Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Menikmati momen indah


__ADS_3

Setelah selesai mengenakan pakaian Alif, Arsen menimang bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang, berulang kali ia memberikan kecupan hangat di wajahnya namun, bayi mungil itu terlihat begitu nyama tidurnya.


Arsen menaruh bayi mungil itu kedalam boks, setelah itu ia segera keluar, Arsen ingin mandi karena tadi di rumah ia tidak sempat mandi.


"Mau ngapain?" Tanya Aurel yang baru keluar dari kamar mandi, wanita itu sudah mengenakan pakaiannya di dalam kamar mandi.


"Mau mandilah!" Jawab Arsen santai segera masuk ke kamar mandi.


"Eh, kalau mau mandi beli dulu perlengkapannya! Aku tidak mau satu sabun dengan kamu!" Teriak wanita itu dari luar.


Arsen yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, walaupun terasa sakit.


Apakah dia benar-benar membenciku?


Arsen kembali keluar dari kamar mandi, dan segera mencari warung terdekat untuk membeli perlengkapan mandi, ia tidak ingin membuat Aurel merasa tidak nyaman dan semakin membencinya.


Setelah selesai mandi Arsen menuju ruang tamu, tetapi saat melewati dapur Pria itu mencium aroma masakan yang begitu lezat. Ia menghampiri sang istri yang sedang serius dengan masakannya.


"Kamu masak apa?" Tanyanya yang mendapatkan tatapan tidak suka oleh Aurel.


"Bukan urusanmu!" Jawab wanita itu ketus.


"Aku boleh 'kan minta makan sama kamu?"


"Bayar!" Jawabnya singkat.


Arsen tersenyum. Tidak masalah ia harus membayar berapa saja asalkan ia bisa makan masakan istri tercinta.


"Baiklah, aku akan membayarnya. Kamu catat saja berapa aku harus membayar setiap bulannya."


Aurel mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan Pria itu yang mengatakan perbulan.


Mau sampai kapan dia disini? Apakah untuk selamanya dia tinggal disini? Terus bagaimana dengan tunangannya? Ih, apaan sih aku harus memikirkan hal itu.


Setelah selesai, Aurel segera menata hidangan diatas meja. Dan Arsen sudah duduk anteng menunggu di meja makan.

__ADS_1


Aurel hanya cuek tak mau ambil pusing, setelah selesai menata makanan ia segera mengisi piringnya sendiri. Namun, Pria itu ikut menampungkan piringnya minta diambilkan. Aurel tidak mempedulikan ia meletakan sendok itu kembali agar Arsen mengambil sendiri.


Pria itu tetap tersenyum. Baginya tak masalah, setidaknya ia masih bisa makan bersama istri tercinta.


Aku tidak peduli sebesar apapun amarahmu Sayang. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa menerimaku lagi.


Mereka makan dalam keheningan, terkadang terdengar suara Arsen memecah keheningan, tetapi Aurel tak menanggapi dan tetap diam.


Setelah selesai makan dalam keheningan, Arsen masih duduk di kursi meja makan itu sembari memperhatikan sang istri yang sedang merapikan piring kotor.


Aurel merasa risih karena selalu diperhatikan. Pria itu, membuat ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pergi dari hadapan Arsen.


"Kamu tidur di ruang tamu, jangan coba-coba masuk kedalam kamarku," Peringatan Aurel sebelum beranjak dari hadapan Arsen.


"Baiklah, tapi pintu kamar jangan dikunci!" Jawab Pria itu enteng.


"Apa? Kamu kira aku percaya begitu saja! Mana mungkin aku mempercayai kamu."


"Tenanglah, aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin ikut mengurus putraku saat malam hari."


"Awas kalau kamu berani macam-macam! Aku akan berteriak agar kamu dihajar warga!"


"Hahaha... Kamu ini sangat lucu dan menggemaskan! Apakah ada kasus suami memperkosa istrinya sendiri? Hahaha... Kamu benar-benar lucu." Kekeh Pria itu tak bisa berhenti.


"Diam!" Bentak Aurel yang segera beranjak masuk kamar.


Arsen masih tertawa melihat tingkah istrinya itu. "Aku sangat merindukan kamu, Sayang. Semoga hatimu segera melembut," gumamnya pelan dengan wajah sendu.


Arsen terbangun saat mendengar bayi mungil itu merengek-rengek, ia segera bergegas masuk kedalam kamar dan memeriksa anaknya, ternyata Pampers bayi itu sudah penuh, Arsen segera menggantinya


Setelah diganti bayi itu kembali tidur sebelum Arsen sempat membangunkan Aurel untuk memberinya ASI.


Setelah meletakkan bayi itu di dalam boks, Arsen duduk di pinggir ranjang, ia menatap wajah cantik istrinya yang tidur begitu lelap.


Tanpa membuang kesempatan, Arsen ikut merebah disamping Aurel, ia mengecup kening Aurel dengan pelan. Arsen memeluknya dengan hati-hati agar sang istri tidak bangun.

__ADS_1


Arsen menikmati momen itu, walaupun Aurel sangat tidak menginginkan, ia akan pindah ke ruang tamu kembali sebelum Aurel terbangun.


Maafkan aku Sayang. Aku tahu kamu sangat membenciku, tapi aku mohon tolong izinkan aku memelukmu walau sesaat. Aku sangat merindukanmu. Aurelku Sayang, aku rela dibenci olehmu asalkan aku masih bisa memelukmu. Aku akan menerima segala amarahmu, aku tahu ini adalah balasan atas segala perbuatanku padamu.


Sebelum tidur, Arsen memasang alarm dan menggunakan headset di telinganya agar alarm itu hanya dia yang mendengar saat berbunyi, dan ia akan segera pindah ke ruang tamu sebelum Aurel terbangun.


Arsen segera memejamkan matanya dan tidur dengan nyaman sembari memeluk sang istri, hingga alarm berbunyi.


Arsen segera bergegas bangun dan tersenyum lega, ternyata sang istri belum bangun. Arsen mengusap mahkota wanitanya itu dengan lembut dan memberi kecupan hangat di kening sang istri sebelum ia beranjak pindah keluar.


Saat ia ingin beranjak keluar kamar, ternyata Alif sudah merengek dan menangis, mungkin bayi itu sudah haus, maka Arsen kembali mengurus Alif mengganti Pampersnya setelah selesai mengurus bayi mungil itu, ia segera membangunkan Aurel dengan suara pelan agar sang istri tidak tersentak.


"Sudah jam berapa ini?" Tanya Aurel menatap jam dinding yang ada di kamarnya itu.


Hah Sudah jam setengah enam pagi? Apakah Alif baru bangun? Atau aku yang tidur sangat nyenyak.


"Ayo beri dia ASI dulu, sepertinya Alif sudah haus." Arsen menyerahkan bayi itu kepada ibundanya, setelah itu ia kembali keluar.


Jam delapan pagi Arsen menghubungi Doni untuk menjemputnya. Sebelum pergi ia menemui sang Putra yang baru saja selesai mandi.


"Alif, Daddy kerja dulu ya,Nak. Jangan rewel ya, nanti Bunda lelah." Pesan pria itu pada anaknya dan memberi kecupan di wajah mulus itu.


"Aku pergi ya. Kalau kamu butuh sesuatu beri kabar aku," ucap Arsen pada Aurel.


"Tidak perlu repot-repot. Aku tidak butuh apa-apa. Yang aku butuhkan adalah kenyamanan. Akan lebih nyaman dan tenang bila kamu tidak datang ke rumah ini!" Tekan Aurel


Arsen kembali tersenyum. Entahlah, Pria itu tidak memperlihatkan rasa sakit hati dengan segala ucapan sang istri yang tak mengenakan.


"Maaf, soal itu aku belum bisa memenuhi permintaan kamu. Aku masih berharap kamu bisa memaafkan aku, yasudah, aku pergi dulu ya." Arsen segera keluar dan beranjak dari kediaman sang istri.


Sesampainya diluar kamar, Arsen menghela nafas sepenuh dada. Ia selalu berdo'a agar diberikan kesabaran yang tak terbatas dalam menghadapi sikap keras sang istri.


Aku tidak akan menyerah begitu saja, Sayang. Aku akan tetap memperjuangkan rumah tangga kita. Aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu dan anak kita.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2