Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Haikal cetak gol


__ADS_3

Kini luma tan itu semakin dalam, sehingga membuat Dewi larut dalam perasaan. Wanita itu menerima dan membalas segala sentuhan dari sang suami seakan rasa takut dan khawatir yang terselubung dalam hatinya menguap begitu saja.


Haikal semakin membawa Dewi dalam buaian cinta dan menimangnya dalam asmara kasih. Pria itu meluapkan segala rasa mendamba yang selama ini ia tahan.


Merasa telah puas dalam permainan bertukar Saliva, Haikal melerainya dan menatap mata teduh itu, ia tak ingin terlalu lancang menyentuh area yang masih tersegel tanpa seizin pemiliknya.


Dewi menatap Haikal dengan sendu, ia menginginkan hal itu terjadi, Dewi ingin menjadi istri yang seutuhnya, rasa cinta dan percayanya kepada Haikal telah memantapkan hatinya.


"Sayang, apakah kamu sudah berubah pikiran?" Tanya Haikal penuh harap.


"Iya, Mas, aku ingin menjadi milikmu seutuhnya. Kamu janji tidak akan pernah meninggalkan aku 'kan?" Tanya Dewi memastikan sekali lagi.


"Sayang, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kita akan bersama untuk selamanya." Janji Haikal meyakinkan Dewi.


Haikal menuntun Dewi ke atas ranjang, kembali bibir mereka menyatu, perlahan Haikal meniduri Dewi dengan bibir tak terlepas.


Kini tangan Pria itu mulai aktif menyentuh bagian sensitif Dewi sehingga membuat wanita itu melenguh tak karuan.


Haikal masih meneruskan meraba, membelai, meremat, di bagian tubuh yang membuat Dewi bagai cacing kepanasan. Tak ada sejengkalpun tubuh Dewi terlewatkan oleh sentuhan lembut Pria dewasa itu.


Kini tangan Haikal sudah mulai membuka kancing piyama tidur Dewi, bibirnya masih menyatu lidahnya mengeksplor di dalam rongga mulutnya.


Perlahan tapi pasti kini kain penutup tubuh padat berisi itu telah terbuka, hanya menyisakan bagian penutup sensitif Dewi saja. Haikal begitu terpana melihat pemandangan indah itu.


Sebagai seorang Pria dewasa yang tergolong lambat menikah, malam ini juga pengalaman pertama dalam hidupnya untuk melepas perjaka. Haikal yang terpesona dengan tubuh polos Dewi, sungguh membuat hasrat Pria itu bergejolak hebat.


Tanpa membuang waktu Haikal segera membuka pakaiannya, sehingga memperlihatkan tubuh atletis dan yang pasti benda pusakanyalah yang membuat wajah Dewi merah merona.


Wanita itu mengalihkan atensinya agar tak membuat jantungnya berhenti berdetak karena melihat benda pusaka yang telah tegak sempurna.


Haikal kembali memberi sentuhan pada Dewi terlihat wajahnya sudah kaku karena pemandangan yang cukup menarik perhatian dan menyimpan sejuta penasaran.


"Sayang, aku boleh memulainya sekarang?" Tanya Haikal yang sudah tak tahan lagi, ingin merasakan indahnya surgawi.


Dewi menatap wajah suaminya yang tampak begitu berharap akan hal yang sebentar lagi menjadi candu bagi mereka.


"Mas, pelan-pelan ya, jujur aku sangat takut," lirih Dewi begitu manja.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya dengan sangat pelan, sayang." Balas Haikal sembari mengecup bibir Dewi.


Perlahan tapi pasti, Haikal mulai memimpin permainan itu. Sungguh ini adalah pengalaman pertama bagi keduanya, Haikal sungguh menikmati dan meresapi percintaan itu.


Belum gol, baru menyentuh lembah hangat itu, tapi Pria itu telah menumpahkan cairan yang sudah menumpuk, sehingga Dewi gagal merasakan hal yang sebenarnya.


"Sayang, maafkan aku. Sungguh aku tidak bisa menahannya." Bisik Haikal terjatuh di atas tubuh Dewi dengan nafas yang belum teratur.


Dewi yang juga masih awam, dia bingung tidak mengerti, dan juga belum merasakan hal yang membuatnya kecanduan. Dewi hanya mengangguk pelik.


Haikal turun dari tubuh sang istri untuk istirahat sejenak, ia akan menyiapkan diri untuk ronde kedua agar mereka merasakan kenikmatan bersama.


Haikal membawa Dewi kedalam pelukannya, sungguh pesona wanita itu membuat hasratnya menggebu sehingga tak mampu menahan diri.


Mendadak Haikal mengingat ucapan Arsen, ternyata yang dikatakan sahabatnya itu memang benar, sedangkan penyatuannya belum sempurna saja sudah membuatnya mabuk kepayang, bagaimana jika dia sudah berhasil memiliki seutuhnya.


Ternyata sungguh nikmat. Kalau begini aku bisa gila bila sehari saja tak bertemu dengan wanita canduku ini


Gumam Pria itu sembari tersenyum dan mengecup seluruh wajah cantik yang saat ini dalam dekapannya.


"Kamu benar-benar membuat perasaanku tak menentu, sungguh kamu sudah membuat aku bahagia," ujar Haikal yang kembali melu mat bibir Dewi.


Haikal kembali memposisikan dirinya di atas tubuh Dewi, dan Pria itu kembali memberi serangan lembut dan memabukkan bagi wanita itu.


Kembali Haikal ingin mencetak gol yang tadi sempat tertunda. Kali ini ia tak ingin lagi mengecewakan sang istri.


Haikal mulai memimpin untuk penyatuan. Sungguh pengalaman pertama bagi kedua insan itu, Berulang kali mencoba pada akhirnya mereka berhasil meraih kenikmatan bersama dan mereguk manisnya madu cinta, hingga akhirnya mereka terkulai lemas saling berpelukan dan mengukir senyum kepuasan.


"Terimakasih, Sayang, aku sungguh bahagia." Haikal mengecup wajah Dewi penuh rasa sayang.


Wanita itu hanya mengangguk dan mengukir senyum kebahagiaan dan memeluk tubuh sang suami dengan erat dan terlelap dalam kenyamanan.


***


Pagi ini Aurel kembali merasakan mual tak terkira sehingga tubuhnya lemah tak berdaya. Arsen masih selalu setia membantu sang istri yang bolak balik ke kamar mandi.


"Udah, Sayang? Masih ingin muntah?" Tanya Arsen sembari mengusap tengkuknya

__ADS_1


Aurel hanya mengangguk dan perlahan berdiri, dengan pelan Arsen membimbing keluar dan membaringkan tubuh lemah itu.


"Kamu istirahat saja ya, aku akan membuatkan teh jahe hangat, biar tubuh kamu lebih segar," ujar Arsen


"Mas, jangan pergi, disini saja temani aku," Rengek Aurel meraih tangan Arsen.


"Aku tidak akan lama, Sayang, hanya sebentar. Tunggu ya." Arsen segera keluar kamar.


"Mau ngapain kamu, Nak?" Tanya Mommy yang melihat putranya sibuk sendiri di dapur.


"Mau buat teh jahe, Mom, Aurel masih mabuk," jelas Arsen pada sang Mommy.


"Yaudah biar Mommy yang membuatkan, sudah kamu temani istrimu saja," titah Mommy.


"Tapi, Mom?"


"Tidak apa-apa, biar Mommy yang membuatkan."


Arsen kembali masuk ke kamar, karena tadi Aurel cukup rewel tak ingin di tinggal. Tidak berapa lama Mommy masuk membawakan minuman yang di inginkan.


Aurel kembali merasa tidak enak pada ibu mertuanya itu, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Ayo minum teh jahenya, setelah itu jangan lupa susunya juga diminum," ujar Mommy menaruh nampan yang berisi dua gelas minuman itu.


"Maaf, sudah merepotkan Mommy," ujar Aurel tertunduk malu, sebenarnya dari kemaren ia ingin meminta maaf pada ibu mertuanya itu, tetapi dengan keadaannya yang tidak membaik mengurungkan niatnya.


"Minumlah, Nak, jangan sungkan. Mommy sama sekali tidak merasa di repotkan. Mommy sangat senang mendengar kamu hamil lagi. Terimakasih ya kamu sudah memberikan Mommy dan Daddy cucu lagi.


"Jangan risau, bawaan hamil memang berbeda-beda, tapi itu adalah hal yang wajar. Dulu Mommy saat hamil Arsen, Mommy sampai masuk rumah sakit, dirawat selama seminggu karena dehidrasi karena kekurangan cairan."


Mommy menceritakan pengalaman saat dia hamil Arsen, Aurel begitu tertarik dengan ucapan wanita baya itu, sehingga tanpa di sadari mengukir senyum dan kembalikan keakraban yang sempat renggang diantara mereka.


Bersambung....


Maaf jika tulisan author di bab ini agak acak Adul 😔 lagi tidak fokus


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2