarah yang memuncak. Kenapa Pria ini begitu keras kepala dan mengesalkan.
"Sekarang pergilah Tuan, aku tidak pernah menganggapmu sebagai suamiku lagi! Jadi aku tidak ingin satu atap dengan kamu!"
Kali ini ucapan Aurel begitu menyakitkan, tetapi Arsen mencoba tetap tenang walaupun hatinya terasa begitu nyeri.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi ingat! Aku akan datang setiap hari mengunjungi Putraku!"
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰