Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Resepsi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan segala urusannya di Malaysia, Arsen dan Aurel sudah sepakat untuk kembali ke Indonesia. Mereka sudah memutuskan untuk tinggal menetap di kota bertuah itu.


Sementara perusahaan yang di kelola oleh Arsen yang di Malaysia, di serahkan oleh pamannya. Namun, tetap dalam pengawasan Arsen sendiri, Pria itu akan siap kapanpun bila di butuhkan.


Sementara Mommy dan Daddy, kembali ke Australia, orangtua itu masih nyaman tinggal disana. Walau Arsen dan Aurel sudah berulang kali meminta agar mereka tinggal bersama, tetapi, Mommy dan Daddy masih belum mau.


Sebagai anak, Arsen hanya mengikuti senyaman kedua orangtuanya saja, kapanpun ingin datang dan tinggal bersama, mereka akan siap menerima.


Setelah satu bulan mereka menetap di Indonesia, seperti janji Arsen dulu, dia ingin mengadakan acara resepsi pernikahan mereka. Kali ini Arsen menggelar pesta yang sangat mewah, pesta pernikahan, sekaligus pesta perayaan atas keberhasilan istrinya yang menyandang gelar Dokter dengan nilai terbaik.


Semua keluarga dan sanak famili dari Arsen datang menghadiri acara pernikahan mereka. Mommy dan Daddy sudah tiba di tanah air.


"Bun, kenapa Bunda dan Daddy harus menikah kembali?" tanya Alif yang tidak mengerti. Bocah itu tahunya jika ada acara sedemikian adalah orang yang baru menikah.


"Hehe... Bunda dan Daddy bukan menikah lagi, Nak, tapi, cuma menggelar acara resepsi pernikahan kami yang dulu sempat tertunda," jelas Aurel pada anak sulungnya.


"Lihatlah, Abang Alif terlihat tampan seperti Daddy," celoteh Anisa memuji sang kakak di tengah-tengah kedua orangtuanya.


"Kamu juga cantik seperti Bunda," balas Alif tersenyum kembali memberi pujian pada adiknya.


"Jelas dong, kalian itu anak Daddy dan Bunda, ya tentu saja kalian akan mengikuti Daddy dan Bunda," sambung Arsen.


Pasangan itu terlihat begitu bahagia, yang jelas Aurel sangat bersyukur dan bahagia, apa yang selama ini ia impikan sudah menjadi kenyataan. Kini semua orang sudah tahu bahwa dirinya adalah istri dari Arseno Abraham Putra pengusaha terkenal di negeri Jiran itu.


Tak tanggung-tanggung pula tamu yang datang, relasi-relasi yang bekerjasama dengan perusahaan Arsen, mereka menyempatkan diri untuk datang.


Di sela-sela obrolan keluarga kecil itu di pelaminan, Doni dan Lina datang menghadiri acara resepsi mereka.


"Selamat ya, Bos, benar-benar pesta yang mewah dan istimewa. Semoga tetap bahagia." Doni menyalami Bosnya itu, memberi ucapan selamat.


"Terimakasih, brother." Memang tokcer kamu, kapan nih mau bongkar mesin?" seloroh Arsen, melihat perut Lina yang sudah membuncit.


"Hahaha... Iya dong. Bos jangan mau kalah, Anisa sudah bisa diberi adik lagi tuh," balas Doni.


"Tenanglah, akan segera di proses, tapi..."


"Mas..." Aurel menyikut suaminya, Arsen hanya tersenyum melihat istrinya yang kesal dengan omongan.


"Selamat ya, Rel. Semoga selalu bahagia, samawa. Juga sukses atas segala yang telah diraih." Lina juga memberikan selamat pada Aurel.


"Terimakasih, Mbak Lina. Do'a yang sama buat Mbak. Oya, kapan nih lahirannya, Kak?" tanya Aurel melihat kandungan Lina yang sudah membesar.


"HPL nya akhir bulan ini, Rel. Do'ain saja semua lancar ya."


"Aamiin, insyaallah lancar ya, Mbak."


Acara resepsi pernikahan itu memang di ambil konsep bebas, pengantin tidak harus selalu duduk di pelaminan. Maka, Aurel dan Arsen membawa para tamu undangan yang menurutnya sangat penting untuk duduk di meja dan kursi yang dikhususkan untuk mempelai menyambut tamu mereka.


Arsen masih sibuk ngobrol dengan asistennya, sementara Aurel dan Lina menyicipi satu persatu hidangan yang telah bersedia.


"Ini kayaknya enak deh, Mbak, cobain deh," ujar Aurel memberikan beberapa potong kek super lembut coklatnya juga lumer banget.

__ADS_1


"Iya, nih enak banget. Mau dong aku, ih, sumpah bisa bungkus nggak ya..." Cicit Lina yang hilang rasa malu, saat menemukan makanan yang cocok di lidahnya.


"Eh, nggak malu ya, bumil yang satu ini. Udah makan banyak minta bungkus lagi, aduh Mas Doni besok-besok kak Lina jangan di bawa ke pesta. Malu-maluin, Mas..." ujar Dewi yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.


"Dewi! Ya ampun, aku seneng banget ketemu sama kamu. Udah hampir satu bulan aku disini, kamu baru balik, masih untung kamu datang, kalau nggak, putus hubungan kita dengan nyamuk," seru Aurel yang begitu senang melihat sahabatnya yang baru menampakkan batang hidungnya. Dikarenakan selama sebulan ini Dewi berada di Jakarta di kediaman orangtua Haikal.


"Maafkan aku, Sayang, aku hampir sebulan ini mabuk berat, jadi nggak sanggup ngapa-ngapain," jelas Dewi mengatakan alasannya.


"Mabuk? Kamu ngisi lagi?" tanya Aurel


"Iya, Rel, hamil aku yang sekarang benar-benar menyiksaku."


"Alhamdulillah... Berarti sibocil mau punya adik lagi dong, udah nikmati saja prosesnya," jelas Aurel sembari mengusap perut sahabatnya.


"Biasa itu anak kedua, Mbak juga begitu. Hamil yang sekarang, dua kali masuk RS karena dehidrasi karena tak ada cairan," sambung Lina pada kedua adik-adiknya itu, karena umur Lina memang agak jauh diatas Aurel dan Dewi maka dialah sebagai kakak pada keduanya.


Kini ketiga wanita itu bercerita membahas bermacam-macam, dari urusan makanan hingga masa kuliah, sampai merembes urusan di atas ranjang. Tatkala tawa mereka mengganggu konsentrasi para Om-om yang sedang ngobrol.


Sementara itu anak-anak mereka sibuk bermain dan bercanda bersama. Mereka tampak begitu ceria didalam pengawasan para pengasuh yang telah ditugaskan untuk menjaga mereka.


Berbeda dengan ke empat Pria itu, mereka ngobrol membahas seputaran pekerjaan, hingga dunia olahraga. Dan ternyata Hasan juga telah bergabung dengan mereka.


"Eh, bang Hasan! Mana Kak Tamara? Kok nggak ikut, bang?" tanya Aurel yang menghampiri sahabat suaminya yang datang jauh-jauh dari negeri Jiran untuk menghadiri acara resepsi mereka.


"Maaf, nggak bisa hadir, Dek, karena kakakmu sedang ada tugas di luar negeri, dia benar-benar minta maaf tak bisa menghadiri," jelas Hasan pada Aurel.


"Ya, tidak apa-apa, Bang. Kami paham kok. Abang sudah makan? Ayo di nikmati dulu hidangannya Bang," ujar Aurel mempersilahkan dengan ramah.


"Baiklah, tapi boleh nggak, diambilkan oleh kamu," ucap Hasan ingin mengerjai Arsen.


"Eh, apaan kamu, manja banget jadi orang. Udah sana ambil sendiri," balas Arsen segera beraksi.


"Ya ampun, sekali-sekali dilayani oleh adikku sendiri apa salahnya," ujar Hasan tak mau kalah.


"Udahlah, Mas, kamu kenapa sih? Ya nggak pa-pa aku mengambilkan makan buat Bang Hasan. Dia sudah seperti Abangku sendiri," bela Aurel.


"Tu, rasain. Emang enak. Huu..." Hasan tersenyum bahagia melihat wajah Arsen yang kusut seperti jeruk purut.


"Apaan sih anak itu! Sok-sokan manja, enak banget minta dilayani makannya sama bini aku." Rungut Arsen.


"Hahaha... Posesif banget sih kamu. Sama teman sendiri aja begitu. Padahal dulu waktu kuliah, Aurel selalu aku yang jaga, tapi nggak ada tuh sikap cemburuan begini," ujar Haikal menimpali ucapan Arsen.


"Ya, sebenarnya waktu itu aku juga tak tenang sih, tapi harus gimana lagi, untung saja aku mempunyai teman yang memang benar-benar setia kawan."


"Oh, jadi ceritanya waktu itu kamu juga ada menaruh curiga sama aku? Dasar payah kamu."


"Hehe... Sedikit Bro."


Setelah selesai acara resepsi pernikahan mereka, kini para tamu undangan yang tadi memenuhi gedung resepsi itu, mereka sudah berangsur pulang, karena hari sudah mulai larut.


Arsen dan juga keluarga mulai beranjak untuk meninggalkan gedung resepsi yang khusus disewa untuk acara mereka. Sebelum pulang , Arsen sudah berpesan pada Doni untuk menyediakan hadiah kejutan untuk Aurel.

__ADS_1


Malam ini pasangan itu sudah ingin tidur untuk melepaskan segala penat, seharian menjadi ratu dan raja, membuat lelah bergelayut pada tubuh dan setiap persendian.


"Daddy..." Panggil Anis pada sang Daddy yang hendak merebah disamping istrinya.


"Ya, sayang."


"Kenapa bocil itu belum tidur juga, Mas?" tanya Aurel Kembali membuka matanya, karena terusik dengan panggilan Putri kecil mereka yang manja.


"Pasti minta ditemani tidur, padahal ada Omanya," ujar Arsen yang segera beranjak membukakan pintu kamar.


"Eh, ada apa, Nak?" tanya Arsen melihat bocah yang berumur empat tahun itu merengek-rengek.


"Nggak tahu, nggak mau Oma temani tidur, katanya mau bobok ditemani Daddy," jawab Mommy Iswara yang ikut mengekor dibelakang cucunya.


"Yauda, Mom, biar aku saja yang temani dia bobok, Mommy istirahat saja," ujar Arsen pada Mommy.


"Yaudah, Adek benaran nggak mau bobok di temani Oma?" tanya wanita itu meyakinkan cucunya kembali.


"No, Oma, Adek mau bobok cama Daddy dan Bunda," seru bocah itu.


"Hihi... Baiklah, bocah, kalau begitu Oma bobok dulu ya. Sini sayang Oma dulu." Wanita itu segera memberi kecupan pada cucu perempuannya, dan dibalas oleh sang cucu.


Setelah Mommy masuk kamar, Arsen segera menggendong putri kecilnya, dan membawanya masuk kedalam kamar.


"Adek, mau bobok sama Daddy dan Bunda?" tanya Arsen sembari berjalan menuju tempat tidur.


"Yes, Dad. Adek mau bobok sama Daddy dan Bunda."


Aurel segera menggeser memberi ruang untuk putrinya. "Kok tumben Adek pengen bobok sama Daddy dan Bunda?" tanya Aurel meraih tubuh bocah kecil itu masuk kedalam pelukannya.


"Adek takut, Mom, tadi Abang bilang ada hantu dikamar Adek, Abang nakal." Adu bocah kecil itu pada kedua orangtuanya.


"Ya ampun, Abang bilang begitu sama Adek? besok Bunda bilangin, nggak boleh nakal sama Adek, bang. Kasihanilah Adek Abang yang cantik ini, Iyah, besok Bunda bilangin ya, udah sekarang Adek bobok ya, mana ada hantu dirumah kita ini. Benar 'kan, Dad?" tanya Aurel, agar putrinya tidak takut.


"Iya, benar banget, Abang hanya bercanda itu, Sayang." Arsen ikut memeluk istri dan anaknya, sembari mengecup kepala putri kecilnya.


Akhirnya pasangan itu tidur ditemani oleh bocah, tidak ada acara naninu. Karena mereka sangat lelah maka tidurlah yang mereka butuhkan agar penat segera sirna.


Pagi sekitar jam sembilan pagi, setelah sarapan, dan mereka sedang ngobrol santai, sebuah pesan masuk di ponsel Arsen, ternyata dari Doni, mengatakan bahwa semua acara sudah selesai, tinggal menunggu kehadiran mereka.


"Sayang, ayo bersiap sekarang. Aku akan membawamu kesuatu tempat," ujar Arsen pada Aurel, membuat wanita itu heran menatap suami dan Mommy mertuanya.


"Kita mau kemana,Mas?" tanya Aurel penasaran.


"Udah, Nggak usah banyak tanya, aku akan mempertemukan kamu dengan seseorang. Semoga saja kamu bisa menerimanya,"


Ucapan Arsen membuat Aurel semakin tidak mengerti dan jantungnya berdebar, pikiran wanita itu semakin was-was.


Bersambung.....


NB. Maaf jika tulisan author sangat acakadul. Karena terburu-buru. Akan berusaha di perbaiki. Satu bab lagi tamat ya😌

__ADS_1


__ADS_2