Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Menemui Haikal


__ADS_3

Pagi ini Dewi tampak lebih segar, mungkin karena sudah di janjikan oleh Mama Hema akan mengunjungi Haikal bila kondisinya sudah membaik.


"Bu, kita jadi kan, bertemu Mas Haikal, hari ini?" Tanya Dewi tidak sabaran.


"Apakah kondisi kamu sudah membaik?" Tanya Mama Hema.


"Alhamdulillah, aku sudah baik, Bu, tidak merasakan nyeri lagi." Balas Dewi.


"Panggil aku Mama!" Titah wanita baya itu.


"Ba-baiklah, Ma." Dewi mengangguk patuh.


"Ayo habiskan sarapan kamu dulu. Susunya jangan lupa diminum. Setelah itu kita ke tahanan," ujar Mama Hema yang membuat senyum Dewi sumringah.


"Bai, Ma." Dewi segera menghabiskan sarapannya dan meminum susu hamil yang dikhususkan untuk dirinya.


Reza hanya tersenyum Melihat polah kakaknya. Sebegitu bahagianya seseorang bila ingin bertemu dengan pujaan hatinya? Hah, orang dewasa begitu membingungkan.


Sepertinya aku harus mencoba juga untuk mempunyai kekasih. Agar hidupku lebih berwarna, tidak gini-gini aja.


Batin Pria remaja itu. Jujur saja, Reza selama ini belum pernah pacaran, karena dia tidak ingin membuat cita-citanya terganggu karena hal sedemikian.


Setelah selesai makan, Dewi dan Reza segera beranjak bersama Mama Hema menuju tahanan dimana Haikal ditahan saat ini.


Setibanya di tahanan, mereka duduk diruang tunggu. Tak berselang lama penjaga lapas keluar di ikuti oleh Pria yang begitu dirindukan oleh Dewi. Hati wanita itu sedih melihat keadaan suaminya.


Hanya karena sebuah perjodohan, Haikal harus menerima hukuman. Rasanya sungguh tak adil, suaminya bukan seorang tindak kriminal, tapi kenapa dia harus menerima hukuman ini.


"Sayang!" Seru Haikal saat melihat Dewi yang sudah menangis.


"Mas..." Dewi segera menabrakkan tubuhnya pada Pria itu, dan menangis dalam dekapannya. "Ini tidak adil, Mas, kamu bukan seorang penjahat, tapi kenapa kamu harus dihukum? Kalau ingin menghukum kenapa tidak aku saja. Aku yang membuat hati kamu berpaling."

__ADS_1


Isak Dewi dengan segala racauannya yang begitu tidak tega melihat suaminya mendekam di penjara. Hatinya benar-benar hancur.


"Jangan bicara seperti itu, Sayang, aku sudah katakan bahwa ini tidak akan lama. Ayo kita duduk." Haikal menggiring istrinya untuk duduk.


Dewi masih menangis, tak ingin lepas dalam dekapan sang suami. Sementara Reza dan Mama Hema hanya diam memperhatikan mereka.


"Kamu kenapa bandel sekali, Dek? Aku sudah katakan jangan cemas, aku akan kembali padamu setelah hukuman ini selesai." Haikal sedikit mengomel pada istri kecilnya itu, tapi sebenarnya sangat rindu dan cinta.


"Kamu kenapa bicara seperti itu? Apakah kamu tidak merindukan aku, Hiks... Kamu jahat, kamu tidak tahu bagaimana aku selama seminggu ini stress mikirin kamu!" Balas wanita itu dengan tangis semakin keras.


"Sssht... Udah diam ya, jangan menangis lagi, Sayang, aku juga sangat merindukan kamu. Aku cinta kamu. Maafkan aku sudah membuat kamu cemas."


Haikal kembali membawa Dewi dalam dekapannya, dan menghadiahi seluruh wajah cantik istrinya dengan kecupan.


"Haikal, Mama sudah menyewa pengacara untuk mengeluarkan kamu dari sini," ujar Mama ikut masuk dalam obrolan mereka.


"Maksud Mama? Bukankah semua sudah jelas dengan surat perjanjian itu?" Tanya Haikal belum mengerti.


Mama Hema menjelaskan pada sang anak yang kemungkinan besar bisa membebaskan Haikal dari jeratan hukum itu.


"Mama, serius? Kenapa saat aku membaca surat perjanjian itu tidak ada kalimat yang seperti itu?" Tanya Haikal heran


"Hah? Masa sih? Ada kok, Mama masih ingat dengan kata-kata di surat perjanjian itu!" Mama Hema merasa aneh.


"Serius, Ma, aku tidak ada membaca pernyataan yang seperti itu." Haikal kembali meyakinkan sang Mama.


"Apakah mereka berbuat curang memanipulasi surat itu. Dengan menghilangkan kalimat itu. Tapi Mama punya yang aslinya," jelas Mama.


"Mama serius? Kenapa Mama tidak memberikan padaku waktu itu?" Tanya Haikal bersemangat.


"Iya, Mama kira isinya surat itu sama dengan punya Mama, karena saat itu kami sama-sama memegang surat perjanjian itu."

__ADS_1


"Baiklah, Ma, tolong nanti Mama baca ulang surat perjanjian itu. Jika benar mereka berbuat curang, kita tidak perlu membawa kasus ini ke persidangan. Mama tinggal berikan Surat perjanjian itu pada pihak kuasa hukum kita, biar mereka yang mengurusnya. Aku akan keluar dari tahanan ini."


"Baiklah, nanti Mama cek kembali isi surat perjanjian itu. Apakah kamu sudah sarapan? Ini Mama bawakan kamu sarapan." Mama mengambil sarapan yang tadi dia bawa dan memberikan pada sang Anak.


"Terimakasih ya, Ma, terimakasih juga Mama sudah mau menerima kehadiran Istriku," ujar Haikal dengan haru, karena dia masih ingat bagaimana marahnya sang Mama saat ia menceritakan perihal pernikahannya dan Dewi.


"Ya, harus bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur, apalagi sekarang ada calon cucu Mama di dalam rahim istrimu," ucap Mama yang terlebih dahulu memberi tahu pada anaknya.


"Maksud, Mama?" Haikal masih belum mengerti dan menatap Dewi minta penjelasan.


"Mas, aku hamil. Baru jalan dua bulan." Dewi segera membenarkan ucapan Mama mertuanya.


Haikal tak mengerti bagaimana mengungkapkan perasaannya saat ini. Semua rasa bercampur baur dalam hatinya. Disisi lain dia sangat bahagia, tetapi juga sedih disaat seperti ini, tak bisa membersamai sang istri yang sudah jelas sangat membutuhkan perhatian khusus darinya.


Haikal kembali memeluk Dewi dengan penuh kasih sayang, "Aku sangat bahagia, Sayang, akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah."


Dewi hanya mengangguk dan kembali menangis dalam pelukan sang suami. "Mas, aku disini saja sama kamu. Aku tidak ingin pisah dari kamu," ujar Dewi dalam tangisnya.


"Jangan, Sayang, mana boleh begitu. Mana ada napi yang di perbolehkan satu tahanan dengan pasangannya. Dengarkan aku ya sayang! Ini tidak akan lama. Kamu percaya sama aku ya."


Haikal masih mencoba meyakinkan Dewi, ia sangat tahu perasaan istrinya itu, saat ini Dewi pasti sangat membutuhkan dirinya.


"Tapi, sampai kapan, Mas? Aku tidak mau kita berpisah. Aku ingin makan disuapi kamu, aku juga ingin tidur di peluk kamu, kamu tahu selama kita berpisah, makanku tidak enak, tidurpun tak nyenyak, Mas."


Wanita itu menceritakan segala keluhan dan penderitaannya selama berpisah dengan Pria kesayangannya itu.


"Jangan bicara seperti itu, Sayang, aku jadi tidak tenang disini. Kamu sabar ya, percaya sama aku. sebentar lagi kita pasti akan bersama Kembali." Haikal masih berusaha membujuk wanita hamil itu. Ia sangat paham tingkat kemanjaan sang istri lebih meningkat saat ini.


Dia juga tidak tega mendengar segala aduan Dewi yang membuat hatinya sedih. Tapi ia sadari betul, semua butuh proses untuk keluar dari tahanan itu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2