
Diperjalanan pulang Aurel masih bingung dan sedikit heran melihat sikap Haikal yang tiba-tiba berani menggandeng dirinya, Aurel juga merasa jika Haikal menjadi peduli.
Wanita itu cemas, bagaimana nanti dilihat oleh Arsen jika dia pulang diantar oleh Pak Dosen, Aurel takut Arsen akan salah paham dan memisahkannya dari Alif.
"Tenanglah, Aurel. Saya tidak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin membantumu untuk menjauhi Andre, karena saya tahu bagaimana prilaku Andre. Dia seorang mahasiswa yang terlibat pergaulan bebas. Saya hanya takut jika kamu di manfaatkan," jelas Haikal. Pria itu tahu melihat kecemasan Aurel.
"Terimakasih ya, Pak. Kalau begitu saya turun disini saja Pak. Saya pulang naik taksi saja," balas Aurel.
"Kenapa harus turun disini? Saya akan antar kamu pulang," sanggah Haikal.
"Tapi saya tidak ingin jika suami saya tahu kalau saya pulang diantarkan oleh orang lain." Akhirnya Aurel mengatakan apa yang ia takutkan.
Haikal hanya tersenyum tipis. Ternyata ancaman Arsen cukup ampuh untuk membuat wanita keras hati itu menjadi takut. Ya, mungkin alasannya hanya satu yaitu adalah anak. Aurel begitu takut terpisah oleh buah hatinya.
"Suami kamu itu cemburuan ya?" Tanya Haikal yang membuat Aurel terkesiap
"Hah? Iya, iya. Dia sangat cemburuan, maka dari itu saya minta turun disini saja. Saya akan naik taksi," Pinta Aurel berharap Haikal akan segera menurunkannya.
"Sudah, tenang saja. Nanti saya yang akan bicara dengannya. Lagipula suami kamu sudah pernah bertemu dengan saya. Percayalah dia tidak akan cemburu," ujar Haikal meyakinkan Aurel.
Wanita itu hanya mengulas senyum tipis, ia diam tak bicara lagi. Pasrah menerima kemarahan sang suami jika nanti dia melihat.
Tidak berapa lama mobil yang dikendarai Haikal sudah berhenti tepat di depan rumah Bibi Ana, Benar saja mobil Arsen sudah nangkring terlebih dahulu disana.
Saat melihat mobilnya saja Aurel sudah spot jantung, apalagi bertemu orangnya.
Ya Allah tamat riwayatku bagaimana jika dia murka dan melarang aku bertemu dengan Alif.
Arsen sudah berdiri di depan pintu rumah Bibi Ana dan menggendong Alif bersiap untuk pulang. Sementara itu Aurel turun dengan wajah pucat pasi.
Haikal yang tahu ketakutan wanita itu, ia juga ikut turun, dan mengekor di belakang Aurel, wanita itu menatap Arsen dengan rasa cemas.
Saat Aurel mendekat, Arsen tidak terlihat marah, ia menyerahkan Alif kepadanya.
"Ayo kita pulang sekarang." Ajak Pria itu dengan wajah biasa saja.
Antara percaya tak percaya. Begitu juga Arsen menatap Haikal seperti ada dan tiada. Kedua Pria dewasa itu tak menampakkan tatapan sengit ataupun permusuhan, tidak seperti tatapan Arsen kepada Andre saat itu seakan ingin memakannya.
"Terimakasih, Anda telah mengantarkan istri saya pulang dengan selamat," ucap Arsen kepada Haikal.
"Ah, sama-sama,Pak." Jawab Haikal. Lalu berbisik. "Jangan dimarahi, dari tadi aku lihat darahnya sudah habis setengah liter karena takut denganmu."
__ADS_1
Arsen tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Ternyata wanita itu bisa juga takut kepadanya setelah sekian lama jadi pembangkang.
Haikal segera beranjak dan meninggalkan pasutri itu yang juga akan beranjak pergi. Aurel masih takut menatap wajah sang suami.
"Masuklah!" Arsen membukakan pintu mobil untuknya.
Aurel segera masuk dan tak ingin membuat mood Pria itu rusak, meskipun ia tidak tahu apa penyebabnya dia tidak marah dan bersikap baik kepada Haikal.
"Aku boleh mampir ke rumah sebentar? Ada beberapa barang keperluan yang ingin aku ambil," ujarnya dengan nada takut.
"Ya, tentu saja."
Setelah mengambil barang keperluannya, Arsen menjalankan mobilnya kembali. Pria itu melirik sang istri yang masih diam sembari memangku putranya.
"Sudah makan siang?" Tanya Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari badan jalan.
"Belum." Jawab wanita itu singkat
"Kalau begitu kita makan siang dulu setelah itu baru pulang."
Aurel hanya diam tak ingin menanggapi, terserah Pria itu saja, ia hanya ikut patuh kemanapun Arsen akan membawanya yang penting jangan pisahkan dirinya dari bayi mungil itu.
Arsen membawa Aurel maka siang di sebuah Cafe tempat dia dan Haikal bertemu beberapa minggu yang lalu.
"Sini Alif biar aku yang pegang. Kamu makanlah." Titahnya sembari tersenyum manis, jika orang melihat maka mereka akan mengira bahwa pasangan itu sungguh harmonis.
"Permisi Tuan, Nona." Ujar pelayan Cafe menaruh pesanan mereka diatas meja.
"Dewi..." Aurel terkesiap melihat sosok wanita yang sedang melayani mereka.
"Hai, Rel. Silahkan dinikmati." Balas wanita itu dingin tak seperti biasanya saat di kampus.
Aurel masih tidak percaya, dan ia juga melihat perubahan sikap Dewi. Aurel mengejar sahabatnya itu.
"Wi, tunggu aku dulu!" Aurel meraih tangan Dewi, dan membawanya ketempat sepi.
"Ada apa Rel? Kamu kesini mau makan 'kan? Ayo makanlah, nanti keburu dingin makanannya."
"Wi, aku tidak tahu harus bicara apa. Kenapa kamu tidak pernah bicara padaku bahwa kamu juga bekerja. Maaf Wi, semula aku mengira bahwa kamu adalah..."
"Orang senang? Hehe... Maaf ya, aku hanya tidak ingin orang lain tahu tentang kehidupanku. Aku hanya menjalaninya dengan ikhlas tanpa beban, aku percaya bisa sukses dengan hasil jerih payahku sendiri."
__ADS_1
"Maaf ya, Wi. Aku benar-benar sudah salah mengira," ucap Aurel sedih melihat sahabatnya yang berjuang keras, dirinya masih bersyukur mendapatkan beasiswa, sedangkan Dewi berjuang sendiri untuk membiayai kuliahnya.
"Tidak apa-apa, Rel. Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak salah apapun. Ayo sekarang pergilah makan. Oya, Rel. Pria itu siapa?" Tanya Dewi yang memang belum tahu, karena Dewi pernah melihat Pria itu bersama sang Dosen malam itu.
"Dia suami aku. Ayo aku kenalkan dengannya," ujar Aurel menarik tangan Dewi.
"Tidak, lain kali saja ya. Soalnya aku sedang banyak kerjaan. Apakah suami kamu teman Pak Haikal?" Tanya Dewi yang masih penasaran.
"Tidak, mereka hanya pernah bertemu di RS waktu itu." Jawab Aurel apa adanya.
Dewi mengerutkan keningnya, bagaimana Aurel mengatakan tidak, padahal sudah jelas Dewi melihat malam itu mereka ngobrol dan terlihat akrab.
"Hei, kenapa menatapku begitu?" Aurel menjentikkan jarinya untuk membuyarkan lamunan sang sahabat.
"Ah, Sorry. Aku hanya sedang berpikir kenapa kamu bilang bahwa Pak Haikal dan suami kamu tidak berteman, sedangkan malam itu mereka mampir ke sini dan mengobrol begitu akrab," jelas Dewi.
Kini giliran Aurel yang bengong mendengar penjelasan Dewi. Benarkah mereka ngobrol bersama? Sejak kapan Haikal dan Arsen berteman
"Kamu serius?"
"Ya, seriuslah!"
"Yaudah, nanti aja aku tanyain. Mungkin juga mereka hanya kebetulan bertemu. Kalau begitu aku balik ke meja dulu ya. Semangat ya." Aurel memeluk sahabatnya itu. Entah kenapa rasa sedih melipir dalam hatinya setelah mengetahui perjuangan Dewi demi mencapai cita-citanya.
"Rel..." Panggil Dewi mengehentikan langkah Aurel dan berbalik menatapnya.
"Ya, ada apa Wi?"
"Apakah kamu punya perasaan dengan Pak Haikal?"
Aurel kembali menyongsong sahabatnya itu, dan menggenggam tangan Dewi dengan lembut.
"Wi, aku tegaskan kembali, bahwa aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Pak Haikal, aku hanya menghargai dia sebagai seorang Dosen dan yang telah memberiku beasiswa. Aku minta kamu jangan pernah berpikiran negatif kepadaku. Aku tidak sepicik itu, Sayang. Aku tahu rasa takut dan cemburumu. Berjuanglah, jika jodoh tidak akan kemana. Aku akan selalu mendukungmu."
Dewi tersenyum lega mendengar pernyataan sahabatnya itu. "Terimakasih ya, tapi aku melihat Pak Haikal begitu perhatian terhadap kamu, sedangkan denganku dia begitu cuek seakan tak memandangku, bahkan aku melihat dia begitu cemburu saat kamu didekati oleh Pria lain," jelas Dewi sendu.
Aurel baru ngeh, ternyata sikap Dewi dingin karena melihat dia pulang diantar oleh Pak Haikal tadi saat di kampus.
"Ya ampun, ternyata itu yang membuat kamu cuek sama aku, Dengar ya, Sayangku. Tadi aku memang diantar oleh Pak Haikal pulang, tapi dia hanya ingin menyelamatkan aku dari gangguan Andre karena Pak Haikal tahu bahwa Andre itu adalah mahasiswa yang terlibat pergaulan bebas." Aurel menjelaskan apa yang dijelaskan oleh Haikal padanya.
Dewi hanya tersenyum malu karena telah berburuk sangka dengan sahabatnya. Memang selama ini Aurel tidak pernah terlihat tertarik dengan pak Haikal, tidak seperti dirinya yang begitu mendamba Pria dewasa itu.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰