
Sudah lima hari kepergian Reza, Dewi masih murung. Beruntung Haikal selalu menjadi suami siaga, Pria itu selalu menjaga makan dan istirahat sang istri.
Kini hanya tinggal mereka berdua dirumah itu. Mama Hema sudah kembali ke Jakarta, karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan, pesta kemaren masih terbengkalai.
"Sayang, kamu mau makan sesuatu?" tanya Haikal, ikut berbaring sembari memeluk sang istri dari belakang..
Dewi mengubah posisi, menghadap pada Haikal. diwajahnya masih menyisakan kesedihan. Haikal mengecup bibirnya dengan lembut.
"Udah, jangan sedih lagi ya, kasihan anak kita. Dia pasti juga ikut sedih." Pria itu mendekap tubuh Dewi dengan erat.
"Mas, aku pengen makan eskrim rasa buah, tapi nggak mau ada rasa milk. Pokoknya murni rasa buah." Dewi mengutarakan keinginannya pada Haikal.
"Okey, Mas cariin buat kamu ya. Kamu istirahat saja," ujar Haikal membelai rambut Dewi dan memberi kecupan, sebelum beranjak.
"Aku ikut, Mas." Rengek wanita itu.
"Yasudah, ayo cuci dulu wajahnya, biar segar."
Dewi segera beranjak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Wanita itu memoles sedikit lipgloss di bibirnya, agar terlihat lebih segar.
"Mas, kita naik motor saja ya?" Pinta Dewi
"Kamu serius?"
"Iya, Mas. Biar mesra, aku peluk kamu dari belakang," tukas Dewi tersenyum manis.
Haikal merasa lega melihat senyum itu mulai kembali, setelah beberapa hari menghilang. Pria itu akan mengikuti apa saja yang di inginkan oleh wanita kesayangannya.
"Baiklah, Sayang."
Siang hari pasangan pasutri itu berkeliling kota bertuah, demi mencari keinginan sang istri. Sudah beberapa kios eskrim mereka singgahi tetapi tak mereka temui seperti keinginan Dewi.
Ada yang rasa buah tapi sudah berkolaborasi dengan susu. Dewi tidak suka, keinginan orang hamil memang sulit-sulit gampang mencarinya.
"Dek, kita mau cari kemana lagi nih, Sayang? Tukar dengan yang lain mau,nggak?" tanya Haikal mencoba menawar selera ibu hamil itu.
"Nggak mau, Mas. Yaudah kita buat sendiri saja dirumah. Kita beli bahan-bahannya saja."
"Baiklah, tapi, serius kamu nggak ingin yang lain? Bagaimana kalau kita makan siang dulu. soalnya aku udah lapar banget, Dek." Melas Pria itu, sedari tadi keliling kota bertuah, belum sempat makan siang.
"Kasihan banget suamiku. Maafkan istri dan anakmu sudah ngerepotin kamu, Mas," ujar Dewi tersenyum melihat wajah lelah suaminya, kemeja Pria itu sudah basah dengan keringat. Haikal yang tak pernah menggunakan sepeda motor, sedikit kelelahan, ditambah cuacanya yang terik.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Sayang. Malahan Papa merasa bersalah karena nggak berhasil mendapatkan keinginan kalian." Haikal sedikit merunduk, mengelus perut datar Dewi.
"Nggak pa-pa, yang penting udah seneng bisa jalan-jalan. Oya, Mas, kita sekalian mampir ke apartemen Aurel ya. Sejak bayi mereka lahir, kita belum pernah datang menjenguk," ujar Dewi.
"Aku juga mau bilang itu sih, sama kamu. Tapi, aku nunggu kamu tenang dan nyaman dulu," ujar Haikal yang juga merasa tidak enak dengan sahabatnya itu.
"Yaudah, kita cari kado buat baby girl sekarang, habis itu lanjut ke kediaman mereka."
Di kediaman Arsen, pasangan itu terlihat riweh menghadapi bayi mungil yang terkesan rewel, pasalnya tuh bayi sangat cengeng dan sensitif, tengah malam selalu begadang.
"Mas... Udah belum? Cepatan, Mas, dedeknya udah gerah nih!" perintah ibu muda itu pada suaminya yang sedang menyediakan air buat mandi sore.
"Iya, bentar, sayang." Arsen membawa air mandi dengan bak bayi. "Udah pas, belum ini suhunya?" tanya Arsen meminta pendapat sang istri.
Aurel yang baru selesai membuka pakaian bayi mungil itu, segera mencoba merasakan suhu air hangat yang di sediakan oleh suaminya.
"Kayaknya masih terlalu panas, deh, Mas."
"Benaran?"
"Hmm, coba tambah satu dayung lagi."
Arsen mengikuti perintah ibu negara, setelah merasa cukup aman, dengan sangat hati-hati, Aurel memandikan bayi merah. Pasangan itu terlihat begitu ribet, karena sudah lama tidak mengurus bayi.
"Pelan-pelan, Bun, tuh di belakang telinganya masih ada busa." Sang Daddy terlihat begitu teliti memperhatikan.
Bayi itu menangis jejeritan. sehingga membuat Aurel menjadi grogi sendiri. "Iya bentar ya,Nak, biar segar, jadi Anisa nggak gerah lagi. Cup-cup..."
"Sabar, sayang, anak Daddy nggak boleh cengeng. Tahu betul kesayangan, manjanya nggak ketulungan ya, dek." Arsen menimpali, dan ikut mengelus rambut halus baby Anisa.
Setelah selesai membereskan, bayi mungil itu, Aurel segera memberi ASI, setelah kenyang bayi Anisa diam dalam buaian sang Daddy. Arsen begitu menyayangi buah hatinya, terlihat bagaimana dia memperlakukan kedua anaknya, dari Alif hingga Anisa, kasih sayangnya begitu besar
"Udah, sana mandi,Sayang, Nisa biar Daddy yang tidurin." Perintah Arsen pada istrinya.
"Baiklah, kita gantian ya, Mas."
Aurel segera mandi secara bergantian dengan Arsen. Setelah mandi kini giliran Aurel yang menjaga baby Nisa.
"Sepertinya, dia pengen di ayun, Sayang," ujar Arsen karena baby Nisa tak ingin lepas dari pegangan tangan.
"Iya, juga ya, Mas."
__ADS_1
"Yaudah, nanti aku suruh Doni membelikan ayunan yang dari listrik, jadi kita nggak ribet mengayun."
"Tapi bisa di setel nggak? Takutnya nanti dia gamang," ucap Aurel sedikit cemas.
"Ya, bisalah, udah kamu tenang saja. Sekarang gantian, Daddy yang mandi. Kamu sama Bunda dulu ya, Dek." Arsen menyerahkan bayi mungil itu pada Bundanya.
Setelah selesai mandi pasangan itu sedang duduk santai, sembari berunding. mereka sudah memutuskan selama Aurel belum kuliah jadi mereka tetap tinggal disana. Dan Arsen sudah memutuskan untuk mencari babysitter dan Art. Seperti janjinya dulu, dia tidak ingin sang istri kecapean.
Saat mereka sedang asyik ngobrol, terdengar bel apartemennya berbunyi, Arsen segera bangkit untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam... Hai, Kal, Wi. Ayo masuk." Arsen membawa tamunya masuk.
"Aurel dan baby nya dimana, Mas Arsen?" Tanya Dewi.
"Ada di ruang tamu."
Dewi segera melesat menuju dimana sahabatnya berada. dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan bayi mungil itu. Sementara Arsen dan Haikal masih berbincang sembari menuju ruang tamu.
"Hai, Sayang."
"Dewi! Ya Allah, aku senang banget, maaf banget ya, aku tidak bisa menghadiri acara yasinan sampai selesai, soalnya malam itu aku udah mules, ternyata baby girl sudah mau brojol."
"Nggak, pa-pa, Rel. Aku yang merasa tidak enak, sudah hampir seminggu umur simungil ini, Aunty baru datang untuk jengukin. Sini gendong sama Aunty." Dewi mengambil bayi Nisa yang ada dalam pangkuan Aurel.
"Bagaimana, Rel? Anteng pastinya seperti Abang Alif. iya, kan?" tanya Dewi.
"Hahaha... Ini beda banget, Wi. Aku dan Daddynya kewalahan. cengeng banget," ujar Aurel memberi tahu yang sebenarnya
"Hah? Masa sih? Tapi, ini dia enakkan tidur," Dewi mencium seluruh bayi mungil itu dengan gemas.
"Jangan terlalu gemas, Dek, nangis nanti anak orang," ujar Haikal, ikut duduk disamping istrinya.
"Udah nggak sabar nungguin bayi kita lahir ya, Mas?"
"Sabar, sayang, semua butuh waktu, kita prosesnya kurang cepat dengan orang ini. abisnya kamu pake tawar menawar. Ya jadinya kita telat 'kan, dari mereka." Seloroh Haikal, membuat gelak tawa diantara mereka.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1