Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Mendapat persetujuan sang adik


__ADS_3

Tak berselang lama Haikal pergi, Dewi juga pulang karena jam kerjanya telah usai. Ia kembali menggunakan motor yang tadi telah diantarkan oleh Haikal.


Setelah sampai dirumah ia melihat lampu rumah itu telah menyala itu menandakan bahwa sang adik telah pulang saat dia pergi meninggalkan rumah siang tadi.


Dewi masuk mengucapkan salam dan dijawab oleh Reza. Pria itu menghampiri sang kakak dan menyalami tangan Kakak perempuan satu-satunya itu.


"Belum tidur kamu, Dek?" Tanya Dewi sembari mengekor di belakang Reza.


"Belum Mbak." Jawab Pria remaja itu dingin


Dewi segera menuju kamarnya, dan bersih-bersih terlebih dahulu, setelah itu ia kembali keluar. Dewi ingin membahas malam ini juga karena ia merasa tak ada waktu lagi, besok malam pernikahan itu akan dilaksanakan.


Reza masih duduk di ruang tv menonton acara olahraga. Pria itu tahu sang kakak mendekat, tetapi dia tetap acuh.


"Kamu sudah makan malam, Dek?" Tanya Dewi membuka percakapan.


"Sudah." Lagi-lagi Pria itu menjawab singkat.


"Dek, Mbak ingin bicara."


"Bicara apa lagi Mbak?" Reza menatap sang kakak. "Apakah Mbak ingin membahas tentang pernikahan aneh itu?"


"Za, dengarin Mbak dulu!"


"Udahlah, Mbak. Aku tidak ingin mendengarkan apapun alasan Mbak Dewi!" Sentak Reza segera beranjak dari tempat duduknya


"Reza, tunggu penjelasan Mbak dulu!" Langkah Reza terhenti saat mendengar suara Dewi sudah meninggi. "Mbak tahu kamu tidak setuju, tapi Mbak menginginkan pernikahan ini, kamu juga tahu bahwa Mbak sangat mencintai Pria itu, empat tahun lamanya Mbak menyimpan perasaan ini, Za. Mbak janji, Mbak tidak akan mengadu apapun jika nanti terjadi sesuatu pada diri Mbak. Mbak tidak akan merepotkan kamu, Mbak akan menanggung segala resikonya sendiri."


Kata-kata Dewi membuat hati Reza sedih, dan tak tega. Mungkin dengan menikah dengan Pria yang di cintai kakaknya itu bisa membuatnya bahagia.


"Baiklah, aku akan menyetujuinya, dan akan menjadi wali Mbak Dewi, tapi sekali lagi aku ingatkan Mbak. Boleh cinta tapi jangan sampai bodoh sehingga harus mengorbankan masa depan Mbak sendiri, tapi kembali keputusan ada di tangan Mbak. Aku sekarang akan ikut saja maunya Mbak Dewi."


Pria delapan belas tahun itu segera beranjak menuju kamarnya. Sementara itu Dewi masih termangu duduk sendiri di depan tv. Semua keputusan telah ia ambil tak akan ada lagi untuk mundur.


Sementara itu di sebuah apartemen, tampak dua orang Pria dewasa sedang berbincang dengan serius membahas tentang pernikahan siri yang akan di langsungkan besok malam.

__ADS_1


"Kamu serius ingin melakukan hal itu, Kal? Apakah kamu tidak takut jika nanti Dewi merasa bahwa kamu hanya memanfaatkan dirinya untuk membalas sakit hatimu pada mantan kamu itu?" Tanya Arsen menatap Haikal dengan serius.


Ya, tadi sepulang dari Cafe, Haikal menghubungi Arsen meminta datang ke apartemennya untuk membahas tentang pernikahannya dan Dewi.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuhnya, dan aku juga akan berusaha untuk mencintainya, tetapi jika rasa cinta itu tak kunjung tumbuh maka kami akan sepakat untuk berpisah, dan dia juga bisa menikah dengan Pria lain, toh pernikahan ini tidak ada yang tahu, aku juga tak menyentuhnya. Jadi tidak ada yang rugi kan."


Arsen hanya tersenyum menatap sahabatnya itu. "Apakah kamu yakin tidak akan menyentuhnya? Sekuat itukah iman di dadamu ini?" Arsen meletakkan tunjuknya didada Haikal. "Aku jadi meragukan tingkat kejantanan mu. Hahaha...." Tawa Arsen pecah.


"Sial kamu, Sen, enak aja meragukan aku. Emang kamu kira aku ini tidak normal? Hah.." Kesal Haikal pada sahabatnya itu.


"Hahaha... Ya, maka dari itu aku meragukan omongan kamu itu!"


"Dan justru itu juga, laki-laki itu yang di pegang janjinya itu Arseno Abraham... Ngerti?" Haikal menatap malas pada Arsen yang masih saja tertawa.


"Oke, oke. Aku cuma mau bilang sama kamu, jika nanti tidak mampu kamu lambaikan tangan ke Camera ya."


"Ish... Orang serius juga!" Rutu Haikal yang kesal melihat Arsen masih terkekeh mengejeknya.


"Ya, baiklah. Terus apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Arsen mencoba untuk serius kembali.


"Hah? Kamu serius? Tentu saja Dewi tahu bahwa aku suami Aurel, nanti kedok kita ketahuan," tutur Arsen sedikit kaget dengan ide gila sahabatnya itu.


"Yaelah kamu tenang saja. Dewi juga sudah tahu, aku bilang semenjak pertemuan kita di RS itu, kita jadi akrab dan memutuskan untuk berteman. Jadi amanlah pokonya."


"Kamu yakin? Aku tidak mau ya rahasia kita ketahuan."


"Iya, aku yakin banget. Lagian kalau ketahuan apa salahnya sih,Sen? Kamu dan Aurel kan sudah baikan."


"Bukan masalah baikan itu Kal, aku merasa ini terlalu buru-buru, takutnya Aurel merasa syok dan misi aku belum selesai untuk menjadikan Aurel direktur utama di RS yang kini sudah mulai beroperasi. Aku ingin setelah Aurel menyelesaikan S duanya di Singapore dan menjadi pemilik sah RS itu, maka jika dia tahu tidak apa-apa lagi karena RS itu sudah menjadi miliknya dia tidak akan bisa menolak lagi."


"Ya, baiklah. Aku mengerti, kamu tenang saja semua akan aman."


"Oke, kalau begitu besok malam aku akan datang, kamu beri kabar aku besok. Akan aku atur waktunya agar Aurel tidak tahu."


"Oke, sampai ketemu besok kawan."

__ADS_1


Kedua sahabat itu berjabat tangan dengan gagah ala manly, dan Arsen segera keluar dari apartemen Haikal.


Sesampainya di kediamannya waktu menunjukkan pukul 23.30, Cukup larut Arsen pulang, tadi dia beralasan pada Aurel ada lembur di kantor.


Aurel yang sedari tadi belum bisa tidur, saat mendengar pintu kamar terbuka ia segera menyambut kedatangan sang suami.


"Loh, kok belum tidur, Sayang?" Arsen menghampiri Aurel dan mengecup kening dan bibir sang istri dengan sayang.


"Iya, belum nagntuk. Kamu kok baru pulang jam segini, Mas?" Tanya Aurel sembari memeluk Arsen penuh kerinduan.


"Maaf ya. Tadi ada lembur di kantor, jadi harus selesai malam ini," ujar Arsen jelas berbohong.


"Oh, udah makan? Atau mau mandi dulu." Tawar Aurel merenggangkan pelukannya.


"Mau dimanja kamu dulu, boleh nggak?" Jawab Arsen membuat Aurel tersipu.


"Manja-manjanya nanti saja ya, sekarang ayo mandi dulu." Aurel membuka jas kantor Arsen.


."Sebentar ya, aku sediakan air panas dulu. Mas mau berendam?" Kembali Aurel menanyakan keinginan sang suami.


"Boleh, tapi berendamnya sama kamu ya." Lagi-lagi Pria itu membuat Aurel malu.


"Ihh... Genit banget suami aku ini," ujar Aurel mencubit kecil pinggang Arsen.


"Genit sama kamu nggak papalah, Sayang." Gumam Arsen mengekor dibelakang Aurel untuk masuk kedalam kamar mandi.


Aurel segera mengatur suhu air hangat di dalam bathtub, dan menuangkan sabun cair yang beraroma terapi.


"Done, silahkan mandi, Tuan Arseno," seloroh Aurel pada sang suami.


Arsen tersenyum sumringah mendekati Aurel, Pria itu merengkuh pinggang Aurel sehingga mengikis jarak diantara mereka.


Bersambung.....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2