
Siang setelah pulang dari mengunjungi sebuah proyek pembangunan, Arsen segera menuju RS untuk melakukan cuci darah, karena dia juga merasa nafasnya mulai sesak.
"Doni, kita segera ke RS ya." Ujar Arsen sembari menahan sesak.
"Baik,Tuan."
Doni menatap Arsen dari depan, terlihat majikannya sedang memegang dada dengan nafas berat naik turun, ia segera melajukan kendaraannya agar segera sampai di RS.
Setelah melakukan pemeriksaan, Arsen segera melakukan cuci darah selama tiga jam. Dokter juga menyarankan pada Arsen agar segera mencari donor ginjal yang cocok untuknya.
"Begini, Pak Arsen, lebih baik kita melakukan serangkaian pemeriksaan agar kami bisa mencari donor ginjal yang cocok untuk Bapak, jika Bapak ingin mencoba pengobatan di luar negeri seperti yang Bapak katakan kemaren, juga tidak apa-apa, karena semakin cepat akan lebih baik, karena jika mengandalkan cuci darah itu tidak menjamin, sifatnya hanya sementara."
Dokter menjelaskan tentang penyakit Arsen, karena penyakit itu jika di biarkan, akan bertambah parah. Arsen bingung ia belum bisa melakukan operasi itu, mengingat Aurel sebentar lagi akan wisuda, ia tak ingin melewatkan momen berharga dalam hidup sang istri.
"Begini, Dok. Saya belum bisa melakukan tindakan itu sekarang, karena ada hal yang sangat penting dalam hidup saya yang tak bisa saya lewatkan, jadi saya akan mengkonfirmasinya kembali nanti setelah urusan saya selesai."
"Baiklah kalau begitu, tapi Pak Arsen harus rutin dan tepat jadwal untuk melakukan cuci darah, karena jika selalu terlambat begini, maka kondisi Bapak akan bertambah parah," jelas dokter itu kembali.
"Baik, Dok, saya akan rutin dan berjanji tidak akan terlambat lagi."
Setelah selesai cuci darah dan berkonsultasi dengan sang dokter, Arsen segera kembali ke kantor, karena masih ada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani. Arsen juga menunggu kabar dari Haikal untuk menghadiri pernikahan sahabatnya itu.
Arsen masih fokus dengan pekerjaannya yang masih menumpuk di atas mejanya, tak berapa lama pesan masuk dari Aurel yang meminta izin kepadanya untuk pergi ke rumah Bibi Ana.
Arsen segera menelpon sang istri untuk menanyakan yang sebenarnya.
"Assalamualaikum... Mas."
"Wa'alaikumsalam...Sayang."
"Mas, nanti kamu pulang jam berapa?"
"Malam ini aku pulang agak lama, karena masih banyak pekerjaan di kantor," balas Arsen
"Mas, sore ini aku mau main kerumah Bibi Ana. Boleh ya?"
"Jam berapa pulang nanti, Sayang?"
__ADS_1
"Malam aja, nanti sekalian kamu jemput kami pulang kerja."
"Hmm, baiklah. Tunggu aku jemput ya. Biar nanti pergi diantar Doni saja."
"Ah, tidak usah, Mas. Aku perginya naik taksi online saja." Tolak Aurel dengan cepat.
Akhirnya Arsen mengalah dengan mewanti sang istri untuk pergi hati-hati dan jangan lupa beri kabar.
Sementara itu di kediaman Dewi, wanita itu sudah berdandan cantik seorang pengantin, Reza duduk termenung di teras rumahnya. Dengan stelan baju Koko, karena dialah yang akan menjadi wali sang kakak.
Pria yang berumur delapan belas tahun itu masih belum mengerti dengan jalan pemikiran sang kakak. Padahal ini adalah pernikahan suci dan akan menjadi momen terindah sebagai kenangan sekali seumur hidup. Tapi kenapa kakaknya itu begitu mudah untuk mengambil keputusan.
Reza sebagai seorang adik merasa gagal untuk melindungi Dewi, seharusnya dia tidak mendukung keinginan Dewi yang nantinya akan menyesal di kemudian hari, karena Reza tahu bahwa Haikal tidak mencintai kakaknya itu.
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan rumah Dewi, seorang Pria tampan dan matang keluar dari mobil itu.
Haikal menghampiri Reza yang masih duduk, Pria muda itu menatap sinis terhadap calon Abang iparnya. Reza sangat kesal karena merasa Pria itu akan menghancurkan masa depan kakaknya.
"Dewi mana? Apakah sudah siap?" Tanya Haikal pada Reza sedikit ragu karena melihat tatapan sinis dari calon adik iparnya itu.
"Kamu Dosen yang bernama Haikal itu? Kamulah orang yang sangat dicintai Mbak Dewi selama ini, aku berharap kamu tidak akan menyakiti perasaan Mbak Dewi, jika memang nanti kamu tidak bisa mencintai Mbak Dewi, maka jangan sakiti dia, kembalikan dia kepadaku, aku akan mengambil dia darimu!"
Haikal hanya tertegun mendengar semua peringatan dari Reza, seakan menuding dirinya yang akan menghancurkan masa depan Dewi.
"Tunggu disini, aku akan panggilkan." Reza segera beranjak tanpa melihat wajah orang yang sedang bicara dengannya.
Tak berselang lama Dewi keluar dengan menggunakan pakaian pengantin yang berwarna putih keperakan, dipadu riasan pengantin yang natural.
Haikal sedikit terpana menatap kecantikan calon istrinya itu, tetapi ia segera membuang rasa kekagumannya.
"Sudah siap?" Tanya Haikal
Dewi hanya mengangguk dan tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Haikal. Mereka segera berangkat dari kediaman sederhananya.
Sesampainya di kediaman Haikal, waktu telah menunjukkan jam delapan, Haikal segera mengambil tempat duduk di hadapan Pak penghulu yang telah datang terlebih dahulu.
Ya, di acara pernikahan itu, Haikal hanya memberi tahu kepada teman-teman terdekatnya saja, dan dia meminta temannya untuk menghadirkan penghulu saat dia menjemput Dewi.
__ADS_1
Sementara itu di lobby, Aurel yang membawa Alif segera bergegas masuk saat pintu lift terbuka untuk menuju apartemen Haikal, seperti yang telah di kirimkan alamatnya oleh Dewi.
"Mas, Arsen!"
"Aurel!"
Kedua pasutri itu sama-sama terkejut karena tak menyangka kehadiran mereka masing-masing yang menjadi bahan pertanyaan pada diri mereka satu sama lain.
"Mas, kamu kenapa ada disini?" Sontak membuat Aurel penuh tanda tanya plus curiga.
"Aku, aku ingin menemui teman," Jawab Pria itu gugup.
"Teman?" Tanya Aurel masih belum mengerti.
"Kamu sendiri ngapain kesini?" Arsen balik nanya, sehingga membuat Aurel terkesiap dan baru menyadari posisinya juga terpojok.
"Aku, aku juga ingin bertemu teman." Aurel juga tak kalah gugup.
"Teman? Teman yang mana ada di apartemen ini? Setahu aku kamu tidak pernah punya teman tinggal di apartemen?" Arsen kembali mencecar Aurel dengan pertanyaan.
"Daddy, gendong..." Saat mereka sedang bicara bocah itu minta di gendong Daddynya.
"Ah, ayo sini Daddy gendong, Alif dan Bunda habis darimana tadi, Sayang?" Tanya Arsen mencoba mengorek informasi dari sang putra.
"Alif dan Bunda dali lumah, Dad. Kata Bunda mau ketemu Tante Dewi dicini," ujar bocah kecil itu berkata jujur.
Seketika Arsen dan Aurel saling bertatapan karena mendengar penjelasan dari sang anak.
"Sayang, bilang sama aku yang sejujurnya?" Tanya Arsen menatap mata Aurel untuk minta penjelasan.
"Iya, maaf. Aku kesini untuk menghadiri pernikahan Dewil dan Pak Haikal. Tadinya aku ingin bawa kamu sekalian, Mas. Tapi Dewi melarang karena pernikahan ini tertutup, takutnya Pak Haikal tak suka di hadiri oleh banyak orang,"
Akhirnya Aurel bercerita yang sebenarnya agar tak ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Dan kamu sendiri ngapain disini, Mas? Teman kamu yang mana tinggal di apartemen ini?"
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰