
"Wanita ini ingin menjebak kamu, Mas. Lihatlah gambar ini!' Aurel memperlihatkan gambar yang sempat diambil oleh wanita itu di ponselnya yang direbut oleh Aurel.
Arsen membelalakkan matanya, dan segera melihat penampilan pakaiannya, semua kancing kemejanya sudah terbuka.
"Kamu!" Arsen berdiri dengan emosi, tetapi bekas operasinya terasa nyeri.
"Mas! Kamu jangan emosi, ayo duduk kembali!" Aurel membantu Arsen untuk duduk.
Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu, hanya diam mematung. Dia melihat pintu ruangan itu setengah terbuka. Tanpa pikir panjang segera berlari keluar.
"Hei, jangan lari kamu!" Teriak Arsen.
Arsen segera menelpon security untuk menangkap Dokter itu, "Tangkap Dokter Mayang, dan bawa keruangan saya!"
Arsen menatap Aurel dengan tatapan bersalah, karena tidak bisa meneliti orang yang akan di pekerjakan.
"Sayang, aku minta maaf ya. Aku benar-benar tidak tahu dengan kejadian ini. Untung saja kamu segera datang. Aku tidak mau sampai kamu salah paham dan meninggalkan aku lagi."
Aurel segera memeluk suaminya. "Maaf ya, Mas, jika aku dulu pernah salah paham hingga tak memberimu kesempatan untuk menjelaskan. Dan pada akhirnya aku mengabaikan kamu." Sesal Aurel dalam pelukan Arsen.
"Sudah, Sayang, jangan mengingat yang telah berlalu. Yang penting sekarang, kita sudah bersatu, tidak akan ada lagi perpisahan diantara kita." Arsen membalas pelukan sang istri.
Tak berselang lama terdengar suara ribut-ribut dari luar. Aurel dan Arsen segera melerai pelukannya.
"Masuk!" Perintah Arsen dengan lantang.
"Permisi Tuan, ini dokter Mayang," Security itu membawa Mayang menghadap kembali pada Arsen.
"Kamu boleh keluar dan berjaga di depan pintu!" Titah Arsen.
"Baik Tuan!"
Dokter Mayang menunduk, dengan tubuh bergetar. Arsen yang hendak berdiri segera ditahan oleh Aurel. "Jangan berdiri, Mas! ingat kesehatan kamu."
Arsen menatap wanita itu dengan amarah. "Sekarang katakan padaku. Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Arsen lantang.
"Tuan, Nona, saya minta maaf, tolong maafkan saya." Mohon wanita itu sembari menangis ketakutan.
"Katakan sekarang! Ayo cepat!" Hardik Arsen yang tak ingin basa basi.
__ADS_1
"Mas, sabar. Jangan berteriak." Tegur Aurel mengusap bahu suaminya.
"Ba-baiklah Tuan. Saya disuruh oleh Nona Maura." Akhirnya wanita itu mengakui.
"Breng sek! Ternyata wanita jala ng itu belum jera! Aku akan buat perhitungan."
"Sekarang pergi dari hadapanku! Jangan pernah menampakkan mukamu lagi!" Arsen menyuruh wanita itu pergi. Bagaimanapun juga ia tidak setega itu pada perempuan. Apalagi wanita itu hanya suruhan Maura, sang mantan.
"Sayang, kamu harus hati-hati. Aku akan memberimu penjagaan. Sepertinya wanita gila itu masih ingin bermain denganku," jelas Arsen pada sang istri.
"Apa sih yang dia inginkan, Mas? Bukankah kalian sudah tidak ada hubungan lagi?" Tanya Aurel tidak mengerti.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Yang penting kamu lebih waspada, kemanapun pergi harus ada yang menjaga. Aku tidak ingin kamu dan anak kita celaka." Arsen masih mewanti-wanti sang istri.
Arsen juga menelpon seseorang untuk menyediakan beberapa bodyguard untuk istrinya. Karena Arsen sangat tahu bagaimana watak Maura.
"Yaudah, sekarang kita makan dulu ya. Kamu pasti sudah lapar," ujar Aurel mengambil bekal yang dibawanya tadi.
"Baiklah, ayo kita makan, setelah itu kita pulang."
--Indonesia--
Dewi tampak murung dan gelisah, seharian ini tak ada kabar sama sekali dari Haikal. Sudah jam sebelas malam wanita itu belum juga memicingkan matanya.
Dewi mencoba untuk tetap tenang, tetapi resah dan gelisah masih tetap membuncah dalam hati. Dewi keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu, ponselnya tak pernah lepas dari genggaman.
Wanita itu masih berharap ada kabar dari lelaki tercintanya itu. Tetapi tetap sama, tak ada notif yang masuk di ponsel itu.
"Mbak Dewi! Kok belum tidur?" Tanya Reza yang melintasi ruang tamu, melihat sang kakak sedang duduk melamun.
"Za, Mbak lagi cemas." Adu wanita itu pada sang adik.
"Cemas kenapa, Mbak?" Tanya Reza sudah yakin tentang Haikal.
"Mas Haikal, Za."
"Emang kenapa dengan, Mas Haikal?"
Akhirnya Dewi menceritakan semuanya tentang perjanjian kedua belah pihak antara orangtua Haikal dan orangtua Andin.
__ADS_1
Reza begitu kaget dengan penjelasan Dewi. Pria remaja itu benar-benar bingung dengan hubungan pernikahan kakaknya. Jika seperti ini apakah Dewi bisa bahagia.
"Za, bagaimana jika benar Mas Haikal masuk penjara? Mbak benar-benar takut," ujar wanita itu dengan gelisah.
"Mbak, tenang dulu ya. Kita tunggu kabar dari Mas Haikal, mungkin sekarang dia sedang fokus dengan urusannya. Jadi, Mbak harus bisa memaklumi." Nasehat Reza berusaha bijak.
Dewi hanya bisa mengangguk, walau dihatinya begitu cemas, tapi yang dikatakan Reza ada benarnya.Ia harus tetap tenang dan sabar. Dewi kembali masuk kedalam kamar, ia berharap besok pagi mendapatkan kabar dari sang suami.
Kini subuh menjelang, Dewi bangun lebih awal, ia segera memeriksa layar ponselnya tetapi tetap sama, tak ada pesan apapun. Kembali wanita itu dilanda kegelisahan.
Dewi segera beranjak untuk menunaikan ibadah shalat subuh. Dan tak lupa memanjatkan Do'a untuk kebaikan suaminya. Agar Allah selalu melindungi dimanapun Haikal berada.
Siang ini Dewi merasakan kepalanya pusing, tetapi dia tetap berusaha konsisten dengan pekerjaannya, yaitu sebagai seorang perawat, ia harus melayani para pasien yang ia rawat.
Karena merasa sangat pusing, saat Dewi ingin mengganti infus pasien rawat inapnya, tiba-tiba pemandangannya mengabur. Dewi terjatuh, tak sadarkan diri. Ia segera ditolong oleh teman sejawatnya dan di bawa keruang sebelah untuk di periksa.
Perlahan Dewi membuka mata, ia mengamati sekeliling ruangan itu. Kembali mengingat Kenapa ia ikut berbaring di bad pasien. Merasa tidak mendapat jawaban sendiri, Dewi segera menanyakan pada Dr yang masih memeriksanya.
"Dok, saya kenapa?" Tanya Dewi penasaran.
"Suster Dewi, tadi kamu pingsan di kamar rawat pasien." Dokter umum itu menjelaskan kronologi kenapa ia bisa berada diruangan itu.
"Ah, iya, saya baru ingat, memang kepala saya pusing sebelumnya." Dewi membenarkan
"Saya kenapa ya, Dok?" Dewi kembali bertanya ingin tahu penyebabnya.
"Dari hasil pemeriksaan saya, saat ini Suster sedang hamil."
"Apa! Saya hamil Dok?" Dewi begitu terkejut.
"Benar, Sus, untuk lebih jelasnya, suster Dewi bisa segera periksa ke Dr Obgyn."
Dewi hanya bisa mengangguk lemah. Antara percaya tak percaya. Tapi itulah yang sebenarnya ia dengar.
Setelah Dokter keluar, kini tinggallah Dewi yang masih termenung diruangan itu. Bingung, resah , bahagia, semua jadi satu. Kembali Dewi merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
Air matanya mengalir begitu saja saat melihat layar tipis itu tak ada pesan dari sang suami. Padahal ia ingin memberi kabar tentang kehamilannya. Ia sudah mencoba berulangkali menelpon tetapi nomor Haikal tak bisa dihubungi.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading